Aku selalu percaya bahwa setiap orang punya titik lemah. Tidak peduli seberapa kuat, seberapa cerdas, atau seberapa sempurna mereka terlihat di permukaan, pasti ada celah yang bisa dimanfaatkan.
Dan aku? Aku tahu cara menemukannya.
Anya bukan pengecualian. Sejak pertama kali aku melihatnya di kafe itu, aku tahu ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya yang manis dan tatapannya yang hangat. Aku melihatnya dalam cara dia menyesap kopinya perlahan, dalam cara dia membiarkan pikirannya melayang sejenak sebelum kembali ke kenyataan.
Aku tidak langsung menekannya. Aku hanya mengarahkan percakapan, sedikit demi sedikit, membuatnya semakin nyaman. Aku membuatnya tertawa, membuatnya merasa didengar, membuatnya merasa diperhatikan.
Sesuatu yang mungkin sudah lama tidak ia rasakan.Aku biarkan semuanya mengalir, membiarkannya berpikir bahwa semua ini hanyalah kebetulan, bahwa pertemuan kami di kafe itu tidak lebih dari interaksi biasa. Tapi dalam pikiranku, aku sudah menyusun langkah-langkah berikutnya.
Aku tahu aku harus sabar.
Aku harus membaca situasi dengan tepat.
Dan aku harus menunggu saat yang tepat untuk bergerak.
Aku tidak langsung menghubunginya setelah pertemuan pertama itu. Aku ingin dia yang terlebih dahulu memikirkan aku, membiarkan percakapan kami terngiang dalam benaknya. Aku ingin dia mulai bertanya-tanya, ingin dia mulai merasakan sesuatu yang mungkin belum pernah dia sadari sebelumnya—sebuah kekosongan yang perlahan mulai terisi oleh kehadiranku.