Aku masih ingat hari itu dengan jelas—hari ketika segalanya dimulai. Hari ketika aku memutuskan bahwa dunia ini bukan tempat bagi mereka yang hanya menunggu. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kau harus berani mengambilnya, tanpa ragu, tanpa takut akan konsekuensi.
Aku, Aditya Ramadhan, selalu tahu bahwa hidup ini tidak pernah benar-benar adil. Orang-orang lemah akan kalah, sementara mereka yang berani akan menang. Aku melihat itu sejak kecil. Aku melihat bagaimana ayahku bekerja mati-matian hanya untuk tetap diremehkan, bagaimana ibuku menelan segala ketidakadilan hanya karena takut berbicara. Aku melihat bagaimana teman-teman sekolahku yang jujur justru dimanfaatkan, sementara mereka yang pintar memutarbalikkan keadaan selalu melenggang dengan mudah.
Aku belajar dari semua itu. Aku memutuskan bahwa aku tidak akan menjadi orang yang kalah. Aku akan menjadi seseorang yang mengendalikan permainannya sendiri.
Dan itulah yang kulakukan ketika aku bertemu Anya.
Anya bukan wanita sembarangan. Dari caranya berbicara, dari sorot matanya yang tajam namun menyimpan keraguan, aku tahu dia bukan tipe yang mudah jatuh dalam jebakan. Dia cerdas, mandiri, dan tampaknya cukup percaya diri dengan hidupnya.
Aku melihat bagaimana dia menyesap kopinya dengan tatapan kosong, bagaimana dia sedikit lebih lama diam sebelum menjawab pertanyaanku. Aku melihat bagaimana dia tertawa kecil saat aku melontarkan lelucon, tapi tawa itu tidak mencapai matanya.
Aku tahu ekspresi seperti itu.
Itu adalah ekspresi seseorang yang sedang mencari sesuatu, meskipun mereka sendiri mungkin belum menyadarinya.
Aku ingin tahu lebih banyak. Aku ingin tahu apa yang membuatnya seperti ini.
Dan aku mendapatkan jawabannya beberapa saat kemudian.
“Suamiku juga suka tempat ini,” katanya tiba-tiba, seolah tanpa sadar.
Aku tidak bereaksi berlebihan. Aku hanya mengangguk sedikit, tetap menjaga ekspresi netral. “Oh? Dia suka kopi juga?”
Anya tersenyum kecil. “Iya, dia suka kopi. Tapi sekarang dia lebih sering sibuk dengan pekerjaannya.”
Nada suaranya berubah saat menyebut ‘sibuk’. Ada kekecewaan di sana, sekecil apa pun itu. Aku menangkapnya. Aku menyimpannya dalam pikiranku, seperti seorang pemain catur yang menyusun strategi.