Hari itu hujan turun rintik-rintik, membasahi jalanan kota dengan aroma aspal yang khas. Aku baru saja keluar dari sebuah kafe, tempatku biasa menghabiskan waktu untuk bekerja atau sekadar mengamati orang-orang. Bukan tanpa alasan—aku selalu tertarik melihat dinamika sosial di sekitar. Aku percaya, jika kau cukup memperhatikan, kau bisa mengetahui banyak hal tentang seseorang hanya dari cara mereka berbicara, berjalan, atau bahkan diam.
Saat itulah aku melihatnya.
Anya.
Dia duduk di sudut kafe, mengenakan sweater abu-abu yang tampak nyaman, dengan secangkir kopi di tangannya. Matanya tertuju pada jendela, menatap rintik hujan yang turun perlahan. Ada sesuatu dalam tatapannya—kesedihan yang samar, kelelahan yang disembunyikan dengan baik, atau mungkin sekadar kebosanan dari kehidupan yang berulang.
Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Aku bukan pria yang percaya pada cinta pada pandangan pertama. Tapi aku percaya pada kesempatan. Dan ini adalah kesempatan yang tidak bisa kusia-siakan.
Aku berjalan mendekatinya, berpura-pura mencari tempat duduk meskipun kafe itu hampir kosong. Aku tidak langsung menyapanya—aku hanya duduk cukup dekat, cukup untuk membuatnya sadar akan keberadaanku. Aku tahu betul bagaimana permainan ini dimainkan.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian, matanya akhirnya beralih padaku.
Aku tersenyum tipis. “Hujannya lumayan deras, ya?”
Sebuah pembuka yang sederhana. Tidak berlebihan, tidak memaksa. Cukup untuk mencairkan suasana.
Dia menoleh, sejenak menatapku sebelum mengangguk kecil. “Iya, sepertinya belum akan reda.”
Suaranya lembut, tapi ada sedikit nada lelah di dalamnya. Aku bisa melihatnya lebih jelas sekarang—garis-garis halus di bawah matanya, senyum yang sedikit dipaksakan. Wanita ini memiliki cerita, dan aku ingin mengetahuinya.
Kami mulai berbicara. Awalnya hanya basa-basi tentang cuaca, tentang kopi, tentang kafe ini yang katanya adalah tempat favoritnya. Tapi aku tidak terburu-buru. Aku membiarkan percakapan mengalir, membuatnya nyaman.
Dan semakin lama kami berbicara, semakin aku yakin akan satu hal.
Dia tidak bahagia.