Hari-hari berlalu dengan monoton. Aku bangun, pergi bekerja, pulang, lalu menatap langit-langit kamar sampai tertidur. Tidak ada yang benar-benar berubah sejak kepergian Anya, kecuali satu hal: kehampaan yang semakin dalam.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku dengan pekerjaan, berharap tenggelam dalam rutinitas bisa membuatku melupakan semuanya. Tapi setiap malam, saat aku kembali ke apartemen kosong ini, aku diingatkan lagi bahwa aku tidak punya siapa-siapa.
Dulu, aku pikir aku memiliki segalanya. Aku pikir aku telah menang. Tapi sekarang, kemenangan itu terasa hambar. Apa gunanya semua ini jika akhirnya aku berakhir sendirian?
Malam itu, aku duduk di balkon dengan segelas minuman di tangan. Kota di bawah terlihat ramai, penuh dengan orang-orang yang menjalani kehidupan mereka. Aku