Aku terbangun dalam keheningan yang menyakitkan. Tidak ada suara langkah kaki Anya di dapur, tidak ada aroma kopi yang biasa ia buat setiap pagi. Hanya ada aku, sendiri, di apartemen yang terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.
Semalam, setelah ia pergi, aku mencoba menenggelamkan diri dalam minuman. Aku pikir alkohol bisa membuatku lupa, bisa menghapus rasa sakit yang menggigit dadaku. Tapi pagi ini, saat aku membuka mata, aku hanya menemukan kenyataan yang sama: aku sendirian.
Aku bangkit dari sofa dengan kepala berat dan tubuh yang terasa lemas. Apartemen ini terasa terlalu besar, terlalu kosong. Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas, tapi tidak ada yang bisa menggantikan rasa lapar yang sebenarnya—rasa lapar akan sesuatu yang telah hilang.
Aku melihat meja makan di sudut ru