“Maaf, telat. Masih ada waktu buat kita ngobrol, kan?” tanyanya terengah-engah lelah.
Jika dia berusaha meluangkan waktu di tengah kesibukannya, siapa yang akan menolak? Sadina saja tidak berharap dia menepati janji akan menyusul ke tempat biasa mereka bicara selama jam istirahat. Sekarang Sadina malah dibuat kehilangan kata-kata. Jadinya ia hanya bisa mengangguk kaku karena terharu juga.
“Harusnya kamu nggak usah ke sini aja.”
“Kenapa?” Senyuman Sajaka seketika pudar. Bola matanya mengerjap-ngerjap, memastikan cewek di depannya marah atau tidak. Pasalnya kemarin ia sudah membuat cewek ini menunggu tanpa diberi kabar. Menghadapinya sekarang saja harus mempersiapkan diri. Namun Sajaka siap menerima apa pun risikonya, meski itu marahnya Sadina. “Kamu ... marah ya kemarin aku n