"Dek, kamu istirahat dulu, ya? Oh ya, Kakak minta tolong, jangan terlalu dibawa pikiran, apapun masalahmu. InsyaAllah kamu bisa baik-baik aja, Allah selalu menyayangi hamba-Nya. Ini, tadi Kak Andin menitipkan obat pada Kakak. Nanti Kakak atur jadwal minumnya, ya?"
"Kak, Kak Andin bilang sesuatu tentang penyakitku? Apa aku ada gangguan mental? Apa jangan-jangan benar, dari semenjak Ibu meninggal, aku bukan Nadya yang normal? Kak ..." Nadya kembali mengeluarkan tangisnya. Air matanya tak dapat ia bendung lagi. Alysa baru saja mengantarkan sang adik kembali ke kamarnya setelah ia bersama Nadya mengunjungi psikiater.
Nadya yang mengidap penyakit gangguan stres pascatrauma, sayangnya Alysa masih tak memberitahukan tentang penyakit adiknya sampai kini. Andini yang mengutarakan persoalan tentang penyakit Nadya padanya, dan Alysa tak mau membuat Nadya terlalu stres memikirkan penyakitnya. Pantas saja Alysa masih tak mau mengatakan apapun, ia bermaksud untuk menyembunyikan penyakit Nadya.
Mendengar pertanyaan Nadya, Alysa pun ikut menangis. Air matanya terjatuh saat menatap kondisi sang adik. Ia merasa iba melihat keadaan Nadya. Alysa sama sekali tak bisa melihat Nadya yang seperti ini. Alysa mau Nadya lekas sembuh total. InsyaAllah Allah akan memberikan keajaiban baginya. Alysa percaya bahwa Nadya bisa pulih. Kesembuhan Nadya adalah hal yang utama yang Alysa inginkan.
"Kak ..." Nadya masih mengerang bersama isakan tangisnya. Ia memanggil Alysa berkali-kali. Sayangnya Alysa belum mau meresponsnya. Alysa masih terdiam sembari menangis.
"Kak Alysa ..."
Alysa perlahan menyeka air matanya. Pelan-pelan pula ia menarik napasnya sebelum menjawab panggilan Nadya. "Kamu nggak apa-apa, Dek. Kamu nggak apa-apa, kok. Kata Kak Andin, Nadya masih normal, Kak Andin bilang, Nadya terlalu cemas. Makanya kadang suasana hati Nadya bisa berubah. Kakak ngerti kok, Nadya butuh tenang. InsyaAllah, Kakak akan selalu nemenin Nadya. Kakak nggak mau Nadya kenapa-napa."
"Tapi, kenapa Kak Andin nyuruh aku minum obat?"
"Hanya sebagai penenang, Dek. Kak Andin bilang, Nadya terlalu stres memikirkan masalah kemarin. Makanya Kak Andin menitipkan obat pada Kakak. Nadya nggak usah khawatir, insyaAllah Nadya bisa kembali sehat. Nadya pasti bisa melewati ini semua, karena Kakak yakin, Nadya adalah Adiknya Kakak yang paling kuat. InsyaAllah, kalau Nadya rutin minum obatnya, Nadya nggak akan semakin khawatir, dan Nadya akan semakin tenang."
Perlahan air mata Nadya masih menderai. "Nadya dengar, Kak. Nadya pasti bisa melewati ini semua. Meskipun Kakak nggak mau memberitahukan penyakit Nadya yang sebenarnya. Nadya paham kalau Nadya sakit, Nadya nggak senormal dulu. Nadya mengerti, Kak. Kakak tenang aja, Nadya akan menuruti perkataan Kakak. Nadya juga pengin sembuh, Nadya mau baik-baik aja. Kak, maaf, Nadya sudah merepotkan Kakak sama Ayah? Nadya sudah mengkhawatirkan kalian."
"Nggak, Dek ... Nadya nggak pernah merepotkan Kakak sama Ayah. Justru kami berdua sayang sama kamu. Ingat perkataan Kakak, ya? Nadya nggak boleh terlalu banyak pikiran. Apapun masalah yang Nadya punya, Nadya jangan takut menceritakannya pada Kakak." Alysa mulai menggenggam jemari Nadya kuat-kuat. Perkataannya mampu membuat Nadya merenung.
Nadya terdiam. Pikirannya terlintas pada Manda, seorang teman yang sempat bersahabat baik dengannya. Namun kini Manda berubah. Ia tak lagi baik pada Nadya. Justru malah Manda yang dengan teganya menyakiti hati Nadya. Entah apa salah Nadya, hingga ia merasa kehilangan seorang teman baik seperti Manda.
"Kenapa, Dek?" Alysa melontar tanya. Ia memandang heran saat Nadya masih tak berniat membalas perkataannya.
Nadya menggelengkan kepalanya pelan. "Kak, sebenarnya Nadya pengin cerita, tapi Nadya nggak tahu harus ngomong apa. Karena Nadya juga nggak mau buat Kak Alysa memikirkan masalah Nadya."
"Kamu boleh cerita kok, apapun itu. Kakak pasti mendengarkan. Nggak apa-apa, Dek. Nggak usah takut sama Kakak ..."
Nadya kembali menatap Alysa dengan pandangan berkaca-kaca. "Manda sudah berubah, Kak. Dia nggak lagi seperti dulu yang selalu berteman baik dengan Nadya. Manda benci dengan Nadya. Manda nggak suka berteman lagi dengan Nadya. Sekarang, Nadya nggak punya teman baik. Nadya kehilangan sahabat baik seperti Manda. Jujur, Nadya merasa kecewa dengan sikap Manda. Tapi Nadya berusaha ikhlas menerima Manda, yang bukan sebagai teman baik Nadya lagi."
Alysa sontak memeluk tubuh Nadya dengan penuh kasih sayang. Rasanya tak tega mendengar ungkapan adiknya yang berkata seperti itu. "Nadya yang sabar, ya? Nadya masih punya Kakak yang selalu menjadi teman baik Nadya. Udah, jangan nangis lagi, Dek. Selalu tersenyum, meski kehidupan tak selalu berkata baik. Adik Kakak, pasti bisa tegar menghadapi masalah ini. Manda boleh membenci Nadya, tapi Nadya jangan ikut membencinya. Doakan Manda, agar dia bisa kembali ke jalan yang baik lagi. Ya?"
Nadya mengangguk paham. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Alysa. "Makasih, Kak ..." lirihnya sembari tetap menguakkan air mata.
Bismillah ya Allah ... semoga Engkau memberikan kesembuhan untuk Adikku. Kakak janji, Kakak nggak akan meninggalkan Nadya sendiri. Kakak nggak mau Nadya kenapa-napa lagi. Kamu masih punya teman baik, Dek. Kakak yang akan selalu menjadi teman baikmu, gumam kata hati Alysa.
***
Keesokannya di salah satu supermarket dekat kampus, Manda bersama kedua temannya sedang berbelanja di sana. Mereka bertiga tampak berkeliling ke sekitar ruangan toko untuk membeli beberapa camilan. Biasanya di siang itu, Manda sudah pulang dari kampus. Rasanya mengakhiri rutinitas di kampus sangat melelahkan bagi Manda. Sebelum memilih pulang, ia bersama kedua teman karibnya mengunjungi supermarket terlebih dahulu.
"Man, camilannya nggak kebanyakan? Kita cuma bertiga, Man. Astagfirullah ... nyebut kali, Man," kata Dira, sesekali ia memerhatikan banyak camilan yang nyaris memenuhi keranjang belanjaan.
"Santai aja kali, ini camilan bakal dihabisin juga di rumah. Bukannya kalian janji, mau nginap di rumah gue?"
"Iya, Man. Paham. Cuma kalau udah kayak orang pindahan begini camilannya, kayaknya gue sama Sandra nggak bakal ngabisin. Iya nggak, San?" Dira menoleh ke arah Sandra yang masih sibuk memainkan layar ponsel.
"Iya, iya, gue ngerti kali. Ih, nih berita di sosmed udah pada sinting kali ya? Masa berita kayak gini, malah jadi viral? Nih, coba kalian lihat!" Sandra menunjukkan layar ponselnya pada kedua temannya. Sementara Dira dan Manda yang mengernyit heran menatap tingkah Sandra, kini giliran mereka melihat berita yang Sandra maksud.
Melihat berita tersebut membuat Manda memiliki inisiatif sendiri. Pikiran Manda mengingat kejadian kemarin yang menimpa Nadya, hingga gadis itu bisa mengamuk lagi karenanya. Kali ini senyuman Manda tersungging tipis. Entah apa yang sedang ia rencanakan untuk mengganggu ketenangan Nadya yang sudah ia anggap sebagai mantan sahabatnya.
Perlahan Manda merogoh ponselnya yang ia letakkan di tas selempangnya. Dan berniat mengetikkan pesan w******p yang lalu ia kirimkan ke salah satu nomor tujuan pada kontak ponselnya. Ok, selamat menderita Nadya. Semoga lo menikmati pesan yang gue kirimkan khusus buat loh, Manda membatin. Perasaannya seakan tersenyum senang usai mengirimkan pesan tersebut.
***
Cting!
Nadya yang baru saja bangun dari tidur siangnya, ia berniat mengecek pesan w******p yang baru masuk ke ponselnya. Perlahan sembari menyandarkan tubuhnya ke punggung ranjang, ia juga mengucek-ngucek kedua kelopak matanya sejenak. Pelan-pelan ia membuka isi pesan w******p yang berasal dari Manda. Nadya sempat mengerutkan dahinya ketika mengetahui Manda mengirimkan satu pesan untuknya.
[15.15] Manda: Hai Nadya ... apa kabar? Apa sekarang lo udah baikan? Semoga lo baikan deh. Sorry ya, kemarin gue sempat membuat lo ngamuk lagi? Ups, sebenarnya sengaja sih, karena menurut gue ... lo pantas banget digituin.
Secara orang gila kayak lo nggak pantas kuliah di kampus bergengsi ini. Sorry ya, gue harus ngomong jujur ke lo? Tapi mending ada baiknya lo menghindar dari Kakak sama Ayah lo, Nad. Karena menurut gue, mereka berdua yang buat lo berpenyakitan kayak gini. Mereka berdua tega banget, sempat ngebuat lo gila dan trauma kayak gini, Nad.
Sadar dong, Nadya ... teman gue yang baik hati, lo ditipu dengan kebaikan Ayah dan Kakak lo aja, lo malah terlalu percaya sama kebaikan mereka. Padahal jelas, Kak Alysa dan Ayah lo, udah membuat Ibu lo mati. Hingga Ibu lo nggak bisa hidup lagi, nggak bisa ada di sisi lo, nggak bisa nemenin lo seperti dulu lagi. Itu karena mereka berdua yang ngebiarin lo dan Ibu lo menderita, Nad.
Semoga lo normal lagi, Nad. Kalau lo mau marah, silakan marah aja dengan Kak Alysa atau Ayah lo sendiri. Ingat, Nad, Ibu lo meninggal pun karena kelakukan mereka yang tak tahu diri. Bye, Nadya ...
Ponsel yang Nadya genggam sedari tadi, ia lemparkan begitu saja hingga mengenai lantai ruangan. Pandangan Nadya begitu remang-remang. Ia merasakan kepalanya mendadak pusing seketika. Nadya menyentuh kepalanya yang masih pusing, perasaannya tiba-tiba kembali merasa cemas. Ia seolah-olah sangat takut setelah membaca kiriman pesan dari Manda.
"NGGAAAAAK!!! IBU MASIH ADA!!! MEREKA JAHAAAAT! NGAAAAAK!!!"
Brakk!
Nadya sengaja melemparkan beberapa benda yang berada di dekatnya. Entah itu buku, jam beker, boneka, bantal, maupun guling di sekitarnya. Nadya seolah-olah tak menerima perkataan Manda yang menyatakan kematian ibunya. Pandangannya pun menatap tak menyukai ruangan yang ia singgahi. Tangisannya mengerang keras, sambil berteriak hingga menggema ke seluruh ruangan. Nadya merasa takut. Ia sangat gelisah. Perasaannya begitu kalut.
***
"Assalamualaikum," sapa Kamil yang baru saja mengucap salam ketika Alysa membukakan pintu rumah. Putrinya tersenyum lembut menatap kehadiran ayahnya. Perlahan Alysa mencium punggung telapak tangan Kamil sebentar.
"Waalaikumsalam Ayah," jawab Alysa.
"Maaf, Ayah jadi lembur kerja. Sampai semalam nggak sempat nengokin kamu sama Nadya, Nak. Tapi insyaAllah, besok-besok Ayah nggak lagi lembur. Eh iya, gimana kondisi Nadya, kamu sudah periksa keadaan Nadya ke Psikiater?"
"Iya, nggak apa-apa, Yah. Alysa memaklumi, kok. Kata Andin, Psikiater yang Ayah maksud itu, Nadya mengalami gangguan stres pascatrauma. Em, nanti Alysa ceritakan di dalam aja, Yah. Nggak enak kalau ngomong di pintu begini. Ayah ganti pakaian dulu, setelah itu Alysa siapin makanan hangat untuk Ayah." Alysa mempersilakan Kamil memasuki pintu rumah. Dan membiarkan Kamil berjalan melewatinya. Namun ketika Kamil menderapkan langkahnya, ia mendengar teriakan yang berasal dari kamar Nadya.
Alysa tercenung. Mendadak jantungnya berdetak hebat. Lekas Alysa menutup pintu rumah rapat-rapat. Kali ini langkah Alysa bersama Kamil sama-sama menuju kamar Nadya. Kamar yang terletak di lantai kedua di rumah yang cukup elegan itu.
"Nadya ..." Alysa berucap setelah membuka pintu kamar adiknya. Ia melihat beberapa benda berjatuhan di atas lantai karena Nadya sengaja melemparnya. Termasuk ponsel milik Nadya yang kini layarnya lumayan retak karena lemparan Nadya yang begitu keras.
Hati Alysa kembali kalut. Ia semakin khawatir menatap keadaan adiknya yang kembali tak sadar akan sikapnya. Nadya yang kembali mengamuk tak karuan. Kamil yang ikut berada di sisi Alysa, ia nyaris tak dapat menahan tangis iba mengetahui putri bungsunya mengalami kondisi seperti itu.
Kini giliran Nadya mengarahkan tatapannya pada Alysa dan Kamil yang berada di ambang pintu yang sudah terbuka lebar. Nadya menatap kehadiran Alysa dan sang ayah dengan tatapan penuh kebencian. Seakan-akan ia tak menyukai melihat mereka datang ke ruangan kamarnya.
"PERGIII...!!! PERGI KALIAAAAN! AKU NGGAK KETEMU KALIAN! KALIAN BERDUA JAHAAAAT!!! IBU MATI GARA-GARA KALIAAAN! PERGI!!!" Begitu teriakan Nadya yang berusaha membuat Alysa dan Kamil pergi meninggalkannya.
Perlahan Alysa menutup pintu kamar Nadya dengan sangat pelan dan begitu hati-hati. Alysa tak bisa menahan rasa tangisnya lagi. Begitu saat air matanya kembali mencuat. Bersama sang ayah yang masih bergeming di sisinya.
"Alysa nggak tahu lagi harus gimana, Yah. Alysa nggak tahu ... Alysa sayang sama Nadya. Alysa nggak mau Nadya seperti itu lagi. Alysa mau Nadya sembuh ..." Alysa berkata sembari menangis terisak di depan Kamil.
Kamil masih bungkam. Bagaimana ia mampu menjawab perkataan putrinya, jika ia saja tak bisa menahan tangisannya yang terkuak karena menatap kondisi Nadya secara langsung.
Astagfirullahallazim ... ampunilah segala kesalahan hamba, ya Allah? Hamba merasa lalai menjaga Nadya, anak hamba sendiri. Hamba mohon, tolong berikanlah kesembuhan total untuk putri hamba. Tolong jangan biarkan Nadya merasakan gangguan mental seperti ini, ya Allah. Hamba mohon ..., Kamil membatin. Sesekali ia pun mengusap air matanya sejenak.
Bersambung