Sore itu Nadya baru saja tersadar. Pelan-pelan ia membuka kelopak matanya, kepalanya terasa sangat berat ketika Nadya berusaha beranjak dari ranjangnya. Setelah ia berhasil menyandarkan punggungnya ke punggung ranjang, pandangannya sejenak menyapu ke arah ruangan. Perasaan Nadya masih tak menyangka akan kehadirannya di sini.
Padahal ruangan yang ia singgahi itu adalah kamarnya sendiri. Sepertinya tadi aku masih di kampus, terus, kenapa aku malah sudah ada di kamar, ya? Begitu saat pikiran Nadya mulai bertanya-tanya.
Karena seingatnya, semenjak pagi keberadaan Nadya masih di kampus. Dan sore harinya tiba-tiba ia sudah berada di kamar. Nadya tak ingat apa-apa, apakah ia sempat pulang sendiri atau pulang dengan siapa hingga ia bisa tiba di rumah.
Krakk!
Pintu kamar mulai terbuka, Nadya menatap kehadiran Alysa yang membawakan semangkuk sup dan air putih di genggamannya. Nadya masih mengernyitkan dahinya, tatapannya kini mulai teralih pada kehadiran Alysa. Dengan berjalan mendekati Nadya, Alysa meletakkan mangkuk dan segelas air di atas nakas yang bersisian di ranjang Nadya.
"Kak, aku nggak ingat apa-apa, kok, tiba-tiba aja aku sudah di kamar?" Nadya mulai bersuara. Ia hanya menatap Alysa yang mengulas senyuman.
"Kakak yang jemput kamu di kampus, Dek. Tadi itu, Kakak dapat kabar dari pihak kampus. Kalau kamu pingsan nggak sadarkan diri. Mungkin aja karena tadi pagi kamu nggak sempat sarapan. Jadi kamu pingsan. Oh ya, Kakak bawakan sup buatmu, Dek. Dimakan, ya? Atau biar Kakak yang suapin?"
Nadya menggelengkan kepalanya pelan. "Nadya belum lapar, Kak. Nanti Nadya makan supnya, kok. Makasih, Kak?"
"Kamu beneran? Nggak mau makan?" Nadya menggangguk merespons kakaknya. Rasanya ia masih belum memiliki keinginan untuk makan. Badannya terasa lemah, pusingnya masih nyaris kerasa. Namun bukan karena Nadya merasa lapar, melainkan karena efek ia baru sadar dari pingsannya.
"Iya udah, tapi jangan lupa dimakan nanti, ya?"
Nadya masih diam. Memorinya masih merekam kejadian pagi tadi. Ingatannya terlintas ketika ia masih marah dengan Alysa dan ayahnya. Dan setelahnya di kampus, Nadya hanya mengingat Manda bersama kedua temannya yang tak Nadya kenal, lagi-lagi gadis itu harus berulah. Nadya harus menemukan tingkah Manda yang sempat menaikkan emosinya. Dan setelahnya Nadya tak mengingat apa-apa kembali.
"Kenapa, Dek?"
"Aku nggak apa-apa kok, Kak. Em, makasih, karena Kakak sudah bawa Nadya pulang. Nadya sempat nggak ingat apa-apa mengapa Nadya bisa pingsan."
Apa Nadya nggak apa-apa di kampusnya? Apa Nadya nggak ada masalah di kampusnya? Semoga saja Adikku baik-baik saja. Oh ya, kata Ayah ... aku harus ngomong tentang rencana memeriksakan kondisi Nadya. Semoga saja Nadya mau, dan dia nggak marah-marah lagi seperti kemarin, batin Alysa.
"Nad, Kakak boleh ngomong sesuatu?" Alysa mulai mengalihkan pembicaraan. Pelan-pelan ia mengatur napasnya, sebelum ia harus membicarakan tentang permintaannya bersama ayahnya.
"Apa, Kak? Biasanya kalau mau ngomong, nggak pakai izin, Kak. Tumben?"
"Em, begini, Dek. Sebenarnya, Kakak ingin mengunjungi Psikiater. Psikiater ini, adalah anak dari teman Ayah, yang katanya Ayah, dia seumuran dengan Kakak. Dan Kakak ada keperluan penting menemuinya, tapi kamu mau kan, ikut Kakak ke sana?"
Alysa sengaja beralasan, ia cukup takut bila Nadya akan kembali trauma dan mengamuk lagi seperti kemarin. Apalagi sampai sikapnya yang sangat berbeda pada Alysa dan ayahnya. Dan pagi tadi saja sikap Nadya masih seperti membencinya, namun saat ini Nadya kembali normal seperti biasanya.
"Ke psikiater? B-boleh, kapan memangnya, Kak?"
Alysa kembali menghela napasnya lega. Ia tak melihat kecurigaan apa-apa pada raut wajah adiknya. "InsyaAllah nanti malam. Dan kamu bisa belajar tentang masalah kesehatan psikis juga nanti."
"Iya juga, ya, Kak. Ya udah, aku ikut aja, Kak. Aku juga pengin belajar soal kesehatan psikis. Lumayan seru, tuh."
Alhamdulillah, akhirnya Nadya mau ikut juga. Bismillah ... semoga rencana ini berjalan dengan lancar, Alysa tersenyum dan menghela napasnya yang kembali lega.
***
"Kak, lagi masak apa, sih?" ujar Arista yang baru saja menghampiri kakak laki-lakinya di dapur.
Ia merasa bosan usai menonton drama Korea favoritnya. Perutnya pun terasa lapar setelah mencium bau masakan dari arah dapur. Ingatan yang terlintas di pikiran Arista yakni keberadaan Rafka yang mungkin berada di dapur. Dan setelah ia menuju dapur, ternyata tebakan Arista tak salah. Ia melihat Rafka yang sibuk mengolah bahan masakan di sana.
"Eh, kamu, Dek. Ini, lagi masak nasi goreng udang manis. Porsinya ada dua, kok. Kakak juga masakin buatmu."
Arista tercengang mendengar jawaban kakaknya. Arista merasakan bahwa kakak laki-lakinya itu sudah berubah. Yang awalnya Rafka terlalu sering mengabaikan adiknya, yang awalnya sikap Rafka cukup keras ketika menyulutkan emosinya, yang awalnya Rafka tak pernah berada di dapur atau pun mengurus rumah, kini Arista memerhatikan adanya perbedaan pada sikap kakak laki-lakinya itu.
Diam-diam Arista menyimpulkan senyumnya. Tak percaya rasanya ketika mengetahui kakak laki-lakinya itu berubah. Namun Arista merasa nyaman melihat tingkah Rafka sekarang. Sayangnya bukan berarti Arista mudah memaafkan kesalahan Rafka kemarin pada keluarganya. Arista masih menyimpan rasa kesal. Namun perubahan sikap Rafka sekarang, perlahan mampu meredakan kekesalan Arista.
"Wow, baik banget. Ok, untuk kali ini mau nyobain masakannya Kak Rafka. Ini karena aku udah kelaperan. Ya nggak apa-apa, dong, tapi awas aja kalau rasanya nggak enak!" kata Arista yang sengaja memanyunkan bibirnya. Ia pun lebih memilih bersinggah di meja makan yang juga berada di dapur.
Beberapa menit kemudian, akhirnya masakan Rafka sudah siap disajikan. Tampak ketika laki-laki itu membawakan dua piring berisi nasi goreng buatannya ke atas meja. Sembari menyiapkan dua gelas air untuknya dan untuk adiknya. Kemudian ia pun mendaratkan duduknya di sisi Arista.
"Cobain dulu, dong. Jangan main mengeluarkan asumsi aja. Kalau udah tahu rasanya, pasti doyan," kata Rafka dengan rasa percaya dirinya. Ia mengambil jatah nasi gorengnya dan mulai menyantapnya.
Sedangkan pandangan Arista masih menilik tampilan nasi goreng masakan kakaknya. Perasaannya masih ragu mencoba menyantap nasi goreng itu. Namun suara khas perutnya masih memberontak ingin cepat-cepat dikasi makan. Sepertinya Arista tak punya pilihan lain, selain menyantap masakan Rafka. Tatapan Arista juga sejenak melirik Rafka yang sedang lahapnya menyantap masakan yang dibuatnya sendiri.
Arista menelan ludah, ia pun bersiap-siap menyendokkan sesuap nasi ke mulutnya. Semoga aman, gumam kata hatinya.
"Gimana, enak kan rasanya?" tanya Rafka, ia memerhatikan Arista yang baru menyantap masakannya.
"Ya, lumayan. Daripada perut kelaparan, nggak dapat jatah makan, mending dimakan aja. Daripada mubazir, kan?" Arista masih mengunyah nasi yang baru masuk ke mulutnya.
Untung enak, batinnya kembali. Rasanya ia harus menghela napasnya lega usai menyantap nasi goreng buatan Rafka.
"Alhamdulillah," kata Rafka. Perlahan ia meneguk air minumnya hingga menyisakan setengah gelas.
"Kak, kenapa sih, masih betah banget sendiri?"
"Maksudnya?" Rafka melongo setelah Arista bergumam. Ia tak mengerti apa maksud pertanyaan adiknya.
"Kakak masih single, kan?"
Sontak Rafka melepaskan tawanya usai mendengar pernyataan Arista. Melihat tingkah Rafka, Arista mengerutkan keningnya seakan-akan menatap bingung. "Terus, kenapa? Single-nya Kakak, jadi permasalahan buatmu? Lagian, tanya nggak dipikir dulu, memangnya Arista udah nggak single lagi?"
"Ih! Aku tanya, malah jawabnya nggak serius. Aku single pun nggak jadi masalah, Kak Rafka. Lagian aku masih kuliah semester lima. Ngapain harus buru-buru punya pacar. Yang ada tuh, harusnya Kak Rafka yang mesti cari pasangan. Biar nanti kalau udah lulus, Kak Rafka nggak sedih-sedih amat jadi jomlo."
"Kenapa harus sedih karena masih sendiri?"
"Ya ... biar cari calon istrinya nggak susah, Kak. Bukannya Kak Rafka sebentar lagi mau lulus?"
Rafka menyengir sejenak, ia baru mengerti apa maksud perkataan adiknya. "Arista sayang, begini ya Adikku, Kakak jelasin sama kamu. Cari calon istri itu, nggak perlu melalui cara pacaran. Lagian, jadi jomlo itu nggak ada yang salah, kok. Malah kedudukannya bisa lebih baik, daripada orang-orang yang masih pacaran nggak jelas. Mending jadi jomlo sampai halal aja, daripada harus melakukan hubungan yang nggak Allah ridai."
"Ya, aku paham kalau Islam melarang orang pacaran. Dan itu bakalan dosa. Tapi, Kak, masih banyak kok, orang-orang yang agamanya Islam, tapi mereka pacaran. Sah-sah aja, tuh. Nggak jadi masalah."
"Nah, ini nih, yang Kakak takutkan di zaman sekarang. Anak-anak mudanya malah keikut arus zaman. Padahal pacaran itu bukan budaya orang Islam. Melainkan budaya orang barat. Masih mau, kamu ikut-ikutan budaya mereka? Yang jelas-jelas saja, hal pacaran sudah ada dilarang dalam agama kita."
"Tapi, Kak ..."
"Mau mendapatkan jodoh dengan cara maksiat yang menghasilkan dosa, atau mendapatkan jodoh dengan cara halal yang menghasilkan berkah? Yang pasti, lebih enak mencari jodoh yang menghasilkan berkah, daripada sebaliknya."
"Ya udah, deh, aku kalah. Terserah Kakak mau cari jodoh dengan cara apapun. Aku nggak mau tahu lagi." Arista membuang muka tak lagi memerhatikan Rafka yang masih asyik menikmati nasi gorengnya. Rasanya percuma saja beradu argumen bersama kakak laki-lakinya itu.
"Ngambek itu nggak baik loh, Dek."
"Aku nggak ngambek, kok. Cuma lagi kesal aja."
"Apa bedanya?"
"Ah, tahu! Tapi, aku punya satu pertanyaan lagi, nih. Kak Rafka, memangnya nggak ada cewek satu pun yang Kakak suka? Karena nggak mungkin banget, Kak Rafka yang begini nggak suka sama cewek."
"Hus! Kakak masih normal kali, Dek. Kalau pun ada, Kakak nggak bakal ngomong sekarang. Kamu kepo aja," sahut Rafka. Ia menenggak sisa air minumnya hingga tandas.
Tiba-tiba pikiran Rafka sekilas mengingat kejadian siang tadi di kampus. Pertanyaan adik perempuannya sempat membuat pikiran Rafka membayangkan gadis yang bernama Nadya. Gadis itu sudah dua kali ditolong olehnya, dan tanpa gadis itu tahu bahwa Rafka yang menolongnya.
Diam-diam pun senyuman Rafka terulas tipis ketika mengingat kejadian yang membuatnya bisa menemukan keberadaan Nadya.
Ya Allah ... apa iya aku jatuh cinta? Tolong jangan biarkan aku terlalu menyimpan rasa jika memang benar Engkau yang menitipkan perasaan ini di hatiku, ya Allah. Bismillah, sabar Raf ... ini adalah perkara ujian hati. Semoga saja aku bisa melawannya, Rafka membatin gusar. Hatinya begitu gelisah ketika lagi-lagi wajah Nadya terbayang ke pikirannya.
***
Tiba di sebuah rumah sakit, kali ini Alysa dan Nadya berada di ruangan salah satu psikiater. Psikiater tersebut biasa disapa dokter Andini. Namun sayangnya setelah mereka berdua akrab dengan dokter perempuan tersebut, ia tak mau dipanggil memakai gelar dokter. Perempuan itu lebih nyaman disapa Andini atau pun kak Andini daripada dipanggil dengan sebutan dokter.
Bila ditaksir umur Andini tak jauh beda dengan Alysa. Ayahnya saja pernah sempat berkata, bahwa Andini seumuran dengan putri pertamanya. Hingga pertemuan pertama kalinya bersama Andini, Alysa merasa Andini adalah seorang dokter yang ramah.
Buktinya saja bertemu Andini, Nadya malah sangat akrab dan nyaman mengobrol bersama dokter itu. Alysa jadi bersyukur melihat keakraban Nadya bersama Andini. Semoga saja Andini bisa mengatasi permasalahan psikis adiknya.
Sebelumnya pun Alysa sudah membicarakan tentang kondisi Nadya pada Andini lewat telepon. Alysa juga sudah merencanakan alasan agar Nadya mau diajak menemui Andini. Dan rencananya tersebut sudah terencana baik-baik bersama Andini. Alysa jadi merasa lega dan kini mereka bertiga masih saling berdiskusi. Apalagi Nadya juga sesekali berdiskusi tentang permasalahan kesehatan jiwa dengan Andini.
"Oh ya, Nad, mau coba kontrol, nggak? Sebelumnya Alysa sudah sempat kontrol kok, tentang masalah psikisnya. Kalau kamu mau, kita bisa melakukannya sekarang. Karena memeriksa keadaan psikis itu, nggak harus menunggu kondisi pasien terlihat secara fatal mengalami gangguan kejiwaan. Kamu pun bisa kok, periksa kondisimu, apa psikismu baik-baik aja atau malah sebaliknya. Periksa kondisi itu, bisa untuk berjaga-jaga juga, loh," kata Andini yang mencoba memancing Nadya. Ia mengerti bahwa Nadya sangat membutuhkan analisis kondisi psikisnya.
"Em ... kalau boleh, ya udah nggak apa-apa, Kak. Aku juga nggak mau, kalau-kalau kondisiku sedang nggak membaik. Padahal psikis itu penting untuk kesehatan."
"Nah, itu kamu tahu. Kamu itu kan mahasiswi kesehatan, jadi harus berani memeriksakan kondisi kesehatan, meskipun terkait dengan keadaan psikis. Tujuannya ya, buat kesehatanmu juga. Ya sudah, tapi sebelumnya, Alysa bisa tunggu di ruang tunggu, ya? Nadya bisa di sini dulu sama aku. Kalau pemeriksaannya sudah selesai, kamu boleh ke sini lagi. Nggak apa-apa, ya, Al?"
"Ok, nggak apa-apa, Din. Aku bisa ngerti, kok. Titip Adikku, ya? Assalamualaikum." Alysa lekas beranjak dan bergegas keluar ruangan meninggalkan Nadya bersama Andini.
"Waalaikumsalam," Nadya dan Andini membalasnya bersamaan.
"Nadya, aku mau dengar, apakah kamu pernah mengalami beberapa keluhan sebelumnya? Keluhannya itu ada pusing, merasa kelelahan, dimana emosimu bisa lebih kuat, dan apakah kamu pernah mengalami perubahan sikap akhir-akhir ini?" Andini mulai mendikte beberapa keluhan untuk Nadya. Tujuannya agar ia mampu menganalisis apa yang sebenarnya terjadi pada kondisi Nadya.
"Kalau pusing sih, sering banget, Kak. Tapi setelah setiap kali kepalaku terasa berat, aku jadi lebih sering pingsan. Setelahnya aku merasa nggak ingat apa-apa, kenapa aku jadi pusing banget. Dan sebelum aku pusing, aku sempat mengalami emosi berat. Dan itu karena suasana hatiku yang seringkali berubah. Aku kurang paham kenapa, karena waktu emosiku memuncak, aku seperti kehilangan akal. Dan setelahnya aku nggak ingat apa-apa kenapa aku jadi seperti itu."
"Kalau perubahan sikap? Setiap kali selesai pingsan, apa setiap kali itu kamu sempat mengalami perubahan tingkah dan pola sikap?"
"Kalau itu ... em, begini, Kak, aku juga rada bingung ya, kenapa akhir-akhir ini sikapku nggak menentu. Aku merasakan bahwa aku marah dan kesal sama Ayah dan Kak Alysa. Dan kadang juga aku merasa sikapku biasa saja. Apa keluhan ini, aku ada apa-apa ya, Kak?"
Andini terdiam. Pikirannya masih mencoba mencari tahu mengapa Nadya mengalami keluhan yang ia sebutkan.
Benar kata Alysa. Nadya mengalami beberapa keluhan yang kusebutkan. Dan yang aku dengar, ini ada sangkutannya dengan kematian Ibunya. Apa jangan-jangan Nadya mengidap ..., hati Andini bergumam. Ia ingin menyebutkan prediksi penyakit Nadya yang sudah ia ketahui gejalanya. Namun sayangnya Andini mengurungkan niatnya untuk mengatakan prediksi sebenarnya pada Nadya. Sepertinya ia harus bertanya kembali untuk memastikan.
"Kak, Kak Andin ..." panggil Nadya. Sontak ia membuat Andini kembali memerhatikannya dan membuyarkan lamunannya.
"Ok, ada satu pertanyaan lagi. Setelah kamu mendengar pertanyaan ini, kamu boleh menjawab dengan cara apapun. Mau dengan cara meleluasakan suasana hatimu, aku persilakan. Kalau dengan cara itu bisa membuatmu lebih baik, silakan saja, Nad."
Nadya masih tak mengerti. Ia masih memandang ragu Andini yang mulai fokus menyorotkan pandangan padanya. "Nad, maaf ya, kalau ini bisa menyakiti hatimu. Tapi aku harus menanyakan soal ini. Agar aku bisa tahu, apa keluhan yang kamu sebutkan itu membuat psikismu baik atau malah sebaliknya. Ini juga demi kondisi kesehatanmu, Nad."
Nadya masih bungkam. Ia masih menunggu perkataan Andini selanjutnya. "Kamu sempat tahu bagaimana kabar orangtuamu? Terutama Ayah atau Ibumu? Apa keduanya baik-baik saja? Aku paham kalau ini memang terasa menyakitkan. Sejak kejadian yang mungkin membuatmu mengingat keberadaan di antara keduanya, kejadian yang membuatmu merasa terpukul, hingga kamu merasakan kehilangan. Aku tahu ini sangat sulit untukmu, tapi kamu bisa menceritakan segala halnya padaku, Nad. Pelan-pelan, meskipun itu menyakitkan. Kamu boleh marah, menangis, lakukan apapun yang kamu suka, silakan. Jika memang hal itu yang bisa membuatmu membaik," gumam Andini lagi.
Pandangan Andini terasa sangat fokus menusuk tatapan Nadya. Andini bagaikan menangkap perasaan menyakitkan yang berbeda di balik mata Nadya. Karena gadis yang berada di depannya itu masih mematung dan tak berniat mengatakan apapun. Mungkin perkataan Andini berhasil membuat perasaan Nadya goyah.
Semoga kali ini berhasil, ungkap hati Andini. Ia masih memerhatikan kedua bola mata Nadya yang terlihat nanar. Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya Andini keluar dari pintu ruangan dan kembali menemui Alysa yang masih menunggunya. Sementara Nadya masih berada di dalam ruangannya, Andini masih membiarkan Nadya menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
"Al, ini surat pemberitahuan terkait kondisi Adikmu. Aku hanya bisa menganalisis, aku juga nggak mau Nadya mengalami keadaan seperti ini. Semoga Adikmu lekas pulih, Al," ujar Andini. Ia memerhatikan Alysa yang masih merasakan cemas mendengar kabar keadaan adiknya.
Kemudian kertas yang baru Alysa terima dari Andini, ia buka perlahan. Usai lipatan surat itu terbuka, Alysa membaca satu kalimat yang menyatakan penyakit psikis Nadya dengan jelas. "Stres pascatrauma? Maksudnya, Din?" Alysa kembali bertanya lebih jelas lagi pada Andini. Ia masih tak memahami penyakit yang diderita Nadya.
"Suatu keadaan psikis yang mengalami stres yang cukup tinggi. Karena stres yang dialami oleh si penderita dikarenakan adanya ketraumaan. Kemungkinan besar, Nadya mengalami trauma yang tinggi setelah ia melihat kejadian langsung yang bisa memfatalkan psikisnya. Dan dari yang kutahu, Nadya sempat menceritakan waktu dia melihat kejadian kecelakaan yang dialami Ibunya. Dan Nadya ada di lokasi itu. Setelahnya memang Nadya belum mengalami stres, bisa jadi dia masih trauma.
"Karena dia masih punya harapan Ibunya bisa sembuh. Tapi sewaktu Ibunya udah nggak bisa tertolong, di saat itu Nadya mengalami stres pascatrauma. Memori kejadian kemarin sempat terekam kembali. Seolah-olah ia merasa bersalah, dan dia bisa bersikap yang lebih emosional pada orang-orang yang terlibat dalam kematian Ibunya. Seperti dia menyalahkanmu dan menyalahkan Ayahmu." Andini menghela napasnya sejenak. Ia menghentikan kalimatnya dan kembali menatap raut wajah Alysa yang penuh khawatir.
"Al, insyaAllah Nadya bisa sembuh. Aku yakin dia pasti mampu melewati ini. Apalagi kamu dan Om Kamil, kalian pasti bisa melewati ini semua. Obat yang paling ampuh bagi Nadya, adalah keluarganya sendiri. Kamu dan Om Kamil, kalian yang dibutuhkan Nadya sekarang. Yang jelas, jangan biarkan Nadya sendiri tanpa ada keluarga terdekatnya. Apalagi kamu sebagai sosok Kakak yang jelas-jelas bisa mengubah suasana hati Nadya menjadi lebih baik lagi.
"Dan aku mohon, sebisa mungkin, Jangan sampai ada yang mengingatkannya tentang kematian Ibunya, atau bahkan jangan ada yang mengingatkan tentang perihal keluarga terdekat yang kondisinya tidak membaik pada Nadya. Karena kalau itu terjadi, Nadya akan meningkatkan emosinya lagi."
"Iya, insyaAllah aku akan melakukan apapun agar Nadya bisa sembuh dan normal lagi. Makasih ya, Din? Aku nggak tahu lagi, kalau aku nggak ketemu kamu," ucap Alysa yang mulai bersuara. Rasanya ia tak tahan ingin menguakkan tangisnya kembali. Namun beruntung Alysa bisa menahannya.
"Al, Allah yang mempertemukan kita. Aku juga nggak akan tahu, kalau kamu itu putrinya Om Kamil, teman Ayahku." Andini tersenyum.
"Oh ya, kamu boleh masuk melihat kondisi Nadya sekarang. Nanti aku akan kasi resep obat untuk Nadya. InsyaAllah ... semoga Allah lekas menyembuhkan penyakit Adikmu, Al," kata Andini.
Sementara Alysa, ia mengangguk dengan senyum paksanya. Hatinya masih gelisah usai mendapat kabar tentang kondisi adiknya. Semoga Engkau lekas mengangkat penyakit psikis Adikku, ya Allah. Aku mohon ..., batinnya berdoa.
Bersambung