Tangisan Alysa masih membuncah saat bersinggah di sofa ruang tengah. Ia membiarkan Nadya meluapkan emosi di kamar sampai adiknya itu merasa tenang. Kembali beberapa pecahan dan teriakan dari ruang kamar Nadya terdengar ke telinga Alysa. Alysa hanya diam. Air matanya semakin bertumpah ruah saat suara amukan Nadya kembali terdengar.
Raungan Nadya masih menyebut almarhumah ibu. Hati Alysa semakin tak tega dan merasa iba. Alysa bingung, apa yang harus ia lakukan agar Nadya tak lagi seperti itu.
"Assalamualaikum," sapa Kamil sang ayah yang tiba ke rumah. Kamil baru saja selesai mengurus beberapa pekerjaannya di kantor.
"Waalaikumsalam," balas Alysa yang menyambut kedatangan Kamil dengan senyum yang ia paksa. Sementara Kamil menghentikan langkahnya saat ia menatap raut wajah Alysa.
Sangat jelas saat bekas air mata Alysa sempat menggenang ke dasar wajahnya. Kedua bola mata Alysa tampak menyemburatkan kesedihan saat putrinya itu memandang Kamil dengan mata berkaca-kaca. Perlahan Kamil menderapkan langkahnya hingga mendekati putrinya.
"Putri Ayah kenapa?" Kamil mulai melontar tanya.
Alysa kembali menundukkan wajahnya. Ia berusaha seolah-olah merasa biasa saja dan tak mau membuat Kamil khawatir padanya. "Nggak apa-apa, Yah."
Prakk!
"KELUAAAAR KALIAN! AKU MAU SENDIRI! BU ... TOLONG NADYA. IBU ...."
Suara keras dari kamar Nadya kembali terdengar. Alysa semakin cemas mendengar amukan Nadya yang masih tak karuan. Sedangkan Kamil terperangah heran saat ia baru mendengar amukan Nadya.
"Nadya ngamuk? Kenapa, Al?" tanya Kamil saat berusaha membuat Alysa buka suara. Perasaan Kamil sangat tak enak setelah mengetahui erangan putri bungsunya. Ia takut saja akan terjadi apa-apa pada Nadya.
Dada Alysa terasa sesak saat ayah berusaha memberi tanya padanya. Lagi-lagi Alysa tak mampu mengeluarkan isak tangisnya di hadapan Kamil. Rasanya Kamil harus tahu keadaan Nadya yang sebenarnya. Karena selama ini yang Alysa tahu, Kamil selalu sibuk mengurus pekerjaan dan semenjak ibu meninggal pun, Kamil masih tak mengetahui amukan Nadya yang datang tiba-tiba.
"Alysa, nggak tahu ada apa dengan keadaan Adik. Karena setelah Ibu meninggal, psikis Nadya semakin nggak normal. Nadya sering mengamuk tiba-tiba tanpa tahu waktu. Ayah nggak tahu keadaan Nadya yang sebenarnya, karena waktu Ayah ada di rumah pun, keadaan Nadya jarang seperti ini. Dan, Alysa nggak tahu penyebabnya, Yah," Alysa mencoba pelan-pelan mengungkapkan keadaan Nadya sebenarnya.
Sembari sejenak mengatur napas akibat isakan tangis yang sempat menyesakkan dadanya.
Astagfirullahallazim ... salahku karena selama ini nggak bisa jadi Ayah yang baik. Sampai Nadya mengalami psikis yang kurang baik. Ya Allah ... hamba mohon, sembuhkanlah putri hamba, batin Kamil setelah Alysa menjelaskan tentang keadaan putri bungsunya.
Hati Kamil mulai berkecamuk karena rasa bersalahnya. Perasaan sedihnya memuncak saat ia mengingat almarhumah sang istri. Pendengaran Kamil sangat intens saat teriakan Nadya menyebut ibu dan lagi-lagi saat Nadya berteriak, ia akan selalu melemparkan barang-barang dengan amukan yang keras.
"Alysa nggak bisa diam aja, Yah. Alysa takut kenapa-napa. Yah, tolong ... kita harus tahu solusinya. Alysa sayang sama Nadya. Alysa nggak mau lihat Nadya kayak gini, yang Alysa mau, Nadya kembali normal." Alysa menatap Kamil dengan sorotan berkaca-kaca. Tangisannya masih tak bisa ia bendung saat adiknya kembali berteriak.
"Menurut Ayah, kita periksakan kondisi Nadya ke Psikiater. Ayah punya teman yang anaknya berprofesi sebagai Psikiater. Nanti Ayah minta, tolong, bicarakan baik-baik sama Adikmu, kalau keadaannya mulai membaik nanti, ya? Kita bawa Nadya, agar kondisinya kembali membaik."
"Baik, Yah. Alysa akan bicarakan baik-baik sama Nadya," ujar Alysa yang mengulas senyum getirnya menyambut perkataan ayahnya.
Semoga Engkau mempermudahkan hamba, ya Allah. Lekas berikanlah kesembuhan dan kenormalan kembali pada Adik hamba, Alysa membatin.
***
Sampai keesokan harinya, pagi itu Nadya sudah bersiap-siap berangkat ke kampus. Dengan persiapan pakaian yang rapi tanpa balutan kerudung yang menutupi auratnya. Nadya mengenakan dress berwarna biru selutut dan celana lenging berwarna hitam. Rambutnya pun sengaja digerai dengan hiasan penjepit di sela poninya.
Tidak hanya itu, dandanan Nadya menampilkan kesan kasual. Olesan bedak tipis, liptint pink, dan maskara yang mempertebal bulu matanya. Sekarang Nadya siap untuk berangkat ke kampus. Tak lupa ia menyandang ranselnya.
Krakk!
Pintu kamar tertutup rapat. Nadya mengamati ruang makan yang terdengar suara tawa dari Alysa dan Kamil. Jarak kamar Nadya sangat berdekatan bersama ruang dapur dan ruang makan. Hingga di saat Nadya keluar kamar, ia bisa melihat siapa saja yang sedang berceloteh di ruangan itu.
"Eh, Nadya. Ayo, sini, Dek. Mau berangkat kuliah, kan? Biar Kakak antar ke kampus, ya? Tapi sebelum itu, Nadya harus sarapan dulu. Kakak udah siapin makanan kesukaanmu. Tumis makaroni dan sambal cumi pedas," Alysa bergumam, ia menemukan Nadya yang sedang berdiri mengamatinya.
"Nadya, masakan Kakakmu enak banget. Kamu harus coba, Nak. Ayah aja suka. Ayo sini," Kamil ikut menyeru. Ia menoleh ke belakang, sayangnya Nadya masih bergeming.
"Nadya nggak lapar, dan Nadya mau jalan ke kampus sendiri. Makasih, Nadya berangkat dulu," ujar Nadya sembari membalikkan tubuhnya.
"Nadya," panggil Alysa sembari ia beranjak dari tempat duduknya.
Mendengar panggilan Alysa, Nadya memilih berhenti dan kembali menengok Alysa tanpa membalas perkataannya.
"Kerudungnya mana? Kamu ..."
"Kak, aku buru-buru. Ada kuis di kelas pertama. Permisi, Kak, Yah, assalamualaikum," Nadya sengaja memotong perkataan Alysa dan melesat pergi tanpa mengubris Alysa dan Kamil lagi.
"Nadya!" Alysa tetap bersikeras memanggil adiknya. Namun sayangnya Nadya telah berjalan keluar dari pintu rumah.
"Alysa, sudah, duduk sini." Kamil menahan seruan Alysa saat mengetahui Nadya tak memedulikan panggilan putri sulungnya.
Kembali Alysa menyinggahkan duduknya. "Al, sudah kamu tenang dulu. Mungkin saja Nadya butuh ketenangan. Kamu jangan terlalu memberikan pertanyaan macam-macam."
"Macam-macam gimana, Yah? Tapi Alysa juga nggak mau Nadya salah arah. Apalagi saat ia memilih nggak pakai kerudung lagi. Ayah kan tahu, menutup aurat itu sangat dianjurkan dalam agama kita."
"Iya, Ayah tahu, Al. Ayah mengerti. Tapi coba kamu perhatikan kondisi Adikmu sekarang. Kamu tahu sendiri, semalam Nadya ngamuknya kayak apa. Semua yang ada di sekitarnya pun dibanting sama dia. Ayah juga khawatir sama Adikmu, Ayah juga nggak mau Nadya salah arah, Al. Ayah memahami maksudmu. Nanti kamu bisa bicarakan baik-baik sama Nadya, ya?"
"Baik, Yah." Alysa pasrah mendengar sanggahan Kamil. Memang keadaan psikis Nadya kurang membaik. Bahkan kalau sampai Nadya mendengar sanggahan atau pun pembicaraan tentang almarhumah ibu, maka tak akan menutup kemungkinan bila Nadya akan mengamuk seperti kemarin.
Namun Alysa tak mau berdiam saja saat melihat tingkah laku Nadya. Apalagi saat Nadya tak lagi mengenakan kerudung yang biasa dikenakan. Alysa merasa gagal kalau sampai ia tidak mengingatkan tentang perihal kebaikan syariat Islam pada adiknya. Mungkin tidak sekarang, ayah benar. Mungkin nanti Alysa akan bicara baik-baik pada Nadya.
***
Usai jam kuliah pertama, akhirnya Nadya memilih bersinggah di kantin dan berniat mengenyangkan perutnya. Karena sedari pagi, ia menolak ikut sarapan bersama kakak dan ayahnya. Entah sampai kapan Nadya harus bersikap seolah-olah ia tidak menganggap Alysa sebagai kakak kandungnya.
Padahal baru saja kemarin ia mengucap maaf dan menyadari perbuatannya pada Alysa. Namun saat setelah dirinya mendengar Dira dan Sandra mengatakan tentang ibu dan keluarganya, lagi-lagi Nadya harus mengalami stres yang tak terduga.
Nadya mencoba menenangkan diri di saat ia duduk di salah satu bangku tanpa bersama teman-teman lainnya. Sambil menenggak jus melon dan sesekali menyantap mie goreng pesanannya. Pandangan Nadya masih tertuju ke depan.
Melihat beberapa orang yang berlalu lalang dan di antaranya juga sama-sama menikmati hidangan menu kantin. Perasaan Nadya merasa tenang saat menikmati hidangan tanpa ada orang lain mengusik. Namun selang beberapa menit kemudian ....
"Hai, Nadya. Apa kabar? Masih ingat dong, sama sahabat paling keren dan yang baik hati kayak gue? Eh iya, gue mau ngenalin nih, sahabat baru gue, Dira dan Sandra. Berhubung karena status kita adalah mantan sahabat, jadi gue berhak ngenalin kedua sahabat baru gue ke mantan sahabat gue."
Suara Manda tiba-tiba membuat Nadya menoleh. Manda berdiri di hadapannya bersama Dira dan Sandra. Ternyata dugaan Nadya yang sempat mengira bahwa mereka berdua adalah suruhan Manda, itu benar. Nadya sempat mengira dan hanya sekadar tahu mereka dekat dengan Manda. Tanpa Nadya tahu jika mereka adalah anggota geng yang Manda ciptakan sendiri.
Mungkin sekarang Nadya bisa menyebut mereka sebagai Manda cs. Melihat keberadaan Manda cs, nafsu menikmati hidangan yang awalnya membuat Nadya nyaman, bahkan saat ini dirinya merasa tidak selera sama sekali.
"Kalau tujuanmu cuma ingin ngenalin mereka ke aku, mending nggak usah. Karena aku nggak peduli mau siapa pun yang temenan sama kamu sekarang, itu urusanmu. Nggak perlu kamu capek-capek punya niatan ngenalin mereka ke aku. But, i don't care," kata Nadya. Ia menjawab seraya melengoskan mukanya tanpa berniat menggubris mereka lagi.
Ck! Manda berdecak kesal melihat respons Nadya. Ia menyeret satu kursi hingga duduk di depan Nadya. Kali ini Manda berusaha lagi agar Nadya mau memerhatikannya.
"Asal lo tahu, lo itu bukan seorang Nadya yang dulu yang pernah gue kenal. Lo masih nggak nyadar sama diri sendiri? Siapa lo sekarang? Mahasiswa di sini pun tahu, kalau lo itu nggak punya etika. Buktinya, mana ada cewek yang dikenal alim dan baik seisi kampus, sekarang malah dikenal sebagai pemabuk dan penari diskotik ..."
"DIAM!" Nadya berkata tegas setelah segera memotong kalimat Manda yang lagi-lagi berusah memancing emosinya.
"Maumu apa, sih? Selama ini aku temenan sama kamu, sampai aku menganggap kamu sebagai sahabatku. Dan sekarang, apa balasannya? Di saat aku bersikap baik dan setia temenan sama kamu, tapi, kamu malah berusaha nunjukin kalau aku musuh kamu. Sekarang, siapa yang nggak punya etika? Mana ada teman yang udah bertahun-tahun yang kuanggap sebagai sahabat baik, tapi dia malah tega menjerumuskan temannya di saat kondisi temannya tidak memungkinkan. jangan kira aku nggak tahu, Man. Kamu yang kemarin ngejebak aku, sampai aku mau diajak ke tempat terlarang itu dan aku malah nggak sadar, waktu aku nari-nari nggak jelas di sana. Kurang puas apa, sih, Man? Udah ngejebak aku, dan sekarang kamu mau apa lagi? Masih kurang?"
Nadya merasakan sesak setelah menyulutkan pertanyaan yang membuatnya emosi menanggapi Manda. Saat ini Nadya mengerti, tidak semua orang yang patut dipercaya dan dianggap baik, contohnya seperti Manda. Kalau boleh jujur, Nadya merasa kecewa saat mengetahui Manda berubah sikap padanya.
"Hei, santai Mbak Bro. Santai, dong, jangan marah gitu. Nanti lama-lama emosi, lo malah ngamuk beneran. Uh ... kan, gue juga yang takut," ujar Manda sembari sengaja menggelakkan tawa bersama Dira dan Sandra. Mereka masih setia menemani Manda dan berdiri di sisi Manda, bagai bodyguard yang bertugas menjaga majikannya.
"Maksud lo apa, sih, Man?!" Nadya tak bisa menahan emosinya. Ia beranjak dan semakin mendekatkan dirinya pada Manda yang masih ditemani Dira dan Sandra.
Melihat aksi Nadya, Manda tak mau kalah. Ia pun lekas beranjak dan saat ini mereka berdiri saling berhadapan. "Lo mau tahu, mau gue apa?" ucap Manda dengan senyum sinisnya.
Nadya masih memerhatikan Manda. Rasanya ingin sekali ia mencekek atau pun mencakar Manda hidup-hidup. Nadya benar-benar tidak tahan mendengar kalimat yang sengaja Manda lontarkan. Perkataannya begitu menusuk dan menyayati hati Nadya. Namun beruntung Nadya mampu menahan aksinya. Ia hanya menunggu lontaran perkataan Manda selanjutnya.
"Gue mundur dulu, ya, bentar-bentar." Perlahan Manda menarik kakinya mundur tiga langkah dari arah Nadya berdiri, bersamaan dengan Dira dan Sandra. Tampaknya mereka berdua ketakutan melihat sorotan mata Nadya yang begitu emosi menatap Manda.
"Ok, gue ngomong baik-baik, apa mau gue ke lo. Lo juga harus dengerin baik-baik, apa mau gue," kata Manda, ia berkacak pinggang setelah jaraknya cukup menjauhi Nadya.
"Man, please ... jangan macam-macam sama Nadya. Nanti ngamuk beneran, gimana?" ujar Dira yang setengah berbisik dan berusaha mencegah agar Manda tak memancing kemarahan Nadya.
Dira rasa bukan hanya dirinya yang tahu kondisi Nadya sebenarnya. Kemarin saja saat ia dan Sandra telah mengejek Nadya, ia berinisiatif bersama Sandra mengejar Nadya ke arah toilet. Sambil bersembunyi Dira dan Sandra mendengar suara teriakan Nadya yang mengamuk dan menyebut ibu.
"Man, mending nurut apa kata Dira. Bahaya, Man. Lo nggak tahu tingkat emosinya kayak apa. Sumpah beneran! Udah kayak orang sakit jiwa, Man. Ngeri, tahu ..." sahut Sandra yang sengaja ikut berbisik sambil tetap berdiri di belakang Manda.
"Udah, ah! Tenang aja kalian. Justru ini rencana gue," Manda berkata tegas menjawab sahutan kedua teman karibnya.
"Gue mau, orang gila kayak lo itu harus dibasmi. Kampus ini nggak menerima cewek yang berpenyakitan hati kayak lo. Apalagi kalau gilanya karena kematian Ibunya sendiri. Sadar dong, Nad! Ibu lo itu udah mati. Nggak perlu lo nangis-nangis dan ngarep-ngarep kayak orang susah. Mau ditangisin gimana pun juga, kalau mati ya tetap aja mati."
Manda sengaja menghentikan ucapannya saat ia merasa heran melihat Nadya yang menatapnya berkaca-kaca. Pelupuk matanya seakan ingin menguakkan air mata. Nadya bergeming, ia masih berdiri. Perasaannya sangat berkecamuk setelah ucapan Manda berhasil mengenai hatinya. Tubuh Nadya berasa bergetar lagi. Getaran yang ia rasakan sama persis seperti kemarin yang dialaminya.
Pandangannya tak bisa ia atur lagi, seolah semua di sekelilingnya berputar. Sejenak Nadya mengalihkan tatapannya ke arah sekitar. Namun sayangnya ia tak bisa memfokuskan pandangannya ke arah yang tepat.
Ia merasakan bahwa semua orang di sana sedang mengejeknya dan menyinggung tentang kematian ibunya.
Bahkan saat Nadya kembali menyudutkan pandangannya pada Manda, ia mengingat perkataan Manda yang lagi-lagi menyulut emosinya. Rupanya ini rencana Manda yang sengaja ingin membuat Nadya tak sadar bagai orang yang kehilangan jiwa. Sedetik kemudian, Nadya memegang kepalanya yang terasa pusing. Spontan Nadya menggeleng dan memundurkan langkahnya. Rambutnya dibiarkan acak-acakan saat tangannya mengepal memegang kepalanya.
"Nggak ... nggak mungkin. NGGAAAAAK! KALIAN SALAAAAH!"
Brukk!
Tubuh Nadya tersungkur. Ia masih memegang erat kepalanya sambil menunduk. Erangan yang mengucap kata tidak semakin kuat. Hingga membuat semua orang-orang yang berada di sekitar malah mendekat dan melihat aksi Nadya.
"IBU MASIH ADA! Manda salah! NGGAAAK!" Nadya masih berteriak mengerang menyebut kalimat yang sama. Duduk bertekuk lutut dan ketakutan saat merasakan dimana dirinya kini menjadi pusat perhatian semua orang. Sementara Manda bersama kedua temannya sengaja memilih pergi meninggalkan Nadya.
"Astagfirullahallazim! Nadya!" Dari arah yang tak jauh dari halaman kantin, teriak seorang laki-laki yang mengenakan kemeja abu-abu dan ia pun lekas mendekati Nadya.
"Kamu siapaaa?! Jangan dekat-dekat aku! Kata mereka aku gila! Iya, aku memang gila! Mereka bilang Ibuku udah mati! Padahal mereka nggak tahu, kalau Ibu masih ada! Ibu nggak pernah mati ...." Nadya kembali berteriak saat berusaha menghindari laki-laki yang bersapa Rafka itu.
Ya Allah ... mengapa dia seperti ini? Nad, tolong sadar ..., ujar hati Rafka.
"Nad, sadar, Nadya .... Jangan kayak gini, Nad. Sadar ..." sahut Rafka.
"Nggak! Pergi kamu!" Nadya kembali menjauhkan tubuhnya dari Rafka. Hingga laki-laki itu memandang ke arah beberapa mahasiswa yang masih memerhatikannya bersama Nadya.
"Hei! Tolongin aku, tolong bawa Nadya ke ruang kesehatan!" panggil Rafka saat dirinya berteriak meminta tolong ke beberapa mahasiswa yang masih bergeming. Sebagian di antara mereka hanya diam dan merasa takut melihat Nadya. Ada pula sebagian yang bersedia menghampiri Rafka dan Nadya, hingga mereka pun mulai menolong Nadya.
Hingga belum sempat Rafka dan beberapa mahasiswa lain berhasil merangkul tubuh Nadya yang semakin berteriak ketakutan, tak beberapa lama Nadya mendadak pingsan tak sadarkan diri hingga menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Rafka.
Bersambung