Siang itu Nadya tiba-tiba terbangun, setelah ia mendengar suara ponselnya yang bergetar. Nadya pelan-pelan membuka kelopak matanya sebentar, lalu jemarinya mulai mengambil ponsel yang terletak di atas nakas, sembari menekan layar touchscreen pada ponselnya, ia pun langsung menerima panggilan yang berasal dari nomor tidak dikenalnya.
“Halo," Nadya mulai membuka suara.
“Ini benar nomornya Nadya anak FKM angkatan 2015 itu, bukan? Maaf, ya? Kita lupa kenalan, nama gue Dira, dan kita sempat ketemu tadi di kampus itu loh, di depan mading. Gue cuma mau minta maaf aja ya sama lo, soalnya gara-gara omongan gue sama teman gue, lo malah sempat ngamuk nggak jelas di toilet. Sampai buat lo pingsan.”
“Jadi, nama kamu Dira? Anak kelas A bukan? Dan kamu tahu darimana nomor ponselku?” Nadya tertegun saat mendapat telepon dari salah seorang teman kampusnya. Dira yang sempat mengejeknya di depan mading fakultas.
“Iyalah, tebakan lo benar banget. Gue dapat nomor lo dari Manda, mantan sahabat lo itu. Gue sempat nggak nyangka, ya? Hidup lo miris banget. Manda yang dulunya sangat lo percaya jadi sahabat sejati lo, dia malah mengkhianati lo. Dia malah nyebar aib lo di mading, dan dia sempat bilang kalau lo itu memang beneran ada kelainan jiwa. Dan itu gara-gara lo masih nggak terima kalau Ibu lo memang benar-benar udah mati. Anak seangkatan juga udah tahu kali, nasib miris lo itu gimana. Dan gue, sempat kasihan saat tahu derita lo, Nad.”
Nadya tak dapat menahan derai tangisnya kembali. Ia begitu tak tahan mendengar suara Dira yang sengaja mengingatkannya tentang ibunya. Dan Nadya tak menyangka, jika Dira mengungkapkan tentang Manda yang telah mengaku menjadi mantan sahabatnya. Manda telah menjelekkan namanya di depan teman-temannya. Nadya tak bisa membalas perkataan Dira. Tangisnya begitu tersedu-sedu.
“Maaf lagi nih, kalau gue bikin lo sedih, Nad. Eh, tapi lo jangan ngamuk lagi, dong. Lo itu harus sembuh dari penyakit gila lo itu, Nad. Harus pokoknya! Lo nggak boleh nyerah. Dan lo itu harus sadar, kalau Ibu lo udah mati. Dan lo, nggak bakalan lagi ketemu sama Ibu lo. Dan lo, harusnya benci sama Kakak dan Ayah lo itu yang udah nggak peduli sama lo. Gue tahu cerita lo ini dari Manda, Nad. Lo harusnya tahu, Kakak lo itu memang jahat. Dan buktinya, Ayah lo tetap aja sibuk sama pekerjaannya, tanpa harus memedulikan lo lagi. Dan Kakak lo itu, cuma cari perhatian sama lo. Lo harus sadar, Kakak lo itu nggak sepenuhnya baik sama lo, Kakak lo itu udah nyesal Ibu lo mati dan lo harus marah sama dia. Makanya Kakak lo kayak bersikap baik sama lo karena dia ingin membayar semua kesalahannya ke lo.”
Tap!
Nadya sengaja memutuskan sambungan teleponnya dan melemparkan ponselnya ke atas ranjang begitu saja. Tatapannya berkaca-kaca kembali. Ia pun juga memegang rambut panjangnya seraya menatap sekeliling ruangan dengan perasaan ketakutan. Lalu Nadya berlari keluar dari pintu kamarnya dan menuju kamar almarhumah ibunya.
Brakk!
Pintu kamar milik almarhumah ibunya terbuka. Nadya berjalan perlahan hingga mendekati sebuah meja yang terletak di sisi ranjang. Ia menatap foto ibunya yang terpajang tegak di meja itu. Kamar itu milik kedua orangtuanya. Akhirnya Nadya semakin mengerangkan tangisnya saat jemarinya mulai memegang bingkai foto tersebut.
“Ibu masih ada ... Ibu nggak boleh mati. Ibu masih ada ... Manda sama Dira salah, dia nggak tahu kalau Ibu masih ada di sini. Mereka, SAMA SEKALI NGGAK TAHU!”
PRANGG!!!
Pigura yang dipegang Nadya pun kembali ia lempar hingga pecah berantakan. Nadya kembali menangis ketakutan seraya memegang kedua lututnya. Ia hanya menatap pecahan-pecahan pigura yang terjatuh.
“Ibu ....” Tangis Nadya seraya memanggil almarhumah Ibunya lagi.
Alysa yang baru saja selesai memasak di dapur, ia pun segera berjalan menuju ke kamar orangtuanya. Alysa sempat kaget saat mendengar teriakan adiknya dan mendengar suara pecahan dari kamar ayahnya.
“MasyaAllah! Nadya!” seru Alysa setelah berada di kamar yang ia tuju dan ia pun melihat satu pigura yang pecah berantakan di atas lantai. Alysa juga melihat adiknya yang sedang menangis dan menyebut nama ibunya.
Nadya mengalihkan penglihatannya pada Alysa yang sedang ingin berjalan mendekatinya. Namun tatapan Nadya sangat ketakutan saat mengetahui kakaknya yang sedang berjalan ke arahnya. Nadya mengingat saat ucapan Dira yang menyinggung kakaknya itu. Nadya menggelengkan kepalanya dengan gelisah.
“STOP! BERHENTI! KAKAK TOLONG BERHENTI DI SANA! AKU NGGAK MAU KAKAK DEKAT-DEKAT SAMA AKU LAGI! BERHENTI, KAK ....” Lagi-lagi Nadya berteriak marah.
Sontak Alysa menghentikan langkahnya. “Dek, Kakak nggak akan nyakitin kamu. Kamu kenapa jadi gini lagi, Dek? Kakak nggak mau kamu kenapa-napa. Kamu jangan takut sama Kakak, Dek.”
“NGGAK! KAKAK PERGI! Nadya nggak mau dekat sama Kakak lagi, Kakak itu PEMBOHONG!” Nadya lekas beranjak dari ranjang dan berlari keluar dari pintu kamar setelah melewati Alysa yang masih bergeming.
Brakk!
Alysa mendengar suara pintu kamar Nadya yang tertutup dengan nada yang keras. Kali ini Alysa kembali mengeluarkan tangisnya. Perasaannya begitu kalut, ia takut dengan keadaan psikis Nadya. Padahal baru kemarin psikis Nadya kembali normal. Dan saat ini ia harus mengetahui keadaan adiknya itu dengan psikisnya yang kembali tak normal. Nadya kembali mengamuk dan memarahinya. Dan kali ini Nadya benar-benar takut padanya.
“Ya Allah ... apa salah Alysa? Hingga engkau memberikan ujian serta cobaan yang begitu berat bagi Alysa. Ya Allah ... Alysa mohon, Alysa mau Nadya kembali normal. Alysa nggak mau ngelihat Nadya seperti ini. Astagfirullahallazim." Tangis Alysa, ia hanya menatap pecahan pigura yang berantakan di ruangan itu.
***
Sementara di sebuah apartemen yang cukup mewah dengan gedung lantai yang menjulang tinggi, Manda dan Sandra baru saja memasuki pintu apartemen tempat tinggal Dira. Mereka sedang berjalan bertiga, bersama Dira yang juga berada di antara keduanya. Ketika mereka berjalan di koridor apartemen, tawa mereka begitu sarkartis saat bercengkerama bersama.
“Haha ... gue jadi nggak sabar ingin tahu gosip tentang si gila mantan sahabat lo itu, Man. Pasti besok-besok, dia jadi takut masuk kuliah,” ujar Sandra.
“Lo, lo, harus tahu, waktu gue sengaja telepon Nadya dan gue sempat ngejelekin sikap Kakak dan Ayahnya itu, gue sempat ingetin dia tentang kematian Ibunya, dan dia malah langsung ng-riject telepon gue."
"Jangan-jangan dia malah ngamuk lagi. Ih, serem ... untung aja keluarga gue selamat, nggak jadi kayak keluarga si Nadya yang berantakan itu,” timpal Dira.
“Udah, lo semua tenang aja. Gue jamin, semakin kita sering ng-bully si Nadya, dia malah semakin gila, dan terus, dia bakalan masuk ke rumah sakit jiwa secepatnya. Haha ...” ujar Manda dengan tawanya yang cukup keras. Seraya ia merangkul kedua leher teman-teman karibnya itu dan sembari mengajak mereka masuk ke dalam lift.
Saat mereka bertiga telah berada di dalam lift, mereka menatap terkagum-kagum saat mengetahui seorang pemuda yang tingginya melebihi mereka sedang berdiri tegap berada di dalam lift yang sama. Pemuda itu Rafka, laki-laki itu baru saja ingin kembali ke ruangan tempat tinggalnya setelah sebentar ia berbelanja kebutuhan makan dan minum di supermarket yang terletak di apartemen lantai pertama.
Ya ampun, cowok ini cool banget. Udah ganteng, keren, dan sepertinya dia orang kaya. Buktinya dia bisa tinggal di apartemen yang semewah ini. Apa ... gue ajak kenalan aja, ya? Manda membatin seraya diam-diam melirik ke arah Rafka. Sementara objek yang diliriknya itu hanya diam dan tetap fokus memandang ke depan sembari menunggu lift mengantarkannya ke lantai yang ia tuju.
“Kenapa, Man? Lo suka ya sama tuh cowok?” bisik Sandra saat menatap mata Manda yang sengaja diam-diam melirik Rafka.
“Lo suka juga sama dia, Man? Ya, Manda gitu. Giliran jatah gue aja lo ambil juga," lirih Dira.
“So what!" balas Manda dengan sangat singkat.
Setelah pintu lift terbuka, Rafka dan ketiga gadis itu bersamaan keluar dari pintu lift. Ketika Rafka telah mengambil langkahnya terlebih dahulu, Manda cs kembali mengejar Rafka yang sedang berjalan melewati mereka.
“Eh, eh, tunggu, tunggu, tunggu!” panggil Manda setelah berhasil membuat langkah Rafka terhenti.
Rafka menatap ketiga gadis yang berada di sisinya itu dengan heran. “Ada perlu apa, ya?”
Dengan santai Manda mengulas senyumannya di hadapan Rafka. Sembari telapak tangannya bersiap-siap ia ulurkan untuk mengajak Rafka kenalan. “Hai, namaku Manda. Nama kamu siapa?”
“Hai, aku Dira.”
“Aku Sandra. Ayo dong, sebutin nama lo. Kita cuma mau kenalan aja. Abisnya ... lo ganteng, sih." Sandra menatap Rafka dengan senyuman malu-malunya.
Sementara Rafka yang melihat tingkah mereka satu persatu menjadi geli sendiri. Tumben saja ada tiga orang gadis yang secara terang-terangan mengajaknya kenalan. Rafka hanya tahu jika mereka juga berada di lift sedari tadi bersamanya.
“Nggak penting!” ucap Rafka dengan nada cuek angsanya dan ia pun pergi melewati mereka tanpa mengindahkan keberadaan mereka.
“Kok, malah dicuekin, Man?” gerutu Dira yang mengernyitkan dahinya bingung.
“Jadi, namanya itu nggak penting? Aneh juga, cowok seganteng dia punya nama seunik itu,” puji Sandra.
“Sandra! Lo itu punya otak jangan lemot banget. Mana mungkin cowok kayak gitu punya nama nggak penting? Yang ada, dia nggak mau kenalan sama kita bertiga. Gue merasa sakit hati dia berani ngomong gitu di depan gue. Memangnya, kurang cantik apa sih gue? Sampai-sampai mata dia buram nggak mau ngelihat gue yang udah jelas cantiknya di atas rata-rata. Pokoknya, gue nggak akan berhenti ngedeketin cowok itu. Sampai gue tahu namanya, dan gue dapetin hatinya.” tegas Manda.
***
“Assalamualaikum,” panggil Rafka setelah menutup kembali pintu ruangan apartemennya. Sesekali ia menatap Arista yang sedang fokus menonton film korea favoritenya di depan televisi tanpa menjawab salam kakaknya.
Rafka hanya menggelengkan kepalanya. Ia sengaja mendekati adiknya dan bersinggah di sofa yang Arista singgahi. Rafka meletakkan sekantong plastik yang berisi makanan dan minuman ke atas meja. Pelan-pelan Rafka menghela napasnya seraya melirik adiknya dan sesekali melirik ke arah televisi.
“Kalau Kakak lagi ngucapin salam, harusnya kamu jawab. Waalaikumsalam, Dek. Salam itu mengartikan, semoga keselamatan dan rahmat Allah, serta keberkahannya terlimpahkan. Di dalam ucapan salam itu bermakna doa, jadi ”
“Kak, aku ini lagi sibuk nonton film korea kesukaanku. Kakak bisa nggak, nggak usah ganggu aku yang lagi nonton gini? Kakak sejak kapan, sih? Suka ngatur-ngatur aku gitu, apalagi sekarang malah bawa-bawa ceramah tentang agama,” Kali ini Arista memprotes perkataan kakak laki-lakinya itu yang belum sempat menyelesaikan perkataannya.
“Dek, selama ini Kakak memang sama sekali tak memedulikan semua yang kamu lakukan. Kakak cuek sama keadaan kamu dan Kakak menghindari kamu agar Kakak nggak berantem lagi sama kamu. Tapi aku ini tetap sebagai Kakak kamu, selayaknya seorang Kakak yang punya hak untuk membimbing Adik kandungnya ke jalan kebaikan. Terutama agar kamu bisa mengenal agamamu sendiri, salah?”
“Kak, aku masih bisa mandiri di sini. Dan meskipun Kakak nggak ada kemarin, aku masih bisa hidup baik-baik tanpa adanya Kakak. Udah deh, Kakak nggak usah sok ingin ngebimbing aku dan ngajarin aku ke jalan versi kebaikan Kakak. Aku ini udah gede, udah dewasa, dan aku masih sanggup untuk menentukan masa depanku.”
“Dek, Kakak serius. Kakak udah berubah. Kakak bukan lagi Rafka yang dulu pernah mengacaukan keluarga kita. Kakak udah tobat, Dek, dan Kakak mau kamu juga ikut berubah, sama seperti Kakak.”
“Kalau gitu, kenapa dulu Kakak nggak berubah? Sewaktu Kakak pernah membela Papa dan selalu mendukung kalau Mama harus cerai sama Papa. Kakak nggak bisa jawab, kan? Kakak cuma mau bilang, kalau perubahan itu masalah takdir?”
“Itu dulu, Dek, kamu jangan ngungkit-ngungkit masa lalu Kakak lagi. Kakak udah mati-matian berhijrah ke jalan yang benar. Kamu malah terus saja menyalahkan Kakak. Tolong, Dek, biarkan Kakak memperbaiki semua kesalahan Kakak ke kamu. InsyaAllah, Kakak bisa jaga kamu dan bisa jadi selayaknya seorang Kakak yang baik sama Adiknya.”
Arista tak membalas perkataan Rafka. Ia hanya mendengus sebal sambil menatap marah pada Rafka. Dan tanpa banyak bicara, Arista beranjak dari sofa dan berjalan cepat hingga keluar dari pintu apartemen dengan perasaan kesal.
Brakk!
Pintu telah tertutup sempurna. Arista menangis di depan pintu hingga ia terduduk lemas. Perlahan ingatannya sangat sempurna memikirkan kenangan pahit yang pernah ia alami bersama keluarganya.
“Harusnya Papa sama Mama nggak cerai. Harusnya kalian masih bersama. Aku nggak akan sedih gini dan selalu bertengkar sama Kak Rafka. Mama ... Arista kangen.” Tangis Arista sembari memeluk kedua lututnya.
Sementara di arah kiri koridor dekat Arista menangis di depan ruangan tempat tinggalnya, Manda cs menghentikan langkahnya seraya menatap heran melirik Arista. “Stop, stop, stop! Itu ruangan apartemen, bukannya ruangan milik cowok ganteng yang gue ajak kenalan tadi? Dan cowok itu sempat ngecuekin kita bertiga,” ujar Manda, sorot matanya memandang fokus pada seorang gadis yang sedang menangis itu.
“Dan cowok itu, udah punya pacar? Jangan-jangan memang beneran gadis itu pacarnya. Pantas cowok ganteng itu nggak mau kenalan sama kita-kita,” Dira menebak.
“Tipe cowok yang setia banget, Man. Cowok idaman. Udah ganteng dan keren, masih saja setia. Jarang banget tuh ada cowok macam dia,” ucap Sandra yang ikut memuji. Ia sengaja diam-diam melirik gadis itu.
“Tapi guys, kalau memang cowok itu udah punya pacar, dan kenapa pacarnya nangis di depan ruangan apartemennya?” Manda bersuara kembali. Pikirannya sangat heran saat matanya masih menatap fokus pada Arista.
Apa mungkin dia itu memang pacarnya ya? Ah, semoga saja nggak, Manda membatin.
Bersambung