“Rafka!” panggil seorang pemuda yang sedang bersama teman-teman lainnya di arah koridor Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Pemuda yang mengenakan kemeja hitam pekat itu berjalan mendekatinya. Ia membalas sapaannya dengan senyumnya. “Assalamualaikum, brother?” gumam pemuda yang bernama Rafka Maulana Ataya, yang kerap kali di panggil Rafka.
“Waalaikumsalam, Raf. Gimana kabar? Alhamdulillah sehat pastinya, dong? Gimana kabar Mama sama Papamu? Arista, Adikmu gimana? Sehat?” ucap pemuda yang menjadi kawan akrab Rafka semenjak mereka bersekolah SMA di Jakarta.
Ia Ahmad Fadhil Malik. Rafka biasa menyebutnya Fadhil. Mereka memang berkuliah di satu kampus yang sama. Di UNDIP Semarang, namun beda jurusan. Fadhil di jurusan Kesehatan Masyarakat. Sedangkan Rafka berada di Fakultas Kedokteran.
“Mama sama Papa udah nggak sama-sama lagi, Dhil. Mereka udah pisah waktu aku pertama kali masuk kuliah. Papa lagi sendirian di Jakarta, ya, biasalah, tetap ngurusin pekerjaannya. Kalau Arista, dia lagi kuliah di sini juga, masih semester lima di jurusan Arsitek. Alhamdulillah, semuanya sehat walafiat,” ujar Rafka dengan panjang lebarnya menyebut risalah keluarganya pada kawan karibnya itu.
Rafka telah lama tak bertemu dengan Fadhil semenjak mereka sama-sama sibuk dengan kuliah masing-masing. Fadhil yang saat ini memilih mengontrak, dan Rafka tinggal bersama adiknya di apartemen milik papa mereka.
“Aku turut prihatin sama kamu, Sob. Yang sabar, ya? InsyaAllah, semoga ke depannya semuanya lancar dan baik-baik saja buatmu. Oh ya, ngapain kamu ke FKM?”
“Oh, ini, aku lagi penelitian buat ngerjain proposal pengajuan skripsiku. Jadi temanya itu ambil seputar studi kasus di FKM UNDIP. Jadi, tadi aku baru saja wawancara sama beberapa dosen di sini.”
“Oh gitu, udah mulai ngajuin skripsi aja, ya? Cepat banget, Sob. Aku aja masih belum nemuin judul penelitian untuk skripsi. Nantilah, insyaAllah aku pasti ngejar kamu juga. Hehe ... ya udah, aku duluan ya? Ada kelas sebentar lagi. Assalamualaikum,” ucap Fadhil dan akhirnya beranjak pergi setelah bersalaman bersama Rafka.
“Waalaikumsalam,” sahut Rafka, setelahnya ia kembali melesatkan dirinya dari koridor.
Rafka berjalan menuju pintu toilet khusus laki-laki di samping toilet perempuan. Namun belum sempat dirinya masuk ke pintu toilet laki-laki, Rafka menemukan pintu toilet perempuan itu terbuka. Penglihatannya menangkap sepasang kaki seseorang bercelana jeans yang sedang terbaring di balik pintu toilet yang agak terbuka.
“Siapa ya? Seperti orang yang sedang pingsan. Pingsan? Astagfiruallah!" Rafka jadi semakin penasaran siapa orang yang berada di balik pintu itu. Di toilet tersebut memang sangat sepi. Di jam itu memang tak ada satu pun mahasiswa yang banyak mengunjungi toilet. Dengan mempercepat langkah dan hati yang cukup menggusar, Rafka memasuki pintu toilet khusus perempuan.
“Astagfirullahallazim,” gertak Rafka saat ia kaget menatap seorang gadis yang pingsan di toilet perempuan. Cepat-cepat Rafka meminta bantuan orang lain untuk bisa memapah Nadya agar lekas dibawa ke ruang Unit Kesehatan Mahasiswa.
***
Pelan-pelan Nadya mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya saat ia mulai tersadar dan mulai membuka kedua matanya secara sempurna. Nadya menatap sekitar ruangan yang sedang ia singgahi. Di sana hanya terdapat seorang wanita paruh baya sebagai petugas penjaga ruangan kesehatan FKM. Nadya sangat kenal dengan petugas kesehatan yang ada di fakultasnya.
“Eh, alhamdulillah kalau kamu sudah sadar, Nad. Tadi ada salah satu mahasiswa laki-laki yang mengantarkanmu ke sini. Kamu lagi pingsan tak sadar diri. Tapi sayangnya, dia yang menolong kamu udah pamit duluan. Tanpa meninggalkan nama atau pun identitas lainnya,” ujar sang petugas tersebut pada Nadya yang sedang berpikiran bingung.
Ia sadar apa yang terjadi dengan dirinya semenjak beberapa jam yang lalu. Saat ia bertemu Manda dan ia pergi ke toilet. Hingga Nadya pingsan di dalam ruangan toilet. Namun pikiran Nadya bukan hanya itu saja yang terlintas. Nadya sempat bingung saat petugas tersebut menyebutkan seorang laki-laki yang menolongnya. Tapi siapakah dia? Nadya hanya bertanya heran dalam hatinya.
“Oh ya, tadi Masnya nitip pesan sama saya, Nad. Katanya, kalau kamu sudah sadar, kamu disuruh lekas keluar dari fakultas, soalnya Kakak kamu lagi jemput di luar gerbang fakultas,” ujarnya lagi tanpa mendapat jawaban Nadya. Mbaknya hanya menatap tingkah Nadya dengan heran.
"Em ... I-iya, saya permisi dulu,” ucap Nadya sembari lekas menarik langkah hingga keluar dari ruangan kesehatan.
Nadya segera mempercepat langkahnya hingga berhasil keluar dari gerbang Fakultas Kesehatan Masyarakat. Ia melihat mobil merah maruun yang sedang dikendarai kakaknya di sana. Alysa yang sedang berada di dalam mobil sempat membunyikan suara klakson —memberi tanda agar adiknya itu segera memasuki mobil. Tanpa berpikir panjang, Nadya segera memasuki mobil itu dan menutup pintu knop mobil Alysa kembali. Kemudian Alysa melesatkan mobilnya dari halaman kampus Nadya.
“Kak, Kakak kok bisa tahu aku udah nggak ada jam kuliah lagi? Bukannya jam pulang kuliahku udah sejam yang lalu? Lagian, aku nggak minta dijemput.”
“Tadi teman laki-laki kamu yang angkat telepon Kakak dari ponsel kamu, Dek. Kakak memang sengaja telepon kamu, soalnya seingat Kakak kuliahmu hari ini sampai jam delapan pagi. Harusnya kamu udah pulang ke rumah. Tapi Kakak tunggu kamu, tetap aja kamu belum balik ke rumah. Tadi itu, Rafka bilang sama Kakak. Kalau kamu sedang pingsan di toilet. Dan Rafka yang menolongmu dan membawamu ke ruang kesehatan. Ya, Kakak langsung titip pesan sama dia, kalau kamu udah sadar, kamu harus segera keluar dari fakultas. Karena Kakak mau ngejemput kamu.”
Rafka? Jadi, nama laki-laki itu Rafka. Tapi kenapa dia malah pergi gitu aja tanpa nunggu aku sadar? Dasar, laki-laki aneh! Eh, apa mungkin dia tipe-tipe ikhwan saleh yang sengaja menolong, tanpa menunggu berduaan di dalam satu ruangan sama yang bukan mahramnya, ya? Kalau memang benar dia sosok laki-laki seperti itu, dia adalah laki-laki yang baik idaman wanita. Eh, aku mikir apaan sih ... aku aja nggak tahu Rafka siapa. Dan wajahnya kayak gimana, Nadya membatin di hatinya. Diam-diam ia menarik simpul senyumannya saat mengingat Rafka yang baru saja kakaknya sebutkan itu. Padahal Nadya sama sekali tak mengetahui sosok laki-laki yang menolongnya. Nadya hanya tahu, jika laki-laki itu ialah pemuda yang baik.
“Dek, kamu kok malah senyum-senyum kayak gitu? Kamu nggak apa-apa, kan? Masih sehat, kan?” tanya Alysa yang menangkap senyuman tipis yang Nadya simpulkan.
Nadya terdiam saat Alysa memergokinya tersenyum-senyum sendiri. Nadya menarik garis bibirnya kembali. Alysa yang menatap tingkah adiknya yang kaku itu merasa terkekeh geli. “Hehe ... ya ampun, Dek. Kakak juga pernah jadi kayak kamu kali. Atau kamu, lagi memikirkan laki-laki yang bernama Rafka itu, ya? Jangan-jangan kamu suka sama dia.”
Kedua mata Nadya lekas melotot saat tebakan Kakaknya itu berhasil membuat hatinya berdebar kembali. Namun Nadya menggelengkan hatinya agar tak cepat-cepat mendefinisikan jika ia benar ingin jatuh hati dengan laki-laki misterius yang baru saja menolongnya di toilet. “Ih, Kakak apaan sih! Nyebelin, deh. Mana mungkin aku bisa cepat-cepat suka sama laki-laki misterius yang aku aja nggak tahu orangnya yang mana.”
“Hehe ... ya maaf, Dek. Kakak hanya main tebak aja. Siapa tahu, hatimu diam-diam suka sama dia. Tapi Kakak cuma mau berpesan suatu hal sama kamu, ini penting banget. Soal masalah hati, kalau kamu punya perasaan suka sama lawan jenis, Kakak sama sekali nggak akan melarang kamu untuk memiliki perasaan itu. Tapi ingat, jangan sampai kamu menempatkan Allah dan Rasulullah jadi sosok kedua yang kamu cintai setelah kamu mencintai seseorang itu. Karena yang paling utama yang patut melekat di hati manusia itu, hanya Allah dan Rasulullah.”
Nadya tetap terdiam. Ia enggan menjawab perkataan Kakaknya itu. Perkataan Alysa memang benar. Perkataan itu sempat membuat Nadya berpikiran agar ia tetap berada di garis ketentuan agamanya. Nadya ingat saat teman-teman kampusnya mengejeknya karena aibnya yang telah berhasil diumbar oleh sahabat terdekatnya sendiri. Nadya ingin menangis kembali. Namun sengaja ia tahan. Nadya hanya enggan kembali merepotkan orang-orang terdekatnya akan masalah barunya. Sementara Alysa tetap fokus menyetir tanpa memerhatikan tingkah adiknya lagi.
***
Sementara di rumah yang cukup elite di daerah perumahan kota Kudus, sebuah mobil xenia hitam baru saja memasuki pintu pagar rumah tersebut. Mobil yang baru saja berada di halaman, ialah milik Azzam dan Fila. Baru saja mereka berdua mengunjungi kota Kudus dan bermaksud menghampiri Ali dan Mika.
“Assalamualaikum,” sapa Fila yang baru saja menaiki tangga lantai halaman luar rumah bersama suaminya Azzam.
“Waalaikumsalam warahmatuallahi wabarokatuh. Fila ... Kak Azzam, akhirnya kalian sampai juga. Yuk, yuk, masuk,” seru Mika yang baru saja menyambut kedatangan mereka berdua hingga masuk ke dalam rumah itu.
“Gimana kondisi kandunganmu, Mik?” Fila kembali bertanya setelah dirinya mendaratkan duduknya di sofa ruang tamu di sisi Azzam.
“Alhamdulillah baik saja. Doain ya, semoga semuanya lancar sampai proses melahirkan nanti, Fil,” sahut Mika dengan senyumnya.
“Amin ...”
“Oh ya, ngomong-ngomong ... kalian kapan nyusul kayak aku?” Mika berucap seolah tatapannya menyelidiki Fila dan Azzam yang sedang saling memandang heran. Senyuman Mika seolah menggoda mereka.
“Ya ... kalau memang rezeki, insyaAllah Allah akan memberikan amanah, Mik. Jangankan kamu yang ingin ngelihat istriku ini cepat-cepat hamil, aku juga lebih ingin cepat punya anak dari istriku tercinta," Azzam berucap seraya mengelus puncak kerudung lebar Fila dengan gemas.
“Mas, bisa aja. Fila ingin segera memberikan momongan buat Mas. Tapi ya ... mungkin belum saatnya sekarang. Tapi, insyaAllah Allah akan memberikan yang terbaik untuk kami,” ucap Fila.
“Kalian mesra banget, sih. Aku doain, semoga kamu cepat hamil dan bisa memberikan momongan buat Mas Azzam,” ungkap Mika dengan senyum lebarnya.
“Amin ...” Fila membalas bersama sang suami.
“Oh ya, Ali sama Arzan kemana, Mik? Kok, nggak kelihatan sama sekali. Ada di rumah, bukan?” Azzam mengalihkan pembicaraan saat mencari keberadaan Ali suami Mika yang merupakan adik kandung Azzam dan Arzan yang ialah adik sepupu Mika.
“Ada, Mas. Mereka sedang berada di kolam renang belakang. Ya, biasalah, Suami sama Adik sedang ngobrol-ngobrol ganteng di sana, tapi nggak renang. Mika terkekeh pelan.
“Ya sudah, aku ke kolam renang belakang ya, Fil, Mika?” ucap Azzam, ia pun mulai beranjak dari sofa setelah mendapat anggukan dari istri dan Mika adik iparnya.
***
Rafka meletakkan kedua sepatunya yang baru saja ia buka ke dalam rak di ruangan apartemennya. Lalu ia beralih menatap adiknya yang masih fokus memberikan polesan cat kuku pada kukunya. Adiknya yang ialah seorang gadis yang berjarak sekitar dua tahun dari umurnya itu hanya menatap sekilas akan kedatangan Rafka.
“Kamu nggak salat, Dek? Kok, pakai cat kuku gitu? Itu bukannya bisa membuat salat jadi nggak sah nantinya?” tanya Rafka yang berdiri di sisi tempat duduk yang Arista singgahi.
Arista hanya melirik Kakaknya sekilas. Lalu ia kembali fokus meniup kukunya. “Sejak kapan Kakak peduli sama aku? Dan Kakak, tumben balik ke apartemen lagi? Bukannya dari kemarin Kakak lagi nginap di kontrakan teman Kakak?”
Rafka tak menjawab perkataan Arista. Ucapan Arista cukup membuat Rafka tak ingin lagi beradu mulut dengannya. Rafka lekas menarik langkahnya hingga memasuki pintu kamar yang berada di sisi kamar Arista. Rafka dan Arista memang adik kakak yang hingga kini belum cukup akur. Keduanya mulai sering adu mulut saat kedua orangtuanya pisah. Rafka yang waktu itu lebih membela papanya daripada membela kedua orangtuanya agar tidak pisah.
Arista benar-benar marah dengan sikap kakaknya yang sempat tak adil. Dan Rafka lebih setuju jika dirinya ikut bersama papa. Dan hingga saat itu Arista merasa jika Rafka telah tak peduli dengan mama. Hingga setelah kejadian itu, Rafka pun jarang sekali berada di apartemen untuk sekadar bersamanya.
Rafka lebih memilih untuk selalu menginap di kontrakan teman-teman kampusnya. Rafka memang sengaja memilih menginap di luar, karena ia lebih menghindari pertengkaran jika bersama adiknya.
Namun saat ini Rafka sengaja kembali ke apartemennya. Ia telah bertobat setelah kedua orangtuanya pisah. Salah satu temannya yang mengajaknya agar lebih mengenal perintah dan ajaran Agama Islam. Dan saat itu Rafka memberanikan dirinya untuk tinggal di apartemen. Ia merasa bersalah telah tak memedulikan keadaan adik perempuannya itu. Kali ini Rafka bertekad ingin menjadi seorang kakak yang ia harus bisa membimbing Arista ke jalan yang benar.
Rafka menyandarkan kepalanya ke bantal ranjangnya. Bibirnya seolah-olah tertarik tipis membentuk sebuah senyuman. Diam-diam pikirannya melayang akan kejadian di Fakultas Kesehatan Masyarakat sewaktu siang tadi. Ia sempat menolong seorang gadis yang pingsan di toilet. Tatapan Rafka begitu tertarik saat menatap wajah si gadis yang ditolongnya itu. Rafka memang sengaja meninggalkan gadis yang sempat ia tahu namanya di ruang kesehatan.
Rafka hanya berniat ingin menolongnya tanpa menunggunya sadar. Rafka hanya tak ingin jika proses hijrahnya terganggu dengan kehadiran seorang gadis yang mulai berhasil mengusik hatinya kini.
Ya Allah ... apa iya aku benar-benar jatuh cinta padanya? Astagfirullahallazim, aku baru saja berhijrah di jalanmu ya Allah, mengapa harus secepat itu Engkau memberikan ujian ini pada hati hamba? Ujar hati Rafka.
***
Sementara di sudut sisi kolam renang yang berada di dalam rumah elite milik orangtua Arzan. Azzam, Ali dan Arzan sedang bercengkerama hangat sembari menyeruput teh hangat di sebuah bangku kecil di pinggir kolam. Suasana asri masih cukup sejuk ketika di sore itu.
“Oh ya, Arzan, kamu kapan nikah? Kata Ali, kamu udah mau lulus S2 Kedokteran spesialis penyakit dalam ya? Wah, udah jadi Dokter muda yang sukses aja, nih. Jangan lupa juga, calon istri juga dicari, Zan. Jangan kelamaan,” ujar Azzam seraya sengaja menyindir Arzan yang masih terdiam.
Kembali ingatan Arzan mengingat sosok perempuan berhijab syar'i itu lagi. Gadis itu yang pertama kali Arzan temukan saat ia tak sengaja menabraknya di sisi lampu merah jalanan kota Semarang. Dan gadis itu sempat ia tolong saat ia mengobati keadaan adiknya di rumah sakit. Arzan mulai menyadari, jika ia benar-benar menyukai sosok gadis tersebut.
Namun jika untuk menikahinya, Arzan sangat siap. Tapi Arzan mulai ragu, jika ia datang kepada gadis itu lagi, apakah gadis berjilbab syar'i itu akan menerimanya? Lagi-lagi Arzan bersahut dalam lamunannya.
“Kakak jangan menggoda Arzan kayak gitu dong, Kakak masih lupa ya? Bukannya Kakak dulu juga kelamaan cari calon istrinya? Hehe ...” Kali ini Ali yang meledek kakaknya. Ali yang mengingatkan Azzam saat umurnya hampir tiga puluh, baru saja kakaknya itu menikahi Fila dan itu pun gara-gara Azzam dijodohkan oleh abah.
“Mulai deh, si Adik meledek Kakaknya,” sahut Azzam seraya menghela napasnya pelan. Ia hanya tersenyum malu.
“Nanti juga Arzan pasti menemukan calon istrinya, Kak. Mungkin hanya butuh waktu saja. Bukannya menemukan calon istri itu nggak mudah, Kak? Kakak kan udah pengalaman pastinya,” ujar Ali. Sementara Arzan hanya tersenyum menatap kedua Kakak laki-lakinya itu dengan malu-malu.
Bersambung