"Mendingan yang ini atau yang ini?."
Vania yang tadinya sedang menatap deretan cincin pun menoleh ketika Azka bertanya. Sore ini, Vania dijemput Azka dan dimintai tolong pria itu untuk mengantarnya membeli kado untuk adiknya. Awalnya Vania ingin menolak, mengingat dirinya yang masih merasa ragu berada di dekat Azka. Vania nyaman dan bahagia ketika bersama Azka itu tidak bisa di ragukan lagi, tetapi bersama dengan Azka juga membuat Vania merasa takut. Takut jika ternyata Azka memiliki seorang kekasih atau seorang yang spesial selain Vania. Vania tidak ingin di anggap sebagai perempuan pengganggu. Maka dari itu, Vania ingin menjaga jarak terlebih dahulu dengan Azka setidaknya hingga ia tahu bahwa Azka benar-benar sedang tidak dalam hubungan percintaan atau dekat dengan siapapun selain dirinya.
"Yang ini Kak." Vania menunjuk pada sebuah kalung dengan liontin rasi bintang. Menurutnya kalung itu terlihat lebih unik, simpel tapi juga terkesan mewah daripada yang berliontin bulan bintang.
"Beneran yang ini?." Tanya Azka memastikan.
Vania mengangguk mantap. "Iya Kak, desainnya simpel tapi terkesan mewah. Kalau yang ini menurut aku terlalu biasa sih." Jelas Vania memastikan.
Azka menganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat Vania, lantas segera membayar kalung itu. Hubungan Vania dan Azka semakin hari semakin dekat, bahkan dalam beberapa minggu terakhir ini Vania dan Azka sering menghabiskan waktu bersama, entah itu sekedar jalan-jalan di taman, pergi ke toko buku, mengerjakan tugas bersama atau hanya sekedar hunting kafe. Vania bahagia, itu sudah bisa di pastikan. Siapa sih yang tidak bahagia bisa jalan bersama dengan orang yang di sukai? Tentu saja Vania sangat bahagia. Namun hanya satu yang mengganjal di benak Vania, apakah benar akan baik-baik saja jika dirinya sering jalan berdua dengan Azka?.
Langkah Vania sedikit melambat ketika mereka menuju kafe usai mendapatkan hadiah untuk adik Azka. Azka yang tidak lagi melihat Vania berjalan di sampingnya pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
“Capek ya?.” Tanya Azka.
Vania tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Meski ia merasa bahagia bisa bersama dan membantu Azka. Namun, Vania tidak bisa membohongi jika dirinya juga lelah setelah sekitar satu setengah jam berkeliling Mall tanpa henti.
Ketika Vania sampai tepat di hadapan Azka, Azka langsung meraih tangan Vania dan menggandengnya menuju sebuah bangku yang kebetulan berada tidak jauh dari mereka. Vania merkejut, bagaimana bisa Azka dengan santainya menggenggam tangan Vania tanpa tahu efek yang Vania rasakan. Kini jantung Vania rasanya seperti mau meledak ketika Azka menggandeng tangannya.
“Kita istirahat dulu, maaf ya udah bikin kamu capek.” Ucap Azka sembari mengusap-usap punggung tangan Vania.
Vania segera menarik tangannya dari genggaman Azka, bukan karena ia tidak senang. Tapi karena Vania takut jika jantungnya benar-benar meledak karena berdegup terlalu kencang.
“Kak, aku boleh tanya sesuatu nggak? Agak terlambat sih sepertinya, Cuma pengen aku tanyain aja.” Ucap Vania kemudian setelah dirinya merasa lebih tenang.
“Tanya apa?” Azka sedikit menggeser tubuhnya agar lebih mengharap kea rah Vania.
“Sebenarnya, kalau Kakak ngajakin aku jalan gini ada yang marah enggak sih? Aku takut aja semisal..”
“Marah? Siapa yang mau marah?.” Tanya Azka memotong perkataan Vania.
“Ya…. Siapa gitu.”
Azka tersenyum lalu kembali meraih tangan Vania. “Enggak ada yang marah, atau jangan-jangan dari kamu nih? Ada yang marah nggak kalau aku ajakin jalan?.”
Vania buru-buru menggelengkan kepalanya. Siapa juga yang akan marah kepada dirinya jika ia jalan berdua dengan Azka.
“Enggak ada kok.”
Lagi-lagi Azka tersenyum. “Berarti aman ya?.” Tanyanya yang membuat Vania bingung. Vania tidak tahu harus menjawab bagaimana.
Melihat wajah polos Vania membuat Azka tersenyum sembari mengusap-usap rambut Vania. Hal itu seketika membuat Vania membeku. Tahu istilah yang di usap rambut yang berantakan hati? Seperti itulah yang saat ini Vania rasakan. Hatinya benar-benar berantakan, ia tidak mengerti lagi mengapa Azka jadi seperti ini, selalu membuat hati Vania berdebar dan berantakan.
“masih mau istirahat atau lanjut jalan ke kafe?.” Tanya Azka sembari mencoba merapikan rambut Vania yang ia acak-acak.
“Langsung ke kafe aja, Kak.” Jawab Vania cepat, ia tidak bisa berlama-lama seperti ini, tidak aman untuk jantung dan hatinya.
Azka mengangguk, lalu segera berdiri dan menyodorkan tangannya yang seketika membuat Vania bingung. Azka tersenyum melihat Vania, bagi Azka Vania ini terlalu polos. Karena tidak mendapat respon dari Vania, akhirnya Azka sendiri yang meraih tangan Vania dan menggenggamnya hingga mereka tiba di kafe.
**
Vania turun dari motor Azka ketika motor Azka sampai di halaman rumahnya. Azka menepati janjinya kepada mama Vania bahwa tidak akan membawa Vania hingga larut malam dan mentok sampai jam delapan malam. Kini jam masih menunjukkan pukul setengah delapan dan mereka sudah sampai di rumah.
“Mampir dulu nggak, Kak?.” Tanya Vania sembari melepas helmnya.
Azka menerima helm dari Vania lalu tersenyum. “Lain kali aja ya, udah malam. Titip salam aja buat Mama kamu. Terima kasih karena udah ngijinin anaknya nemenin aku.” Ucap Azka yang membuat Vania tersenyum.
“Iya nanti aku sampaikan ke Mama.”
“Makasih ya Van, udah mau nemenin cari kado. Udah mau capek-capek aku ajakin keliling Mall.”
Vania mengangguk. “Sama-sama Kak, aku juga seneng kok bisa bantuin Kak Azka cari kado. Semoga Adik Kak Azka suka sama kadonya.”
Azka menganggguk. “Iya semoga suka, aku pamit dulu ya.”
Vania mengangguk, lalu setelah itu, Azka segera melajukan motornya meninggalkan rumah Vania. Vania segera memasuki rumahnya, tentu saja dengan perasaan bahagia. Bahkan kini Vania memasuki rumahnya dengan bersenandung kecil, menandakan bahwa hatinya sangat bahagia.
Ketika Vania sampai di teras rumah, Vania terkejut dengan sosok lakilaki yang duduk di bangku terasnya. Ini adalah pemandangan langka atau bahwkan ini pertama kalinya Vania melihat hal itu. Ia melihat Dava-tetangganya tengah duduk di kursi teras rumahnya.
“Baru pulang?.” sapa Dava ramah kepada Vania.
Vania tersenyum, agak canggung dengan Dava, karena jujur saja meski bertetangga, Vania hampir tidak pernah berbicara dengan Dava, bahkan mengetahui jika Dava adalah tetangganya saja baru beberapa bulan terakhir ini.
“K-Kak Dava cari siapa? Cari Mama ya? Kok nggak masuk?? Ayo masuk dulu, Kak.” Ucap Vania basa basi.
“Udah ketemu Tante kok, aku nunggu disini aja, lagi pula Cuma nunggu piring aja kok.”
“Piring?.” Tanya Vania bingung.
“Iya.. anyway yang tadi itu pacar kamu ya?.” Tanya Dava. Vania tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Biar bagaimanapun meski ia belum memiliki hubungan yang jelas dengan Azka, di lubuk hati vania yang teralam, Vania ingin suatu saat nanti ia dapat menyebut dirinya sebagai pacar Azka.
“Eh, maaf ya kalau kurang sopan pertanyaannya. Soalnya aku sering banget lihat dia sama kamu.”
Lagi-lagi Vania hanya tersenyum. “Eung, Kak. Aku ijin masuk dulu ya Kak, sekalian aku panggilin Mama, enggak apa-apa?.”
Dava segera menganggukkan kepalanya. “Iya enggak apa-apa, kamu masuk aja. Pasti capek juga kan, baru pergi.”
Vania tersenyum, “Maaf ya, Kak. Aku tinggal masuk.”
“Iya enggak apa-apa.”
Setelah mendapat persetujuan dari Dava, Vania segera masuk ke dalam rumahnya, dan kebetulan ia berpapasan dengan Mamanya di ruang tengah.
“Sudah pulang?.”
“Iya Ma.” Jawab Vania sembari mencium tangan Mamanya.
“Nak, Azka mampir?.”
Vania menggeleng. “Enggak, dia langsung pulang, tadi titip salam buat Mama, katanya makasih udah ngijinin Vania pergi sama Kak Azka.”
Mama Vania hanya menganggukkan kepalanya.
“Oh iya, Mama di tunggu Kak Dava di depan, katanya nungguin piring gitu.”
Mama Vania mengangguk. “Iya tadi abis nganterin makanan kesini, Mama suruh tungguin, biar piringnya sekalian mama cuciin gitu.”
Vania mendengus. “Ish Mama, padahal rumahnya cuma di depan, dibalikin besok kan juga enggak apa-apa. Kasihan tuh anak orang nungguin.”
“Ya enggak apa-apa orang nak Dava mau nugguin. Ya sudah sana kamu bersih-bersih badan.”
Vania menagangguk, lalu ia mencium pipi Mamanya sebelum ia berlari menuju kamar dan bersiap membersihkan dirinya.
***