Vania menatap langit-langit kamarnya, sesekali menatap ponsel yang menunjukkan pesan dari Azka. Ia masih tidak percaya bahwa Azka benar-benar mengiriminya pesan. It's like a dream. Berapa kali pun Vania mencoba memikirkan, ini masih seperti mimpi. Bagaimana bisa orang yang sebelumnya Vania pikir mustahil untuk di gapai malah justru menghampirinya sendiri. Vania terkejut ketika ponselnya berbunyi lagi dan menampilkan pesan baru dari Azka.
Kak Azka :
Besok sepulang sekolah mau pergi ke kafe sama aku nggak?
Vania membelalakkan matanya. Ia mencoba membaca pesan Azka berulang kali. Ini maksudnya bagaimana? Apakah Azka mengajaknya untuk pergi ke kafe bersama? Atau Azka salah kirim?.
Vania :
Kakak ngajakin aku? Enggak salah kirim?
Tidak butuh waktu lama bagi Vania untuk mendapatkan balasan pesan dari Azka. Bahkan saat pesan Vania baru terkirim pun statusnya langsung berubah menjadi sudah di baca lalu terlihat Azka mengetikkan sesuatu.
Kak Azka :
Ini aku lagi chating sama siapa? Kalau di hp ku sih namanya Vania.
Vania mengernyitkan dahinya, ia mencoba berpikir sejenak. Chating dengan Azka benar-benar membuat Vania jadi sering berpikir. Pasalnya Vania takut jika ia salah mengartikan pesan dari Azka. Ia tidak mau terlihat kepedean, kan nanti dia sendiri yang malu.
Vania :
Iya, benar. Ini Vania
Kak Azka :
Ya berarti aku ngajakin kamu, kan aku ngirim chatnya ke kamu. Jadi gimana, mau?
Demi apapun kini Vania tengah menahan nafasnya. Azka benar-benar penuh kejutan. Berapa kali pun Vania mengingat ia masih tidak habis pikir bahwa dirinya bisa dekat dengan Azka.
Kak Azka :
Aku tunggu jawabannya. I hope I get a good answer
Vania :
Memangnya Kak Azka enggak ada jadwal tambahan?
Kak Azka :
Jadi tuh kemarin aku nemu kafe bagus, dan kebetulan besok enggak ada jadwal tambahan. Makanya aku pengen ngajakin kamu kesana
Vania :
Oh gitu
Kak Azka :
Kok gitu? Jadi gimana jawabannya? Aku enggak maksa, semisal enggak mau juga enggak apa-apa.
Vania terdiam. Sungguh ini adalah pilihan yang sangat sulit. Vania tentu mau pergi ke kafe bersama Azka. Tapi apakah ini tidak terlalu cepat dan aneh? Mereka baru-baru ini dekat, tapi jika se
Vania :
Belum tahu Kak, bagaimana kalau aku jawab besok?
Kak Azka :
Oh, kamu sibuk ya?
Vania :
Enggak juga sih, tapi belum bisa memastikan aja, apakah besok bisa atau enggak. Besok siang aku kabari kak Azka lagi
Kak Azka :
Okay, ya sudah. Kamu istirahat gih. Sudah malam
Vania :
Iya, Kak Azka juga selamat istirahat
Setelah mengirim pesan itu, Vania segera menonaktifkan paket datanya dan menjauhkan ponselnya. Hatinya berdebar, perasaannya tidak karuan. Menyukai Azka memang semengejutkan ini. Sepertinya malam ini Vania akan sulit tidur. Bagaimana bisa ia tidur nyenyak jika otaknya terus berpikir apakah besok dirinya harus menerima atau menolak ajakan Azka.
**
Vania merapikan seragamnya setelah turun dari motor Azka. Di sini lah ia saat ini, di depan kafe yang katanya baru ditemukan Azka. Sejak semalam Vania sangat bimbang, hingga pagi tadi ia terus berpikir dan meminta pendapat Hana, dan akhirnya ia menerima ajakan Azka.
Rasanya canggung sekali, datang ke kafe bersama seorang pria. Vania memang sering ke kafe, tapi biasanya ia sendirian atau bersama Hana, dan sekarang dirinya bersama Azka. Jadi rasanya aneh.
"Van, kamu kenapa? Enggak nyaman ya pergi sama aku?." Suara Azka mengejutkan Vania.
"Hah? Enggak kok. Kok Kak Azka bilang gitu?."
"Kamu dari tadi diam aja, ya ku pikir kamu enggak nyaman. Kalau kamu enggak nyaman kita pulang aja."
Mendengar ucapan Azka, Vania segera menggelengkan kepala. Ia jadi merasa tidak enak dengan Azka, dirinya memang merasa kurang nyaman karena ini pengalaman pertamanya jalan berdua bersama seorang pria terlebih pria itu adalah orang yang ia sukai. Tapi hal itu bukan berarti Vania tidak mau pergi bersama Azka.
"Enggak Kak, nyaman kok. Masa sudah sampai kafe malah mau pulang."
Azka tersenyum mendengar ucapan Vania. "Aku takut aja kamu enggak nyaman. Ya sudah kalau gitu kita masuk."
Vania menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Azka masuk ke dalam kafe.
Begitu masuk, Vania disambut dengan pemandangan kafe yang sangat indah. Kafe itu berkonsep perpaduan alam bebas dan juga perpustakaan. Banyak sekali buku-buku yang tersusun rapi juga dan juga berbagai macam jenis tanaman. Kafenya benar-benar terlihat nyaman.
"Bagaimana? Unik banget kan kafenya?."
Vania menganggukkan kepalanya. Karena menurut Vania kafenya memang benar-benar unik.
"Kok, Kak Azka bisa nemu kafe sebagus ini?."
"Aku suka nongkrong dan nugas di kafe, cuma kan bosen kalau nongkrong di kafe itu-itu aja. Terus coba cari kafe lain, eh terus ketemu ini. Waktu coba datang sekali, ternyata bagus banget. Terus kepikiran deh buat ngajakin kamu ke sini."
Entah mengapa mendengar kalimat terakhir Azka membuat Vania tersipu, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Azka sampai kepikiran untuk mengajak dirinya ke kafe ini, padahal dia bisa mengajak teman-temannya.
Vania mencoba menarik nafas dan menyadarkan dirinya. Apakah dirinya terlalu kepedean? Apakah ia berlebihan dalam menanggapi ajakan Azka?.
"Anyway kamu suka ke kafe-kafe juga enggak?."
Vania menganggukkan kepalanya. Ia memang suka ke kafe, terutama saat hari libur.
"Oh iya, biasanya di kafe mana?."
"Enggak pasti juga sih Kak, suka pindah-pindah juga. Soalnya aku juga suka cari kafe-kafe baru gitu. Tapi seringnya sih yang ada di dekat rumah."
"Kalau yang di dekat kamu, yang kafe kucing itu bukan sih?."
Vania membelalakkan matanya begitu ia mendengar bahwa Azka mengetahui kafe itu.
"Iya, Kak Azka pernah kesana?."
Azka mengangguk, "pernah, tapi cuma sekali doang. Karena aku enggak begitu suka sama kucing."
Vania hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi jawaban Azka.
"Biasanya kamu kalau ke Kafe sama siapa?." Tanya Azka begitu mereka memperoleh tampat duduk yang nyaman. Mereka duduk di kursi yang ada si ujung, tepat di samping rak tanaman sukulen dan deretan buku-buku fiksi. Vania benar-benar masih takjub dengan kafe pilihan Azka, kafe itu benar-benar sangat nyaman dan Vania merasa Azka sangat hebat dalam memilih kafe. Sepertinya kafe itu akan menjadi kafe favorit Vania.
"Sendirian aja sih Kak, atau kadang kalau Hana enggak sibuk ya sama Hana."
"Hana? Teman kamu itu?."
Vania mengangguk.
"Kapan-kapan kalau kamu butuh teman ke Kafe, ajak aku aja."
"Hah? Memangnya Kak Azka enggak sibuk?."
"Kan bisa di kondisikan. Kapan-kapan kalau aku ajak kamu ke kafe gini lagi, boleh?."
Vania terdiam, lagi-lagi ia bingung harus menjawab apa.
"Boleh Kak." Jawabnya kemudian.
Selanjutnya mereka memesan makanan dan melanjutkan pembicaraan. Mereka membicarakan banyak hal. Vania masih tidak menyangka bahwa Azka memiliki pengetahuan yang luas dan cukup nyambung ketika berbicara dengan dirinya. Ya Vania merasa mereka satu frekuensi. Azka sangat asyik dan Vania sangat nyaman bersama Azka. Citra Azka yang dingin benar-benar hilang di mata Vania karena baginya, Azka adalah orang yang hangat dan sangat baik.
Namun, tanpa Vania sadari sejak pertama kali Vania dan Azka memasuki kafe itu, ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka. Menatap setiap gerak-gerik yang Vania dan Azka lakukan.
***