Jam kosong untuk mata pelajaran yang di ampu oleh guru killer merupakan anugerah yang paling membahagiakan, terlebih tidak ada tugas yang perlu di kerjakan. Maka ruang kelas akan menjelma laksana surga. Para kaum gamers langsung saja merapat pada bangku pojok belakang, kaum dangduters langsung mulai mengetuk-ngetuk meja untuk melantunkan sebuah lagu, sementara kaum-kaum sosialita langsung berkumpul pada lingkaran meja tengah, membagi gosip terbaru dan juga update info terbaru yang mereka miliki. Vania sebagai kaum minoritas di kelas alias kaum yang hanya suka membaca novel atau melamun di bangkunya hanya bisa duduk memandang keluar jendela. Memainkan pikirannya sendiri.
"Perpus yuk, Van."
Vania menoleh menatap Hana yang menyendarkan kepalanya di meja. "Ngapain?."
"Ngadem, panas banget di sini. Sekalian cari-cari novel atau bacaan apa gitu."
Vania menghela nafasnya, ia juga ingin ke perpustakaan. Tapi entah mengapa rasanya malas untuk beranjak dari duduknya.
"Mau sih, tapi kok agak males ya."
Hana yang mendengar ucapan Vania pun langsung berdiri. "Kalau mau ya ayo." Ucapnya sembari menarik Vania.
Vania yang di tarik oleh Hana pun akhirnya beranjak dari duduknya. Suasana siang ini memang sangat panas, maka keputusan untuk ke perpustakaan yang memiliki suhu dingin memanglah sangat cocok.
Vania menghentikan langkahnya dan membuat Hana turut berhenti.
"Kenapa?"
Vania tidak menjawab, ia menatap dua orang laki-laki tengah berbicara di depan perpustakaan. Hal itu membuat Hana turut mengalihkan pandangannya.
"Balik aja yuk." Ucap Vania yang membuat Hana mendengus. Vania hanya tidak siap jika harus berpapasan dengan Azka. Meski dirinya sudah beberapa kali bertemu dan berbicara, tapi bertemh kembali dengan sosok Azka masih dan selalu membuat hatinya berdebar
"Ih, enggak apa-apa. Udah ayo." Ucap Hana sembari menarik lengan Vania.
Vania yang di tarik pun hanya mengikuti saja hingga kemudia mereka sampai di dekat dua pria itu.
"Permisi, Kak." Ucap Hana yang membuat dua pria itu menepi, sekilas Ia melirik ke arah Azka, dan bertepatan dengan itu Azka juga tengah menatapnya sembari teresenyum. Hal itu tentu saja semakin mempercepat detak jantungnya.
"Lo kenal?." Pertanyaan itu di lontarkan orang pria yang bersama Azka ketika melihat Azka tersenyum kepada Vania.
"Kenal, tapi cuma sama yang rambut panjang."
"Siapa?."
"Vania."
"Lo suka sama dia?." Azka tidak menjawab, ia hanya tersenyum sebagai jawaban.
**
Vania menghela nafasnya begitu ia sampai di dalam perpustakaan, bertemu dengan Azka masih memberikan efek debaran jantung yang luar biasa, terlebih saat melihat senyum pria itu.
"Kayaknya kamu makin akrab ya sama Kak Azka." Vania menoleh menatap Hana begitu perempuan itu bersuara.
"Hah? Enggak.. mana ada."
"Ada tahu Van. Buktinya tadi Kak Azka senyumin kamu."
"Di senyumin doang bukan berarti akrab kali Han,"
"Iya sih, tapi setidaknya ada peningkatan keakraban dari sebelumnya."
Vania menganggukkan kepalanya, jika di pikir-pikir memang yang dikatakan Hana ada betulnya.
Mereka kemudian berjalan menyusuri rak-rak buku, mencari bahan bacaan yang cocok untuk menemani mereka duduk.
"Tapi tahu enggak sih, Han. Ternyata Kak Azka tuh baik banget. Dia sering nolongin aku." Ucap Vania ketika mereka sudah mendapatkan buku dan memilih tempat duduk.
"Sering nolongin kamu?."
Vania mengangguk, "Eh, enggak sering juga sih. Beberapa kali gitu nolongin aku. Terus dia juga ramah, enggak jutek kayak kelihatannya."
Hana mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kayaknya kalian memang udah dekat ya."
Vania mengendikkan bahunya, ia tidak bisa mendeskripsikan kedekatannya dengan Azka, karena memang ia merasa dirinya belum dekat dengan Azka.
**
"Az, jadi kan?" tanya Andra salah satu sahabat dekat Azka. Kini mereka tengah merapikan tas mereka setelah bel pulang berbunyi. Jadwal pulang mereka 45 menit lebih lambat daripada kelas sepuluh dan sebelas karena mereka ada jam tambahan. Maka dari itu tidak heran jika keadaan sekolah mulai sepi.
"Jadi lah, yakali batal. Anak-anak yang lain udah di kabarin kan?" tanya Azka.
"Udah. Tinggal ngumpul aja. Udah lama juga kita engga nongkrong."
Azka menganggukkan kepalanya mereka berdua segera berjalan menuju parkiran sekolah. Azka segera memakai helm dan menyalakan motornya. Sebelum sampai gerbang Azka sempat melihat masih ada empat orang yang berdiri di sana, namun salah satunya seperti tidak asing bagi Azka. Rambutnya yang panjang dan di kucir kuda serta tas punggung berwarna silver dengan corak ungu, serta cardigan hitam yang melekat di tubuhnya membuat Azka langsung mengenali orang itu karena beberapa hari terakhir ini, Azka sering mengamati orang itu.
"Vania." Panggil Azka ketika ia menghentikan motornya di dekat gerbang.
Vania terkejut, lalu menoleh dan lebih terkejut lagi ketika ia mendapati Azka ada di dekatnya.
"Kok belum pulang?."
Vania speechlees, sejak kapan Azka ada di sana.
"Van." Panggil Azka lagi.
"Eh.. anu, itu Kak. Lagi nunggu anggkot, dari tadi angkotnya penuh."
"Ap..."
"Kenapa Az?." Suara Andra yang ternyata ikut menghentikan motornya di dekat Azka pun membuat Azka menghentikan kalimatnya lalu menoleh ke pria itu. Begitu pula dengan Vania. Vania menatap kakak kelas yang ia ketahui sebagai sahabat Azka itu, entah mengapa Vania merasa tidak enak begini ketika melihat Andra melirik ke arahnya. Lebih tepatnya sih Vania merasa sedikit malu dan kurang nyaman.
"Ndra, lo duluan aja. Nanti gue nyusul." Ucap Azka kepada Andra.
Andra melirik ke arah Vania yang terdiam, "Ada urusan dadakan?."
Azka mengangguk, "Bilangin anak-anak yaa, sory gue agak telat."
"Oh oke deh, gue duluan." Ucap Andra lalu pergi meninggalkan mereka.
Azka kembali menoleh kepada Vania yang sedari tadi hanya terdiam. "Ayo aku antar pulang." Ucap Azka yang membuat Vania terkejut.
"Eh enggak usah Kak, ngerepotin. Aku nunggu angkot aja."
"Enggak ngerepotin, kalau ngerepotin aku nggak bakal nawarin ke kamu."
"Tapi, kan Kak Azka ada acara."
"Enggak, santai aja. Cuma mau nongkrong doang, tempatnya juga searah sama rumah kamu. Udah ayo." Ucap Azka sembari menepuk jok belakang motornya.
Vania bimbang, haruskah ia menerima? Ia sangat senang karena Azka mau mengantarnya. Tapi ia juga ragu, ia takut tidak bisa mengendalikan perasaannya jika berboncengan dengan Azka.
"Tapi.."
"Udah ayo, lagian angkotnya juga belum datang, daripada nunggu lebih lama lagi kan. Biar sekalian sama aku aja."
Mendengar ucapan Azka membuat Vania mau tidak mau memilih untuk pulang bersama Azka, karena jika ia menolak, Azka juga sepertinya akan tetap membujuknya untuk pulang bersama. Selama perjalanan, baik Azka maupun Vania sama-sama terdiam, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Vania masih tidak percaya bahwa dirinya bisa pulang bersama dengan pria yang ia suka seperti di novel-novel yang ia baca. Selain itu, ia juga tidak menyangka jika akhirnya ia bisa sedekat ini dengan Azka. Semua benar-benar di luar dugaan Vania. Ia kira dirinya selamanya hanya bisa mengagumi Azka dari jauh dan tidak bisa menjalin komunikasi seperti ini. Tetapi ia salah, kini dirinya memiliki kesempatan itu.
"Anyway, aku belum punya nomor kamu," ucap Azka, namun Vania tidak begitu mendengarnya karena suara angin dan motor memenuhi telinganya.
"Gimana, Kak?." Ucapnya sedikit mendekatkan telinganya.
"Semisal aku minta nomor hp kamu boleh apa enggak?."
"Nomor hp?." Ulang Vania. Benarkah Azka meminta nomor hpnya? Vania benar-benar terkejut akan hal itu. Apakah dirinya tengah bermimpi? Diam-diam Vania mencubit dirinya sendiri mencoba menyadarkan diri kali saja dirinya tengah bermimpi. Namun yang ia hadapi adalah kenyataan.
"Kamu diam aja berarti boleh kan?." Ucap Azka lagi yang membuat Vania akhirnya menganggukkan kepala. Setelah itu ditidak ada percakapan yang berarti di antara mereka. Mereka hanya diam menikmati angin yang menerpa wajah mereka.
Motor Azka sampai di halaman rumah Vania bertepatan dengan gerbang seberang rumah Vania yang terbuka dan menampilkan sosok Dava-tetangganya.
Vania tersenyum singkat dan menganggukkan kepalanya ketika Dava menatap ke arahnya.
"Itu, tetangga kamu?."
Vania menoleh menatap Azka sembari menerima ponsel Azka untuk mencatat nomornya.
"Iya Kak, kenapa?."
"Enggak apa-apa. Kayak pernah lihat aja."
"Oh. Mungkin Kakak enggak sengaja pernah ketemu."
"Iya kali ya." Ucap Azka kemudian
"Nih, Kak." Vania menyerahkan kembali ponsel Azka setelah dirinya menuliskan nomor ponselnya. Azka menerimanya sembari tersenyum.
"Ya sudah, aku langsung pamit ya."
Vania mengangguk, "terima kasih banyak ya Kak, udah di antar."
"Iya sama-sama. Aku duluan ya, nanti malam aku hubungi." Ucap Azka yang seketika membuat Vania membeku.
nanti malam aku hubungi? Vania tidak salah dengar, kan?. Benarkah??
Mendadak jantung Vania jadi berdegup kencang, benarkah Azka akan menghubunginya? Rasanya Vania ingin menjerit, bahkan kini ia sudah lompat-lompat kegirangan. Vania segera membuka gerbang rumahnya dan berlari memasuki rumah. Hari ini dirinya benar-benar bahagia.
***