"Vania.."
Vania menoleh saat seseorang memanggilnya, Vania menahan nafas begitu ia mengenali seseorang yang memanggilnya. Haruskah Vania bertemu disaat seperti ini?.
Vania menunduk menatap penampilannya. Seketika Vania merasa menyesal hanya mengenakan celana training dan hoodie kebesaran kesayangannya. Vania benar-benar tidak menyangka ia akan bertemu Azka dalam keadaan seperti ini.
"Hai, sendirian aja?." Tanya Azka yang kini sudah berdiri tepat di samping Vania.
Vania tersenyum dengan terpaksa, lalu menganggukkan kepala. Sedikit bingung dengan kehadiran Azka yang tiba-tiba. Mengapa pria itu ada disini dan dalam kedaan Vania yang seperti ini? Sungguh, rasanya Vania benar-benar ingin melarikan diri saat ini juga. Sebenarnya, bertemu dengan Azka merupakan suatu kebahagiaan. Tetapi jika dalam kondisi Vania yang saat ini, maka pertemuannya dengan Azka bukan lagi hal yang membahagiakan, melainkan hal memalukan. Bagi sebagian orang, jika bertemu dengan orang yang disukai, tentu ia ingin berada dalam posisi yang paling baik, termasuk Vania. Setidaknya dalam keadaan enak di pandang. Bukan seperti penampilan Vania saat ini. Benar-benar penampilan yang sangat aneh dan seperti orang yang mau beranjak tidur.
Vania benar-benar aneh dengan perasaan ini, padahal biasanya Vania merupakan yang cuek akan penampilan, atau bisa dibilang ia tidak begitu peduli dengan tanggapan orang terhadap dirinya selagi yang ia lakukan atau kenakan tidak merugikan orang lain. Tapi bersama Azka, semuanya Vania ingin terliat sempurna.
"Van.." panggil Azka yang menyadarkan Vania dari lamunannya.
"Kamu kenapa?."
"Hah?... Eung.. enggak apa-apa.. K-Kak Azka ngapain disini?." Tanya Vania kemudian.
Azka tidak langsung menjawab, pria itu tampak memperhatikan Vania terlebih dahulu lalu tersenyum. "Lucu banget." Lirih Azka yang sayangnya terdengar oleh Vania sehingga langsung membuat jantung Vania tidak aman.
"Apa, Kak?."
"Bukan, apa-apa. Aku lagi beli kebab, tadi kebetulan lewat sini." Ucap Azka sembari menunjuk pedagang kebab yang ada di pelataran mini market.
"Kalau kamu beli apa? sendirian aja?."
Vania terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa, pasalnya dirinya baru saja membeli barang yang menurutnya sangat perempuan sekali, jadi ia tidak yakin untuk memberitahukannya kepada Azka. Padahal jika dipikirkan lagi, pembalut bukanlah hal tabu yang harus di tutup-tutupi, tapi entah kenapa Vania malu saja.
Melihat Vania yang seperti kebingungan membuat Azka secara reflek melirik totebag yang dibawa Vania. Dan dari situ Azka bisa melihat sedikit apa yang di beli Vania. Seketika Azka bisa langsung mengetahuinya maka dari itu dirinya hanya tersenyum.
"Kamu sendirian?." Tanya Azka lagi.
"Hah? Iya kak, hng kalau gitu, aku pamit ya kak." Ucap Vania lalu bersiap melangkahkan kakinya. Namun baru saja ia melangkah, Azka kembali memanggilnya sehingga mau tidak mau Vania kembali menoleh pada pria itu.
"Eh sebentar, rumah kamu dekat sini?."
Vania mengangguk.
"Di sebelah mana?."
Vania mengernyitkan dahinya, untuk apa Azka bertanya, tidak mungkin juga kan dia mau mampir ke rumahnya.
"Masuk ke jalan situ kak. Jalan sepuluh menitan nanti sampai."
Azka melihat jalan yang di tunjuk Vania, kemudian ia melirik jam yang ada di tangannya.
"Ini kamu serius pulangnya jalan kaki? Aku antar aja gimana?."
Mendengar perkataan Azka, seketika membuat Vania terbelalak.
"Eh enggak usah kak, aku pulang sendiri aja."
"Bukan gitu, ini sudah malam loh. Dan kamu cewek, masa jalan sendirian. Mana itu jalan gelap banget, aku antar aja yuk."
Vania segera menggelengkan kepalanya, "Beneran Kak, enggak usah. Aku juga udah biasa jalan sendiri kok. Lagian aku juga lagi pengen jalan kaki." Kilahnya.
"Ya udah, kalau gitu aku antar sambil jalan kaki aja."
"Eh eng.."
"Sebentar." Ucap Azka memotong perkataan Vania. Pria itu tampak berlari menuju Abang kebab. Tampak berbicara sejenak kemudian kembali berlari ke arah Vania.
"Ayo aku antar."
"Kak, serius enggak usah."
"Udah ayok. Aku serius mau antar kamu." Ucap Azka dengan sedikit memaksa. Sehingga mau tidak mau Vania hanya menurutinya. Padahal jika boleh jujur. Vania sangat-sangat bahagia karena Azka tiba-tiba mau mengantarkannya pulang.
Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang mereka bicarakan. Hanya Azka yang sesekali mengomentari jalan yang cukup sepi dan mengatakan bahwa jalan ini cukup terlihat bahaya jika di lintasi perempuan seorang diri seperti Vania. Sedangkan Vania, diam-diam seperti ingin melebur, bertemu dengan Azka saja sudah membuatnya melting. Dan kini malah Azka sampai perhatian kepadanya, mengangarnya pulang dan meminta Vania untuk selalu berhati-hati. Jika sudah begitu, bagaimana mungkin Vania akan biasa saja. Tentu hatinya kini sudah menjadi ladang bunga.
Sejak mengenal lebih dekat dan mulai berbicara dengan Azka. Vania benar-benar tidak merasakan sosok Azka yang dingin dan datar. Azka benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Vania sampai berpikir, apakah mungkin karena kebanyakan orang tidak mengenal Azka dengan baik, sehingga banyak orang yang menilai Azka sebagai orang tanpa ekspresi dan dingin.
Vania menggelengkan kepalanya. Jika Vania berpikiran demikian, berarti Vania menganggap dirinya sudah dekat dan mengenal Azka dengan baik, padahal kenyataannya Vania juga belum begitu mengenal Azka.
"Kamu kalau pulang malam-malam gini harus waspada ya. Engga harus waktu siang aja sih. Jangan mudah percaya sama orang juga. Karena kalau kamu belum mengenal orang itu, kamu enggak tahu dia itu beneran baik atau jahat."
"Berarti sekarang aku juga harus waspada dong?."
Azka menoleh, menatap Vania begitu perempuan itu mengajukan pertanyaan.
"Kan aku belum begitu kenal sama Kak Azka."
Azka tersenyum mendengar lanjutan kalimat Vania. Kemudian ia mengangguk anggukkan kepalanya.
"Benar, kamu harus waspada."
"Tapi kamu tenang aja, untuk saat ini aku masih orang baik kok." Lanjutnya.
"Berarti maksud Kak Azka, Kakak bisa berubah jadi orang jahat?."
"Kan manusia enggak ada yang tahu, semua bisa berubah. Aku sendiripun juga enggak tahu apakah aku akan selalu jadi orang baik atau berubah jadi jahat."
"Ih Kak Azka serem."
Azka kembali terkekeh mendengar ucapan Vania. "Bercanda, Van. Aku akan usaha untuk selalu jadi orang baik. Kamu juga ya.."
Vania tersenyum, entah mengapa mendengar ucapan Azka membuat dirinya bahagia dan tenang.
Vania menganggukkan kepalanya, lalu menghentikan langkahnya ketika mereka telah sampai di halaman rumahnya.
"Sudah sampai?."
Vania mengangguk. "Iya Kak, makasih ya udah nganterin Vania pulang."
Azka tersenyum lalu mengangguk. "Iya sama-sama, ya sudah aku balik dulu. Selamat malam."
Azka membalikkan badannya kemudian mulai melangkahkan kakinya. Namun baru tiga langkah berjalan, tiba-tiba Vania memanggilnya.
"Kak." Panggil Vania yang membuat Azka berbalik.
"Tunggu sebentar." Ucap Vania lalu berlari memasuki rumahnya. Tidak lama kemudian ia kembali keluar dengan sebuah sapu tangan di tangannya.
Vania berjalan mendekati Azka. "Eung.. ini Kak, cuma mau balikin sapu tangan Kakak yang waktu itu, maaf ya balikinnya lama."
Azka menerima uluran sapu tangan dari Vania. "Iya enggak apa-apa."
"Oh iya, jaket Kak Azka aku balikin besok ya, Kak. Masih ku cuci. Kayaknya aku banyak banget ngerepotin Kakak."
Azka tersenyum. "Iya di bawa dulu aja. Santai lah, enggak ngerepotin kok."
Demi apapun, rasanya Vania ingin sekali berteriak sekarang. Mengapa Azka jadi se-sweet ini. Bolehkah Vania baper? Huh.. benar-benar Vania sangat bahagia saat ini.
"Makasih Kak."
"Iya sama-sama, ya udah. Aku balik dulu ya. Daah."
"Hati-hati Kak." Ucap Vania sembari melambaikan tangannya.
**
"Oohh ternyata udah punya pacar ya?"
"Siapa?"
"Bukan siapa-siapa."
"Dasar aneh."
***