Salah satu hal yang paling menyebalkan menjadi seorang siswi yang telah memasuki masa puber adalah ketika tamu yang tidak di undang datang di saat yang tidak tepat. Sebenarnya bukan masalah yang besar jika saja tamu itu datang tanpa membawa rasa sakit. Pasalnya kini Vania harus menahan rasa sakit dan kesalnya ketika perutnya terasa di remas-remas di tengah ulangan yang berlangsung.
Vania memengang perutnya yang sakit sembari memperhatikan soal-soal yang ada di selembar kertas yang di bagikan gurunya. Rasanya Vania sudah tidak bisa berpikir lagi. Perutnya terlalu sakit hingga membuat konsentrasinya pecah. Padahal Vania sudah belajar semalaman. Tapi jika begini, Vania sudah tidak bisa fokus lagi.
Vania mengumpulkan hasil ulangan dengan jawaban seadanya. Ia berpikir mungkin nanti ia harus melakukan remidi. Tapi Vania tidak akan mengambil pusing akan hal itu, karena memang perutnya benar-benar sakit dan memecah konsentrasinya.
"Ke UKS aja yuk, aku antar sekalian jalan ke masjid." Tawar Hana yang melihat Vania kesakitan.
Vania menggeleng. "Kamu pergi sholat saja Han, aku disini saja. Nanti juga hilang sakitnya."
"Yakin? Enakan buat berbaring kali Van, daripada duduk gini."
"Iya enggak apa-apa, sana kamu buruan sholat. Nanti keburu telat."
Akhirnya Hana hanya bisa menganggukkan kepalanya dan melenggang pergi menuju masjid sekolah. Sementara Vania menyandarkan tubuhnya ke kursi, berharap rasa sakit di perutnya segera reda.
Namun sekian menit menunggu, yang namanya harapan tetaplah menjadi harapan. Karena bukannya membaik malah sakit di perut Vania terasa semakin parah. Hingga akhirnya Vania memilih untuk menuju UKS. Mungkin benar kata Hana, dengan berbaring akan membuat rasa sakit di perutnya sedikit membaik.
Vania berjalan keluar kelasnya, untuk menuju UKS artinya Vania harus melewati deretan kelas dua belas, yang artinya Vania juga akan melewati kelas Azka. Vania menghela nafasnya. Ia benar-benar berharap agar nanti dirinya tidak bertemu dengan Azka. Vania hanya takut jika ia tidak bisa mengontrol detak jantungnya jika bertemu dengan Azka.
Perlahan namun pasti Vania melangkahkan kakinya, keadaan ruang kelas maupun halaman kelas tidak begitu ramai karena sebagian orang pergi untuk menunaikan ibadahnya di masjid sekolah dan sebagian lagi pergi ke kantin untuk makan siang. Hanya segelintir orang saja yang berada di dalam maupun di halaman kelas untuk bersantai.
Vania menghentikan langkahnya ketika akan melewati deretan kelas dua belas. Ia melihat sosok yang tidak ingin Ia temui. Azka Hermansyah. Pria itu tengah duduk di depan kelas sembari memakai sepatunya. Sepertinya Azka baru saja kembali dari masjid sekolah.
Vania menghela nafasnya, mencoba meyakinkan diri untuk melanjutkan langkahnya. Ia menundukkan kepalanya dan langsung berjalan. Berharap Azka tidak menyadari atau mempedulikan kehadirannya. Bahkan Vania sempat menahan nafasnya ketika jaraknya semakin dekat dengan Azka.
Vania baru akan menghela nafas lega ketika dirinya berhasil melewati Azka. Namun hal itu batal ketika ia mendengar suara Azka.
"Hei, berhenti.." Ucap Azka yang membuat Vania reflek menghentikan langkahnya.
Dari posisi Vania, ia bisa mendengar langkah kaki mendekat. Hal itu tentu saja membuat jantung Vania berdebar.
Azka mendekat, meraih bahu Vania hingga perempuan itu berbalik.
"Vania?." Ucap Azka yang seketika membuat Vania terbelalak. Ia tidak pernah menyangka bahwa Azka akan memanggil namanya.
"Ehm.. sebentar." Ucap Azka sembari menarik tangan Vania dan meminta Vania berdiri dengan membelakangi dinding di depan kelasnya. Vania masih bungkam, jantungnya berdetak tidak karuan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bahkan ia sampai melupakan rasa sakit di perutnya sejenak.
"Tunggu disini sebentar ya, jangan kemana-mana."
Setelah mengatakan kalimat itu, Azka berjalan masuk ke dalam kelasnya. Tidak lama setelah itu pria itu keluar dengan sebuah jaket di tangannya, membuat Vania menatap Azka bingung.
Azka berjalan mendekat, lalu menyodorkan jaketnya kepada Vania. Vania tentu saja bingung, mengapa tiba-tiba pria itu menyerahkan jaketnya.
Karena tidak mendapat respon dari Vania, akhirnya Azka membentangkan jaketnya lalu memasangkan ke pinggang Vania dan seketika membuat tubuh Vania kaku.
"Ada merah-merah di rok kamu." Ucap Azka saat mengikatkan lengan jaketnya di pinggang Vania.
Vania yang mendengar ucapan Azka pun langsung panik. Merah-merah? Apakah Vania bocor? Seketika Vania diserang rasa malu yang luar biasa. Mengapa hal memalukan selalu saja muncul ketika dirinya di hadapan Azka.
"Sudah tidak apa-apa. Anggap saja aku enggak lihat." Ucap Azka sembari tersenyum dan menepuk bahu Vania.
Seketika Vania speechless. Perasaannya campur aduk, antara malu, kesal dan juga senang. Siapa yang tidak senang ketika orang yang kamu suka memperhatikan mu. Tapi di sisi lain Vania juga sangat malu dengan apa yang terjadi.
"Ma-makasih kak."
Azka tidak menjawab. Pria itu hanya mengangguk dan kembali mendudukkan badannya ke bangku yang ada di depan kelas. Pria itu melanjutkan sesi memakai sepatunya yang tertunda karena Vania.
Sedangkan, Vania bingung harus berbuat apa. Alhasil Vania berpamitan kepada Azka dan segera pergi menuju UKS seperti tujuan awalnya.
Selama di UKS Vania tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya. Jika dibayangkan ulang, bukankah ia baru saja mengalami hal langka?. Ia masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ia menatap jaket Azka yang ia letakkan di atas nakas UKS dan seketika senyum Vania kembali merekah.
**
Ketika bel pulang berbunyi, Hana menyusul Vania ke UKS sembari membawakan tas perempuan itu.
"Kenapa Han?." Vania bertanya ketika melihat Hana masuk ke dalam UKS dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Hah? Enggak apa-apa, tadi di depan dengar orang lagi berantem."
Vania mendudukkan badannya. "Hah? Siapa? Dari tadi aku enggak dengar siapa-siapa."
Hana mengendikkan bahunya. "I don't know nggak kelihatan juga siapa orangnya, cuma kayak orang mau putus gitu sih. Tapi ya bodo amat lah yaa. Gimana, kamu udah mendingan?".
"Iya udah kok."
"Alhamdulillah." Ucap Hana sembari menyerahkan sekolah Vania.
"Makasih banyak ya, Han."
"Iya, sama-sama?."
Hana menarik kursi di samping ranjang yang ditiduri Vania.
"Btw, ini jaket siapa?." Tanya Hana ketika melihat Vania mengenakan jaket yang cukup besar.
"Kak Azka."
Hana terperangah mendengar jawaban Vania.
"Hah? K-kok bisa?."
Vania tersenyum kepada Hana. "Ceritanya panjang."
**
"Jatuh cinta?." Tanya seorang pria sembari mengerutkan keningnya. Sedikit kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan perempuan di hadapannya.
"Yep. Falling in love."
Pria itu terdiam sejenak sembari menyesap minumannya. "Menurutku setiap orang pasti pernah merasakan jatuh cinta."
"Termasuk kamu?."
Pria mengangguk. "Memangnya kenapa?."
"Bukan apa-apa. Penasaran saja."
"Eh tapi..."
Pria itu kembali mengangkat kepalanya, menatap penatap perempuan itu sembari menunggu kalimat yang akan perempuan itu ucapkan.
"Tapi apa?."
Perempuan itu tampak berpikir, seperti ada suatu masalah yang mengganggunya. "Menurut kamu, semisal nih. Kan aku suka sama seseorang, sudah lumayan dekat. Dia perhatian sama aku, apa mungkin dia suka juga sama aku?."
Pria itu kembali mengernyitkan dahinya, ia tampak berpikir. "Belum tentu sih."
"Kenapa gitu?."
"Karena, perhatian belum tentu suka, bisa saja dia memang murni ingin menolong, atau mungkin dia hanya merasa perlu melakukan suatu hal."
Perempuan itu tampak terdiam begitu mendengar jawaban pria di hadapannya.
"Tapi kalau memang nggak suka, kenapa harus peduli perhatian?." Tanya perempuan itu kemudian.
"Aku enggak bilang kalau dia enggak suka. Ini hanya kemungkinan. Mungkin demi rasa kemanusiaan atau perteman. Atau memang dia hanya ingin memberi bantuan atau menghibur. Enggak ada yang tahu, kan? Memang kamu lagi suka sama siapa? Tumben banget ngomongin beginian."
Perempuan itu tampak lesu. "Ada, someone. Belum saatnya kamu tahu."
Pria itu terkekeh, lantas tangannya terangkat untuk mengacak-acak rambut perempuan di hadapannya. "Kalau suka sama seseorang. Hati-hati yaa, jangan mudah baper. Takutnya kamu sudah terlanjur baper tapi dia enggak ada rasa sama sekali. Kan engga enak juga. Nanti kamu sendiri yang susah."
Perempuan itu termenung. "Iya juga sih." Jawabnya kemudian.
**
Vania menengok jam yang ada di tangannya, jam tengah menunjukkan pukul 8 malam, sejujurnya Vania sangat malas keluar malam, terlebih jika hanya untuk pergi ke mini market. Biasanya ia akan menyuruh Adiknya-Arkan. Tapi kali ini kebutuhan Vania adalah pembalut, maka tidak mungkin ditinya meminta adiknya untuk membelikan. Alhasil Vania keluar sendirian menuju mini market yang kira-kira membutuhkan waktu sepuluh menit untuk berjalan kesana.
Vania keluar gerbang rumahnya bertepatan dengan sebuah mobil hitam yang tengah memasuki seberang rumah Vania. Vania menghiraukannya dan segera melanjutkan langkahnya menuju mini market.
Begitu sampai di mini market, Vania tidak perlu membutuhkan banyak waktu, karena begitu datang Vania langsung mengambil apa saja yang dirinya butuhkan. Vania bukan tipe orang yang banyak berpikir dalam berbelanja. Seperti memikirkan harus pilih yang mana antara dua barang yang memiliki perbandiangan harga lima ratus rupiah. Vania cenderung sudah menentukan apa saja yang harus dia beli, jadi ia bisa berbelanja dengan cepat.
Vania dapat merasakan tiupan angin malam begitu dirinya melangkahkan kaki keluar dari mini market. Vania berhenti sejenak, merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Vania.."
Vania menoleh saat seseorang memanggilnya, sedikit menahan nafas begitu Vania melihat seseorang yang memanggilnya. Haruskah Vania bertemu disaat seperti ini?.
***