Semburat jingga mulai terlihat membawa senja di ujung barat. Burung-burung mulai berterbangan pulang menuju sarangnya. Sang raja siang perlahan mulai tenggelam mengundang malam untuk segera hadir menggantikannya.
Vania masih berdiri di depan gerbang sekolahnya, menunggu angkot maupun jemputan yang tidak kunjung datang. Perlahan namun pasti orang-orang yang ada di dalam sekolah berjalan keluar untuk kembali kerumah mereka dan beristirahat.
Hanya tinggal segelintir orang yang menjabat sebagai anggota dewan ambalan yang masih berunding, mungkin tentang konsep kegiatan pramuka minggu depan. Melihat beberapa teman dan kakak kelasnya yang menjadi dewan ambalan seketika membawa Vania ke dalam kenangan ketika ia masih duduk di kelas sepuluh. Dulu Vania adalah salah satu orang yang paling rajin dan semangat mengikuti kegiatan pramuka ketika teman-temannya malas dan memilih bolos. Karena kegiatan pramuka dinilai cukup membosankan dan menyebabkan waktu jam pulang sekolah yang seharusnya lebih awal menjadi sangat sore.
Sesungguhnya Vania berpikiran sama dengan teman-temannya. Hanya saja di pramuka, Vania dapat melihat Azka sepuas-puasnya karena Azka menjadi salah satu anggota dewan ambalan. Hal itulah yang membuat Vania bersemangat mengikuti pramuka.
Jum'at kali ini Vania terlambat bukan karena ia mengikuti pramuka atau melihat Azka yang masih menjabat sebagai dewan ambalan. Melainkan karena dirinya harus mengerjakan tugas kelompok yang harus di kumpulkan nanti malam melalui email.
Teman-teman kelompok Vania sudah pulang, menyisakan Vania yang tadi yakin akan menemukan angkot. Tapi hingga kini, ketika malam hampir menjelang, Vania tidak juga mendapatkan angkot itu. Vania menolehkan kepalanya lagi untuk melihat beberapa anggota dewan ambalan yang tampaknya sudah menyelesaikan rapatnya. Ia juga melihat sosok Azka yang kini berjalan mendekati motor miliknya. Tiba-tiba hati Vania berdesir. Apakah Azka masih mengingatnya?. Berbicara tentang Azka, Vania jadi teringat bahwa sapu tangan yang sempat di pinjamkan Azka saat di kolam renang. Vania belum mengembalikannya karena ia belum cukup memiliki keberanian untuk bertemu Azka.
Vania mengamati Azka dari posisinya, berharap Azka masih mengenalinya atau syukur-syukur jika Azka memberikannya tumpangan. Karena jujur saja, Vania mulai takut karena kini keadaan sekolah sudah sangat sepi. Namun, harapan tinggal lah harapan. Jangankan mengenali, melirik kehadiran Vania saja tidak. Azka berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun kepada Vania. Membuat Vania menjadi sangat lesu.
Kini Vania berniat untuk berjalan kaki saja, berharap setidaknya ia dapat menemukan ojek offline. Karena hp nya kini juga sudah mati, sehingga tidak ada harapan untuk memanggil ojek online.
Vania baru saja berjalan beberapa langkah ketika sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. Tiba-tiba atmosfer di sekitar Vania berubah. Rasa takut dan was-was menyerang Vania. Mengingat malam akan datang dan keadaan sekitar yang cukup sepi.
Vania yang semula reflek menghentikan kakinya pun berusaha untuk melanjutkan langkahnya. Namun bersamaan dengan itu, pintu mobil itu terbuka, memunculkan sesosok pria yang tidak begitu asing bagi Vania.
"Ayo naik. Mau pulang, kan?." Ucap pria itu. Vania masih tercekat, bingung bagaimana ia harus menjawab.
"Enggak usah takut, aku bukan orang jahat. Kan kita tetanggaan. Jadi ayo, aku juga mau pulang." Ucap pria itu lagi.
Karena tidak ada respon juga dari Vania. Pria itu turun dari mobil dan menarik tangan Vania.
“Kalau kamu khawatir aku melakukan hal yang buruk, ini di bawa.” Ucapnya sembari memberikan sebuah botol spray.
Vania menatap botol itu, rupanya itu adalah semprotan merica.
“ini…”
“Punya temanku, tadi tertinggal. Kamu bawa dulu saja kalau kamu khawatir aku akan berbuat jahat.”
Mendengarnya membuat Vania jadi merasa buruk, solah-olah dirinya telah menuduh pria itu sebagai orang jahat. Vania memasuki mobil pria itu ketika pria itu membukakan pintu untuknya, Vania masih memegang erat semprotan merica yang diberikan orang itu, meski kini Vania cukup yakin bahwa pria itu orang baik, tapi setidaknya ia masih ingin berjaga-jaga.
"Kamu pulangnya memang sore banget gini, ya?." Tanya pria itu setelah menjalankan mobilnya.
"Ehm enggak, Kak. Tadi ada tugas kelompok jadi pulang sore."
"Anyway, sampai sekarang kita belum kenalan. Jadi siapa nama kamu?."
"Vania."
"Vania?." Tanya orang itu mengulang. Vania menganggukkan kepalanya.
"Kalau Kakak? Eh enggak apa-apa, kan? Aku panggil Kakak?."
Pria itu tersenyum. 'lucu banget sih.' lirihnya.
"Apa Kak?."
"Bukan apa-apa. Iya, panggil Kakak juga boleh. Namaku Dava."
"Ohh.. Kak Dava." Lirih Vania dan lagi-lagi membuat Dava tersenyum.
Dava adalah pria yang tempo hari mengikuti Vania menggunakan motor dan mengaku sebagai tetangganya. Juga pria yang tersenyum kepadanya ketika ia akan pergi ke kolam renang minggu lalu. Kini jika di pikir lagi, Vania masih tidk menyangka akan menumpang di mobil Dava dan berkenalan dengan pria itu.
Dava menghentikan mobilnya tepat di depan rumah mereka. Vania segera turun dan mengucapkan terimakasih kepada Dava.
"Terima kasih, Kak. Vania pamit ya."
"Anytime." Jawab Dava sembari tersenyum.
“oh iya, ini semprotannya. Maaf ya kak, kalau Kak Dava mungkin tersinggung sama sikap Vania selama ini.
Lagi-lagi Dava tersenyum. “It’s okay. Bukan masalah besar, memang waspada itu sangat perlu, terlebih kamu seorang perempuan.”
Vania hanya mengangguk, ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih lagi sebelum benar-benar keluar dari mobil Dava.
**
Malam telah menyapa sejak beberapa jam lalu, langit pun tampak kian pekat, suara-suara hewan malam mulai terdengar bersahutan. Vania menyandarkan tubuhnya pada kursi belajarnya. Menatap kosong jendela yang tertutup oleh gorden. Tubuhnya lelah, seharian berada di sekolah memang benar-benar melelahkan.
Mata Vania melirik pada sebuah sapu tangan abu-abu yang sudah terlipat rapi di atas salah satu bukunya. Sapu tangan itu milik Azka. Hampir satu minggu Vania membawanya dan belum sempat mengembalikan. Membicarakan soal Azka, membuat Vania tiba-tiba teringat akan kejadian sore tadi, dimana Azka yang berlalu begitu saja tanpa sedikitpun melirik Vania.
Sebenarnya wajar-wajar saja. Tidak ada yang aneh dari sikap Azka. Karena posisinya Azka mengendarai motor dan tidak mungkin akan menengok kesana kemari. Tapi entah kenapa rasanya aneh saja. Vania benar-benar tidak bisa mengendalikan pikirannya.
Vania menghela nafasnya, lalu menumpukan kepala di atas meja. Ia memejamkan matanya, berusaha membuang pikiran-pikiran aneh di kepalanya. Namun, seolah isi kepalanya tidak mau di ajak kompromi, pikiran Vania justru terasa semakin rumit. Awalnya, menyukai Azka terasa biasa saja. Hanya melihat pun sudah bahagia. Tapi kenapa sekarang, setelah ia bisa membuka percakapan dengan pria itu dan memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan pria itu membuat pikiran Vania semakin rumit. Ia jadi memiliki rasa dimana dirinya juga ingin diperhatikan oleh Azka. Lantas apakah hal ini berlebihan?.
Vania menggelengkan kepalanya ia tidak tahu. Vania tidak ahli dalam masalah percintaan. Karena menyukai Azka adalah pengalaman jatuh cinta pertama dalam hidupnya. Vania membuka mata, sedikit memijit pelipisnya. Disaat kacau seperti ini, Vania harus membuat moodnya jadi lebih baik. Vania mengambil salah salah satu novel favoritnya. Mungkin dengan membaca novel dan mendengarkan musik akan sedikit membuat moodnya labih baik.
Vania beranjak dari duduknya, mencoba mencari earphone yang ia yakini berada di tas sekolah. Namun, meski seluruh isi tasnya sudah ia keluarkan, Vania tidak juga menemukan earphone nya. Jika begini hanya ada dua kemungkinan jika tidak tertinggal di sekolah, maka hilang. Dan hal ini benar-benar membuat mood Vania semakin hancur.
Vania kembali menumpukan kepalanya di atas meja belajar, sembari menghela nafas panjangnya dan mencoba memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Berharap moodnya akan segera membaik.
***