Beberapa hari berlalu perjodohan Ilyas pun tiba, keluarga Ilyas sudah bersiap pergi ke rumah calon sang istri, mereka tiba disana saat malam hari, persisnya sekitar jam 7 malam.
Ilyas sudah memantapkan hatinya dengan perjodohan ini, walaupun sebenarnya dia tidak bisa menolak. Perkataan ayahnya malam lalu adalah dasar kenapa ia jadi setuju.
Keluarga Pak Idris menyambut dengan hangat, mempersilahkan masuk pada Ilyas dan kedua orang tuanya yang sudah tiba. Pak Idris membawa mereka ke ruang tamu, tempat anggota keluarganya sudah kumpul disana.
“Bagaimana pekerjaan diladang, Zan, pohon kopinya berbuah banyak?” Pak Idris berbasa-basi untuk meringankan suasana, Pak Idris dan Pak Farzan adalah sahabat dekat sejak dulu.
“Begitulah, Dris, tidak disebut baik juga tidak disebut buruk. Sekarang hama-hama dikebun semakin banyak saja, aku tidak terlalu mengerti. Tapi kabar baiknya, pohon kopi ditahun ini berbuah sangat banyak.”
Pak Idris mengangguk-ngangukkan kepala, keduanya mengobrol lebih lanjut membicarakan tentang ladang. Keakraban mereka saat sedang mengobrol menjelaskan persahabatan mereka yang dekat.
Ilyas tidak terlalu mendengarkan percakapan ayahnya, mata ia teralihkan pada gadis berkerudung yang berada disamping Bu Indira, istrinya Pak Idris sekaligus ibu dari gadis yang akan dijodohkan dengannya.
Ini bukan pertemuan pertama Ilyas bertemu dengan wanita calon istrinya itu, keduanya sudah saling kenal sejak dulu. Hubungan keduanya tidak bisa dibilang asing, tetapi juga tidak dibilang sangat akrab.
Gadis itu bernama Rara, usianya tiga tahun lebih muda dari Ilyas, sekitar umur 22 tahun. Rara disamping ibunya hanya menunduk dan diam, memainkan kedua jarinya dipaha seperti orang yang sedang gugup.
Ilyas tersenyum, gadis yang dikucir waktu kecil dulu kini tumbuh menjadi wanita yang cantik. Ilyas pernah bermain dengan Rara ketika usianya 7 tahun, saat itu dia tidak menyangka bahwa anak kecil yang sering ia usili kini akan menjadi jodohnya.
Mata Rara bertemu dengan mata Ilyas yang baru saja terangkat, segera Rara salah tingkah ketika saling tatap terjadi lalu kembali menundukkan padangannya.
Aksi itu dilihat oleh Bu Ani dan Bu Indira, mereka hanya menggelengkan kepala dengan tingkah kedua anaknya itu sambil mengulum senyum penuh makna.
“Jadi, bagaimana tentang perjodohan ini, bisakah kita mulai…” Pak Idris berdeham sebentar, mengintruksikan bahwa percakapannya sudah pada intinya.
Pak Farzan mengangguk, diikuti oleh semuanya termasuk Ilyas dan Rara.
Pak Idris mulai memastikan terlebih dahulu kepada Ilyas, apakah ia menerima perjodohan ini dengan sukarela dan tanpa paksaan? Ilyas mengangguk pelan.
“Saya menerima perjodohan ini, saya sudah memantapkan ingin menikah dengan Rara!” Begitulah jawaban Ilyas dengan penuh percaya diri.
Pak Idris tersenyum mendengarnya, ia kemudian bertanya pada anaknya, Rara. Walaupun Rara tidak bersuara seperti Ilyas, ia menjawabnya dengan anggukan pelan.
Ilyas sendiri sebenarnya sangat terkejut, ternyata calon istrinya itu menerima perjodohan ini begitu saja. Ilyas sempat berpikir apakah Rara dipaksa oleh orang tuanya untuk menerimanya tetapi pikiran itu segera ditepis.
Setahu Ilyas, keluarga Pak Idris dan Bu Indira sangat baik pada Rara. Bahkan setahunya Rara selalu dimanjakan oleh keluarganya.
“Kalau kedua pihak sudah setuju dalam perjodohan ini, kita tinggal rencakan jadwal pernikahannya…” Ucap Pak Idris tersenyum.
Kedua keluarga tersebut berdiskusi beberapa menit hingga akhirnya diresmikan bahwa pernikahan Rara dan Ilyas akan terjadi sebulan lagi.
Walaupun terkesan cepat tetapi Rara dan Ilyas tidak keberatan, itu waktu yang cukup untuk mereka saling mempersiapkan diri.
***
Menit berganti dengan jam, jam berganti dengan hari, hari berganti dengan bulan. Tidak terasa waktu yang dijanjikan pernikahan mereka akhirnya telah tiba.
Pernikahan tersebut diadakan sederhana dirumah Pak Idris, bahkan lebih terkesan simpel, meski keluarga Pak Idris adalah orang yang sangat kaya, beliau tidak suka dengan kemegah-megahan.
Pernikahan mereka terlaksana dengan baik, dari acara ijab kabul hingga resepsi pernikahan terjadi. Pak Idris hanya mengundang sanak keluarga terdekat saja, sehingga para tamu yang datang kerumahnya terbilang sedikit.
Setelah dirasa tamu-tamu mulai berpamitan keluar, Pak Idris memeluk teman sahabatnya itu, menepuk pundak masing-masing.
“Alhamdulillah, rencana kita selama beberapa tahun terjadi, Zan. Aku masih tidak percaya anak kita sekarang telah menikah dan kita jadi berbesanan.” Ucap Pak Idris pada Pak Farzan.
Pak Farzan tertawa. “Justru seharusnya aku yang berkata demikian. Aku tidak menyangka anak gadismu itu mau menikah dengan keluarga kami yang pas-pasan.”
“Hei! Jangan berkata seperti itu… Bagiku bukan harta yang kupandang pada anakkmu melainkan ahlak dan sikapnya yang sopan. Aku tidak akan menyerahkan anakku pada siapapun kecuali dia baik dalam agamanya.”
Pak Idris dan Pak Farzan saling tertawa, mereka mulai mengenang persahabatan mereka dari waktu kecil dulu hingga kini yang telah menjadi bapak-bapak.
***
Pernikahan telah selesai sekitar jam 8 malam, semuanya dalam keadaan bahagia termasuk kedua keluarga mempelai, tetapi mereka lupa tentang satu hal, tentang bagaimana suasana hati kedua pengantinnya, bagaimana kondisi mereka ketika pernikahan itu telah selesai.
Ilyas berjalan menuju kamar Rara yang ada dilantai dua setelah tadi berbicara lama dengan kedua mertuanya.
Ia berhenti sebentar ketika didepan pintu kamarnya Rara, Ilyas menghirup napas yang dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Ilyas tahu, bahwa didalam ruangan ini sudah ada istrinya yang tengah menunggu.
Cklek…
Dengan segenap hati Ilyas membuka pintu secara perlahan, melangkah dengan perlahan pula, ia sengaja betul tidak bersuara seperti layaknya maling yang mau masuk.
Ilyas menemukan Rara tengah duduk ditepi ranjang sambil membaca buku, kedatangannya ke kamar membuat wanita itu teralihkan lalu menatap Ilyas.
Rara segera menutup buku itu lalu menundanya di laci, Rara langsung berdiri dengan kepala yang masih menunduk, ternyata Rara juga gugup dan bingung harus bertindak seperti apa ketika suaminya sudah datang.
Detakan jantung Rara berdebar tidak karuan, dia masih bingung apa yang harus dilakukan ketika suaminya sudah ada didepannya, kebingungannya itu membuat Rara berdiam dan mematung.
Aksi diam-diaman mereka seketika menjadi suasana canggung dan hening, yang terdengar dari kamar itu hanya detakan jarum jam yang mengisi kekosongan.
“Assalamualaikum…” Ucap Ilyas memberi salam.
“Waalaikumsalam.”
Hanya itu percakapan mereka sebelum keduanya diam-diaman kembali.
Ilyas menggaruk kepala yang tidak gatal, suasana ini benar-benar menyiksa dirinya, ia tidak tahu harus berbicara seperti apa.
“Aku mau mandi dulu.”
Rara mengangguk pelan, ia hanya menatap wajah Ilyas sekilas sebelum kembali menunduk.
“Terimakasih.” Ilyas tersenyum sebelum mengambil handuk di kopernya, koper itu adalah pakaian Ilyas yang sudah dibawa sejak pagi lalu.
Setelah suaminya memasuki kamar mandi, Rara menghela nafas lega sambil memegang dadanya yang berdebar. Ia jatuh duduk di atas kasur, Rara tidak menyangka berduaan dengan lelaki bakal setegang ini.
Rara sadar bahwa tempat kamar pribadinya ini bukan miliknya lagi, kini ada seseorang yang bakal disini bersamanya. Terlebih dia adalah lelaki, alias suaminya.
Rara sudah berganti pakaian sejak tadi ketika dia masuk ke kamarnya, rasa gerah memakai baju pengantin membuatnya tidak nyaman dan segera mandi begitu saja.
Rara berganti pakaian dengan gamis panjang, tidak lupa dengan kerudungnya yang lebar sampai badan.
Jika ini hari biasanya tentu saja Rara tidak akan berpakaian seperti ini, biasanya kerudung Rara akan dilepas saat hendak tidur tetapi karena sekarang ada laki-laki yaitu suaminya, Rara memilih berpakaian syar’i.
Rasa tenang Rara tidak bertahan lama ketika suaminya sudah keluar dari kamar mandi. Ilyas sudah berganti pakaian yang kini bukan lagi baju pengantin.
Ilyas tersenyum melihat Rara yang memandang dirinya seperti terpana. Ketika Rara menyadari tingkahnya terlihat oleh Ilyas seketika ia salah tingkah dan tertunduk malu.