Rara mengambil buku yang tadi ditaruh dilacinya lalu berpura-pura membaca untuk menyembunyikan rasa malu itu, ia menggurutu kesal pada dirinya sendiri kenapa tadi dia menatap Ilyas seperti itu.
Disisi lain Ilyas menikmati salah tingkah dari istrinya, ia terkekeh kecil. Aksi Rara yang lucu membuat kegugupan Ilyas menghilang, bagi Ilyas, tingkah lucu Rara sama seperti waktu kecil dulu, tidak ada yang berubah.
Ilyas harus pergi dulu ke bawah ingin berbicara pada ayahnya, ada sesuatu yang ingin mereka obrolkan tentang pernikahan ini.
Ketika Ilyas pergi dan menutup pintu kamar, Rara kembali mengambil nafas lega. Ia tidak tahu harus bertindak seperti apa pada suaminya.
Rara kembali membaca bukunya, walaupun dia baru saja menikah, gadis itu tidak kuat untuk meneruskan novel yang ada di tangannya. Rara terlanjur penasaran dengan kelanjutan buku tersebut, hingga lupa beberapa jam telah ia lewati.
***
Setelah berbicara dengan ayahnya panjang lebar, Ilyas kembali lagi ke kamar Rara sekitar jam 10 malam. Pikirnya mungkin istrinya sudah tidur dijam seperti ini tetapi kenyataanya Rara masih diam ditempat tadi dengan posisi yang sama, membaca buku.
Ilyas sengaja mengobrol lama-lama dengan ayahnya bermaksud agar dia kembali ke kamar Rara sudah tertidur.
Melihat Rara masih dalam keadaan terjaga rencananya sepertinya gagal.
Ilyas mengucapkan salam beberapa kalinsaat masuk tetapi Rara tidak menggubrisnya, Ilyas mengerutkan kening, sepertinya istrinya itu terbuai oleh buku yang ia baca sampai kedatangannya kesini tidak ia sadari.
Ilyas mendekat ke arah Rara, melihat buku apa yang dibaca. Bahkan dijarak dekatpun Rara masih tidak menyadari kedatangannya.
“Baca buku apa, hm?” Ilyas berbicara didekat telinga Rara, sedikit berbisik.
“Astaghfirullah…” Rara terkejut dan langsung menjauhkan kepalanya segera dari Ilyas. Matanya terbuka lebar saat tahu itu suaminya. “M-Mas Ilyas!”
Ilyas tersenyum. “Baca buku apa, sepertinya sedang seru?”
Rara menundukan padanganya. “Novel, Mas.”
“Novel? Kamu suka baca novel-novel ya?”
Rara mengangguk, tidak berani manatap suaminya.
Ilyas menemukan disamping meja belajar Rara ada rak kecil yang tersusun banyak buku didalamnya. Ilyas segera mengerti bahwa Rara punya hobi membaca buku.
Ilyas menatap Rara kembali, kegugupannya dengan gadis itu telah sirna, seperti perkiraanya, sikap Rara tidak jauh berbeda ketika waktu kecil dulu. Sikap pemalunya masih sama.
“Membaca buku apa, tentang cinta? Genre romantis?” Ilyas mencoba lebih akrab.
“Fantasi, Mas, tentang petualangan.”
Sebutan ‘Mas’ dari Rara sungguh membuat Ilyas senang, dia merasa dihargai sebagai suami. Entah kenapa walau hanya sebentar, Ilyas mulai mempunyai perasaan pada Rara.
Ilyas tidak berbohong kalau Rara adalah gadis yang manis, tetapi faktor pertama yang membuat ia tertarik bukan parasnya melainkan perkataanya yang terdengar lembut.
Ilyas sudah tahu dari dulu bahwa Rara adalah lulusan pesantren, terlebih ia kini sedang kuliah dijurusan keagamaan.
Dari cara ia menjaga padangan dari Ilyas sudah membuatnya tahu bagaimana sikap dari Rara. Ilyas sudah mendengar dari ayahnya kalau Rara itu wanita yang sholehah.
Ilyas melihat jam di dinding kamar, waktu sudah larut malam. Ia mulai mempertanyakan untuk tidur dimana, karena Ilyas tidak bisa memaksa kalau nanti Rara tidak ingin tidur bersamanya.
“Ini sudah larut malam, karena ini hari pertama kita menikah, aku akan tidur dilantai.” Ujar Ilyas.
Rara terkejut dengan lontaran itu, ia kemudian memandang suaminya. “Mas tidur dikasur aja…”
“Kamu kan belum terbiasa dengan aku disini, tidak usah dipaksakan.”
“Enggak, Mas, Rara memang tidak keberatan sekasur bersama, kok.”
Ilyas tersenyum, “Baiklah, Terimakasih.”
Rara akui mungkin ini pertama kalinya kasur yang dipakainya selama beberapa tahun terakhir ini harus berbagi dengan orang lain. Tentu saja Rara keberatan dalam hati, tetapi ia sadar bahwa suaminya itu berhak tidur bersamanya.
Lagian, cepat atau lambat Rara harus terbiasa tidur bersama Ilyas, mungkin malam ini adalah awalan yang tepat untuk memulai.
“Rara belum ngantuk dijam seperti ini?” Ilyas bertanya, merebahkan tubuhnya di kasur, tepat disamping Rara.
“Mm… masih belum, Mas.” Walaupun berkata demikian, Rara malah menguap setelahnya.
“Belum ngantuk kok menguap…” Ilyas tertawa kecil. “Sini tiduran, Mas pengen bicara dulu sama kamu?”
Rara tertunduk malu, tetapi langsung menurut ikut tiduran disamping suaminya.
“Rara bersedia menjadi istri Ilyas?” ucap Ilyas lembut.
Rara mengangguk, masih tidak berani menatap suaminya.
“Rara tidak dalam keadaan terpaksa kan, saat menikah dengan Mas?”
Rara menggeleng.
“Sini tatap dulu mata Mas. Mas pengen bicara serius?”
Dengan perlahan, wajah Rara terangkat lalu bertemu dengan kedua mata Ilyas. Ilyas tersenyum saat memandang wanita didepannya dengan lebih jelas, satu kata untuk menggambarkan semuanya, Rara adalah wanita cantik.
“Hidup Mas tidak semegah kamu, aku hidup pas-pas’an dengan hanya kerja di pabrik. Rara nanti mungkin akan tinggal dikontrakan jika bersama Mas. Rara masih mau denganku?”
“Abah sudah memberi tahu itu sebelum menikah.” Rara kembali menundukan pandangannya. “Rara sudah bersedia mengikuti suami kemana saja.”
Kalimat terakhir yang dilontarkan Rara tak kuasa membuat getaran hati didada Ilyas. Ia sepertinya sudah mulai jatuh cinta pada Rara walau dengan berbicara seperti ini.
Jujur saja, Ilyas tidak pernah berpacaran semasa hidupnya, walaupun dia masih bisa berdekatan dengan lawan jenis ketika bekerja, itu tidak membuat Ilyas suka apalagi jatuh cinta.
Perasaan yang muncul ini adalah hal yang pertama Ilyas rasakan sejak 3 tahun terakhir. Mungkinkah dirinya sudah langsung jatuh hati?
“Boleh Mas peluk tubuh kamu?” tanya Ilyas tiba-tiba.
Walau hanya sesaat, tubuh Rara terlihat menegang dengan pertanyaan dari suaminya. Rara terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Ilyas melingkarkan tangannya ditubuh Rara secara lembut, sedangkan untuk Rara tergugup merasakan pelukan hangat dari suminya. Tidak sampai disana, Ilyas juga mencium kening istrinya lama dengan hatinya yang tengah berdo’a. Ilyas meminta kebaikan-kebaikan untuk pernikahannya kelak.
“Sudah larut malam. Kita tidur, yuk?” Ilyas melepaskan pelukannya.
“Mm… itu…Mas tidak meminta sesuatu sama Rara?” tanya Rara malu bercampur ragu.
Ilyas mengernyitkan alis, tidak mengerti “Meminta apa?”
“Eh, itu… Mas g-gak minta Mm… M-malam pertama?”
Ilyas menggaruk kepalanya. Ia tidak senaif itu untuk tidak mengerti kalimat yang dimaksud Rara, tetapi Ilyas jelas melihat bahwa Rara berkata itu dalam keadaan terpaksa.
“Memang Rara mau?” Ilyas tertawa kecil, mencoba menggoda gadis yang sok berani menawarkan hal itu.
“Eh? Itu… Rara…”
“Tidak apa, jika kamu memang belum siap, Mas tidak akan memaksa kok. Lagian kita butuh pendekatan dulu untuk mengenal masing-masing.”
“Maap, Mas...” Rara merasa bersalah.
“Kenapa minta maap?”
“Rara belum bisa melayani Mas sepenuhnya.”
“Kita pendekatan dulu aja, walau ini bukan pertemuan pertama kita, tetapi hubungan kita masihlah terasa asing. Aku juga ingin lebih mengenalmu lebih lanjut.”
“Terima kasih, Mas…”
“Kenapa berterima kasih?”
“Eh, itu…Rara gak tahu…”
Ilyas tersenyum dengan tingkah istrinya. Benar kata ayahnya semalam lalu, selama ini Ilyas terlalu memandang negatif dengan perjodohan dirinya dengan Rara. Ia tidak menyangka bahwa menikah akan sebahagia ini.
Tetapi Ilyas juga tahu, pernikahan ini bukanlah akhir melainkan awal dari kehidupan dia yang sebenarnya. Besok atau lusa, cobaan pernikahan dia dengan Rara pasti akan terjadi. Selama itu juga Ilyas harus melindungi pernikahannya.