Pandangan pertama saat Rara terbangun adalah sesosok pria yang tengah tertidur disampingnya. Mata dia terpejam damai dengan deru nafas yang teratur halus.
Rara menapakuri setiap inci wajah si pria tersebut sebelum akhirnya menunduk dan beristigfar beberapa kali, namun tidak berangsur lama Rara malah kembali memandang pria itu, ia masih ingin menikmati wajahnya.
Seberkas senyuman muncul dari bibir kecilnya, dia masih teringat bahwa kemarin ia telah menikah dan kini menjadi seorang istri.
Saat Rara masih melihat wajah Ilyas tiba-tiba mata Ilyas perlahan terbuka. Rara anehnya refleks menuntup mata kembali, ia berpura-pura masih tertidur.
Rara membuka sedikit matanya untuk melihat Ilyas, suaminya itu sudah terbangun dan kini tengah memandang wajahnya.
Degh!
Debaran jantung Rara berdetak beberapa kali lebih cepat tetapi tidak lama Ilyas mendekatkan wajahnya membuat debaran itu semakin meningkat.
Tinggal beberapa senti meter lagi wajah Ilyas mendekatinya, mata Rara segera terbuka. “M-Mas mau ngapain?” Rara mencegah Ilyas mendekat dengan menahan dadanya menggunakan tangan.
“Hm? Kamu sudah bangun? Mas cuma pengen ngambil ponsel di laci…”
Letak laci ada diseberang tubuh Rara jadi Ilyas harus sedikit berusaha untuk mengambilnya.
Saat sadar kalau Rara salah sangka wajahnya kemudian memerah karena malu, Rara ingin sekali menghilang dari dunia ini begitu saja.
Tentu saja Ilyas menyadari hal itu, justru tindakan tadi sengaja agar memancing Rara terbangun. Ilyas mengetahui kalau semenjak tadi Rara tersadar dan memandang wajahnya.
Ilyas melihat ponsel yang sudah ada digenggaman tangannya dan menemukan banyak sekali pesan yang muncul. Ilyas memang tidak membuka ponsel saat hari menikah kemarin, dia tidak menyangka bahwa satu hari tidak memegang ponsel akan banyak pesan yang datang.
Satu persatu Ilyas membuka pesan tersebut, senyuman dan tawa tak kuasa ia bendung. Pesan-pesan tersebut berasal dari teman-teman kerjanya yang mengucapkan selamat atas pernikahan dirinya.
Suara azan subuh berkumandang dengan lamat-lamat dari luar. Rara masih saja tidak berani memandang suaminya tetapi Ilyas justru menatapnya.
“Rara tahu letak masjid didekat sini?” ucap Ilyas berkata lembut.
Rara mengangguk perlahan. “Iya Mas, kalau mau shalat dimasjid biasanya abah akan kesana. Mas Ilyas bareng sama abah aja.”
Ilyas tersenyum lalu mengelus pucuk kepala istrinya yang masih menunduk, Ilyas tidak tahu bahwa elusannya itu membuat jantung Rara berdebar begitu cepat.
Ilyas bangkit dari kasur dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, hal itu kesempatan untuk Rara menghirup napas dalam-dalam dan menenangkan dirinya.
***
Seperti yang dikatakan istrinya, Ilyas bersama Pak Idris pergi ke mesjid untuk menunaikan shalat shubuh. Pak Idris mengetuk kamar Rara untuk mengajak Ilyas lalu menemukan menantunya itu sudah berseragam rapih lengkap dengan pecinya.
Banyak hal yang mereka obrolkan ketika berangkat dan pulang dari shalat shubuh. Salah satu topik utamanya yang tak lain adalah pernikahan.
Pak Idris banyak bertanya apa rencana Ilyas kedepannya dengan Rara, Ilyas dengan sopan menjelaskan bahwa ia akan membawa Rara ke kontrakannya nanti dan tinggal disana.
Pak Idris tidak keberatan atas keputusan Ilyas, dia tahu bahwa Ilyas sudah merencakan hal ini matang-matang.
Walaupun agak sedih kalau nanti putrinya tidak serumah lagi tetapi demi kebaikan Rara, Pak Idris harus merelakannya.
Sepulang mereka dari shalat shubuh, Bu Indira sudah dari tadi menyiapkan teh hangat. Ilyas sendiri berpamitan pada mertuanya untuk ke kamar Rara sebentar.
Pak Idris dan Bu Indira saling pandang dan mengulum senyum penuh arti melihat Ilyas sudah menaiki anak tangga.
“Biasa, Ma, pengantin baru, jadinya pengen nempel terus.” Bisik Pak Idris, tertawa kecil.
“Aku jadi kasihan sama anak kita, Pa...” Ujar Bu Indira.
“Kesihan? Kenapa?”
“Rara sudah jatuh hati pada Ilyas sejak dulu, ditambah dia adalah wanita pemalu. Mama kesihan pasti Rara tergugup malu berduaan dengan suaminya.”
“Loh, memang Rara sudah cinta sama Ilyas?” Tanya Pak Idris sedikit terkejut.
Setahu Pak Idris, anaknya itu jarang sekali membicarakan lawan jenis, malahan rasanya tidak pernah.
“Memang Papa gak tahu? Walau Rara tidak mengatakannya secara langsung pada kita, tetapi sebagai sesama perempuan Mama tahu sejak dari kecil Rara itu sudah suka sama Ilyas.”
“Oh, ya? Pantesan saja saat Papa pertama kali memberitahukan bahwa dirinya dijodohkan dengan Ilyas, Rara malah terkesan senang dibanding syok.”
Kedua pasangan itu tersenyum seketika, kini mereka penasaran dan membayangkan kira-kira suasana apa yang terjadi dikamar Rara dan Ilyas.
***
Langkah Ilyas menuju kamar Rara sedikit terhenti ketika ada lantunan suara yang begitu indah. Suara itu adalah lantunan Al-Quran yang berasal dari kamar Rara.
Ilyas perlahan berjalan menuju kamar Rara dan sedikit berhenti ketika dibalik pintu. Ilyas melihat Rara kini sedang khusyu membaca Al-Quran dengan mukena yang masih terpakai.
Ilyas tidak langsung masuk melainkan mendengarkan bacaan itu lebih lanjut, sampai lima menit berlalu tiba-tiba lantunan itu terhenti.
Kini ia melihat bahwa Rara sudah menyadari keberadaanya, Rara segera menutup Al-Quran untuk menyudahinya.
“Kenapa berhenti?” Tanya Ilyas sambil masuk ke kamar.
Rara menggelengkan kepala lalu meraih tangan Ilyas dan mencium punggung tangannya. Tindakan tiba-tiba itu memberikan senyuman hangat dari bibir Ilyas.
Ini adalah awal kegiatan Rara dalam menjadi sesosok istri, meski tadi Rara sebenarnya malu tetapi ia memaksakan untuk melakukannya.
‘Saat suami pulang, istri harus menyambut dan mencium tangan suaminya’
Begitulah alasan Rara bertindak demikian, itu juga adalah catatan dikepalanya dalam program menjadi istri yang baik.
Ilyas memberikan kecupan pada kening istrinya sebagai balasan. Mata Rara terpejam ketika kecupan suaminya mendarat, rona merah dari pipinya segera terukir jelas.
“Kenapa bacaanya berhenti, hm?” tanya Ilyas sekali lagi, memandang wajah Rara yang menununduk tersipu.
Penampilan Rara yang memakai mukena telihat begitu manis dengan kulit wajah Rara yang putih, apalagi dipadukan dengan bibir kecilnya yang merah serta mata hitamnya yang indah. Hal itu membuat Rara menjadi gadis semakin manis.
“E-Enggak, Mas. Rara memang mau selesai kok membacanya.” bohong Rara.
“Padahal tadi Mas pengen dengar kamu membacanya, suara kamu merdu kalau mengaji. Mas suka.”
“Mas suka suara Rara?”
“Bukan, tapi orang yang punya suaranya. Mas suka sama orang itu.”
Wajah Rara semakin tersipu dengan perkataan suaminya, ia menunduk malu. Jujur saja Rara tidak menyangka bahwa Ilyas akan menggobali dirinya.
Ilyas secara terang-terangan mengungkap perasaan pada istrinya itu, ia tidak berbohong, bahkan kalau bisa Ilyas sekarang ingin mengungkap cintanya langsung.
Ilyas tidak membutuhkan waktu lama untuk jatuh hati pada Rara. Tidak sebulan, tidak seminggu, dan tidak pula sehari, Ilyas sudah mencintai Rara dalam kurun waktu beberapa jam.