"Aku takut sama mantan pacar kamu itu. Dia benar-benar barbar. Dia sama rela membuntuti aku hanya untuk menyakiti aku, Sayang. Aku benar-benar takut sama dia."
Rossi menggelayut manja di tangan Beno sambil terisak. Tentu saja sebuah isakan palsu, karena sebenarnya Adis tidak menyakitinya sama sekali.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu rumah Rossi. Mereka sudah sibuk menyiapkan pernikahan yang akan mereka laksanakan dua bulan lagi. Namun, ada hal yang membuat mereka terusik. Yaitu sikap Adis yang bisa mengancam Rossi.
"Kamu tenang saja, Sayang. Dia tidak akan berani macam-macam lagi sama kamu. Aku pastikan dia tidak akan mengganggu kamu lagi. Percaya sama aku. Aku pun sudah muak sama dia, gara-gara dia aku malu di hadapan klien. Aku pastikan dia akan mendapatkan balasannya."
Beno mengelus lembut rambut calon istrinya. Meskipun apa yang ada di dalam hati dan apa yang diucapkan tidak sinkron, tetapi dia tetap berusaha untuk bersikap senormal mungkin.
Sebenarnya, dia menyesal telah menampar gadis itu beberapa jam yang lalu. Namun, dia bisa apa? Bukankah sudah sewajarnya jika dia lebih memilih untuk membela calon istri daripada mantan pacar?
"Kau akan membalasnya?"
"Tentu saja. Aku tidak akan tinggal diam kalau sampai dia menyakiti kamu. Kamu tahu, kamu adalah obat yang telah dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkan luka hatiku waktu itu."
"Terima kasih, Sayang." Rossi memeluk Beno erat, lalu dia menghapus air matanya dengan kedua ibu jari.
"Sayang, kemarin ada tas keluaran terbaru yang limited edition. Warnanya kuning. Warna kesukaanku."
"Kamu mau?"
Rossi langsung mengangguk semangat. Entah kemana perginya air mata tadi. Tak ada satupun yang menetes sekarang.
"Ya udah, mau ditransfer berapa?"
"25 juta cukup."
"Oke. Aku transfer ya?"
Beno mengambil ponselnya dan segera mentransfer sejumlah uang ke rekening kekasihnya.
Rossi langsung tersenyum lebar.
"Terimakasih, Sayang. Kamu benar-benar calon suami terbaik."
Rossi mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan Beno. Lalu dia kembali tersenyum riang.
Ya, seperti itulah Beno yang sekarang. Berapa pun yang diminta oleh kekasihnya, akan diberikan begitu saja. Jauh dengan saat bersama adis dulu, kalau mau beli bensin saja harus menunggu bensin benar-benar habis.
***
Malam itu langit benar-benar datang. Entah dapat dari mana, dia membawa kayu bakar dan membuat api unggun di depan kos Adis. Dia juga membawa 3 tenda. Serta mengundang beberapa temanku sadis untuk ikut gabung dalam kemping Ala-ala yang diciptakan oleh langit.
"Langit, kamu ngapain? Nanti dimarahin sama ibu kos bikin api unggun di sini?"
Adis kaget saat dia baru saja keluar kamar dan mendapati api unggun sudah menyala. Ternyata Nana sudah ada di sana. Dia menyiapkan alat-alat untuk grill daging dan aneka makanan yang sudah dibawa Langit dari rumah.
"Tenang aja, Dis. Aku sudah izin kok sama ibu kos. Katanya boleh." Nana menyahut sambil menata alat grill.
"Tiap hari gini aku juga mau, Dis. Sering-seringlah sedih biar dihibur dan dibikinkan api unggun seperti ini sama calon pacar kamu."
Rina, salah satu temanku adis ikut nimbrung. Dia bertugas untuk marinasi makanan yang akan mereka grill.
Kenapa mereka sudah siap di depan dan hanya dirinya saja yang baru saja muncul dari kamar. Sementara langit hanya senyum-senyum sendiri sambil menata kayu.
"Siapa yang sedih? Aku nggak apa-apa kok."
Adis masih menyangkal. Dia melipat tangannya di depan d**a. Wajahnya seolah kesel padahal sebenarnya dia tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh Langit. Kenapa dia sampai segitunya?
Kenapa dia sampai bermain camping ala-ala begini di depan kos? Untuk menghibur Adis? Apa itu tidak berlebihan?
"Masa? Itu kata mas Langit. Ini diadakan dalam rangka menghibur adis yang sedang terluka hatinya karena mengharap kasih sayang sang mantan kekasih tapi tak mendapatkannya."
Rina menjelaskan dengan panjang lebar diikuti oleh tawa ngakak. Sementara Adis, langsung mengarahkan pandangannya ke arah langit yang saat itu malah tertawa terpingkal-pingkal.
Adis berjalan cepat, menghampiri langit yang waktu itu tampak begitu keren. Dia memakai celana hitam dan kaos putih. Itu warna kesukaannya. Hitam dan putih. Sneaker warna putih yang dia pakai membuat laki-laki itu tampak begitu keren. Dia masih terlihat seperti anak kuliahan. Muda, ganteng, dan yang pasti nggak pelit.
"Woe. Bisa nggak sih merendahkan harkat dan martabat aku sebagai wanita ceria di kos ini? Bisa-bisanya menggumumkan kesedihanku?"
Adis berniat melabrak Langit, tetapi laki-laki itu malah cengengesan nggak jelas.
"Nih, makan dulu biar nggak bawel. Kalau sudah. Duduk di sampingku sini. Kita cerita yang indah-indah. Supaya urat-urat kamu enggak keluar begitu. Tuh, kalau marah urat-uratnya keluar. Udah kayak nenek-nenek 80 tahun."
Sebenarnya dia ingin mencak-mencak, tetapi di tangan lelaki itu ada pizza dan lolipop coklat. Jadi marahnya diundur dulu. Ada segera mengambil makanan favorit itu dari tangan langit. Dia duduk agak menjauh dari api unggun, lalu segera membuka kotak pizza, mengambil satu lalu melahapnya.
Ternyata dia lapar. Sejak kejadian tadi siang dia belum makan apapun.
Langit menghampirinya dan segera duduk di sampingnya. Dia menatap Adis yang saat itu tengah melahap pizza yang dia bawa. Dia tersenyum sekaligus heran. Ternyata di zaman sekarang masih ada wanita yang gak jaim sama sekali. Makan banyak dan belepotan pun dia santai aja. Nggak seperti cewek-cewek yang lain Yang kalau makan di depan laki-laki selalu sedikit, tidak dihabiskan, dan malu-malu. Itu tidak berlaku untuk Adis.
"Laper buk?"
"He'eh. Ternyata marah dan nangis itu butuh tenaga."
"Dasar Adis sembab Adena."
"Ish, jangan memanggil aku seperti itu, Langit. Kesel aku dengernya."
"Cieee … kok kalian manggilnya aku kamu seperti orang pacaran sih." Nana yang kebetulan lewat sengaja menggoda mereka. Menggoda? Entahlah. Dia cie cie in temannya yang sedang bersama dengan orang yang dia suka? Ah … ini sakit, tapi Nana berusaha untuk bersikap biasa saja. Tidak boleh ada yang tahu kalau Nana menyukai langit sejak lama.
"Apaan sih Nano. Jelek jelek begini dan ngeselin ngeselin begini, dia itu Bos gue. Jadi terpaksa deh manggilnya gitu."
"Hilih, lo sama gue juga berada di kantor yang sama. Manggilnya biasa aja tuh. Nggak pake aku kamu. Udah sini pizza-nya buat gue. Enak aja makan bisa sendirian."
Nana segera mengambil pizza beserta kotak-kotaknya yang ada di samping Adis lalu membawanya lari dan kabur.
"Oe pizza gue … masih gue makan sepotong itu!" Adis teriak-teriak dan berniat untuk mengejar Nana, tapi langsung dicegah oleh langit yang saat itu tengah tertawa terbahak-bahak.
"Udah biarin, nanti juga makan sea food sama daging kan? Udah jangan dikejar. Kalian ini benar-benar lucu. Kayak Tom and Jerry tetapi kalau pas akur bener-bener kayak Masha dan beruangnya."
"Oh tentu saja. Aku bagaikan Masha yang imut dan dia beruangnya."
"Nana lebih kecil dari kamu, Dis. Jadi dia masha-nya."
"Ngeselin banget sih Lo."
Adis berusaha untuk menempeleng muka Langit, tetapi tangan Adis berhasil di tahan oleh langit. Pergelangan tangan mulus itu di tahan oleh tangan kokoh langit. Adis mendongakkan kepala, lalu menatap langit yang saat itu tengah menatapnya. Mereka berdua saling bertatap sehingga menimbulkan gemuruh yang berisik di hati langit. Hatinya jeduk jeduk tak karuan.
Langit suka memandang mata Adis, bening dan memancarkan ketulusan. Entah bagaimana bisa gadis seperti ini disakiti terus-terusan oleh Beno.
"Kamu cantik," ucap Langit reflek.
"Haaa??" Adis langsung berteriak tak percaya dengan apa yang dia dengar. Orang yang baru saja dia kenal beberapa bulan terakhir ini tidak pernah memuji dia sama sekali. Ini yang pertama dan itu aneh.
"Emmm … maksudku, kamu itu lumayan cantik dan gak jelek jelek amat. Ya cantik standar lah, Jadi kamu masih laku kok kalau mau cari orang lain selain Beno kamu itu. Gitu maksud aku."
Langit berusaha untuk mencari jawaban yang tepat, kemudian cepat-cepat melepaskan tangan Adis. Wajahnya memerah dan terlihat sekali Dia sedang salah tingkah.
"Ciiieeee … salah tingkah Bapak Langit. Jangan-jangan kamu suka sama aku ya? Hayo ngaku."
Langit mencoba menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Gadis disampingnya ini memang rese. Pintar sekali bikin hatinya sudah jedak-jeduk. Mana suka ngecengin lagi.
"Kalau iya kenapa? Kalau aku suka bagaimana? Ya, aku suka sama kamu."
"Haaaah?" Adis langsung melongo. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tapi boong. Hahahaha."
Langit tertawa keras. Hanya dia dan Tuhan yang tahu bahwa tahu keras itu untuk menutupi rasa groginya. Itulah ungkapan hati dia sebenarnya. Namun, dia terlalu cemen untuk mengakuinya. Bahkan mengakui pada diri sendiri aja belum.
"Langit Lo bikin hatiku disko tahu nggak. Nyebelin banget sih jadi manusia."
Adis berusaha untuk memukul memukul punggung langit tetapi langit berhasil kabur dan dikejar oleh Adis. Tentu saja perempuan itu sangat kesal karena dikerjain oleh Langit. Mereka kejar-kejaran mengitari api unggun persis seperti anak SD. Mereka tertawa, terlihat sangat bahagia.
Sementara tak jauh dari mereka, Nana tampak mengamati mereka berdua dengan hati yang nyeri. Mereka berdua tampak begitu bahagia, lalu salahkah jika dia bersedih melihat kebahagiaan mereka berdua.
Nana yang lebih dulu kena langit. Nana yang lebih dulu menyukai langit, tetapi kenapa yang mendapatkan perhatian lebih adalah Adis?
Nana menunduk, berusaha untuk tidak melihat mereka lagi, karena itu hanya membuat hatinya sakit. Ya, sebisa mungkin dia harus membuang rasa sakit itu. Karena saat ini, sahabat yang paling dia sayang, sedang membutuhkan Langit. Ya, sekarang adis lebih membutuhkan langit daripada dirinya.
Nana yakin, Langit menyukai sahabatnya, sampai dia rela membuat api anggun seperti ini sebagai pelipur lara untuk Adis.
'Kamu benar-benar beruntung, Adis.'