Kadang hidup memang seperti ini. Kita menyukai seseorang, tapi seseorang itu tidak menyukai kita. Namun, giliran ada seseorang yangmencintai kita, kita tidak menyukainya. Aneh memang, tetapi memang seperti itu kenyataannya.
Langit tengah tersenyum, memandang Adis yang cekikikan bersama dengan teman-temannya. Dia tampak menikmati cumi yang baru saja dia ambil dari grill. Dia makan dengan lahap seolah tak ada masalah yang baru saja dihadapi.
Tak ada yang lebih membahagiakan daripada membuat orang yang kita sayangi bahagia. Itu menurut langit. Awalnya Dia merasa bahwa ini adalah sebuah keprihatinan. Mungkin dia prihatin karena perempuan itu terus mengejar orang yang sudah tidak lagi menginginkannya. Disakiti lagi dan lagi.
Ternyata, sekarang dia baru sadar bahwa apa yang dirasakan ini lebih dari sekedar rasa prihatin. Lihat saja, laki-laki itu seperti orang bodoh yang duduk mengamati para perempuan yang sedang makan-makan sambil ketawa-ketiwi. Sedangkan dia hanya menjadi pengamat dan penjaga. Tak apa, asal itu bisa membuat Adis bahagia, Langit rela.
"Langit, sini! Ngapain di sana? Mau dibawa wewe gombel?"
Adis berseloroh asal. Dia tersenyum lalu tertawa kecil. Tampak sekali kebahagiaan di wajahnya. Meskipun langit tahu, itu hanya kebahagiaan semu, yang ketika keramaian ini pergi, maka kebahagiaan itu juga ikut pergi.
"Makan aja, Aku sudah kenyang. Bukankah kau tugas kan aku untuk menjaga api?"
"Ih kasihan deh pak Langit. Sana suapin sosis apa udang gitu," ucap Rina.
"Males! Dia kan punya kaki. Kalau dia mau pasti ke sini sendiri kok."
"Jangan nggak tahu diri gitu. Dia menyiapkan ini semuanya untuk kamu. Kamu tahu enggak ini pasti habisnya jutaan beli makanan seabrek begini. Sana."
Rina mendorong tubuh Adis membuat Gadis itu hampir terjengkang.
"Iya, iya. Aduh Rina bar-bar banget sih."
Adis mengerucutkan bibirnya. Lalu mengambil beberapa makanan yang sudah di grill, dan membawanya mendekat ke arah langit.
Nana memperhatikan Adis yang berjalan menuju langit. Dia terus menasehati dirinya sendiri supaya tidak cemburu. Karena Adis berhak dicintai oleh siapapun.
'Adis berhak dicintai oleh siapapun termasuk langit.'
Nana terus melafalkan kalimat itu terus menerus di dalam hatinya. Supaya rasa sakit hati itu tidak mencuat.
"Ngapain ke sini?" tanya Langit sewot.
"Ih kenapa sewot. Kayak suami-suami kurang perhatian aja."
"Emang nggak ada yang memperhatikan kok."
"Oooh … jadi kamu minta diperhatiin? Sini sini, buka mulutnya. A'"
Adis menyodorkan udah saus asam manis yang sudah di potong, dan mendekatkannya ke mulut Langit.
"Kau kira aku bocah. Sini, aku bisa makan sendiri."
Langit mengambil paksa piring dan garpu yang ada di tangan Adis, lalu memasukkan makanan itu ke dalam mulut.
Adis tertawa kecil. Lalu, menatap rahang keras yang naik turun karena mengunyah makanan. Adis tersenyum. Diam-diam dia bersyukur, Allah mengirimkan laki-laki sebaik langit sebagai sahabatnya. Dia memang tidak beruntung masalah percintaan, kalau masalah persahabatan dan pertemanan, dia selalu mendapatkan sahabat-sahabat yang baik. Seperti sekarang ini, Dia memiliki langit dan Nana yang selalu siap membantu dia dan menemani dia disaat suka maupun duka.
"Kenapa menatapku seperti itu? Naksir?"
Langit tidak menoleh kearah Adis, tetapi dia tahu kalau perempuan yang disampingnya sedang memandang dirinya.
"Kegeeran banget. Aku cuma mau mengucapkan terima kasih untuk Bapak langit yang terhormat. Terima kasih ya sudah mengajak kita kemping ala-ala. Mungkin memang sederhana, tetapi ini menggembirakan buat kita."
'Sederhana? Sebenarnya ini tak sederhana, Adis. Aku harus meluangkan waktuku, lembur sampai malam supaya hari ini aku bisa menghabiskan waktu untukmu. Aku sampai menunda ajakan ibu untuk pergi ke rumah temannya hanya untuk menemanimu saat suasana hatimu sedang tidak baik. Ada banyak perjuangan dibalik ini, tetapi tak apa. Aku suka melakukannya untukmu. Karena aku tak mau melihat kamu mengalirkan air mata lagi.'
"Kau pikir ini gratis?"
"Hah? Nggak gratis?"
"Ya nggak lah. Enak aja. Setelah ini kamu harus lembur setiap malam untuk buat konten meningkatkan omset penjualan. Setiap malam dan tidak boleh absen."
"Aish, Langit Nugroho … pengen aku bejek-bejek nih."
Adis mengerucutkan bibirnya. Disambut gelak tawa oleh langit. Gadis itu benar-benar menggemaskan saat mengerucutkan bibirnya. Rasanya … pingin mendaratkan bibirnya ke bibir mungil itu. Ah … langit segera menepis pikiran kotor di otaknya.
"Tenang saja, kita bikin konten berdua kok. Kamu juga masih dapat uang lembur. Aku temani setiap hari. Aku kan masih punya waktu sepulang kantor."
Sebenarnya ini adalah cara Langit untuk membuat Adis mengurai kesedihannya. Adis harus mempunyai kesibukan yang benar-benar membuat dia sibuk sampai dia lupa dengan kesedihannya. Kalau dia hanya berdiam diri, pasti akan melamun dan memikirkan Beno, akhirnya membuat Adis bersedih.
Adis tersenyum. Lalu dia paham, bahwa itu hanya alasan langit saja untuk membantunya.
"Kamu yang baik seperti ini semakin membuat aku ingin meminta satu hal."
"Apa?"
"Jangan punya pacar dulu ya? Kalau kamu sudah punya pacar, pasti pacar kamu tidak memperbolehkan kamu untuk melakukan hal seperti ini."
'Kocak banget sih ni gadis satu. Apakah dia sama sekali tidak kepikiran bahwa aku melakukan ini karena ada rasa sama dia? Apa dia sama sekali tidak peka kalau sebenarnya aku menyukainya? Lantas, harus aku jawab apa permintaannya yang aneh itu.'
"Kalau pacarnya kamu, boleh?"
Raut muka langit tampak serius. Dia menatap langit di atas sana. Dia tidak menampakan muka bercanda sama sekali.
"Ha?" Lagi-lagi Adis menampakan wajah polos dan kebingungan.
Langit tertawa, lagi-lagi untuk menutupi gejolak hatinya. Mungkin suatu saat nanti dia akan mengungkapkan semuanya, tetapi tidak sekarang. Dia takut Adis akan tidak nyaman.
"Becanda tom, kenapa pipinya merah begitu sih?"
Langit tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
"Aiiih … Kebiasaan banget sih kamu bercanda yang bikin orang jantungan. Aku kira kamu beneran suka. Eh, siapa yang memerah mukanya. Enggak kok, aku biasa aja."
"Kenapa? Berharap banget aku suka ya? Hmmm … ? Wajah kamu memang memerah. Nggak usah protes. Memangnya kamu bisa melihat wajah kamu sendiri tanpa kaca?"
"Langit stop becanda deh. Aku beneran mau ngomong serius nih. Diem."
"Ya udah apa?"
Langit mengambil posisi di hadapan Adis. Kakinya bersila. Dia menyangga kedua pipinya dan menyandarkan siku di paha. Ditatapnya Adis dengan tatapan yang serius meskipun dia tahu itu menimbulkan keberisikan di dalam dadanya.
"Jangan menatap aku seperti itu. Biasa aja natapnya."
Tentu saja adis salah tingkah, mungkin bukan karena ada rasa, tapi kalau kita dipandang terlalu serius oleh orang lain, pasti kita tidak nyaman kan?
"Cie … kamu salah tingkah ya Tom?"
"Tom?"
"Tomat."
Pletak!
Sebuah sentilan mendarat ke kening Langit. Laki-laki itu mengaduh kesakitan, diiringi gelak tawa oleh adis.