Nana mengamati setiap detail gerak mereka berdua. Maunya tak cemburu, tetapi dia begitu bodoh mengontrol hatinya sendiri. Mungkin, lebih baik dia masuk tenda agar hatinya lebih tenang.
"Pak Langit, Adis, saya masuk tenda dulu ya? Udah kenyang. Makanannya juga sudah habis. Jangan lupa nanti bersih-bersih berdua ya? Bye … "
Nana segera masuk ke tenda diikuti oleh teman-temannya. Sementara Adis hanya mengerutkan kening. Ada apa dengan mereka? Baru juga jam segini udah ngandang aja.
"Oe, pasti kalian nggak mau bersih-bersih kan makanya ngandang duluan?" teriak Adis, tetapi tak ada satupun dari mereka yang menyahut.
"Udah biarin aja. Nanti aku bantuin. Kamu nggak ikut tidur sama temen-temen kamu?"
"Belum ngantuk. Kamu nggak pulang?"
"Nggak. Malam ini memang sengaja pengen nemenin kamu."
"Ututututu … sweet banget sih bapak Langit."
"Aku kan hafal banget sama kamu, Adis sembab Adena. Kalau kamu nggak ditemenin malam ini, pasti akan melamun dan akhirnya mewek. Semalaman kamu mewek, pasti siangnya mata kamu akan sembab. Aku nggak mau kamu live i********: di toko aku dengan mata sembab. Ngerti?"
Langit selalu ada alasan untuk mengelak. Dia selalu ada alasan agar perhatiannya tidak tampak jelas. Seperti saat ini, dan anehnya Adis percaya saja dengan alasan konyol itu.
"Alaaaah … kirain karena naksir. Baru aja mau bilang i love you too."
"Hmmm?"
Kali ini Langit yang menoleh sambil membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak dengan begitu kencang. Jedak jeduk tak karuan.
"Tapi boong. Hahaha … satu sama kan?"
Adis masih berkelakar ketika Langit rasanya pengen mencubit bibir mungil yang sudah membuat jantungnya seakan meloncat itu. Bisa-bisanya dia ngeprank jantungnya.
Dia sudah terlanjur dag Dig Dig tak karuan dan ternyata itu cuma prank.
"Adis kamu nggak pernah diculik sama Buto ijo ya?" tanyanya geram.
"Belum, kenapa? Mau kamu culik … ? mauuuuu."
"Udah ah. Males ngomong sama kamu. Aku mau tidur."
"Hilih, baru juga bilang mau menemaniku malam ini."
"Iya ding. Makanya jangan ngeselin."
Ya, sepanjang malam mereka hanya ngobrol yang nggak jelas. Emang gak jelas obrolan mereka, tetapi entah kenapa masing-masing dari mereka bahagia. Mereka seperti benar-benar camping yang merefresh otak mereka.
Sampai tiba-tiba Adis sangat mengantuk dan akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Langit.
Langit tersenyum, saat dia melihat adis terlelap. Dia selipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu ke belakang telinga. Kemudian, dia menyelimuti Adis dengan jaket yang saat itu berada di pangkuannya.
"Kamu cantik, Dis. Kamu juga baik hati. Aku yakin kamu tidak sematre yang dibilang oleh Wijaya. Kau berhak bahagia tanpa dia yang selalu menyakitimu. Dis, aku suka sama kamu," ucap Langit lirih. Lalu, dia kembali menatap ke depan, membiarkan Adis tertidur di bahunya sampai pagi. Tak peduli meskipun seluruh badannya pegal-pegal karena tak berani untuk bergerak. Dia takut adis terbangun.
Sampai adzan subuh berkumandang, Adis masih belum juga bangun. Langit bingung, bagaimana bisa Gadis itu tidur hanya dengan menyandarkan kepala seperti itu.
Saat itu, Nana bangun dari tidurnya, menoleh ke samping kanan dan kiri, tapi tidak didapati Adis di sana. Dia segera keluar dari tenda dan dadanya terasa sesak saat dia melihat Adis yang terlelap dengan menyandarkan kepala di bahu Langit.
Nana terdiam sejenak, lalu segera pergi meninggalkan mereka berdua dan segera pergi ke kamar mandi. Dia ingin segera mengguyur tubuhnya, supaya segar semua-muanya, supaya rasa cemburu yang dia rasakan luruh ketika.
***
Adis membuka matanya perlahan. Dia merasakan nyaman tetapi tidak di kasurnya. Dia di mana? Dia lihat tubuhnya yang berselimut jaket Langit. Adis mengangkat kepalanya dan dia kaget saat mendapati langit disampingnya.
"Jangan sok-sokan kaget deh, Tom."
Langit, yang mengamati gerak-gerik hadis dari tadi langsung bersuara.
"Kok bisa-bisanya aku tidur bersandar di bahu kamu yang keras kayak batu cadas gini."
Adis mengucek-ucek matanya. Lalu, menatap langit yang sepertinya sangat mengantuk.
"Enak aja. Bilang keras tapi tidurnya nyenyak banget sampai dihinggapi nyamuk aja nggak kerasa."
Nggak, nggak ada nyamuk yang berhasil mendarat di kulit Adis. Bagaimana tidak? Langit semalaman siaga menjaga nyamuk agar tidak mencicipi darah Adis. Tangannya sibuk mengibas-ngibas sampai terasa pegal.
Ah, beruntung sekali Adis disayangi oleh laki-laki seperti itu. Benar-benar bikin meleleh. Ya Rabb, author mau satu yang seperti langit. Eh,
"Memangnya aku semalaman tidur terus? Terus, kamu nggak tidur sama sekali dong?"
"Gimana aku mau tidur kalau kamu ngorok keras banget kayak toa masjid?"
"Hah? Aku ngorok?"
"Hooh. Keras banget. Kayak klakson kereta. Ya udah, aku pulang dulu ya? Soal ini enggak usah diurusin. Nanti ada yang ambil sendiri. Kamu cepetan salat bersih-bersih, sarapan, terus berangkat kerja. Aku pulang dulu ya? Ingat jangan sampai nangis lagi."
Langit berdiri diikuti oleh Adis. Gadis itu masih terdiam. Masa iya semalaman Langit tidak tidur dan benar-benar jagain dia? Kenapa dia baik banget seperti yang dulu?
Ah … enggak. Adis segera menepis pikirannya. Langit tidak mungkin menyukainya. Lagian, saat ini saya juga hanya seorang admin online shop doang. Dia juga nggak cantik-cantik amat. Pasti langit melakukan itu hanya karena dia kasihan saja. Ya, pasti hanya gara-gara itu.
"Oe, jangan ngelamun. Nanti dipatok aku. Hahaha … aku pulang bye."
Langit melangkahkan kaki sambil menyampirkan jaket di bahu kanannya.
"Langit tinggi!"
Langit menghentikan melangkahnya.
"Apa?" tanyanya tanpa menoleh.
"Thanks for all."
"Hmmm … " jawabnya pendek, kemudian dia segera melesat pergi meninggalkan Adis. Perempuan itu masih berdiri di tempatnya semula. Dia masih kagum sama laki-laki itu. Bisa-bisanya dia sebaik itu padanya.
Ah … ternyata banyak orang baik di muka bumi ini, tetapi kenapa adik tetap terpaku pada satu orang yang sebenarnya tak baik untuk dirinya?
***
"Langit! Woe. Bisa-bisanya kamu tidur di kantor. Bangun!"
Beno berteriak sambil memukul kepala Langit dengan map. Tentu saja Langit langsung tergagap. Dia mengucek matanya, kemudian segera duduk tegak.
"Aish … kenapa sih? Ganggu orang tidur saja."
"Ini kantor woi. Jangan asal tidur. Memangnya kenapa kamu jam segini tumben tumben ngantuk? Biasanya kamu selalu seger buger setiap hari?"
"Semalam aku di kos Adis sampai pagi. Jadi nggak tidur deh."
"Apa? Kamu di kos Adis sampai pagi dan nggak tidur? Kurang ajar banget kau ya?"
Tiba-tiba rahang Beno mengeras. Dia emosi dan akan memukul langit. Namun, langit langsung mencegahnya dengan mencengkeram pergelangan tangan Beno.
"Tenang dulu. Jangan berpikiran negatif dong. Tenang dan tunggu penjelasanku dulu. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti apa yang ada dalam pikiran kamu itu. Jangan berpikir kotor! Duduk! Meskipun kamu Bos disini tidak seharusnya bersikap sewenang-wenang."
Beno menurunkan tangannya pelan-pelan. Dia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia mencoba untuk menenangkan diri. Entah kenapa kata-kata Langit itu benar-benar membuat dia emosi.
Padahal saat ini Adis bukan siapa-siapanya, dan dari luar dia terlihat membenci Adis. Kenapa dia masih emosi dengan kata-kata langit barusan?
"Semalam, kita camping di depan kos Adis. Bukan cuma aku sama Adis aja kok. Semua teman-teman kosnya juga ikut kemping di depan kos. Semalam Adis tertidur di bahu aku, jadi otomatis aku nggak bisa pergi kan? Jadi aku nggak tidur semalaman. Ngantuk sekali aku sekarang. Sudah clear? Ya udah aku mau tidur dulu."
"Woe. Enak saja main tidur tidur. Itu urusan kamu mau tidur semalam atau enggak. Aku nggak peduli. Sekarang waktunya kerja dan kamu harus kerja. Aku mau ngobrol soal saham kita di PT Anugrah. Gimana?"
"Katanya nggak peduli tapi kok marah-marah. Tapi aku penasaran. Kenapa tadi kamu emosi ketika aku bilang main ke kos Adis sampai pagi dan nggak tidur?"
Beno hanya menggaruk-garuk tengkuknya. Dia salah tingkah.
'Iya ya? Kenapa aku semarah itu? Bukankah seharusnya aku tidak peduli lagi dengan apapun yang dilakukan olehnya? Dia itu orang jahat yang hanya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Dia pasti juga sedang berusaha untuk menghancurkan hubunganku dengan Rossi karena dia tahu sekarang aku berada. Huft … hati … hati … kenapa kau masih peduli dengan cewek matre itu?'
"Aku cuma nggak mau aja kalo karyawanku bertindak hal yang tidak seharusnya. Ah … sepertinya kau sedang tidak fokus sekarang. Kalau begitu aku pergi dulu aja. Kita bahas ini nanti. Nanti jam 1 siang kamu ke ruanganku. Jangan telat dan jangan tidur lagi."
Beno segera beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Langit.
'Jadi kamu masih menyukainya? Tapi kenapa kamu bertindak bodoh adalah menyakiti wanita selugu itu. Kau telah menyakitinya, Beno Wijaya. Jadi jangan salahkan aku jika aku berusaha untuk mengobati luka hatinya dan membuatnya jatuh hati kepadaku,' ucap Langit dalam hati.