Langit sepertinya menyayangi Adis. Dia selalu berusaha untuk membuat Adis bahagia. Dia juga rela memberikan kerjaan untuk adis meskipun sebenarnya dia tidak membutuhkan karyawan lagi.
Beno menyangga dagunya dengan tangan kiri. Dia masih memikirkan tentang langit dan Adis. Mungkin dia akan rela jika Adis bersama dengan orang lain. Namun kalau Langit? Dia tidak suka kalau adis bersama dengan sahabatnya sendiri. Karena dia yakin itu akan menimbulkan suasana yang canggung dan kaku kedepannya nanti.
Apakah memang itu alasan satu-satunya? Hanya Beno yang tahu. Yang jelas, sekarang rasanya tidak rela jika Adis harus bersatu dengan Langit.
"Selamat pagi calon suami," sapa Rossi yang tiba-tiba datang tanpa mengucap salam dan tanpa mengetuk pintu.
"Hai, Dis. A_"
Beno langsung menghentikan ucapannya ketika dia menyadari ada yang salah dari ucapannya. Apalagi dia melihat raut muka Rossi yang tadinya ceria langsung berubah masam.
"Dis? Kamu melamun sampai aku panggil dari tadi enggak dengar karena mikirin Adis? Serius kamu memikirkan gadis yang sudah berusaha untuk menghancurkan hubungan kita?"
Rossi meletakkan rantang yang dibawa di atas meja sofa dengan keras. Kemudian dia duduk di sofa sambil menyilangkan tangannya. Dedenya benar-benar bergemuruh mendengar calon suaminya yang salah sebut.
"Ah … bukan seperti itu, Sayang. Aku tidak bermaksud begitu. Kau tahu ketika aku membayangkan dia, pasti yang terlintas di otakku adalah keburukannya. Kau tak perlu cemburu. Bukankah kau sudah tahu bahwa di hatiku cuma ada kamu seorang. Iya kan?"
"Gombal." Rossi cemberut. Seperti biasa, ketika kekasihnya mulai marah, Beno langsung mengeluarkan jurus jitunya.
Dia menghampiri Rossi, meraih tangannya dan menggenggam tangannya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kau harus percaya, bahwa Adis hanya masa lalu dan kamu adalah masa depan. Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, kalau aku tidak mungkin membaca buku yang sama karena aku sudah tahu endingnya akan seperti apa. Jangan cemberut. Nanti pulang kantor kita belanja. Kita belanja seserahan untuk pernikahan kita nanti. Ya? Udah … jangan marah-marah lagi."
Beno mengecup punggung tangan Rossi lembut. Gadis itu langsung tersenyum lebar. Tuh kan, kata belanja selalu menjadi kata-kata ampuh untuk menerbitkan senyuman pada muka yang tadinya cemberut.
"Oke kalau begitu. Tapi sayang, aku punya satu pertanyaan buat kamu."
"Apa?"
"Apakah kamu tidak akan pernah kembali pada Adis apapun Yang terjadi? Meskipun mungkin suatu saat nanti kamu menemukan fakta baru apapun itu, apakah kamu tetap tidak akan pernah kembali padanya?"
"Apa yang sedang kau ucapkan ini, Sayang. Tidak akan pernah kembali padanya apapun Yang terjadi. Aku sudah tahu semua tentang dia. Aku sudah tahu bagaimana sifatnya dan aku sudah tahu bagaimana kebiasaan dia sehari-hari. Aku sudah lama hidup dengannya, Jadi aku yakin aku tak akan kembali padanya apapun Yang terjadi."
"Serius?"
"Iyalah."
"Lalu, ketika suatu saat nanti kau temui aku tidak sebaik yang kamu kira, apakah kamu akan pergi meninggalkan aku begitu saja? Akankah kamu meninggalkan aku?"
"Sayang, aku tahu kau sedang cemburu dan sedang khawatir, tapi jangan berlebihan seperti ini. Setiap orang pasti memiliki sisi buruk dan sisi baik. Aku akan menerima semua kekurangan kamu, karena aku tahu, yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah bagaimana kita bisa mencintai kekurangan pasangan kita. Kalau hanya mencintai kelebihan, semua orang pasti bisa. Itulah konsep cinta. Jadi kamu jangan berpikir yang aneh-aneh lagi ya? Jangan khawatir. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu."
Beno tersenyum, meraih tubuh kekasihnya, lalu memeluknya erat. Saat itu, Rossi tersenyum licik.
Saat itu, langit yang akan masuk keruangan Beno menghentikan langkahnya. Pintu itu tidak ditutup rapat, sedikit terbuka. Sehingga Langit bisa menatap mereka berdua dari luar. Ia bisa melihat senyum licik dari bibir Rossi.
'Senyum itu sebuah senyuman yang nggak beres. Pasti dia sedang merencanakan sesuatu, tapi apa? Awas aja kalau sampai rencana buruk dan berdampak pada Adis. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.'
***
"Halo, bisa minta bantuan?" Langit terlihat sedang berbicara dengan seseorang di telefon.
"Tentu. Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Langit?" Sebuah suara berat di sebelah sana menyahut dengan mantap. Sepertinya dia sanggup melakukan apapun yang diminta oleh langit.
"Tolong selidiki seseorang. Aku curiga dia ada terlibat dalam suatu masalah yang akhirnya membuat orang terdekatku kena fitnah. Nanti detailnya, orangnya dan juga fotonya aku kirimkan ke kamu. Tolong cari info sedetail mungkin tentang dia, tentang orang-orang terdekatnya, dan tentang hubungan dia dengan orang lain. Cari info sedetail mungkin ya?"
"Siap. Apapun permintaan kamu kita pasti akan kerjakan."
"Bagus. Terima kasih banyak ya?"
"Don't mention it."
Langit tersenyum, kemudian meletakkan handphone itu kembali di atas meja.
'Aku akan berusaha untuk selalu melindungi kamu dan membersihkan namamu, Adis. Kau jangan khawatir. Aku harap air matamu sudah mengering, dan akan datang masa-masa bahagia yang selalu membuat kamu tersenyum dan tertawa.'
Lagi duduk di kursi kerjanya, kembali mengambil handphone dan membuka galeri. Ditemukan foto saat adis tertidur di bahunya. Dia sengaja mengambil gambar itu dengan hati-hati. Dia ingin punya kenangan saja. Setidaknya, perempuan itu pernah nyaman berada di pundaknya. Entah nanti takdir akan membawa mereka ke mana.
***
"Blouse kece parah ini cuma 290 ribuan aja gais. Warnanya cantik dan kalem. Lihat detail lengannya. Bagus banget, pasti membuat kalian akan lebih pede. Kalau kita percaya diri pasti semuanya bakal berjalan dengan mudah. Ayok! Yang mau baju seperti yang saya pakai, bisa langsung chat admin. Kita cuma ready 100 pcs aja gais. Gercep jangan sampai kehabisan."
Beberapa saat setelah itu, nomor w******p admin terus berdering. Orderan datang bertubi-tubi. Kalau Adis yang live, pasti barang laku seperti kacang goreng.
Sudah jam 9 malam, tetapi Adis masih Live i********: untuk memenuhi permintaan langit agar dia lembur. Tapi bener sih, meskipun sudah hampir larut malam masih tetap banyak yang nonton dan yang berminat pun lumayan banyak. Mungkin jam jam segitu sudah waktunya para ibu istirahat dan efektif untuk promo.
Langit yang baru saja datang langsung bertepuk tangan melihat aksi Adis. Dia puas sekali dengan cara kerja gadis itu yang benar-benar totalitas.
Beberapa menit kemudian dia mengakhiri live-nya. Mungkin saatnya mereka istirahat. Saat itu, hanya ada Rina dan Adis saja. Karena hanya Rina dan Adis yang mau lembur sampai jam segini. Uang lemburnya juga nggak main-main. Jadi Rina oke-oke saja.
"Pokoknya kalau mbak Adis sudah live, langsung ludes deh barang-barang, Pak."
"Masa?"
"Iya. Dia pinter banget ngomongnya, mana cantik lagi. Nemu karyawan kayak gitu di mana sih Pak?"
"Di got," jawab Langit asal.
Plak.
Sebuah pakaian yang masih ber pelastik mendarat ke muka Langit.
"Hei, karyawan nggak sopan. Kebiasaan banget sih lempar-lempar barang. Ingat, i am your Boss."
"Habisnya, mulut kamu asal jeplak sih. Masa cantik cantik dan molek begini nemu di got?"
"Ndak apa-apa meskipun ditemukan di got, asalkan nanti ketemu lagi di pelaminan," ucap Rina sambil tersenyum lebar.
Adis dan Langit langsung sama-sama terdiam. Mereka saling pandang, lalu sama-sama menggaruk tengkuk. Mereka tahu kalau Rina sedang bercanda, tetapi entah kenapa rasanya canggung setelah kata-kata itu keluar dari mulut Rina.
"Tuh kan? Kalian Sama-sama menggaruk tengkuk, bersamaan lagi. Sepertinya kalian bener-bener jodoh deh."
"E … mana ada jodoh seperti kucing dan tikus seperti ini. Dia aja selalu mengejek aku setiap hari, Rin. Lihat aja tadi. Mana mungkin laki-laki yang seperti itu menjadi jodohku."
"Bagaimana kalau yang ada di lauhil Mahfudz namaku tertulis sebagai jodohmu, hmmm … bagaimana?"
"Kenapa? Kamu berharap banget ya bisa menjadi jodohku? Hmmm?"
Adis langsung mendekatkan mukanya ke muka Langit. Memang tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat bagi langit yang dadanya sering berulah. Dadanya selalu berisik saat mereka berdekatan.
Langit segera mengalihkan pandangannya. Saat-saat tertentu, dia sama sekali tidak sanggup ditatap begitu dalam oleh Adis.
"Apaan sih, Tom. Suka banget menatap mataku? Awas hati-hati. Mataku mengandung magnet, bisa-bisa kau naksir kalau sering menatapku begitu."
Adis tertawa terpingkal-pingkal sampai guling guling. Wajah Langit selalu lucu ketika dia salah tingkah. Wajahnya memerah. Padahal dia laki-laki.
"Kerja kerja. Jangan guling-guling." Langit segera bangkit dari duduknya, dan segera menuju ke belakang. Ah … malu sekali rasanya tertangkap basah Dia sedang salah tingkah. Dan ini bukan untuk yang pertama kalinya. Semoga saja Adis tetaplah gadis polos yang tidak pernah mengira bahwa langit menyukainya.
Belum saatnya Adis mengetahui perasaannya. Suatu saat nanti, kalau dia sudah siap, pasti dia akan mengungkapkan perasaannya dan sekaligus mengajaknya untuk serius. Karena di umur dia yang sekarang ini, di umurnya yang sudah tidak muda lagi, dia tidak mau hanya sekedar pacaran yang tidak jelas. Dia ingin langsung serius.
Lagi pula, dia punya PR besar saat ini. Dia harus menghilangkan rasa sedih dan rasa sakit di hati Adis karena Beno. Karena dia tidak mau, dia masih menyimpan nama orang lain saat sudah bersama dengan Langit.
Laki-laki itu menuju ke lantai 3. Lantai yang biasa digunakan untuk istirahat. Toko baju langit memiliki 3 lantai. Lantai 1 untuk display pakaian, lantai kedua untuk gudang, dan lantai ketiga untuk istirahat. Lantai yang ke-3 ada 3 kamar dan satu ruangan luas yang biasanya digunakan untuk nonton TV. Satu kamar khusus untuk langit, dan dua kamar untuk karyawan yang ingin menginap. Yang jelas menginap setiap hari adalah Mbok Jum. Ibu-ibu 55 tahun yang bertugas untuk memasakkan makanan untuk semua karyawan. Kadang-kadang Rina juga ikut tidur di sana ketika dia lembur.
Langit merebahkan dirinya di atas karpet. Pandangannya menerawang entah kemana. Yang jelas pikirannya tak pernah lepas dari Adis. Dia masih memikirkan, bagaimana caranya agar nama Adis segera bersih. Karena yang dia tahu sekarang nama adis jelek di perusahaan-perusahaan. Dia terkenal sebagai wanita curang yang rela memberikan materi perusahaannya ke perusahaan lain demi untuk mendapatkan uang. Padahal Langit tahu, bukan Adis yang melakukannya, dan Adis tidak menerima uang apapun.
"Kamu itu nyebelin. Kamu itu ngeselin. Seringnya merepotkan, tetapi kenapa aku selalu berusaha untuk membantumu? Kenapa aku selalu tak tega saat kau menangis? Ah … kau memang menyebalkan," ucap Langit entah pada siapa. Kemudian dia segera menutup mukanya dengan bantal. Dia tak mau terkontaminasi dengan pikiran-pikiran tentang Adis sejenak saja. Ya, hanya sejenak saja.
.