"Aku tidak tahu kenapa, tetapi setiap ada kejadian buruk di hidupku, kau selalu hadir. Terima kasih ya? Paling tidak, ada tempat bagiku untuk berbagi. Memang ada Nana sih, tetapi kalau curhat ke sahabat cowok itu, entah kenapa rasanya berbeda."
Adis menunduk, lalu menenggak minuman kaleng yang diberikan oleh Langit tadi.
"Berarti aku bagaikan malaikat hidup kamu ya? Aku selalu ada disaat kamu butuh? Sweet banget ya aku?"
"Idiiiih jijay. Muji diri sendiri. Nggak jadi, nggak jadi, nggak jadi. Nggak jadi muji, bye!"
Adis segera mengerucutkan bibirnya kesal, tetapi pasti kalian tahu. Dia hanya kesal di luarnya saja, di dalam hati dia tetap bersyukur bisa mengenal langit di hidupnya.
Langit tertawa terbahak-bahak. Dia suka sekali melihat Adis yang mengerucutkan bibir. Bener-bener gemesh pengen menempelkan bibirnya ke sana. Ah, tapi nggak. Langit masih tahan godaan. Tunggu sampai halal dulu. Tapi kapan?
" Sudah jam 10.30 sekarang. Kamu mau aku antar pulang?"
Mereka masih duduk di bangku taman di trotoar. Malam semakin larut, dan udara dingin semakin menusuk. Namun, adis masih betah di sana.
"Kamu pulang aja nggak apa-apa. Aku akan di sini dulu. Di sini ramai kok. Jadi jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja."
"Laki-laki macam apa aku kalau tega meninggalkan kamu di sini sendirian. Atau kamu ke rumah aku aja? Ibu pasti senang kalau ada kamu. Mau?"
"Wanita macam apa aku mau diajak laki-laki pulang ke rumah padahal bukan siapa-siapanya?"
"Kode ya? Jadi mau dijadiin siapa-siapanya aku?"
Laki-laki itu memang mengucapkannya dengan santai. Ya, kelihatannya saja seperti itu, padahal sebenarnya dia gemetaran. Hatinya memang benar-benar tidak bisa diajak bercanda.
"Siapa-siapanya itu apa?"
Adis kali ini tergelak. Padahal pipinya belum kering. Begitulah kalau bersama dengan langit. Dia akan tertawa meskipun baby-nya masih basah. Seringkali begitu.
"Apa pun itu. Kamu maunya dijadiin apa, Aku siap untuk itu."
"Dijadiin badut. Karena kamu selalu berhasil membuat aku tertawa disaat pipiku masih basah. Thanks a lot ya, Dut. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa pacarmu memutuskanmu hanya gara-gara petir. Padahal kamu baik begini orangnya."
"Aku memang baik dari lahir. Nggak usah dipuji. Ayo! Pulang ke rumah aku aja ya? Tenang aja nggak akan digerebek. Kan ada Ibu."
"Digerebek pun nggak masalah. Nggak perlu susah-susah cari calon lagi," ucap Adis. Dia kembali tertawa. Langit hanya bisa menggaruk tengkuknya. Perempuan itu memang pandai sekali membuat jantungnya melompat-lompat.
Akhirnya Adis sepakat untuk ikut langit pulang. Dia belum ingin kembali ke tempat kost. Pasti setelah melihat teras kost, dia seperti melihat Herman, dan dia akan ingat dengan tamparan keras itu.
***
Seperti biasa, saat suasana sedang hujan, Ibu langit selalu menunggu putranya di depan pintu. Padahal ini sudah larut malam.
Padahal ini cuma hujan kecil, hujan rintik-rintik saja tak ada petir. Tetap saja Bu Ranti khawatir. Takut putranya kenapa-kenapa.
Bu Ranti langsung tersenyum bahagia saat melihat langit keluar dari mobil diikuti oleh Adis.
"Eh, ada Nak Adis."
Bu Ranti tampak begitu bahagia menyambut kedatangan Adis. Mereka saling mencium pipi kanan dan kiri, sampai tidak menghiraukan Langit. Mereka berdua masuk dan bertugas di sofa.
"Bu, sebenarnya Ibu sedang menunggu langit atau menunggu siapa? Masa yang disambut malah si tomat dan anaknya sendiri dicuekin."
Langit protes sambil membanting tubuhnya di atas sofa. Dia pura-pura kesal. Padahal sebenarnya dia bahagia melihat artis yang bisa cepat akrab dengan ibunya. Ini pertanda bagus. Dia tidak perlu lagi merayu ibunya untuk memberikan restu.
"Ibu kan sudah menyambut sama setiap hari. Nggak masalah dong kalau sekali-kali ibu menyambut kedatangan calon menantu," ucap Bu Ranti diiringi dengan tawa kecil.
Sontak, Adis mendongak dengan pipi memerah seperti tomat.
"Cie … pipinya memerah seperti tomat. Cie … salah tingkah."
Buk. Sebuah bantal sofa mendarat ke muka langit. Nyebelin banget sih makhluk itu. Sudah tahu adis malu malah dicie-ciein. Apa dia benar-benar tidak tahu rasanya grogi disebut sebagai calon menantu?
"Awww … ibuk, dia KDRT buk. Belain lah anakmu ini."
"Kalian kalian ini lucu banget sih. Kalian sudah matang, sudah 24 tahun dan 26 tahun, tapi masih lucu seperti anak SMA yang baru saja jatuh cinta. Tapi ibu suka melihatnya seperti kembali muda. Kalian benar-benar cocok ya?"
"Cocok dari mana, Ibu. Dia aja KDRT setiap hari kalau ketemu sama aku."
"Tapi kamu suka kan? Hmmm … ?"
Sontak, Langit mengalihkan pandangannya sambil menggaruk tengkuk. Aish, bagaimana bisa ibunya sendiri membuat dia salah tingkah begini.
"Cieeee … salah tingkah."
Adis balik menggodanya dengan menjulurkan lidah. Sungguh, mereka sudah lebih dari dewasa, tetapi kalau sedang berdua seperti ini, mereka masih layaknya ABG. Membuat Bu Ranti di geleng-geleng kepala sekaligus bahagia. Dia merasa, Adis adalah wanita yang cocok untuk mendampingi langit.
Adis wanita yang kocak, wanita yang pandai membawa diri dimanapun dia berada. Dia bisa membuat suasana menjadi ceria. Namun, di saat-saat tertentu dia juga bisa menjadi dewasa. Memang sosok seperti itulah yang diinginkan oleh berhenti untuk menjadi menantunya.
"Siapa yang salah tingkah sih. Aku biasa aja kok. Udah ah, Aku mau masuk ke kamar. Ngantuk! Kamu tidur sama ibu aja. Pakai Piyama hello Kitty ya? Bye!"
Langit segera melesat ke kamarnya. Bisa-bisa dia gila kalau berada satu ruangan dengan mereka berdua. Tapi … langit memang merasa mereka berdua begitu klop. Sepertinya mereka memang cocok sebagai mertua dan menantu. Sama-sama suka ngecengin dirinya, dan sama-sama suka bercanda. Langit tersenyum kalau mengingat kekompakan mereka.
Langit membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya di sana. Diambil handphone dari saku celananya, membuka galeri, dan memandang foto adis saat bersandar di bahunya malam itu.
"Adis sembab Adena, aku tahu keceriaan yang kau tampakkan, hanya untuk menutupi rasa sakitmu di dalam hati. Sekarang aku tahu kenapa kamu selalu mencari sosok sempurna di hidup kamu. Karena kamu trauma dengan rumah tangga keluargamu sendiri. Kau tenang aja, Aku akan berusaha menjadi sosok sempurna untukmu. Meskipun aku tahu tak ada manusia sempurna di dunia ini. Setidaknya aku sempurna di mata kamu. Tenang ya? Lalui dulu ujiannya, aku yakin kamu akan lulus dan mendapatkan hadiah terbaik setelah ini."
Langit mengecup foto itu, lalu membawa handphone itu dalam dekapannya. Biarlah, sekarang fotonya dulu yang di kecap, handphonenya dulu yang didekap. Dia masih berusaha memantaskan diri untuk bisa menghalalkannya, supaya bisa mengecup dan mendekap tanpa ada rasa bersalah.