"Langit, Adis itu cantik ya? Pecicilan tapi kalau sama orang tua sopan. Ibu suka," ucap Bu Ranti setengah berbisik. Saat itu, Bu Ranti sedang mencuci beras di dapur. Seperti biasa, bujangan Bu Ranti itu suka menemani ibunya memasak di dapur.
"Terus?" Langit pura-pura bodoh padahal dia tahu arah pembicaraan itu akan ke mana.
"Udah 26 tahun, masih saja belum pinter."
"Ya mana Langit tahu apa yang ada di dalam hati ibu. Langit kan bukan paranormal, Bu."
Bu Ranti selesai mencuci berasnya, kemudian meletakkannya di panci rice cooker.
"Ibu tahu kamu suka sama dia. Ibu setuju. Ibu sudah ngebet pengen punya mantu. Itu teman-teman kamu ada yang sudah punya dua anak. Kalau kamu sudah menemukan yang klop. Cepet dong diseriusin, Nak."
Lagi dan lagi, ibu Langit selalu meminta putranya untuk menikah setiap kali dia dekat dengan seorang wanita. Kali ini, bukannya langit tidak mau, hanya saja dia tidak mau buru-buru. Lagi pula, dia tahu kalau di hati adis masih ada Beno. Tidak mudah untuk menggeser laki-laki itu dari hati Adis.
"Dia itu makhluk bucin, Bu. Bucin parah kalau sudah suka sama orang, dan sekarang dia masih sayang sama mantan pacarnya. Lagi pula, memangnya ibu mau punya menantu yang pecicilan kayak gitu, makannya juga banyak Lo, Bu. Satu lagi kebiasaan buruknya, dia suka mengembat makanan Langit."
"Wah wah wah … parah. Pagi-pagi udah gibahin orang. Dosa!"
Tiba-tiba, Adis datang sambil menyentil pelipis Langit. Begitu lah kebiasaannya kalau lagi sebel.
Bu Ranti tertawa. Melihat berdua yang sedang sama-sama, seperti melihat anak SMP yang baru saja pacaran. Saling menggoda dan lucu.
"Awwww … kebiasaan deh KDRT. Buk, lihat! Kayak gini masa suruh jadiin istri."
Sekalian aja, karena langit tahu adis sudah mendengar semuanya tadi.
"Padahal ngarep kan?" Adis berbicara asal. Dia menghampiri Bu Ranti yang saat itu menyiapkan minyak untuk menggoreng ikan.
"Mana mungkin aku berharap sama di pelor, si banyak makan, si tukang nangis, dan si bucin akut. Nggak mungkin."
"Ya Allah Adis, tangan kamu kena minyak panas! Maafin Ibu." Bu Ranti pura-pura panik sambil mengedipkan matanya ke depan Adis. Adis yang tahu apa maksudnya langsung pura-pura menjerit.
"Awww … panas." Adis pura-pura menjerit kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Tentu saja langit langsung panik, dia menghampiri dua wanita yang sangat dia sayang dengan raut muka khawatir.
"Tuh kan udah kubilang jangan ceroboh siniin tangannya, mana yang sakit!"
Sungguh, raut muka langit saat ini seperti seorang Ayah yang sangat mengkhawatirkan anak gadisnya. Gurat hawatir terlihat jelas di wajahnya. Saat itu, Bu Ranti tahu kalau Langit memang menyayangi Adis. Beliau bisa melihat pintar cinta dari mata anak laki-lakinya.
"Baaaa …. "
Adis membuka telapak tangannya lalu dia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Sungguh, dia tidak bisa menahan tawa melihat raut muka Langit.
Bu Ranti ikut tertawa. Mereka itu benar-benar kompak.
"Ibu, Adis … kalian ngerjain?" Langit melotot di hadapan mereka berdua.
"Iya, memangnya kenapa? Ketahuan kan kalau panik."
"Siapa pun orangnya, aku pasti panik. Bukan kamu doang. Ah … parah kalian. Ibu juga. Udah ah, Langit mau mandi."
Laki-laki itu segera pergi meninggalkan dua wanita yang saat ini masih tidak bisa menahan tawa.
Jujur, di dalam lubuk hatinya dia tidak kesal. Bahkan dia senang melihat dua wanita yang amat ia sayangi bisa kompak. Padahal mereka Baru beberapa kali bertemu, tetapi sudah kelihatan cocok.
Ibunya juga terlihat menyayangi Adis. Memang itulah yang diinginkan langit sejak lama. Jika suatu saat nanti dia memiliki calon istri, dia ingin wanita yang bukan hanya bisa dekat dengan dirinya tetapi juga tetap dengan ibunya.
Sepertinya, Adis emang the one.
"Aku akan memperjuangkan kamu, Adis. Mungkin saat ini kamu memang belum menyukaiku, tapi aku akan membuat kamu sadar dengan langkah-langkah kecilku, bahwa aku bisa membuat kamu bahagia di masa depan nanti."
Langit tersenyum, kemudian segera menuju ke kamar atas untuk mandi dan siap-siap pergi ke kantor.
Sementara di dapur, dua wanita itu masih asyik cekikikan karena sikap Langit.
"Ternyata Ibu jahil juga ya?" Adis masih tertawa. Tidak menyangka kalau seorang ibu yang kalem seperti itu bisa mengerjai putranya.
"Ibu cuma ingin tahu dia khawatir apa tidak sama kamu. Eh, ternyata khawatir banget."
"Ibu ada-ada saja."
Adis hanya geleng-geleng kepala sambil mengupas bawang. Diam-diam, Adi sangat kagum sama Bu Ranti. Padahal sudah memiliki asisten rumah tangga, tetapi selalu ingin melayani putranya dengan tangannya sendiri. Seperti membukakan pintu setiap dia pulang kerja, dan memasakkan makanan untuk langit. Padahal itu semua bisa dilakukan oleh asisten rumah tangga mereka.
"Nak, kamu sudah memiliki calon?"
"Calon apa, Buk?"
Adis pura-pura bodoh. Entah kenapa dia dag Dig dug saat itu. Seperti sedang diinterogasi calon mertua.
"Calon suami? Sudah ada?"
"Belum, Buk."
"Kalau belum ada, ibu suka memiliki calon menantu seperti kamu," ucap Bu Ranti sambil tersenyum santai. Tangannya masih sibuk mencemplungkan ikan ke dalam penggorengan.
"Ibu ada-ada saja. Saya makannya banyak bisa masak lagi."
Bu Ranti kembali tersenyum. Memutar tombol api kompor ke tingkat panas yang dia inginkan. Kemudian, wanita paruh baya yang selalu berhijab itu duduk manis di hadapan Adis dan menatap gadis yang ada di hadapannya dengan tatapan yang dalam.
"Nak, Ibu serius," ucapnya sambil menatap mata Adis.
"Em … Ibu, saya sama lagi hanya bersahabat saja. Kami berdua tidak ada perasaan apa-apa, Bu. Aku hanya menganggap langit sebagai sahabat, begitu juga dengan langit, dia hanya menganggap saya sebagai sahabat. Lagi pula saya sama sekali bukan tipe Langit, Bu. Saya tahu dia sukanya perempuan seperti apa."
"Oh, baiklah. Lupakan kata-kata ibu ya? Kamu jangan jadi canggung setelah ibu mengucapkan ini. Ibu hanya berharap langit segera menemukan jodohnya. Usianya sudah benar-benar matang."
"Ah … iya, Bu. Nggak apa-apa. Semoga langit segera mendapatkan jodoh terbaik ya, Bu."
"Aamiin."
Bu Ranti tersenyum, lalu ikut mengambil bawang dan mengupasnya.
'Saya tahu, Langit menyukaimu Nak. Kalau kamu saat ini belum mencintai langit karena masih terjebak dengan masa lalu, ibu akan mencari cara agar kamu menyadari betapa Langit menyayangimu.'
***
"Saya berangkat dulu ya, Bu."
Adis mencium pipi kanan dan kiri Bu Ranti, kemudian mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Hati-hati ya Nak. Sering-sering main ke sini."
"Siap, Ibu."
"Assalamualaikum … "
Terdengar suara cempreng yang familiar di telinga Adis. Sebuah suara yang dulu sangat akrab di telinganya. Adis menoleh, dan mulutnya menganga saat tahu siapa yang datang dan membawa sebuah rantang warna pink ditangannya.