"Sampai mana perkembangan tentang Rossi? Apakah ada kemajuan?"
Bergerak dalam diam, memperjuangkan orang yang dia sayang. Itulah langit. Dia mengagumi Adis. Di hatinya sudah tumbuh perasaan cinta. Namun, dia tidak pernah melakukan hal-hal agresif untuk menunjukkan rasa cintanya. Tidak pernah sama sekali.
Yang terpenting bagi Langit, Adis bahagia. Itu poin pentingnya.
"Belum ada perkembangan yang berarti. Beberapa hari ini Rossi sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Dia sering pergi dengan Wijaya. Tapi … ada satu foto lagi. Aku tidak tahu dia bertemu dengan siapa, tetapi yang jelas mereka sepertinya orang kantoran."
"Oh ya? Coba kamu kirimkan ke saya fotonya."
"Baik, Pak Langit. Sementara hanya itu untuk saat ini."
"Oke. Tapi tolong bergeraklah cepat. Pernikahan mereka seminggu lagi. Aku ingin semua terbongkar jika memang dia di balik ini semua. Aku ingin ini terbongkar sebelum pernikahan mereka."
"Saya usahakan Pak."
"Oke, baik. Terimakasih."
Tut. Handphone dimatikan secara sepihak oleh Langit.
Beberapa detik kemudian foto yang dimaksud dikirimkan. Langit mengamati foto itu dengan serius. Ada Rossi dengan seseorang yang dia tidak tahu. Dia masih memakai jas lengkap. Sepertinya bukan orang sembarangan.
Saat jam istirahat, Langit langsung meluncur ke toko untuk menemui Adis. Mungkin Adis tahu siapa laki-laki itu kalau memang dia ada hubungannya dengan Zoyyas atau yang lain.
"Yaelah. Baru berpisah beberapa jam. Udah kangen aja Bapak Langit," ucap Adis saat laki-laki itu menemuinya.
"Sebenarnya eneg lihat kamu terus. Tapi apa boleh buat. Ini penting," jawab Langit sok serius. Mereka sengaja ngobrol di lantai 3 supaya suasana lebih tenang. Karena di lantai bawah mereka sedang riweh ramai melayani pelanggan yang bejibun karena hari ini ada diskon.
"Penting? Apa?"
Langit segera mengeluarkan handphone-nya dan menunjukkan foto yang sudah dikirimkan oleh orang suruhannya.
"Kamu kenal orang ini?"
Sebelumnya foto itu sudah di crop oleh Langit, sehingga menyisakan foto bapak-bapak itu saja. Foto Rossi tidak dia tampakkan.
"Itu orang Zoyyas kalau nggak salah. Namanya … ah iya. Pak Hendro. Dia petinggi Zoyyas yang mempresentasikan materi kita waktu itu."
Adis masih menatap foto itu sembari mengingat-ingat yang akhirnya membuat dia yakin bahwa yang ada di foto itu memang benar Pak Hendro.
"Kau serius ini pak Hendo petinggi Zoyyas Advertising?"
"Serius. Aku ingat. Laki-laki ini yang persentasi waktu itu. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Ya udah, aku balik lagi ke kantor ya. Jangan lupa makan, Tom. Sebentar lagi nasi padang datang. Jangan lupa makan yang banyak nanti malam lembur lagi. Karena hari ini diskon pasti rame."
"Tiap hari disuruh lembur. Kenceng banget Bapak nyari duitnya," ledek karyawan yang lancang itu.
"Iya dong. Sekarang harus cari duit yang baik yang rajin buat modal nikah."
"Pak Langit kau nikah? Haish … sudah kubilang jangan punya pacar dulu supaya aku bisa morotin kamu kalau makan. Malah mau nikah," gerutu Adis.
Langit tertawa melihat ekspresi itu. Entahlah, Langit tidak tahu, Adis itu memang polos atau pura-pura polos.
'Dasar! Kalau aku mau nikah pasti nikahnya sama kamu. Aku dekati hati kamu dulu. Kalau sudah berhasil, kita nikah. Mau kan Tom?'
Sayangnya kata-kata itu hanya mampu diucapkan di dalam hati saja. Dia belum berani untuk mengungkapkan apapun. Entahlah kapan waktu yang tepat baginya.
***
Langit berdiri di lobby kantor. Sengaja menunggu Rossi. Dia hafal jadwal kunjungan wanita itu. Menjelang makan siang berakhir, dia pasti datang membawakan makanan untuk calon suaminya.
Benar saja, beberapa menit kemudian terlihat dari kejauhan Rossi keluar dari mobil mini Cooper merah. Mobil yang tentu saja sangat familiar.
Sekarang dia yakin, kalau Rossi memang ada hubungan dengan seseorang yang dia kenal. Berarti dia benar-benar selingkuh dari Beno? Apes sekali laki-laki itu. Berpisah dari Adis berharap mendapatkan wanita yang lebih baik, nyatanya tidak mendapatkan manusia ular yang berbisa seperti Rossi.
'Kau sengaja membuang berlian hanya untuk mendapatkan arang? Sungguh kau akan menyesal, Bro.'
"Hai Ros!"
Langit menyapa Rossi yang akan berjalan melewatinya.
"Hai," jawabnya sok ramah sambil meneruskan langkah.
"Tunggu!" Langit mencengkeram pergelangan tangannya. Mencegah perempuan itu untuk pergi.
"Hmmm … ? Kau menahanku?"
Langit membalikan badannya dan menatap Rossi dengan tatapan geram.
"Kau yang akan mengaku sendiri ke Wijaya, atau aku yang membongkar semuanya."
Kata-kata Langit bagaikan petir yang menyambar Rossi di siang bolong. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba laki-laki yang tidak begitu dia kenal itu mengancamnya.
Tidak mungkin dia berani mengancamnya kalau dia tidak mengetahui sesuatu. Lalu, apa saja yang diketahui oleh Langit saat ini?
"Apa maksud kamu? Apa yang mau kamu bongkar?"
Untuk saat ini, Langit memang tidak bisa membongkar apa pun. Karena dia belum memiliki cukup bukti. Kalau hanya foto itu yang dia sodorkan, pasti Rossi bisa bergerak dengan berbagai alasan dan bisa mengarang cerita. Tapi, dia sengaja melakukan ini untuk menggertak Rossi.
Siapa tahu, wanita itu mengaku akhirnya. Paling tidak, dia bisa memberikan ultimatum awal.
"Yang mau aku bongkar? Tentu saja kebusukan kamu. Aku sudah tahu semuanya."
Tangan Langit masih mencengkeram pergelangan tangan Rossi. Biarpun wanita itu mencoba untuk melepaskan, Tapi langit mencengkram lebih kuat.
"Sudah tahu semuanya? Apa yang kamu tahu?"
"Semua rahasia kamu dan semua kebusukan kamu aku sudah tahu. Enggak usah sok tanya kebusukan apa. Pertanyaannya sekarang cuma dua. Kamu mengaku sekarang dengan sendirinya, atau aku yang terpaksa membongkar kebusukan kamu."
"Aku tak pernah melakukan apapun, Jadi tidak ada yang bisa kamu lakukan."
Rossi tetap berusaha untuk mengelak dan melepaskan dirinya.
"Oke. Berarti kamu tidak mau mengaku? Biar aku yang membongkar semuanya."
Langit melepaskan tangan Rossi dengan kasar. Dia tersenyum sinis, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan rossi.
Tentu saja, Rossi sangat panik saat itu. Tetapi dia tetap berusaha untuk tenang. Dia tidak yakin kalau langit memang sudah mengantongi bukti karena mereka melakukan semuanya dengan sangat rapi. Tidak mungkin bocor ke siapapun termasuk langit.
Meskipun Rossi berusaha untuk tetap menenangkan diri, tetapi tetap saja dia was-was. Akhirnya dia mengikuti langit yang memang berjalan menuju ke ruangan calon suaminya, Beno Wijaya.
'langit tampak seyakin itu? Sebenarnya dia mengantongi bukti apa? Yang mana yang akan dia bongkar? Haish, tinggal menghitung hari saja kenapa harus ada makhluk itu yang berulah. Pasti ini gara-gara Adis. Pasti mantan pacar Wijaya yang menyuruh langit untuk menyelidiki ini semua. Shiiiit,' umpat Rossi dalam hati.
Rossi segera mempercepat langkahnya. Supaya dia bisa sampai di ruangan Wijaya lebih awal dari Langit.