Langit dan Rossi sampai di depan pintu ruangan Beno bersamaan. Rossi menatap tajam laki-laki yang sepertinya akan mengacaukan rencananya.
"Apa yang akan kau katakan sama Wijaya?" tanya Rossi dengan tatapan menyelidik. Dia sengaja menunjukkan muka berani, meskipun sebenarnya ada rasa panik dan khawatir.
"Kenapa? Takut?"
Langit menatap Rossi dengan tatapan menantang. Sepertinya gadis cantik yang ada di hadapannya memang berbahaya. Dia benar-benar bisa main cantik. Kalau memang dia ada hubungannya dengan petinggi Zoyyas, berarti dia memang sangat berbahaya.
Musuh di dalam selimut itu memang lebih mengerikan daripada musuh yang nyata.
"Takut itu hanya untuk orang yang salah. Kalau aku tidak salah sama sekali, buat apa aku harus takut?"
"Oke. Kalau begitu izinkan aku untuk menemui Wijaya sekarang. Seperti apa yang sudah aku katakan padamu. Kamu yang mengaku sendiri, atau aku yang membongkar semuanya."
"Kau serius akan membongkar sesuatu yang masih jadi praduga? Kau tahu apa yang terjadi JIka praduga kamu itu salah? Kau bisa dipecat sama Wijaya saat ini juga." Matanya masih menatap tajam ke arah langit yang saat itu juga menatapnya dengan sinis.
Menghadapi orang seperti langit harus dengan sikap yang tegas penuh keyakinan. Karena dia laki-laki yang cerdas dan pandai membaca raut muka orang.
"Kamu pikir aku peduli? Aku sama sekali tidak peduli jika aku harus keluar dari sini karena memperjuangkan kebenaran. Ah … sepertinya kau tampak takut sekali."
"Nggak. Aku nggak takut. Karena aku nggak salah."
"Kamu takut, Ros. Terpancar dari matamu. Aku mau masuk."
Langit langsung saja memutar kenop pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Terlihat Beno yang memijat-mijat kepala bagian kanan. Entah apa yang sedang dipikirkan sampai merasa pusing seperti itu.
"Hai Wid. Boleh duduk!"
"Eh, Lang. Duduk!"
Beno membenahi letak duduknya. Dia duduk dengan posisi tegak menghadap lurus ke Langit.
"Wid, aku mau ngomong penting keluar pekerjaan. Boleh?"
"Sayaaaaaaang."
Tiba-tiba saja Rossi datang dan langsung memeluk Beno dari belakang tanpa rasa malu. Tentu saja Beno merasa canggung. Karena di depannya ada langit yang memandang dia dengan pandangan yang tidak mengenakkan.
"Eh, Sayang. Sebentar. Kamu tunggu di sofa dulu ya? Nanti kita ngobrol."
Beno tersenyum canggung sambil melepaskan tangan Rossi yang tadinya melingkar di lehernya.
"Kenapa? Kita kan memang udah biasa seperti ini. Kita harus fitting kostum lagi, Sayang. Kemarin ada yang belum pas kan? Katanya udah dibenahin. Kita Fitting sekarang aja yuk?"
"Ros, kamu ke sofa dulu. Aku mau ngobrol sebentar sama Langit."
Kali ini Beno berbicara dengan tegas. Meskipun dia dekat dengan langit, tetapi tentu saja dia merasa tidak sopan jika bermesraan di hadapan laki-laki itu. Entah kenapa hari ini Rossa begitu aneh. Tidak biasa-biasanya dia seperti itu.
"Pokoknya aku mau fitting baju sekarang!"
Rossi Keukeh mengajak Beno untuk keluar, karena dia tidak ingin Langit sampai menghancurkan acaranya.
"Ros, tolong dong! Ini masih jam kerja. Aku selesaikan ngobrol dulu sama langit, tunggu di sofa. Sekarang!"
Kali ini Beno membentak. Rossi memang bener-bener keterlaluan. Sama sekali tidak menghormati Langit yang saat itu ada di antara mereka.
"Kamu membentakku hanya gara-gara dia? Pasti dia cuma ngomong nggak penting untuk membela sahabatnya itu, mantan kamu. Dan kamu membentak aku hanya gara-gara ini? Keterlaluan! Aku akan pergi sendiri sekarang!"
Rossi ikut berteriak dan tidak sungkan sama sekali meskipun ada Langit, kemudian dia segera pergi dari ruangan Beno dengan muka kesal.
"Haish, dasar wanita! Begitu tuh kalo sudah marah. Lang, Maaf ya? Sepertinya aku harus pergi dulu."
"Wid, aku mau ngomong dulu sebentar. Ini soal Rossi dan Adis. Ini penting."
"Sorry, aku harus mengejar Rossi sekarang. Sekarang prioritasku adalah Rossi, Lang. Dan untuk Adis, aku sudah tidak ada urusan lagi sama dia tidak mau tahu apa-apa tentang dia lagi. Bagiku dia adalah rasa sakit. Aku pergi dulu ya?"
Beno menyambar kunci mobilnya dan segera berlari mengejar Rossi.
"Haish, gagal. Pintar sekali wanita itu triknya. Aku harus cari waktu yang tepat."
Bukan, Langit ingin berbicara dengan Beno bukan untuk membuka rahasia. Belum. Belum waktunya dia juga belum mendapatkan bukti yang kuat. Tapi, langit hanya ingin menunjukkan beberapa clue aja.
***
"Sayang, tunggu! Kenapa kamu marah-marah seperti ini dan bertingkah nggak jelas di hadapan Langit. Bagaimanapun juga dia karyawanku. Nggak etis kan bermesraan di hadapan orang seperti itu. Apalagi aku sudah berbicara sama dia dan kamu mengajak aku keluar. Itu nggak sopan sama sekali."
Langit mengimbangi langkah kaki Rossi yang begitu cepat saat itu. Sebenarnya dia tidak marah sama Beno. Dia ingin membawa laki-laki itu pergi dari ruangan itu supaya langit tidak punya kesempatan untuk berbicara banyak. Namun, dia lega sekarang karena Benolebih memilih untuk mengikutinya daripada ngobrol dengan langit.
"Ya udah kalau gitu ngobrol aja sama langit sana. Fitting baju itu enggak penting kan? Lebih penting ngobrol sama langit yang pasti ngomongin Adis. Mantan kesayangan kamu itu."
"Bukan begitu maksudku."
"Terus bagaimana maksudmu?"
Rossi menghentikan langkahnya, membuat Beno berhenti mendadak.
"Aku cuma ingin menghormati langit aja."
"Bisa nggak beberapa hari ini kamu jangan komunikasi dulu sama langit sampai acara pernikahan kita? Dia itu toxic. Dia akan menggagalkan acara pernikahan kita. Kamu tahu kan dia dekat sama Adis? Kamu juga tahu kan kalau adis tidak suka dengan hubungan kita berdua? Jadi tolong, hargai Aku dan kurang-kurangi ngobrol nggak penting sama Langit."
"Kenapa pembahasan kita sampai di sini sih? Padahal ini hanya perkara ngobrol dan fitting baju aja. Nggak ada perkara lain kan? Lagi pula kenapa kamu tiba-tiba curiga Langit akan menggagalkan acara pernikahan kita? Dengan cara apa dia akan menggagalkan? Selama cinta masih tumbuh di hati kita masing-masing, maka pernikahan ini akan terus berlanjut. Jangan overthinking, Sayang."
Rossi terdiam. Memang itu yang dia takut kan. Tiba-tiba dia takut kalau langit memang benar-benar ada bukti dan Beno kecewa dengan dia dan akhirnya meninggalkannya. Itu yang dia takutkan saat ini. Dia tidak mau itu terjadi.
"Beberapa hari ini kamu nggak usah masuk kantor. Kamu cuti sampai hari pernikahan kita. Biar kantor di handle sama Andin. Aku yakin dia bisa handle semingguan aja. Sekarang ayo kita fitting baju. Aku nggak mau ngobrolin ini lagi."
Rossi berjalan begitu saja menuju ke tempat dimana mobil Beno diparkirkan. Sementara Beno, Dia hanya bisa diam dan mengerutkan keningnya. Dia merasa Rossi memang bersikap aneh tidak seperti Rossi yang biasanya.
'Ada apa dengan dia?'