Rasa sakit memang sering membuat kita menjadi orang yang berbeda. Entah itu menjadi orang yang lebih baik, atau justru menjadi orang yang lebih buruk. Hanya diri kita sendiri ya bisa mengendalikannya.
Ya, rasa sakit yang akhirnya membuat Beno bertemu dengan sosok perempuan yang menurutnya sangat perhatian dan peduli terhadapnya. Perempuan itu melimpahkan kasih sayang padanya. Itulah kenapa Beno memutuskan untuk memilih dia. Meskipun hatinya belum sepenuhnya memilih dia. Meskipun separuh hati yang masih tertinggal di cinta lamanya.
Pernikahan mereka kurang 5 hari lagi. Tetapi sampai hari ini dia belum benar-benar yakin. Ah … tetapi sudah terlambat untuk berubah pikiran. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah meyakinkan diri bahwa Rossi adalah pilihan yang tepat untuknya.
Seperti permintaan Rossi, Beno tidak pergi ke kantor. Karena Rossi takut calon suaminya akan terkontaminasi hal-hal yang tidak dia inginkan. Selain itu, laki-laki itu juga sibuk mengurus pernikahannya. Pernikahan yang semakin dekat, semakin membuat dia bimbang.
Dia terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apakah memang benar ini yang dia inginkan? Apakah memang Beno benar-benar mencintai Rossi? Karena selama ini dia merasa Rossi hanya sebagai media untuk melupakan Adis. Dia berharap besar, kehadiran Rossi dalam hidupnya bisa berhasil mendepak posisi Adis dalam hati. Namun, sampai di detik-detik pernikahan saja, Rossi belum bisa sepenuhnya menggantikan posisi Adis.
Memang begitu adanya, tetapi rasa sakit hati pada Adis beberapa tahun yang lalu, membuat dia mengingkari semua itu.
Terdengar suara bel berbunyi. Beno yang saat itu tengah duduk melamun di sofa, langsung berdiri dan membukakan pintu.
Matanya terbelalak saat dia tahu siapa yang datang.
"Adis?"
Ya, wanita yang sudah menguatkan hatinya sejak beberapa jam yang lalu itu sudah berdiri dengan manis di depan pintu apartemen Beno.
"Hai," sapanya sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Tangannya dilambaikan sedikit. Dia masih ceria, seperti jaman kuliah dulu. Entah bagaimana bisa tiba-tiba dia bersikap seperti itu. Seperti tidak ada pertengkaran diantara mereka beberapa hari yang lalu.
"Ada apa?" tanya Beno dingin.
"Boleh masuk?"
"Oke. Silahkan!"
Mereka berdua segera masuk ke apartemen Beno. Mereka duduk berdua di sofa coklat tua yang sepertinya masih baru. Selama beberapa menit pertama, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka berdua. Hening.
"Ada apa?" tanya Beno memecah keheningan.
Adis tak menjawab apa-apa. Dia hanya mengambil sesuatu dari tas kecil yang dia bawa. Sebuah kotak kecil yang dulu pernah diberikan Beno kepadanya. Kotak kecil yang pernah menjadi saksi bahwa mereka berdua pernah berencana untuk menjalani hubungan yang lebih serius.
"Ini, aku kembalikan padamu."
Adis menyerahkan kotak itu beserta dengan isinya. Ya, meskipun isinya bukan cincin yang diberikan dulu. Tetapi Adis sudah memesan cincin yang sama persis dengan yang diberikan oleh Beno padanya dulu. Harganya juga tak jauh beda.
Ya, Langit yang membantunya untuk mendapatkan itu. Adis tidak mau merasa punya hutang pada mantan pacar yang sebentar lagi akan resmi jadi suami orang.
Beno terdiam. Dia menatap kotak merah kecil itu dengan tatapan yang dalam.
Kotak itu … cincin itu … pernah dia beli dari hasil dia menabung uang lemburan selama berbulan-bulan. Butuh perjuangan untuk mendapatkan cincin itu dulu. Ya, keadaan dia waktu itu membutuhkan effort yang luar biasa hanya untuk cincin biasa saja. Cincin yang sekarang bisa dianggap terlalu murah untuk Beno. Bagaimana tidak? Sekarang dia mampu membelikan kekasihnya cincin tunangan yang harganya lebih dari seratus juta.
"Kenapa kau kembalikan?"
"Kenapa harus kusimpan?"
"Cincin itu sudah tidak ada artinya lagi buat aku. Kamu bisa membuangnya."
"Aku tahu, semua tentang aku sudah tidak ada artinya lagi buat kamu. Tapi cincin ini juga sudah tidak ada artinya lagi buatku. Lagi pula, ini milikmu dan sudah sepantasnya aku mengembalikannya padamu. Selain itu, aku tidak mau kalau suatu saat kamu ungkit lagi cincin ini seperti apa yang kamu lakukan beberapa hari yang lalu. Jadi, aku kembalikan apa yang sebenarnya milikmu. Setelah ini terserah, kamu membuangnya atau mau kamu apakan, terserah. Ini, Terima!"
Adis menyodorkan kotak itu, dan perlahan, tangan Beno terulur, mengambilnya.
"Huft … lega, karena akhirnya cincin itu sudah kembali padamu. Terima kasih atas waktu yang telah kamu berikan padaku beberapa tahun yang lalu, dan maaf jika aku pernah menggoreskan luka terlalu dalam padamu. Oh iya, selamat ya, sebentar lagi kau akan resmi menjadi suami orang."
Adis kembali tersenyum. Sebuah senyuman getir tentunya. Namun, dia tetap berusaha tegar dan berusaha tidak sakit hati sedikitpun di hadapan Beno.
"Oke. Terimakasih. Kamu datang kan?"
Adis menunduk. Sebenarnya dia ingin berteriak, dan mengatakan kalau dia tidak akan pernah mau datang, tetapi jika dia melakukan itu, terlihat sekali kalau dia masih menyayangi laki-laki yang sudah beberapa kali pernah merendahkannya itu.
"Oh … tentu. Tentu saja aku akan datang bersama Langit, dan … untuk masalah dengan Zoyyas, aku minta maaf. Mungkin kalau aku bilang itu semua bukan salahku, kamu tidak akan percaya jika aku mengatakannya tanpa bukti. Jadi, maafkan aku. Tapi sampai saat ini aku masih mencari bukti, agar kamu percaya bahwa aku tidak sepicik itu."
"Aku sudah melupakannya. Kamu sudah mendapatkan balasan atas semuanya. Itu sudah cukup buatku."
"Oke."
"Oke."
Krik krik krik …
Kecanggungan melanda. Entah kenapa mereka sama-sama canggung sekarang. Padahal saat mereka bekerja sama, mereka sering cekcok dan tidak lagi secanggung ini.
"Em … semoga kau bahagia ya dengan Rossi. Semoga dia benar-benar wanita yang kamu butuhkan dan kamu cari selama ini. Semoga dia bukan cewek matre seperti aku. Semoga dia tidak pernah mendua seperti aku dan semoga dia memang benar-benar tulus padamu tidak seperti aku."
Sakit saat mengucapkannya. Memang seperti itulah Adis di hadapan Beno. Seorang wanita yang suka mendua, matre dan tidak tulus.
Padahal andai Beno tahu, rasa sayang Adis jauh lebih tulus daripada Rossi. Andai Beno tahu, apa yang sudah dilakukan oleh kekasihnya itu di belakangnya. Tetapi ya sudahlah. Itu bukan urusan Adis lagi. Dia tidak mau lagi membongkar aib Rossi karena dia tahu bahwa Beno tak akan percaya dengan apapun yang dia katakan.
Diam-diam, dia hanya berdoa, semoga Beno bahagia dengan siapa pun nanti. Jika memang Rossi adalah jodohnya, Adis berharap Rossi benar-benar mencintainya dengan tulus dan tidak main di belakang seperti apa yang dia lihat. Jika memang Rossi benar-benar jodoh Beno, dia berharap bahwa apa yang dia lihat beberapa kali itu tidak benar. Semoga itu hanya prasangka buruknya saja.
Sekarang semua sudah berakhir. Hubungan mereka sudah berakhir dan mereka tak akan lagi bisa bersama. Ya, mengikhlaskan akan lebih baik dan akan membuat hati lebih tenang. Meskipun sakit di awal, tetapi Adis yakin, dia akan lebih tenang nantinya jika dia mampu mengikhlaskan.
Mulai hari ini dia percaya, ketika satu pintu tertutup maka akan ada pintu lain yang terbuka. Mungkin, Adis harus mulai fokus untuk mencari pintu mana yang sebenarnya terbuka untuknya.