Tidak seperti orang lain di luaran sana.
Yang merasaka keharmonisan dan kenikmatannya selama menjalani sebuah rumah tangga yang baru dan kehadiran buah jantung sebagai pelengkap rumah tangganya itu.
Yah, dia merasa hidupnya saat ini sedang berada di ketidak adilan itu. Dengan berbagai cobaan dan penderitaan yang di rasakan, dia tetap berusaha menutupi kesedihannya itu di depan muka umum.
Ia terus melihat orang orang di sekelilingnya itu dan sesekali ia mengelus perutnya karena merasa iri dengan apa yang ia miliki.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang datang menemuinya dan memegang pundaknya.
"Hei, kamu kenapa?"
Ucap seseorang yang menghampiri Fatima.
Iya, dia teman sekolah Fatima pada saat itu, yang saat ini bertugas di Rumah Sakit di mana tempat Fatima melakukan Cek up kandungannya.
"Eh, Salsa."
"Hmmmm, gak kok Sa. Aku hanya melihat orang-orang yang sedang mengantri sa"
Ucap Fatima yang tengah menahan tangis.
Sekejap percakapan mereka pun terhenti dan Fatima hanya menunduk mengelus perutnya tersebut.
"Kamu hanya sendiri Fat? Suami kamu kemana. Kenapa dia tidak ikut menemani kamu?"
Ucap Salsa memecahkan keheningan yang tiba-tiba saja terjadi tadi.
"Jangan bilang suami kamu sibuk lagi. Masa sih dia tidak pernah ada waktu sedikit untuk menemani kamu yang tengah mengandung dan ini sudah masuk umur kandungan tua loh".
Kembali Salsa berucap mempertegas pertanyaannya itu yang merasa kasihan melihat nasib temannya itu.
Namun, Fatima hanya bisa terdiam dan memandang temannya itu dengan bola mata yang sudah berlinang air mata.
Ketika Fatima ingin menjawab pertanyaan temannya itu, tiba-tiba Fatima di panggil oleh petugas, karena nomor antriannya pun telah tiba.
Salsa pun bergegas berdiri dan membantu Fatima berjalan menuju sebuah Ruangan dimana tempat biasa untuk mencek kandungan.
Setelah masuk ke dalam,Salsa pun pamit kepada Fatima karena harus melanjutkan tugas nya.
"Fat, kamu aku tinggal dulu yah. Sebab aku harus masuk untuk lanjut tugas. Kamu tetap semangat ya demi bayi kamu juga. Dan harus tetap hati-hati sampai kamu pulang nanti. Sampai bertemu kembali di lain waktu yah".
Ucap salsa memberi semangat dan berusaha mengukir senyum di pipi temannya itu.
Tahap demi tahap pemeriksaan sudah di lakukan oleh Seorang Dokter yang bertugas.
Hingga tiba pada akhir nya adalah tahap penyampaian hasil dari pemeriksaan.
Dan Dokter tersebut menyampaikan beberapa point dan larangan kepada Fatima.
"Bayi kamu sejauh ini sehat-sehat saja"
"Dilihat dari hasil pemeriksaan kamu bisa melakukan lahiran secara Normal di awal bulan depan".
"Hanya saja, kamu juga harus menjaga kesehatan tubuh kamu. Karena kesehatan tubuh mu sangatlah penting untuk kesehatan bayi yang sedang kamu kandung. Jangan terlalu banyak pikiran, setres dan kelelahan".
Ucap Dokter yang melakukan pemeriksaan, dan Fatima pun kembali hanya bisa diam dan melihat serta mengelus perutnya.
Setelah beberapa penjelasan di sampaikan, akhirnya Fatima pergi meninggalkan ruangan dan mengucapkan terima kasih kepada Dokter tersebut..
Namun, Fatima tidak segera pulang. Iya pun kembali duduk di kursi tunggu luar Rumah Sakit. Karena ia tidak ingin pulang ke rumah dan melihat suaminya itu.
Karena setiap kali ia pulang ke rumah, ia hanya merasakan bagai hidup di penjara dan selalu di perlakukan seperti pembntu oleh suaminya itu.
Tidak terasa, dia berada di Rumah sakit hampir satu harian.
Setelah beberapa saat, akhirnya Fatima memutuskan untuk pulang.
Dan sesampainya di Rumah, Fatima tidak melihat ada suminya tersebut.
Fatima bergegas mandi dan mengganti pakaiannya karena sudah hampir satu harian berada di tempat keramaian. Setelah mandi, Fatima segera bergegas ke dapur untuk makan siang.
Setelah makan siang, ia beristirahat sejenak untuk mengistirahatkan badannya yang merasa sangat kelelahan.
Jam terus berputar, tidak terasa juga hari sudah semakin larut sore dan Fatima baru saja bangun dari tidurnya.
Ia segera bergegas kembali kedapur untuk menyediakan makan malam dan melanjutkan beberapa kegiatannya sehari-sehari selayaknya ibu rumah tangga yang lainnya itu.
Usia kandungan Fatima sudah semakin menua.
Tapi tidak sekalipun ia di perlakukan baik oleh suaminya seperti orang di luaran sana yang jauh lebih beruntung dari pada dirinya.
Bahkan hari-harinya terakhir kali ini sering merasakan kesedihan secara tiba-tiba dan hampir sering mengurung diri dan tidak ingin berbaur kepada orang lain.
Warga yang berada di Desa pun yang kelihatan jarang memperhatikan keluarga Fatima ternyata hampir setiap saat mengamati betapa ia tidak pernah di perlakukan baik oleh suaminya itu.
Beberapa bulan terakhir ini juga warga selalu melihat kondisi dari Fatima.
Tidak jarang di Desa Fatima hampir setiap saat menjadi topik pembicaraan hanya karena perlakuan suaminya yang tidak baik.
Tidak jarang pula warga yang berada di Desa tersebut mengatakan ingin membawa keluar dari rumah suaminya itu dan membawa tinggal bersama mereka di rumahnya.
Ahh, sangat di sayangkan sekali nasib Fatima.
Gadis yang memiliki Rupa Cantik Molek tapi tidak pernah di perlakukan baik oleh suaminya yang dikatakan tidak tau bersyukur.
"Sungguh malang nasibnya, selama ia menikah dengan suaminya itu sudah hampir satu tahun tapi tidak pernah sama sekali di pandang baik oleh suaminya".
Ucap beberapa warga yang sedang melintasi depan rumah tempat tinggal Fatima.
Fatima yang terkenal sebagai perempuan mempunyai jiwa baik dan rupa yang cantik pun kian menjadi bahan pembicaraan ibu-ibu komplek Desa.
Dan mereka sangat mengharapkan ketika Fatima nantinya akan lahiran, agar ia pulang saja ke rumah ibu nya, agar ia dapat beristirahat dengan cukup dan pikirannya tidak begitu kacau.
.
.
Tidak terasa, waktu kian terua berputar dengan sangat cepat, dan usia kandungan Fatima tinggal menghitung hari.
Beberapa perlengkapan sudah ia persiapkan sendirinya, bahkan untuk biaya lahiran pun ia sudah mempersiapkan juga.
Namun, lagi lagi nasib Fatima sangat malang, ketika ia berharap selama 9 bulan mengandung tidak ada perhatian dari suaminya tetapi dia berharap ketika dia akan lahiran ada suaminya yang menemaninya dan memberikan semangat.
Tetapi nyatanya semua hanya mimpi yang dapat di kubur Fatima dalam-dalam.
Justru ketika hari-hari terakhirnya ingin lahiran, suaminya itu malah tega memutuskan pergi dengan alasan ingin bekerja.
Fatima pun tidak bisa menolak permintaan suaminya tersebut, walau sebenarnya sangat berat yang ia rasakan tetapi ia tetap memaafkan suaminya dan berusaha menahan kesedihan tersebut.
Memang semua rumah tangga pasti akan pernah merasakan masa dimana sedang bahagia dan merasa sedang di fase yang ya dapat di katakan tidak begitu baik lah dari hari biasanya.
Tetapi sangat di sayangkan sekali memang dengan nasib Fatima yang begitu sangat memprihatinkan tersebut.
Tidak jarang juga bahkan hampir beberapa orang warga yang mengibahkan beberapa perlengkapan untuk bayi Fatima nanti.
Dan bahkan sering juga berkata, kelak anaknya nantilah yang dapat membantu Fatima untuk hidup jauh lebih baik.
Ya tentu saja semua orang tua pasti mengharapkan semua anaknya menjadi anak yang baik kelak di masa depan.
Begitu juga harapan Fatima kepada calon bayi nya, ia berharap agar anaknya nanti dapat menjadi penghiburnya di saat ia merasa bahwa dunia tidak sedang berpihak kepada dirinya.
Sungguh, Fatima anak yang termasuk kuat dan penyabar yang di didik kedua orang tua nya.
Walau dengan demikian, ia tidak pernah mengadu kepada kedua orang tua nya terhadap apa yang sudah di perlakukan suaminya itu.
Bahkan, Fatima selalu membangga-banggakan dan menyanjung suaminya di depan orang tua nya.
Sungguh ia sangat menghargai suaminya itu, tetapi Suhendra, suami dari Fatima itu tidak pernah merasa sadar akan apa yang sudah ia perlakukan kepada istri dan calon anak nya yanh sedang di kandung istrinya tersebut.
"Benar-benar wanita kuat".
"Mimpi apa pada saat itu Fatima mau menikah dengan Suhendra yang tidak memiliki jiwa kenanusiaan".
Ucap beberapa warga yang melihat kehidupan Fatima yang begitu mengiris dan menyayat hati, terutama hati seorang perempuan.
"Jangan-jangan Sih Suhendra ada perempuan lain tuh, makanya dia ga pernah memperlakukan Istri sahnya itu dengan baik".
Ucap ibu-ibu yang sedang berkumpul itu.
Namum, walau dengan demikian masih ada juga beberapa warga yang justru berpihak kepada Suhendra dan mengatakan bahwa Fatima hanyalah gila harta