Hampir setiap tempat beberapa orang hanya tau menilai seseorang dari cover nya saja.
Bahkan, tidak jarang pula orang tersebut hanya bisa menilai orang lain tapi tidak mampu menilai dirinya sendiri.
Ya, tak jarang orang-orang hanya sibuk mengurusi kehidupan orang lain, seperti tidak memiliki pekerjaan lain saja.
Fatima yang saat ini sedang mengandung anak pertamanya pun harus bersikap kuat dan tegar menghadapi segala kesesakan hatinya karena tidak di perlakukan baik oleh suaminya, belum lagi beberapa warga yang menilai salah dirinya.
Pada suatu saat, ketika beberapa ibu-ibu yang berada di salah satu tempat berkumpulnya warga atau kerap sekali di katakan warkop tiba-tiba Salah satu dari mereka melihat Fatima sedang berjalan lambat memegang pinggulnya.
Ya, tentu saja demikian, Saat ini kan Fatima sedang mengandung anak pertamanya.
"Eh, bu ibu lihat tuh Fatima. Kasihan sekali ya dia, dalan kondisi saat ini yang sedang hamil tua harus berjuang sendirian. Padahal suaminya kan masih ada" Ucap seseorang ibu yang berada di perkumpulan tersebut.
Ya sebut saja dia ibu Poniem. Seorang pekerja buruh harian di Desa nya.
"Benar buk, saya juga sangat kasihan melihat Fatima. Padahal dia masih memiliki kedua orang tua yang sehat, tetapi dia tidak pernah mengeluh dan mengadu atas apa yang sudah di perbuat suaminya kepadanya."
"Bahkan, Dia bisa menghadapinya dengan sikap nya yang sangat Dewasa itu".
Balas ibu Risma dengan wajah penuh kasihan.
"Sudah-Sudah, tidak baik kita menceritai kehidupan seseorang tanpa kita tau apa penyebab masalah awalnya tersebut". Ucap ibu selena.
"Benar juga yang ibu Selena sampaikan, kita tidak bisa membela dan menyalahkan sepihak saja. Lebih baik kita doakan saja Fatima agar kelak nanti dia saat melakukan persalinan tetap semangat, dan juga suaminya semoga segera tersadar". Balas ibu Rima.
Beberapa menit kemudian.....
"Eh bu ibu, Selamat sore buk. Lagi pada ngumpul ya buk." ucap Fatima menyapa ibu-ibu Dengan wajah yang senyum ramah yang berada di lokasi yang sering sekali di jadikan sebagai tempat mereka berteduh bila sedang melakukan kerja sama.
"Ehhh Fatima......"
Sahut ibu-ibu membalas sapaan Fatima
"Kamu mau kemana Fatima. Kamu kan sedang dalam keadaan hamil tua, lebih baik jangan jalan terlalu jauh-jauh, belum lagi kan kamu jalannya sendiri. Takutnya nanti kamu kenapa-kenapa tidak ada yang melihat Fat".
Ucap Ibu Selena yang merasa kasihan terhadap Kondisi Fatima.
"Heheheee, iya buk. Saya hanya mau berjalan ke warung yang ada di komplek sebrang buk. Selagi cuaca masih terang dan tidak terlalu larut sore buk." Balas Fatima menjawab dengan suara yang begitu lembut
Setelah beberapa lama berbincang-bincang, akhirnya Fatima meminta ijin untuk pergi melanjutkan perjalanannya, karena ia juga khawatir jika nanti ia terlalu larut lama di tempat itu bersama ibu-ibu komplek karena ia berjalan tidak bisa lebih cepat dari sekarang.
"Saya ijin melanjutkan perjalanan saya lagi ya buk.
Takutnya hari nanti semakin larut sore dan hujan juga sepertinya akan turun" Ucao Fatima permisi dan melanjutkan perjalanan.
"Hati-Hati ya Fatima, ingat kamu jangan terlalu lelah berjalan dan jangan terlalu lelah, kasihan tu bayi kamu yang di dalam".
Ucap ibu Rima
Fatima pun melanjutkan perjalanannya dengan perlahan dan meninggalkan lokasi tempat ibu-ibu tersebut.
Hari pun kian berganti, Fatima semakin merasa tidak kuat lagi.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit untuk mencek dan menunggu hasil.
Setelah sampainya ia di rumah sakit, Dokter spesialis pun segera meneriksa keadaannya.
"Selamat pagi Dok, bagaimana hasilnya dok"
"Selamat pagi juga ibu Fatima. Hasilnya semua baik-baik saja. Dan ibu d sarankan untuk tetap berada di sini sampai ibu lahiran. Karena sangat di takutkan jika nanti ibu pulang dan tidak ada yang membantu. Ibu juga bisa melakukan lahiran secara Normal" Ucap Dokter menjelaskan kepada Fatima.
"Baik Dok. Namun saya harus memberi kabar kepd orang tu say terlebih dahulu, agar mereka dapat membawa perlengkapan lahiran bayi saya nantinya." kembali ucapnya.
Dan Dokter tersebut hanya membalas dengan senyum dan menganggukkan kepalanya.
Setelah beberapa waktu, dan setelah Fatima memberi kabar kepada orang tua nya ia kembali memasuki ruangan dimana tempat ia akan menunggu waktu persalinan.
Waktu terus berputar, hingga tiba pada saatnya Fatima melakukan lahiran dengan Normal.
Ia melahirkan seorang Bayi yang Cantik dan mungil.
"Wah, selamat ya ibu Fatima. Sekarang sudah sah menjadi ibu. Bayinya sangat Cantik sama seperti ibu nya." Ucap para Tim Medis yang ikut membantu persalinan
"Aaa sayaaang,, selamat sayang. Akhirnya kami punya cucu yang cantik dan semoga kelak menjadi anak yang bijaksana dan taat kepada orang tua ya sayang."
"Oh iya, suami kamu kemana Fat, apa kamu tidak memberinya kabar bahwa kamu sudah lahiran. Kenapa dia tidak pulang dan datang melihat bayi kalian?"
Ucap Ibu Fatima bertanya-tanya karena ia tidak melihat ada suami Fatima dari hari kemarin.
"Hmm, ia ma. Mas Suhendra sedang sibuk, jadii dia tidak bisa datang." Ucap Fatima dengan nada pelan karena tidak ingin orang tua nya mengetahui hal apa yang terjadi kepada mereka sejak awal pernikahannya itu.
"Mah, Boleh aku gendong bayi ku?"
"Ya tentu aja boleh dong sayang, tapi pelan-pelan yah, kamu kan masih belum kuat." sahut ibu Fatima dengan wajah yang sangat senang
"Kriiiiiiing,kriiiiiiinggg,kriiiiiiing."
Suara ponsel ibu Fatima berbunyi, dan ternyata yang menelfon adalah orang tua dari Suhendra.
"Halo Bu Ririn"
"Halo juga bu Asen" Ucap ibu Fatima membalas
"Bu Asen, Fatima di rawat di RS mana yah. Bolehkah nanti ibu kirimkan alamatnya. Saya dan suami ingin datang melihat menantu dan cucu"
Ucap ibu Mas Suhendra.
Setelah beberapa Jam kemudian, akhirnya kedua orang tua dari Suhendra tiba di Rumah Sakit dan langsung masuk kedalam ruang rawat Fatima.
Wajah mereka tampak sangat senang sekali, karena yang selama ini di nanti nanti akhirnya lahir juga.
Namun, beberapa saat kemudian kedua orang tua Subendra mulai merasa curiga dan bertanya-tanya.
"Fat, suami kamu di mana?"
Ibu dari tadi tidak ada melihatnya di sini. Tadi juga ibu sudah telfon tapi tidak ada respon dari dia?"
Dengan wajah yang mulai merasa sedih, Fatima hanya bisa menarik nafas dan berusaha tidak memberitahukan apa yang sedang terjadi.
"Mungkin mas Suhendra sedang sibuk ma, makanya telfon dari mama tidak di angkat."
"Kenapa wajah kamu tampak seperti ketakutan fat? Apa yang sedang terjadi? Kamu ceritakan sama mama."
Ucap Ibu Suhendra.
"Gapapa kok ma, Fatima hanya ingin istirahat saja."
Dengan wajah yang semakin mencurigai, Fatima berusaha mengalihkan pembicaraan dan matanya pun mulai berkaca-kaca.
Akhirnya Fatima membaringkan tubuhnya karena tidak ingin ada yang mengetahui apa yang sedang ia tutupi itu.
"Aduuuuuuh, cucu Oma yang cantik iniii. kamu cantik sekali seperti ibu mu nak."
"Benar ma, Wajahnya sangat persis seperti menantu kita Fatima. Hidung nya seperti Suhendra." Ucap Mertua Fatima
Ibu Fatima hanya tersenyum menyaksikan kebahagiaan mereka.
dimana ini adalah cucu pertama di keluarga Fatima dan juga di keluarga Suhendra
Bersambung..............