Beruntung hari ini hari minggu, jadi dia tidak perlu menahan sakit saat akan membuka prakteknya membantu menyembuhkan ‘anak-anak’nya.
Quin hanya membuka praktek dari hari Senin sampai hari Jumat, dimana hari Sabtu, hari Minggu dan hari libur, Quin menutup prakteknya, waktu khusus untuk kembarnya.
“Aw!” lirih Quin memegang bahunya yang nyeri diikuti punggungnya. Melihat dari cermin, menurunkan 1 tali gaun rumahnya, memang benar kalau bahunya memerah sedikit memar. Mengambil salep hendak mengoleskannya pada bagian yang sakit agar tidak menyiksanya lagi, namun harus tertunda dulu.
“Mommy~” Si kecil Loreene sudah memanggil.
Quin menunda dulu mengoles obatnya dan menemani anaknya untuk tidur. Hari ini, semenjak pulang dari supermarket, si kembar akan kalang kabut sendiri kalau tidak melihat Quin. Leone dan Loreene takut mommynya kembali terluka semenjak kejadian tidak terduga sore tadi.
“Mommy di sini, sayang” kata Quin pada Loreene yang memekik memanggil dari ruang TV.
“Mommy!” seru Loreene mengangkat tangannya minta dipeluk.
“Bayi-bayi Mommy sudah mengantuk? Kita bobok, sayang?” Quin mengelus rambut panjang Loreene yang Ia pangku.
“Mommy mau bobok juga? Ileene bobok sama Mommy kalau Mommy bobok juga sama Ileene, sama Leone,” jawab Loreene memainkan rambut ibunya.
“Leone mau bobok, sayang? Kita bobok sama-sama, heum?” Leone mengangguk memeluk ibunya.
Quin tersenyum melihat Leone dan Loreene menguap yang juga sudah masuk jam tidur keduanya. Pukul 9 malam.
“Ayo kita bobok, sayang,” kata Quin menggendong Loreene yang tetiba berontak.
“No, Mommy! Ileene mau jalan. Mommy no gendong Ileene. Mommy sakit, nanti gendong Ileene jadi sakit telus,” kata Loreene memegang tangan Quin untuk Ia gandeng.
“Ayo bobok, Mommy!”
Quin tersenyum haru dan menggandeng kedua anaknya ke kamar untuk tidur. Di kamarnya. Quin memang menyediakan kamar untuk masing-masing anaknya, namun Quin masih ingin keduanya tidur bersamanya.
‘Anakku masih bayi.’
Sebelum membersihkan diri, Leone dan Loreene akan minum s**u sebelum tidur dengan botol dot-nya yang tentu ditemani oleh Quin.
“Habis, Mommy!” sorak keduanya mengangkat botol dot masing-masing.
“Sikat gigi, cuci muka dan kakinya ya, sayang. Biar boboknya?”
“Tidak mimpi monster dan digigit semut, Mommy!” jawab keduanya serempak.
“Pintar!”
Quin menggantikan pajama bercorak minnie mouse warna pink untuk Loreene dan pajama bercorak spiderman warna biru untuk Leone. Tidak lupa mengoleskan minyak telon dan bedak bayi untuk keduanya.
“Nah! Kita pakai minyak gorengnya, lalu taruh tepung, lalu dibungkus!” kata Quin mengumpamakan minyak telon dan bedak bayi sebelum memakaikan bajunya.
“Hahaha... Leone jadi donat, Mommy!” tawa Leone yang baru siap dipakaikan baju.
Loreene ikut tertawa. “Ileene juga donat, Mommy! Donat setelowbelly. Leone jadi donat belubelly.”
“Iya, babies. Mommy suka donat strawberry dan blueberry, sayang-sayangnya Mommy.”
Memang sudah ngantuk di jam tidurnya, Loreene langsung lelap ketika Quin menepuk bokongnya. Quin mencium kening dan pipi Loreene. “Good night, Mommy’s princess. Sleep tight and sweet dreams, princess.”
Quin berbalik dan melihat kembarnya Loreene sudah terantuk tapi belum bisa menutup mata. “Ayo, sekarang gantian pangeran Mommy yang bobok.”
“Good night, Mommy!” lirih Leone mencium pipi Quin, memeluk leher ibunya.
Seperti Loreene, Leone juga langsung lelap saat Quin mengusap punggung kecilnya. Ia cium kening dan pipi Leone. “Good night, Mommy’s boy. Sleep tight and sweet dreams, boy.”
Quin berusaha turun dari tempat tidur dan keluar kamar tanpa membuat suara apapun agar tidak mengganggu tidur anaknya. Dia menuju ruang TV yang mana ada Emy dan Aly di sana untuk waktu santai mereka menutup hari.
“Hi! Pada nonton apa?” sapa Quin yang baru tiba.
“Halo, Nyonya. Ayo duduk di sini, Nyonya. Kita nonton acara komedinya bareng,” ajak Aly dan Emy berpindah ke sofa sisi kanan Quin agar Quin duduk di tengah mereka. Bisa makan cemilannya bareng.
“Busted-nya Korea ya?” tanya Quin yang dibenarkan.
“Benar, Nyonya. Lucu, seru, tapi juga menegangkan.”
Quin setuju dengan kata nanny-nya dan melirik pada keduanya siapa yang bisa Ia mintai tolong. Ternyata Emy sedang memakan snack-nya, berarti Aly.
“Al, bisa tolong aku oleskan salep ini ke punggungku?”
Aly mengangguk pasti. “Tentu, Nyonya.”
“Oh my! Nyonya! Kenapa bisa meram seperti ini?” Alisya kaget dengan punggung Quin yang membiru hangat.
Emy juga turut melihat punggung majikannya. Matanya pun membola melihat itu. “Astaga, Nyonya! Pasti sakit sekali!”
Quin tersenyum dan menggeleng. “Tidak terlalu sakit. Hanya sedikit saja,” bohong Quin.
“Ini karena kejadian di supermarket tadi kan, Nyonya?” tanya Emy yang diangguki Quin.
“Lebih baik aku yang kena daripada nyonya itu. Aku yang masih muda saja merasa sakit dan membiru seperti ini, kalau nyonya itu yang kena, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya punggung dan kepala beliau karena botol berat itu,” kata Quin yang penuh dengan simpati dan empati.
“Anda seperti jelmaan malaikat, Nyonya. Selalu rela berkorban untuk orang lain dan selalu melupakan diri sendiri,” puji Aly mengoleskan salepnya ke punggung Quin dengan sangat perlahan takut menyakiti Quin.
“Tapi harus mulai memikirkan diri sendiri, Nyonya. Kan saat ini Nyonya sudah tidak lagi sendiri. Nyonya punya Leone dan Loreene yang membutuhkan Nyonya. Jadi Nyonya harus tetap sehat dan kuat, jangan lagi sakit dan sudah harus memikirkan diri sendiri sama seperti memikirkan Leone dan Loreen, Nyonya,” nasihat Amy yang diangguki Quin.
“Iya. Terima kasih sudah mengingatkan Quin. Quin akan mulai menjaga diri sendiri seperti menjaga Leone dan Loreene,” kata Quin tersenyum manis.
Dia beruntung mendapatkan Emy dan Aly untuk menemaninya, mendampinginya, membantunya menjaga Leone dan Loreene, berperan bak seorang kakak untuk Quin. Quin menyayangi kedua nanny-nya itu terlepas dari statusnya majikan mereka.
♥♥♥
Di mansion paling mewah di seantero benua eropa yang bahkan mengalahkan mansion utama keluarganya, seorang pria paling disegani dan dihormati yakni Keenan Reymundo sedang duduk santai di balkon yang menghadap taman hijau.
Hanya berbalutkan bathrobe, dia menikmati angin malam ditemani oleh minuman beralkohol, minuman favoritnya. Di sisinya ada 1 gelas es, hp dan laptop yang menunjukkan grafik saham pekerjaannya.
“Permisi, Tuan. Berikut rekaman CCTV supermarket yang Anda minta,” lapor Marvel memberikan rekaman melalui iPad-nya.
“Apa yang kau dapat.” Ken berkata merujuk pada siapa orang yang menolong ibunya dan siapa pegawai lalai itu. Dia belum melihat rekamannya.
Meski sudah memiliki rekamannya, namun Ken akan selalu bertanya asal usul dari orang yang ada di dalam rekaman. Bertanya sebelum atau sambil melihat rekaman akan lebih menghemat waktunya.
“Pegawai yang lalai itu adalah pegawai baru yang lalai dan memang kejadiannya tidak sengaja seperti yang terlihat di rekaman dan setelah saya selidiki lebih dalam, pegawai itu tidak memiliki maksud dan niat buruk, Tuan. Murni memang kelalaiannya, bukan betujuan untuk menyakiti,” jelas Marvel lengkap sebelum kembali lanjut melapor.
“Dan untuk orang yang menolong Nyonya besar adalah Nona Queenaia, Tuan.” Ken reflek menoleh pada Marvel yang mengangguk pasti meyakinkan tuannya.
“Nona Queenaia ada di supermarket yang kebetulan sedang berbelanja bersama kedua anak dan nanny mereka.”
Keenan langsung mengecek rekaman CCTV yang benar kalau perempuan itu adalah Quin. Queenaia Roseanne yang belakangan ini memporak-porandakan hatinya.
Ia melihat bagaimana Quin yang dengan gesit melindungi ibunya. Bagaimana Quin yang terjatuh kesakitan karena kena timpah dengan botol-botol besar mengenai kepala dan punggungnya. Bagaimana Quin yang mengecek kondisi ibunya sebagai insting seorang dokter. Melihat si kembar yang menangis menyaksikan ibunya kesakitan dan melihat bagaimana Quin berlalu menenangkan anaknya sampai pergi dari sana.
“Lalu?”
“Lalu Nona Queenaia tidak mau menerima kompensasi pengobatan dari pihak swalayan dan terus mangatakan kalau beliau baik-baik saja. Begitu pula dengan Nyonya besar, Tuan. Sehingga pihak swalayan bertindak dengan memotong 80 persen dari total belanjaan,” lanjut Marvel menutup laporannya malam ini.
Melihat Quin yang kesakitan membuat Ken mengepalkan tangannya marah. “Buat perempuan itu dipecat dan tidak bisa bekerja dimana lagi sampai 3 tahun ke depan.”
Marvel menundukkan kepalanya. “Baik, Tuan.”
Ken kembali mengulang rekaman kamera supermarket itu dan kali ini fokusnya hanya ada pada Quin dan anak kembarnya Quin.
‘Quin, Quin, Quin.’
Ken menutup matanya membayangkan foto-foto Quin yang Ia dapat dari Marvel membuat bagian selatannya mengeras meminta pelepasan.
“Ergghhh! Hanya sebuah nama dan bayangan saja, tapi sudah sangat menyiksaku!” geram Ken membuka bathrobenya dan menceburkan diri ke kolam renang di hadapan untuk mengembalikan akal sehatnya yang belakangan menggila.