“Babies, hari ini Mommy akan pergi ke supermarket. Mau ikut Mommy atau di rumah dengan Nanny?” tanya Quin pada kedua anaknya yang baru selesai makan siang.
“Ikut, Mommy!” seru Loreene mengangkat kedua tangannya.
“Leone ikut juga kan, sayang?”
Leone mengangguk tenang. “Loreene ikut, Leone juga akan ikut, Mom. Leone mau jaga Mommy dan Loreene.”
Quin tersenyum mencium putranya. “Ayo kita bersiap, babies.” Quin juga membawa kedua nanny si kembar.
Emily, nanny yang menjaga Leone dan Alisya, nanny yang menjaga Loreene. Nanny yang dipekerjakan Quin saat si kembar beranjak 1 tahun. Quin tidak lagi mau merepotkan perawat-perawatnya.
Sekitar setengah jam berkeliling, kedua keranjang belanjaan yang dibawa oleh Emily dan Alisya yang di dalamnya ada Leone dan Loreene sudah terisi setengah. Membeli belanjaan untuk 1 bulan ke depan. Mulai dari sayur, buah, ikan, daging, perlengkapan bahan dapur, perlengkapan rumah dan tentu jajanan anak-anak.
“Emy, Aly, kalian juga ambillah apa yang kalian inginkan,” kata Quin pada 2 orang berjasa yang membantunya mengurus si kembar. Sudah Quin anggap seperti kakak sendiri. 6 tahun lebih tua dari Quin. Tapi luar biasa lincah dan gesit.
“Terima kasih, Nyonya. Tapi kami tidak ada yang ingin dibeli,” kata Alisya.
“Benar, Nyonya. Terima kasih,” lanjut Emily.
Quin menggeleng keberatan. “Tidak, tidak. Pokoknya saat aku membayar, aku juga harus melihat barang kalian di 2 keranjang ini. Aku tidak menerima protes,” perintah Quin tidak mau dibantah.
“Baik, Nyonya. Terima kasih, Nyonya.” Quin tersenyum mengedipkan matanya pada kedua nanny-nya itu.
Saat ini, kelima orang itu berada di lorong rak khusus menjual jajanan.
“Mommy, lice klekel mau. Ileene suka,” pinta Loreene menunjuk yang rice cracker yang Ia inginkan.
“Mau juga, Mommy! Leone mau bebe roll yang blueberry juga!”
“Ileene mau juga, Mommy!”
“Emy, Aly, kalian pergilah cari dan ambil semua yang kalian inginkan. Biar aku di sini dulu sama anak-anak. Kalian tahu betapa lamanya untuk melayani pangeran dan tuan putri ini,” kata Quin yang dipatuhi keduanya.
“Baik, Nyonya.”
“Mau yang mana lagi, anak-anak Mommy?” tanya Quin mengambil beberapa jajan yang aman untuk anaknya.
“Snackimals mau, Mommy.” Leone bersuara.
“Ya, ya, Mommy. Mau!”
Saat Quin hendak mengambil kotak s**u untuknya, Quin melihat ada pergerakan aneh dari atas sebelah kanan. Tumpukan botol yang bergerak akan segera jatuh dari tempatnya, namun ada seorang wanita paruh baya yang berdiri tepat di bawahnya.
“Nyonya, awas!” seru Quin berlari melindungi nyonya itu dari runtuhan botol-botol yang ternyata di balik rak itu ada seorang pegawai yang sedang menyusun barang di belakangnya dan tidak memperhatikan barang yang Ia dorong.
“Aw!”
“Mommy!” pekik si kembar tidak bisa berbuat banyak karena mereka terperangkap pada dudukan besi di keranjang belanjaan.
“Oh my God!” Wanita yang awet muda itu memeluk Quin meski sudah terlambat karena Quin sudah terkena hantaman kuat botol minuman.
“Apa Anda baik-baik saja, Nyonya?” tanya Quin tidak mempedulikan keadaannya.
Para pegawai di sana pun segera berlari menghampiri Quin dan wanita itu untuk memeriksa keadaan keduanya yang terluka karena kelalaian mereka.
“Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?” tanya para pegawai membantu Quin yang sudah terjatuh dalam posisi berlutut dan melihat Quin yang terus memegangi kepalanya.
Quin melupakan rasa sakitnya dan berdiri memeriksa keadaan wanita yang Ia tolong. “Aku baik. Aku tidak apa. Bagaimana dengan Anda, Nyonya? Anda tidak terluka kan?” tanya Quin khawatir.
Sebagai seorang dokter, dia harus lebih mengutamakan orang lain dibanding diri sendiri. Lagian Quin tidak mungkin tega membiarkan wanita berumur itu terkena tumpahan botol-botol berat.
Wanita itu mengangguk. “Aunty baik-baik saja, nak. Terima kasih sudah menolong Aunty hingga kamu kesakitan. Maafkan Aunty, nak.”
Quin tersenyum menenangkan. “Tidak masalah, Nyonya. Syukurlah Anda baik-baik saja.”
Quin segera menoleh pada kembarnya yang sudah menangis. “Huaaaa... Mommy! Huhuhu...”
“Saya izin permisi dulu, Nyonya. Hati-hati, Nyonya dan selamat sore,” pamit Quin sopan segera menghampiri kedua anaknya bertepatan dengan kedatangan kedua nanny-nya.
Quin meminta Emy dan Aly untuk pergi membayar sementara dia membawa si kembar ke mobil lebih dulu untuk menenangkan mereka yang masih menangis mengira dia terluka parah.
Karena kejadian tadi, pihak swalayan memotong total biaya pembelian Quin sebanyak 80 persen karena Quin tidak mau menerima kompensasi kecelakaan yang dialami Quin dari pihak swalayan dalam bentuk uang.
“Mommy... huhuhu... apa Mommy sakit? Mommy tidak beldalah kan? Mommy dipukul botol nakal tadi, Mommy. Mommy sakit pasti. Huhuhu...”
“Mommy, are you okay? Mana yang sakit, Mommy? Biar Leone dan Loreene obati biar sembuh.”
Loreene mengangguk memeluk ibunya. “Ileene obati bial sembuh, Mommy. Ileene tiup yang sakit, Mommy.”
“Mommy... hiks...” Leone pun turut memeluk Quin, bahkan mengusap kepala ibunya yang kena tumpukan botol.
“Pasti sakit sekali kan, Mommy?” Masih teringat jelas bagaimana suara botol itu menimpa ibunya.
“Manisnya, anak-anak Mommy.” Quin mencium kedua anaknya.
“Mommy baik-baik saja, babies. Jangan khawatir. Mommy juga tidak merasa sakit. Mommy tidak kesakitan. Mommy kan kuat,” kata Quin tersenyum sombong.
“Mommy lie me. Iya kan?” Loreene tetap tidak percaya.
“No, baby. Kalaupun Mommy sakit, coba kiss Mommy. Pasti Mommy akan langsung sembuh dalam sekejap.” Saat itu pula Quin mendapat serbuan ciuman dari si kembar yang kalau boleh sedikit melebih-lebihkan, rasanya sakit Quin itu langsung hilang.
“Oh my God! Langsung sembuh Mommynya. Thank you, my babies!” Quin tersenyum lebar memeluk kedua bayinya.
“Leone love Mommy!”
“Ileene love Mommy too, Mommy!”
Pada saat itu juga kedua nanny si kembar, Emy dan Aly kembali menenteng belanjaan. Mereka berdua juga turut menanyakan kondisi Quin yang jawabannya tetap sama. Quin selalu menjawab dia baik-baik saja dan tidak merasa sakit.
Padahal kalau boleh jujur, Quin kesakitan. Kepala dan punggungnya sakit. Quin bisa menjamin kalau punggungnya akan memar nanti malam. Kepalanya sakit tapi tidak sampai membuatnya pingsan. Dia tidak selemah itu.
♥♥♥
Di sisi lain, wanita paruh baya yang ditolong Quin itu sedikit takut dan memilih untuk tidak lanjut berbelanja lagi. Tangannya sampai gemetar dingin, padahal dia baru tiba 15 menit lalu dan mengambil beberapa makanan ringan yang disukai oleh suaminya lalu pergi membayar.
“Ken, tolong jemput Mommy di Inn supermarket,” kata wanita itu sedikit cepat.
“Mom! Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Wanita itu tidak menjawab karena segera mematikan teleponnya, giliran untuk membayar.
Saat wanita itu menuju pintu keluar, 5 mobil hitam masuk ke area parkir sampai pemimpin mereka keluar dan memeluk wanita yang meneleponnya.
Ken memeluk wanita paruh baya yang meneleponnya tadi. Ibu dari Keenan Reymundo, Bella Reymundo.
“Ada apa, Mom? Ada yang menyelakaimu? Kenapa keluar sendirian dan tidak membawa pelayan dan penjaga juga.” Ken ingin mengomel, tapi tidak bisa.
“Ayo.” Ken membawa ibunya ke dalam mobil dan meminta sopir beserta para bawahan untuk segera kembali ke mansion.
“Ada apa, Mom? Ceritakan perlahan padaku. Apa yang membuat Mommy takut dan siapa yang hendak menyelakai Mommy. Dan lagi, dimana Dad? Kenapa mengizinkan Mommy keluar sendirian tanpa ada pendamping. Bahaya, Mom. Mommy tahu siapa Daddy dan aku. Bahaya bisa muncul dimanapun dan kapanpun setiap ada kesempatan.” Akhirnya keluar juga omelan itu.
Sang ibu menenangkan dirinya lebih dulu dengan bantuan sang putra yang tiada henti mengusap tangannya.
“Mommy yang salah, boy. Mommy yang sengaja tidak membawa pelayan dan penjaga karena Mommy pikir cuma mau berbelanja cemilan sebentar saja. Mommy juga tidak permisi pada Daddy yang sedang pergi keluar bertemu dengan sahabat-sahabatnya para lelaki. Dan tadi sebenarnya tidak ada masalah, hanya kecelakaan kecil saja. Mom-”
“Kecelakaan apa, Mom? Apa Mommy terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” Bella tersenyum menepuk pelan punggung tangan putranya.
“Makanya dengarin Mommy dulu, Ken! Kamu ini gak suka dipotong, tapi potong Mommy bicara. Mommy belum siap ngomong padahal,” kesal Bella sudah mengomel bak mak-mak.
“Okay. Okay. Sorry, Mom,” sesal Ken tidak berani melawan lagi.
“Mommy tadi tidak sengaja hampir kena timpa dengan tumpukan botol minuman yang besar dan berat yang masih terisi semua. Hampir saja Mommy kena, Ken. Kalau tidak ada seorang wanita muda yang membantu Mommy, menggantikan Mommy, melindungi Mommy menjadi korbannya. Dia kesakitan, tapi malah menanyakan kondisi Mommy tanpa mempedulikan kondisinya yang kesakitan. Mommy bahkan masih ingat suara timpahannya, sangat kuat dan keras.”
“Kenapa bisa ada botol-botol yang jatuh?” tanya Ken ingin tahu lebih rinci.
“Pegawai yang lalai. Di balik rak itu, ada pegawai yang juga sedang mengisi rak yang kosong dan tidak sadar sudah mendorong barang di belakangnya yaitu botol-botol yang akhirnya jatuh menimpa wanita itu menggantikan Mommy. Kalau kena, Mommy jamin Mommy sudah di rumah sakit karena pingsan. Tapi wanita itu sangat kuat, baik dan manis pula!” Bella masih sempat-sempatnya memuji membayangkan sosok Quin yang tentu belum Ia ketahui namanya.
“Mommy tahu siapa perempuan itu?”
Bella menggeleng. “Sayangnya tidak. Mommy tidak sempat berkenalan. Jangankan berkenalan, mengatakan terima kasih saja tidak sempat. Dia menanyakan kondisi Mommy, dan terus mengatakan dia tidak papa dan dia langsung pergi saat ada 2 anak-anak menangis memanggilnya mommy. Sepertinya wanita muda itu sudah mempunyai anak, kembar sepasang pula,” kata Bella terus membayangkan kejadian tadi.
Sedangkan Ken, mendengar kata ibunya wanita muda dengan sepasang anak kembar membuatnya kembali mengingat Quin dan si kembar dan memang tanpa mereka sadari, orang yang sedang mereka bicarakan itu adalah orang yang sama.
“Yasudah. Jangan dipikirin lagi, Mom. Yang penting Mommy tidak terluka dan ingat lain kali untuk tidak berpergian sendiri meski hanya keluar 5 menit. Ken tidak mau kejadian ini kembali terulang, Mom,” tegas Ken pada sang ibu.
Bella mengangguk pasrah memeluk putranya yang sangat mengkhawatirkannya. “Maafkan Mommy, boy. Mommy sudah membuatmu khawatir.”
Ken menghela nafas lega karena tidak terjadi sesuatu buruk dengan ibunya.
“Cari tahu kejadian yang menimpa ibuku di Inn supermarket!” perintah Ken pada Marvel setelah mengatar ibunya sampai mansion dengan selamat dan menceritakan kejadiannya pada sang ayah yang harus tahu semua yang terjadi pada istrinya.