"Teh chamomile. Aku nggak tahu kamu suka atau engga, tapi semoga.”
Nana meletakkan gelas di meja kerja Gavin. Pria itu langsung merespon, hanya menggerakkan pandangannya sekilas ke arah teh itu sebelum kembali menatap layar laptopnya, mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
“Vin,” panggil Nana.
Gavin tidak diam. “Kerjaanmu masih banyak?”
Tanpa menoleh, Gavin mengangguk. Lalu, ia melirik Nana dan menaikkan alisnya sebelah. Seakan bertanya apakah itu masalah untuk wanita di hadapannya.
“Jalan-jalan yuk. Mumpung di Bali. Kerjanya nanti lagi,” ajak Nana penuh keceriaan.
Gavin menghela napas. “Saya gabisa. Kamu aja sana,” jawabnya sambil mengurus pekerjaannya.
“Ei, libur dulu aku bilang. Emang deadlinenya kapan? Dari sebelum acara kamu sibuk terus,” keluhnya.
“Nana, saya tuh–”
“Ya ya ya ya, aku tau, Gavin. Aku juga bakalan sibuk nanti. Ayolah, lepas dulu kerjaannya. Akukan pengen ngobrol juga.”
Nana menutup telinganya, berpura-pura tak mau mendengar alasan Gavin. Gavin yang berniat menjelaskan justru menghela napas lebih panjang daripada sebelumnya. Ia menutup laptopnya dengan gerakan pelan tetapi penuh beban.
“Gaada yang perlu diobrolin. Pernikahan ini cuman sementara,” katanya datar.
Nana mendengus, menatap Gavin kesal. “Ish kamu tuh. Kita sama-sama tau kalo pernikahan ini cuman soal bisnis, tapi aku kan harus tau kamu itu gimana.”
Gavin kembali membuka laptopnya. “Cari di internet. Gaada yang beda.”
Nana mengerucutkan bibirnya kesal. “Ayolah, Gavin. Walau sementara kamu taukan aku bukan cuman sekedar ‘istri’mu? Keempat orang tua itu mau yang lebih,” kesal Nana.
“Ayo buat perjanjian” ajakan Nana membuat Gavin bingung. Nana mengambil kertas HVS di dekat laptop Gavin dan menuliskan sesuatu penuh semangat. Gavin menunggunya dalam diam. Nana memberikan kertas itu kepadanya untuk dibaca dengan seksama. Kertas itu diberikan judul “Perjanjian” dan terdapat beberapa poin di dalamnya.
1. Gavin dan Nana harus bersikap layaknya suami istri ketika ada orang lain di sekitar mereka
2. Gavin dan Nana harus saling menghargai dan menghormati privasi masing-masing
3. Gavin harus mengikuti terapi yang Nana berikan selaku dokter pribadinya
4. Nana bertanggung jawab atas segala kebutuhan Gavin
5. Gavin dan Nana harus saling terbuka dan menjadi teman.
Poin pertama dan kedua okay. Poin ketiga rancu, tetapi Nana sejak awal adalah dokternya Gavin. Poin terakhirlah yang jadi pusat perhatian Gavin. Astaga, omong kosong apalagi kali ini? Teman? Aneh banget nih cewek, batin Gavin sambil menyiritkan keningnya.
“Gimana? Kamu setuju kan?” Mata Nana terlihat berbinar.
“Teman? Jangan aneh-aneh, tidak ada yang spesial tentang saya,” kata Gavin sembari menyerahkan kertas tadi kepada Nana lagi.
“Vin, walaupun gaada yang spesial, aku kan bakalan tinggal sama kamu. Kalo aku gatau apa-apa soal kamu gimana coba?”
Gavin tidak menjawab. Nana mulai menghela napas fristasi, menekan kedua telapak tangannya ke meja dengan sedikit lebih kuat. “Ish, ayoklah tanda tangan saja dulu! Aku mau tinggal dengan manusia bukan tembok.”
Gavin menutup matanya sejenak, mencoba bersabar. “Sekali aku bilang tidak tetap tidak, Nana.”
“Ayolah, Gaviiiin.” Nana mulai merengek.
“Vin, ayolah, tinggal tanda tangan aja apa susahnya sih,” bujuk Nana.
“Berisik! Siniin!” Gavin mengambil lagi kertas itu dan mulai mengetiknya, lalu mencetaknya. Ia kemudian menandatangani kertas itu dan memberikannya pada Nana.
“Yeay! Deal ya!” Nana ikut menandatanganinya dan mengulurkan tangan pada Gavin. Gavin hanya melihat tangan itu. Nana segera meraih tangan itu dan berjabat tangan dengan suaminya itu. Gavin mengangguk-anggukkan kepalanya.
.
Arunika hadir di ufuk timur. Nana membuka kedua netranya. Wanita cantik itu mendudukkan tubuhnya dan mengitarkan pandangannya ke seluruh pejuru kamar. Dahinya menyerengit kala mendapati dirinya hanya sendirian di dalam sana. ‘Gavin mana?’, batin Nana. Ia mengucek matanya sembari beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Ingatannya kembali pada kejadian dua hari lalu saat tiba di Jakarta.
“Nana, saya mau bicara.” perkataan Gavin menghentikan langkah Nana yang hendak pergi ke dapur.
“Ada apa, Vin? Kamu mau minum juga?” tanya Nana sembari menghampiri Gavin. Kemudian, ia duduk di atas sofa di dekat Gavin.
“Saya mau mengajukan hal lain.” Nana menyiritkan keningnya.
“Apa?” Gavin menatap ke arah Nana.
“Kamu tidur di kamar itu, di samping kamar saya.” Nana menganggukkan kepalanya.
“Okay.”
“Kamu ga masalahkan?” Nana tertawa ringan.
“Ayolah, siapa sih yang kemarin ga peduli banget sama aku. Gapapa lagi, Vin santai aja. Udah ah yuk istirahat.” Nana bangun dari duduknya dan membantu mendorong kursi roda Gavin ke kamar pria itu.
Nana menghela napas kala mengingat itu. Ia menatap pantulan diri di cermin, sebelum akhirnya memutuskan untuk membasuh tubuhnya. Ia keluar menuju dapur. Dua hari berturut-turut kemarin, pelayan yang menyiapkan sarapan untuk Nana dan Gavin. Nana akhirnya bergabung dengan para pelayan dan menyiapkan sarapan khusus untuk Gavin. Ia menyiapkan maple pancake. Tak lama, pintu kamar suaminya itu terbuka, menampakkan sosok Gavin yang dibantu oleh pelayan pribadinya.
“Hai, pagi” Gavin tidak menjawab. Nana mengerucutkan bibirnya kesal. Gavin menuju dapur dan hanya mengambil kopi yang disiapkan pelayan.
“Gavin, ayok sarapan duluu,” panggil Nana sambil mengikuti kursi roda Gavin.
“Ada rapat. Saya berangkat,” jawabnya datar. Nana berhenti di depan pintu rumah saat Gavin sudah masuk ke dalam mobil.
Hari berikutnya pun sama. Pagi-pagi sekali Gavin sudah berangkat kerja. Usahanya gagal lagi. Hingga seminggu kemudian, ritmenya masih saja sama. Nana bangun pagi dan masak, sementara Gavin tidak peduli akan sarapannya. Hanya kopi yang selalu dibawanya.
“Huft... Tuanmu itu, menyebalkan. Aku selalu memasak untuknya malah dianggurin.” gerutu Nana sambil memakan pancake buatannya sendiri.
“Sudahlah, Nyonya. Tuan memang seperti itu. Beliau hampir tidak pernah sarapan bahkan sejak kecil,” ujar kepala pelayan yang kerap disapa Bi Tuti itu. Nana menatap pelayan itu heran.
“Kok bibi tau?” tanya Nana penasaran.
“Saya sudah mengabdi dari Tuan Gavin kecil, Nyonya. Beliau hanya akan sarapan kalau dipaksa oleh den Ricky, itu pun kadang mau kadang tidak” jawab Bi Tuti, sembari fokus menyajikan makanan di hadapan Nana yang sudah selesai dengan pancakenya.
“Ricky?” Nana bingung. Ia berusaha mengingat-ingat nama saudara laki-laki suaminya itu. Bi Tuti terdiam. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Nana.
“Ah, Nyonya pasti belum diberi tahu ya?” Nana menatap Bi Tuti kebingungan.
‘Den Ricky...? Bukankah Gavin cuman tiga bersaudara?