Rembulan malam ini begitu indah. Nana baru tiba setelah shift tiga puluh enam jamnya. Tubuhnya terasa remuk karena harus menjadi asisten di dua operasi besar. Nana melangkahkan kaki ke kamar untuk membersihkan diri. Selesai dengan itu, ia pergi ke dapur dan mencari camilan. Nana mengambil yogurt dan memakannya di ruang makan. Bosan, ia memilih pergi ke belakang rumah. Matanya tertuju pada ruang peliharaan. Senyumnya merekah, sembari langkahnya mendekat. Ia mendapati ada beberapa anak kucing. Hendak membuka pintu, Nana malah terkejut akan suara klakson mobil. Nana tersentak. Tangannya reflek menekan dadanya, mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba melonjak.
“Loh, kamu baru pulang?” sapanya.
Gavin turun dari mobilnya, raut wajahnya terlihat sedikit lebih kusam dari biasanya. Nana menghampiri dengan langkah santai, namun waspada. “Kamu sendiri ke mana kemarin? Masih inget pulang?” Gavin melontarkan pertanyaan sinis tanpa basa basi. Nana mengambil napas dalam. Sabar, harus sabar ngadepin suami lu ini, Na, batinnya.
“Akukan udah ngomong dan ngabarin ke kamu. Aku ada shift panjang, harus jadi asisten operasi. Baru sampe ini.” Suaranya terdengar lembut, berusaha menghindari konflik.
Gavin tak langsung menanggapi, hanya menghela napas. “Oh,” jawabnya datar. Jawaban itu sukses membuat Nana kesal. Tapi ia memilih mengabaikan rasa jengkelnya, sambil menjaga nada suaranya.
“Ngapain di sini?” Tanya Gavin ketus melihat Nana masih tetap di tempat.
“Mau bantuin kamu ganti bajulah,” ujar Nana santai. Gavin hanya menatapnya penuh telisik.
“Ada Juan. Sana keluar!” bentaknya. Juan, pelayan pribadi atau mungkin bisa dikatakan perawat pribadi Gavin yang hampir dua puluh empat jam ada di samping pria itu demi menjaganya.
“Ish! Iya aku keluar. Makan malem sama aku loh ya!” kata Nana sambil menghentak-hentak kakinya kesal keluar dari kamar Gavin.
“No, saya udah makan.” Nana berhenti tepat di depan pintu. Ia mengambil napas panjang.
“Bodo amat kamu udah makan atau belum aku gamau tau. Kamu harus makan malem sama aku titik!” Kata Nana dengan penuh penekanan.
“E.. tuan” suara Juan membuat Gavin yang sejak awal terdiam kaget mengalihkan pandangannya.
“Apa?” ketus Gavin, tangannya membuka kasar dasi dan melepas jasnya kesal.
“Sepertinya Anda harus ikut makan malam kali ini.” Gavin menghentikan gerakannya saat pelayan pribadinya itu berucap.
“Saya gamau,” datarnya yang kemudian dibantu oleh Juan untuk membersihkan diri.
Nana sudah pergi ke dapur. Ponselnya bergetar, pesan dari Dave –sekretaris Gavin– membuatmya geram.
Nyonya, maaf baru menjawab pesan Anda
Tuan Gavin sejak siang tadi belum menyentuh
makanannya, saya sudah mengingatkan, tetapi
Tuan menolak
Nana menghela napas lagi untuk kesekian kalinya. Sampai berbohong? Dasar. Tidak akan aku biarkan, batin Nana. Nana kembali ke kamar suaminya itu dan mengambil alih pegangan kursi roda yang itu dan membawanya ke ruang makan. Gavin jelas terkejut. Baru saja ia ingin protes, ia malah melihat wajah menyeramkan Nana.
“Diam, makan. Atau aku laporkan kalau kamu gamakan seharian ke bang Jay,” tegas Nana, matanya menatap tajam pada Gavin. Niat mau menjawab kalimat Nana, wanita itu malah memasukkan suapan nasi goreng ke mulutnya.
‘Yah, lebih baik begini. Kalau Jay tau, hidupku akan semakin berisik.’
.
Gavin tidak paham lagi. Hidupnya benar-benar berubah semenjak Nana mulai tinggal bersamanya. Setiap pagi, wanita yang menjadi istrinya itu selalu memaksanya untuk sarapan. Walau tidak dihiraukan masih saja dilakukan. Lalu sekarang, dirinya dipaksa untuk makan malam bersama dengan Nana. Bukan makan malam mewah, hanya seporsi nasi goreng rumahan dengan telur mata sapi.
“Vin,” panggil Nana. Gavin hanya menatap datar ke arah istrinya.
“Enak ga?” Tanya Nana sembari menyantap makan malamnya.
“Cukup untukku,” balas Gavin dengan nada datarnya. Tangannya bergerak menyuap makanan sedikit demi sedikit. Tidak mendengar suara lagi, Gavin mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Nana.
“Kalau mau tau sesuatu, tanya saja.”
Nana terkejut dibuatnya. ‘Apa-apaan itu? Dia bisa membaca pikiranku?,’ batinnya.
Ia berusaha menahan diri. “Kayaknya besok saja. Malam ini kamu keliatan capek banget.”
Gavin terlihat tidak percaya. Ia menaikkan sebelah alisnya. “Bilang aja, Na.”
Nana terlihat ragu. Ia meraih gelasnya dan minum sejenak sebelum akhirnya berucap kembali. “Mommy bilang mau ke sini besok.”
Gerakan tangan Gavin terhenti di atas piring. Wajahnay menengang sepersekian detik, dan Nana melihatnya. Tapi, Gavin segera menetralkan ekspresinya sebelum menyua kembali makanannya.
“Ya sudah. Besok juga weekend, saya ga ke kantor,” balas Gavin. Nana mengangukkan kepalanya semari menatapnya.
‘Ini hanya perasaanku saja atau memang dia terlihat tegang mengetahui ibunya datang?’
.
“No, Allen gamau”
“Ikut saya”
“Engga, gamau”
“Diam kamu!”
“Baba, Mama!”
Gavin terbangun duduk dari tidurnya. Napasnya tidak beraturan. Keringatnya juga bercucuran tanpa permisi. Gavin menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya menatap ke arah jam di meja samping ranjangnya. Jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Ia menghela napasnya, menutup wajahnya dengan sebelah tangan. ‘Mimpi itu lagi.’ Batin Gavin.
Gavin membawa tubuhnya untuk duduk di kursi roda dan keluar dari kamarnya. Tangannya menggerakkan kursi roda menuju dapur. Ia haus, tetapi matanya malah menangkap seonggok manusia yang tertidur di ruang tamu. Gavin menghela napasnya lagi. Ia mendekat dan mengambil bantal sofa dan melemparnya pada manusia yang terlelap di atas sofa itu.
“SAPI TERBANG!” Orang itu terperanjat dan melihat siapa yang ada di hadapannya. Ia menunjukkan senyum cengengesannya.
“Eh, adek. Tumben bangun jam segini.” Gavin diam saja dan menatap datar orang di hadapannya itu.
“Ngapain lu ke sini?” Tanya Gavin dengan ketus.
“Ya, nyamperin lo lah, Dek. Apalagi coba,” jawab orang itu.
“Kapan sampe?” Gavin bertanya sambil pergi dari sana. Orang tadi itu mengikuti langkah Gavin yang dipanggilnya “Dek” itu.
“Tadi malem. Gue liat lu udah tidur. Tapi, bini lo mana? Kok ga ada di kamar?” Tangan Gavin membuka kulkas dan mengambil dua kaleng minuman soda dan melemparkan satu pada orang tadi.
“Ga tidur bareng,” jawab Gavin singkat. Pria yang berperawakan lebih tua darinya itu menganggukkan kepala, tangannya bergerak membuka kaleng soda tadi.
“Kalian udah nikah masa pisah kamar?” Gavin menatap pria itu datar.
“Kalau cuma mau nasehatin gua, you better get out of here, Jay.” (Kalau cuma mau nasehatin gua, lebih baik kau angkat kaki dari sini, Jay). Pria itu –Jay– ternyata kakak kedua Gavin, kembali tersenyum melihat tingkah adiknya.
“Ayolah, santai sedikit ngapa. Udah lama ga ketemu masih aja sinis.” Jay menarik salah satu kursi, duudk berhadapan dengan Gavin yang hanya diam.
“ Mommy mau ke sini nanti sekitar jam 7an, lo... gapapa kan?” Tanya Jay yang begitu menyiratkan kekhawatirannya.
“Gapapa, kalo kenapa-napa gua ga di sini,” ketusnya sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Bini lo.. udah tau soal...”
“Soal keluarga kita?” Jay mengangguk, mengiyakan pertanyaan adik bungsunya.
“Lebih baik begini, jangan coba-coba buka suara.” Peringat Gavin.
“Okay....” Jawaban Jay menjadi akhir dari percakapan mereka. Tanpa disadari oleh sepasang kakak beradik itu, ada yang menguping seluruh percakapan mereka.
‘Keluarga Crawford terlalu misterius,’