Hening.
Nana menatap punggung Gavin yang duduk di kursi rodanya. Pria itu tetap dengan wajah dinginnya. Seolah tak ada yang bisa menyentuh hatinya. Ia menghela napas. Tiga bulan sudah pernikahan mereka berjalan, meski tinggal di bawah atas yang sama, Gavin tetap membangun benteng di antara mereka.
Kapan tepatnya aku mulai mengenalnya lebih dalam?, batin Nana. Pikirannya berkelana. Sosok Gavin yang sekarang begitu berbeda dengan pertama kali ia melihatnya. Dulu, pria itu bukan hanya sekadar dingin – tetapi juga lemah, kesakitan, dan tidak berdaya. Perlahan, ingatan itu menyeruak kembali. Membawa Nana ke hari pertama ia bertemu dengan suaminya.
Aroma antiseptik menyambutnya. Cahaya putih terang menyilaukan matanya. Gavin mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya sadar bahwa ia masih ada di rumah sakit. Napasnya terasa berat. d**a kiriya sedikit sesak, sisa dari serangan asma berat yang belum lama ini ia alami. Aroma ini... aroma yang paling kubenci, batinnya. Ketika hendak menutup matanya kembali, ruang perawatan intensifnya itu dibuka. Beberapa orang berseragam dokter masuk ke dalam sana, sepertinya dokter muda atau coas, ditemani oleh satu dokter yang sudah dirinya kenal sejak lama.
“Selamat pagi, Tuan Allen. Bagaimana perasaan Anda hari ini?” tanya Professor Joko–dokter itu. Salah satu dokter muda yang ikut dengannya diminta untuk mengecek segala organ vital Gavin.
“Semuanya baik, ini...,” jawabnya pelan. Suaranya sedikit serak. Ia mencoba menggerakkan tangannya, mencari posisi yang lebih nyaman. Dengan sigap, salah satu perawat pria yang ikut menyertai deretan para dokter itu bergerak dan membantu Gavin mengubah posisi kasurnya menjadi sedikit tegak.
“Kenapa... harus ramai?” tanyanya lirih, matanya menyapu ruangan.
“Kunjungan seperti biasa aja, Tuan.” Gavin menganggukkan pelan. Matanya tertarik pada sosok wanita yang berdiri di samping Prof. Joko. Pandangannya menajam, mencoba mengenali wajah asing itu.
“Ei, saya baru tau kalau kamu sekarang suka lirik-lirik anak coas, Tuan Allen,” gurau Prof. Joko.
Gavin tersenyum kecil, “Panggilan itu lagi. Saya sudah bilang, panggil saja Gavin. Kan cuma sisa saya aja yang Gavin,” guraunya balik.
Sisa saya aja yang Gavin...
Nada suaranya terdengar ringan tetapi di baliknya tersimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Prof. Joko tersenyum, sebelum akhirnya wanita di sampingnya angkat bicara. “Baiklah, Tuan. Sementara waktu, Tuan akan diobservasi di sini hingga kondisi asmanya lebih stabil. Setelahnya baru bisa pindah ke ruang perawatan biasa.” Nadanya tersengar ramah, tetapi profesional.
“Ah, maaf. Saya dokter Anastasiya Cassey Wood. Rekan-rekan biasa memanggil saya, Nana.” Nama itu terdengar asing, tetapi terasa... berbeda? Gavin mengangukkan kepalanya. Ia menggerakkan tangannya yang sedang di balut. Para dokter muda di sana kebingungan. Prof. Joko hanya tertawa pelan melihat pasien lamanya itu.
“Maksudnya Tuan Gavin, kapan balutan itu harus dibuka?” ujarnya.
Gavin menganggukkan kepalanya. Prof. Joko kembali bersuara, “Seperti yang saya bilang sebelum Tuan masuk rumah sakit karena asma, tangannya itu kena CTS atau peradangan saraf median. Karena kondisi gejalanya terlihat memburuk, ini dibalut dan ada splint sekitar 2-4 minggu. Nanti akan saya arahkan dokter fisioterapi juga untuk terapi geraknya agar tidak kaku. Kalau sudah tidak bergejala maka boleh dilepas. Okay? Ada lagi?”
Gavin menggeleng, “Tidak.”
“Kalau ada keluhan apa pun, lapornya sama dokter ini ya. Dia yang akan megang Tuan. Tenang, dia masih dibawah pengawasan saya kok.” Gavin mengangguk, menatap dokter yang ditunjuk oleh Prof. Joko tadi–Dokter Nana.
“Okay, selamat istirahat kembali. Sarapannya nanti dimakan ya. Cepat sembuh,” pamit Prof. Joko bersama rombongannya.
“Kamu... ga ikut?” Tanya Gavin pada Dokter Nana yang masih tinggal di sana.
Nana menggelengkan kepala, “Saya diminta stand by di sini. Mungkin saya akan keluar masuk, gapapakan?” Gavin mengangguk saja.
“Asal jangan berisik.” Final Gavin sebelum akhirnya memejamkan matanya kembali. Obatnya masih begitu bereaksi, hingga ia kembali mengantuk.
.
“Heh! Bengong aja sih,” sapa seseorang sambil menepuk bahu wanita yang duduk termenung di salah satu meja kantin.
Wanita itu adalah Nana. Ia tersenyum saat melihat kawan baiknya, Prichilia alias Chicil. Sahabatnya itu datang dengan bungkusan berisi pastry untuk makan siangnya dan Nana. Chicil mengeluarkannya dan meletakkannya di atas meja.
“Makasih,” ucap Nana menerima croissant yang dibawa Chicil.
“Diem aja kenapa sih? Ada masalahkah?,” tanya Chicil.
Nana tersenyum dan menelan makanan di mulutnya terlebih dahulu, “Gaada yang baru sih, nemu pasien unik aja hari ini,” balasnya.
“Unik? Banyak kali pasien unik,” ujar Chicil yang ikut makan bersama Nana.
“Unik aja. Dari nama sampe tingkahnya. Kalo ga salah... namanya Valleano Gevan Cadfod..” Nana terlihat mengingat-ingat nama pasiennya tadi.
“Tunggu, Vallentino Gavin Crawford?”
Mata Nana membola. Ia menegak minumannya terlebih dahulu sebelum kembali berkata, “Ih! Kok kamu tau? Bener itu namanya.”
“Kamu ga ngerasa kenal sama dia?” Nana menggelengkan kepalanya pelan.
“Ya ampun, Nanaaaa. Masa kamu lupa sih?!”
Nana bingung. Ia menyiritkan keningnya, “Siapa emangnya dia?”
“Ituloh, temennya Dave sama Tony. Anak jurusan data analyst, FSTI kampus kita,” jelas Chicil. Nana terlihat bingung. Chicil menepuk dahinya kesal.
“Universitas Lumina Astara, Fakultas Sistem dan Teknik Informatika, jurusan Data Analyst. Vallentino Gavin Crawford, Ketua BEM dua periode.”
Nana terkejut, melongo kala mengingat kembali siapa pria yang dimaksud oleh Chicil. Ia menepuk bahunya Chicil, “Oh!! Ketua BEM paling gila seantero NILUMTARA?!”
Chicil menganggukkan kepala, “Iya! Temen oroknya Gery juga,” lanjutnya. Nana terdiam tak menyangka.
“Astaga! Kok aku bisa ga sadar sih?! Dulu dia kan sering nongol di acara kampus!” Chicil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalo bener dia, ga aneh kamu bilang dia unik.” Pernyataan Chicil itu hanya bisa diangguki oleh Nana sambil menghela napasnya.
“Udah mana anak blasteran, aksel, bungsu keluarga kaya, udah jadi direktur lagi setau aku dia sekarang.” Nana mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Biarinlah. Dia susah banget diajak ngobrolnya juga. Pas aku visit selalu diem aja. Gaada ekspresi pula,” keluh Nana, memajukan bibirnya kesal mengingat sifat pasiennya.
“Kalo dari yang aku inget sih, Gery pernah cerita kalo emang temennya itu rada-rada. Tapi anak baik kok. Aku pernah ketemu juga sih dulu. Eh bentar! Berarti Gery juga disini.”
Nana melongo lagi, “Kok jadi Gery sih? Orang lagi ngomongin itu pasien yang aku bilang,” kesalnya.
Chicil menghela napas, “Gery tadi ngabarin mau jenguk Gavin. Bentar aku kabarin lagi dulu dianya.”
Nana terdiam menatap sisa minumannya. Siapa sangka, dunia ini.. kecil sekali. Tanpa ia sadari, pria yang dianggapnya pasien menyebalkan ternyata kini menjadi suaminya.