Deringan suara alarm dari ponsel Bagas membelah keheningan pagi seperti pisau tajam yang menusuk telinga. Ia tersentak dari tidurnya, matanya terbuka lebar, dan pupilnya menyempit sejenak menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk dalam celah-celah gordyn kamar yang sudah usang. Napasnya tersengal, dadanya naiknya cepat, dan dengan gerakan refleks, ia menoleh ke samping. Angka merah menyala di layar ponselnya—08:30—membuat jantungannya melonjak ke tenggorokan. “Sialan, sialan, sialan!” umpatnya keras dalam hati, suaranya bergema di kepalanya sendiri yang masih terasa berputar. Hari ini adalah hari besar—perkenalan pertamanya sebagai dokter baru di Rumah Sakit Harapan Nusantara, rumah sakit paling bergengsi di negeri ini—dan ia harus sudah berada di sana pukul sembilan. Tiga puluh menit. Itu saja yang ia punya untuk keluar dari kekacauan yang entah bagaimana menjeratnya pagi ini.
Dengan penuh semangat, ia mendorong tubuhnya untuk bangkit dari ranjang, tapi sebuah sentuhan hangat menghentikan gerakannya. Sebuah lengan ramping, lembut, dan sedikit berkeringat melingkar erat di pinggangnya, menempel pada kulitnya yang masih terasa lengket oleh sisa malam yang panas. Bagas membeku. Matanya perlahan meluncur ke samping, dan di sana, terbaring seorang wanita yang wajahnya sama sekali asing baginya. Rambutnya yang cokelat keemasan terurai berantakan di atas bantal putih yang kusut, beberapa helai menempel di pipinya yang merona lembut. Bibirnya sedikit terbuka, mengeluarkan napas pelan yang teratur, dan bulu matanya yang panjang bergetar halus seperti sayap kupu-kupu dalam tidur. “Siapa dia?” pikirnya, otaknya berderit mencoba menyusun pecahan-pecahan ingatan yang tercerai-berai.
Kepalanya terasa berdenyut, dan aroma alkohol yang samar masih menguar dari mulutnya sendiri, membawa kilasan ingatan yang tak diinginkan. Tawa keras Riko, temen lamanya yang selalu punya ide buruk, kembali bergema di telinganya. “Gila, lo bisa juga menjadi dokter sekarang di Rumah Sakit Harapan Nusantara, Gas! ayo Kita rayain, bro, satu gelas nggak bakal bikin lo mati!” kata Riko semalam, matanya berbinar penuh hasutan sambil mengangkat gelas bir. Bagas ingat betul bagaimana ia tersenyum lelet, mengangguk sambil berkata, “Yaudah, satu doang ya,” meski ia tahu dalam hati bahwa “satu doang” itu selalu bohong kalau sudah bersama Riko. Gelas demi gelas, candaan demi candaan, dan entah bagaimana, malam itu berakhir dengan ia terbangun di ranjang asing bersama wanita yang tak ia kenal. “Seharusnya aku tolak ajakannya Riko,” geramnya dalam hati, mengutuk sifatnya yang terlalu santai, terlalu suka bercanda, dan terlalu lelet menolak godaan.
Wanita itu mengeliat pelan di sisinya, lengan rampingnya bergeser sedikit di atas perut Bagas yang tegap, jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram lembut kulitnya. Ia bergumam lirih, suaranya serak dan tak jelas—mungkin sisa-sisa mimpi atau keluhan karena diganggu. “Mmm… jangan… pergi…” katanya, kata-katanya terputus-putus, hampir tak terdengar. Bagas menahan napas, jantungnya berdetak kencang—bukan karena ketakutan, tapi karena bayangan waktu yang terus berlari di kepalanya. Ia tahu persis apa yang akan terjadi kalau wanita ini bangun sekarang. Sorot mata penuh tanya, teriakan kecil, atau mungkin air mata—drama yang biasa ia hadapi sebagai playboy ulung. Tapi pagi ini? Ia tak punya waktu untuk itu. Ia harus sampai ke Harapan Nusantara, dan ia tak boleh terlambat.
Dengan gerakan hati-hati, seperti saat ia menjahit luka pasien di ruang operasi, Bagas mulai mengangkat lengan wanita itu. Jari-jarinya yang panjang dan terlatih—tangan dokter yang biasa memegang skalpel—menyelip di bawah kulitnya yang hangat, menggesernya perlahan ke sisi ranjang. Wanita itu mengernyitkan dahi, alisnya berkerut sejenak, dan bibirnya mengerucut kecil. “Jangan bangun, jangan bangun,” bisik Bagas dalam hati, setengah memohon. Tapi tiba-tiba, matan wanita itu terbuka perlahan. Sekilas kabur, lalu fokus, dan tatapan cokelatnya yang lembut langsung mengunci Bagas.
“Bagas…?” suaranya parau, penuh tanya, tapi ada nada keakraban yang membuat Bagas tersentak. Ia membeku, tangannya masih memegang lengan wanita itu di udara. Wanita itu duduk perlahan, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya, dan ia menggosok mata dengan punggung tangan. “Mau ke mana kamu?” tanyanya lagi, nada suaranya bercampur bingung dan sedikit kesal.
Bagas menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari jawaban. “Eh, aku… aku harus pergi, ada urusan yang sangat penting,” katanya tergesa, melepaskan lengan wanita itu dan melompat dari ranjang. Kakinya mendarat di lantai kayu yang dingin, tapi sebelum ia bisa mengambil kemejanya yang tergeletak di dekat pintu, wanita itu bergerak lebih cepat. Ia merangkak ke ujung ranjang dan menangkap pergelangan tangannya dengan kuat.
“Urusan apa? Kamu nggak bisa pergi gitu aja!” suaranya naik, matanya menyipit penuh curiga. “Semalam kamu bilang aku ini spesial buat kamu, tapi sekarang kamu malah mau kabur?”
Bagas memutar otak, senyum khasnya yang slengean mulai muncul di wajahnya meski jantungnya berdegup kencang. Ia berbalik, menatap wanita itu dengan mata hitamnya yang tajam, lalu berjongkok di samping ranjang agar sejajar dengannya. “Hey, dengar ya, cantik,” katanya lembut, nada suaranya sengaja dibuat rendah dan penuh pesona, seperti saat ia merayu pasien agar tenang sebelum operasi. “Aku nggak kabur. Semalam itu… serius, aku nggak bohong. Kamu memang spesial, makanya aku masih inget suara kamu meskipun kepalaku pening banget sekarang.”
Wanita itu mengerutkan kening, tapi cengkeramannya sedikit mengendur. “Terus kenapa buru-buru gitu? Apa yang lebih penting dari aku?” tanyanya, ada sedikit nada cemburu di suaranya.
Bagas tertawa kecil, tangannya naik menyentuh pipi wanita itu dengan lembut. “Aku dokter, kamu tahu kan? Hari ini aku mulai kerja di rumah sakit gede, Harapan Nusantara. Kalau aku telat, bisa-bisa aku dipecat sebelum mulai kerja disana, dan aku nggak mau malu di depan kamu nanti.” Ia mengedipkan mata, senyumnya melebar penuh percaya diri. “Aku janji, habis ini aku balik lagi ke sini. Kita ngobrol, aku traktir kamu makan, apa aja yang kamu mau. Gimana?”
Wanita itu menatapnya lama, matanya mencari tanda-tanda kebohongan di wajah Bagas yang tampan. Akhirnya, ia menghela napas dan melepaskan tangannya. “Janji ya? Aku nggak suka dibohongin,” katanya, suaranya masih sedikit ragu tapi sudah lebih lembut.
“Janji, serius. Aku dokter, kata-kataku bisa dipegang,” balas Bagas cepat, lalu berdiri dan mulai mengambil pakaiannya yang berserakan. Ia memakai kemeja putihnya dengan tergesa, tombol-tombolnya sembarangan terpasang, lalu menarik celana jeans hitamnya. Sambil mengenakan jaket kulit, ia melirik wanita itu sekali lagi. “Nama kamu siapa, sih? Biar aku inget.”
“Rina,” jawabnya singkat, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sambil tersenyum tipis. “Jangan lupa, ya, dokter.”
Bagas mengangguk, senyumnya penuh kemenangan. “Rina, oke,aku catet di hati. Aku balik nanti, ya!” Dengan itu, ia berlari ke pintu, meninggalkan kamar itu dengan napas lega. Pukul 08:40 di ponselnya—masih ada harapan untuk sampai tepat waktu. Di luar, udara pagi menusuk hidungnya, tapi pikirannya hanya tertuju pada Harapan Nusantara, tempat ia akan memulai babak baru sebagai dokter—dan mungkin, juga drama baru dengan Rina.