Di sudut lobi Rumah Sakit Harapan Nusantara, suasana pagi itu mulai ramai dengan langkah-langkah cepat para perawat, dokter, dan pasien yang berlalu-lalang. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui jendela-jendela besar, menerangi lantai marmer yang mengilap, sementara aroma antiseptik yang khas menusuk hidung. Di tengah keramaian itu, seorang pria berdiri mondar-mandir dengan gelisah di dekat meja resepsionis. Beni, dokter anestesi baru yang akan bekerja sama dengan Bagas, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Jam di dinding menunjukkan pukul 08:55, dan Bagas—teman sejawat yang seharusnya sudah ada di sini untuk perkenalan dokter baru—belum juga muncul bayangnya.
Beni mengibaskan tangannya ke udara dengan gerakan bak diva panggung, jari-jarinya yang lentik melambai-lambai dramatis seolah menepis dunia yang tak adil ini. Rambutnya yang pendek tapi disisir rapi ke samping bergoyang heboh setiap kali ia memutar tubuh, dan kemeja biru muda yang membungkus tubuh rampingnya tampak sempurna meski suasana hatinya kacau balau. “Ya Tuhan, si Bagas ini ke mana sih, eyke mau gila, loh!” jeritnya dengan suara melengking yang memecah udara, nada bencongnya menggema penuh tragedi. Ia berhenti sejenak, tangan kanannya menempel di pinggul dengan pose penuh sikap, sementara tangan kirinya menuding pintu masuk rumah sakit yang masih sepi. “Ini udah jam segini, loh! Apa dia pikir ini acara reuni SMA yang bisa dateng pas udah selesai? Eyke nggak terima banget, sumpah!”
Seorang perawat muda yang lewat tersentak, matanya membelalak melirik Beni, tapi ia tak peduli sedikit pun. Ia kembali berjalan mondar-mandir, langkahnya cepat dan genit seperti model catwalk yang terlambat, sepatu kulitnya mencicit-cicit di lantai seolah mengiringi drama pribadinya. “Eyke tuh udah siap dari subuh, ya Tuhan, tahu nggak! Baju, eyke setrika sampe kinclong, muka eyke poles sampe glowing bak bintang film, parfum eyke semprot dua kali—dua kali, loh!—biar wangi cetar membahana pas ketemu direktur. Eh, dia? Dia malah hilang entah ke mana! Ini keterlaluan banget!” Ia menghentikan langkahnya tiba-tiba, menoleh ke jam dinding dengan mata menyipit penuh dendam, lalu mendengus keras sambil melempar tangan ke udara. “Kalo telat, eyke yang mati malu di depan semua orang, dong! Kita kan satu tim, eyke nggak mau jadi penutup dosa dia!”
Beni memang dokter anestesi yang cerdas dan teliti, tapi sifat “kewanita-wanitaannya” adalah panggungnya sendiri. Gerakan tangannya lembut bak balerina, suaranya naik-turun seperti opera tragis, dan ia tak pernah malu menunjukkan ekspresi berlebihan, bahkan di tengah lobi rumah sakit yang sibuk. Tapi di balik drama itu, ia perfeksionis sejati soal pekerjaan, dan kekacauan yang dibawa Bagas pagi ini benar-benar mengguncang dunianya.
“Dua menit lagi, Gas! Dua menit doang, loh!” teriaknya setengah berbisik, tapi tetap penuh emosi, sambil melipat tangan di d**a dan mengetuk-ngetuk kaki dengan ritme panik. Ia membayangkan Bagas masuk dengan senyum manisnya yang menyebalkan, rambut berantakan, dan mungkin bau alkohol, lalu berkata santai, “Sori, bro, kejebak macet.” Beni langsung menggeleng hebat, hampir menjambak rambutnya sendiri. “Macet apa, macaatt?! Dia kan tinggal sepuluh menit dari sini! Eyke tahu banget, eyke pernah ke kosannya, loh! Jangan bohongi eyke, Gas, eyke nggak sebodoh itu!” Ia menggerutu lagi, suaranya kini lebih keras, sampai seorang dokter senior yang lewat menoleh dan terkekeh pelan, jelas terhibur dengan pertunjukan satu orang ini.
Tiba-tiba, pintu otomatis lobi berderit terbuka, dan Beni memutar kepala dengan kecepatan kilat, matanya membulat penuh harap. Tapi yang masuk cuma seorang pasien tua dengan tongkat, dibantu perawat, bukan sosok Bagas yang tinggi tegap. “Astaga, eyke bisa mati berdiri kalo dia nggak dateng sekarang!” pekiknya, tangan kanannya melayang ke dahi dengan gaya bak pingsan di sinetron, lalu ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi terdekat dengan penuh drama. “Kalo dia nggak muncul, eyke yang bakal jadi bulan bulanan di depan direktur. Huh, dasar Bagas, bikin hati eyke hancur berkeping-keping!”
Di dalam hatinya, Beni sebenarnya sayang pada Bagas. Mereka sudah kenal sejak kuliah, dan meski sifat Bagas yang playboy dan santai sering buat Beni ingin menjerit, ia tahu Bagas punya hati besar dan bakat luar biasa sebagai dokter. Tapi pagi ini, kesabaran Beni benar-benar di ujung jurang. Ia melirik jam lagi—08:57. “Tiga menit, Gas! Tiga menit lagi, atau eyke seret lo dari manapun lo bersembunyi, sumpah demi langit dan bumi!” ancamnya dalam hati, tangannya terkepal erat, suara imajinasinya melengking penuh kemarahan teatrikal yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.
Beni masih mondar-mandir di lobi Rumah Sakit Harapan Nusantara, langkahnya cepat dan genit seperti diva yang baru saja kehilangan mahkotanya di panggung besar. Tangan kanannya menempel di pinggul dengan sikap penuh drama, sementara tangan kirinya melayang ke udara, melambai-lambai seolah menyeru langit untuk menyelamatkannya dari kekacauan ini. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan ritme panik, dan kemeja biru mudanya yang tadinya kinclong kini mulai kusut di lengan karena gerakan tangannya yang tak bisa diam.
Tiba-tiba, sebuah suara tegas menusuk dari belakang, memotong drama solonya seperti petir di siang bolong. “Beni!”
Beni tersentak, tubuhnya membeku sejenak sebelum berputar dengan gerakan bak balerina yang tersandung, hampir jatuh karena kaget. Matanya membelalak sebesar piring, mulutnya ternganga, dan tangannya langsung terbang ke d**a seolah menahan jantungan yang mau copot. Di hadapannya berdiri dr. Haryanto Susilo, direktur rumah sakit, dengan jas abu-abu yang rapi dan wajah tenang tapi penuh wibawa. Pria berusia lima puluhan itu memandang Beni dengan alis terangkat, tangannya terlipat di belakang punggung. “Astaga, eyke bisa mati berdiri! Dunia eyke runtuh sekarang!” pekiknya dalam hati, wajahnya memucat seketika, keringat dingin membasahi dahinya.
“Kenapa kamu masih di sini?” tanya dr. Haryanto, suaranya kalem tapi menusuk, membawa nada penasaran yang membuat Beni merasa seperti tertangkap basah. “Perkenalan dokter baru kan sebentar lagi dimulai. Semua sudah menunggu di ruang meeting!”
Beni menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering seperti gurun. Otaknya berputar cepat mencari alasan, tangannya melambai-lambai heboh di udara seolah memanggil inspirasi dari langit. “Eh, anu, Pak… eyke—eh, saya… tadi cuma mau… mau ngecek suasana dulu” katanya tergagap-gagap, suaranya naik-turun tak karuan, hampir mirip tangisan. “Biar… biar nanti pas masuk ruangan, eyke—eh, saya sudah siap mental, gitu, Pak! Sumpah, ini demi kebaikan tim!” Ia buru-buru mengibaskan kemejanya dengan gerakan panik, jari-jarinya sibuk membetulkan kerah yang sudah rapi, padahal itu cuma akting untuk menutupi degup jantungnya yang kencang. Dalam hati, ia menjerit, “b**o banget, eyke! Ini alasan apa yang eyke omongin? Eyke mati gaya banget, ya Tuhan!”
Dr. Haryanto mengangguk kecil, tapi matanya yang tajam seolah bisa melihat ke dalam jiwa Beni. “Hmm, baiklah. Terus, Bagas sudah datang belum?” tanyanya lagi, nada suaranya tetap datar tapi ada harapan terselip di dalamnya.
Beni merasa dunia berhenti berputar. Jantungannya seperti jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Ia melirik ke samping, matanya berkedip cepat menghindari tatapan direktur, lalu menggigit bibir bawahnya sampai terasa sakit. “Eh… kayaknya… belum, Pak!” pekiknya pelan, suaranya hampir hilang, tenggelam dalam kepanikan yang membuncah. Ia mengangkat bahu dengan gerakan lebay, tangannya melayang ke udara seolah memohon ampun. “Tapi… tapi bentar lagi pasti nyampe, kok Pak! Eyke yakin banget, dia… dia nggak bakal ninggalin eyke—eh, saya sendirian disini!” tambahnya cepat, nada bencongnya lolos penuh histeria meski ia berusaha mati-matian menahannya. Dalam hati, ia meraung, “Bagas, lo di mana, sih?! Eyke mau nangis darah sekarang