Dr. Haryanto mengerutkan kening, lalu mengeluarkan ponselnya sejenak sebelum kembali menatap Beni dengan sorot mata yang lebih tegas. “Memangnya dia ke mana? Apa yang kamu tahu?” tanyanya, suaranya kini seperti palu yang siap menghantam.
Beni menggeleng hebat, kepalanya hampir copot saking kencangnya, tangannya melambai-lambai di depan wajah seperti kipas angin rusak. “Nggak tahu, Pak! Eyke—eh, saya beneran nggak tahu sama sekali, loh! Tadi saya sudah coba telepon dia, tapi ponselnya mati, mati total, Pak!” Ia buru-buru mengeluarkan ponsel dari saku, tangannya gemetar saat menunjukkan layar ke arah direktur, meski tak ada yang minta bukti. “Saya sudah coba berkali-kali, Pak, sampe jari saya pegel!”
Dia bikin eyke panik setengah mati dari tadi, sumpah demi bintang-bintang!” jeritnya dalam hati, matanya berkaca-kaca menahan emosi yang mau meledak.
Dr. Haryanto mengangguk pelan, wajahnya kembali rileks meski ada kerutan kecil di dahinya. “Mungkin dia terjebak macet. Jakarta kan gitu. Lebih baik kita ke ruang meeting saja sekarang, yang lain sudah nunggu. Bagas pasti segera menyusul,” katanya sambil berbalik, tangannya memberi isyarat agar Beni mengikuti.
Beni mengangguk cepat, kepalanya naik-turun seperti boneka rusak, senyumnya dipaksakan lebar sampai pipinya kaku. “Iya, Pak! Eyke—eh, saya ikut sekarang! Langsung cus, Pak!” serunya dengan nada bergetar, langkahnya buru-buru menyusul direktur ke arah lift.
Tapi di dalam hati, ia menjerit penuh dendam, “Macet apaan, Pak?! Dia mah pasti keasyikan sama cewek entah di mana, eyke taruhan nyawa eyke! Dasar Bagas, bikin eyke deg-degan, keringetan, hampir mati malu, dan sekarang jadi penutup dosa lo! Ketemu nanti, eyke cekik lo pake stetoskop!” Ia membayangkan wajah Bagas dengan senyum tidak bersalah ya yang menyebalkan, tangannya terkepal erat di saku celana, kuku-kukunya mencubit kulitnya sendiri untuk menahan amukan yang tak bisa ia keluarkan.
Saat pintu lift terbuka dan ia melangkah masuk mengikuti dr. Haryanto, Beni melirik jam di pergelangan tangannya—08:59. “Satu menit lagi, Gas! Lo nggak dateng, eyke sumpahin lo jadi pasien abadi rumah sakit ini!” raungnya dalam hati, suara imajinasinya melengking penuh kemarahan teatrikal, sementara wajahnya berusaha terlihat tenang di depan direktur, meski matanya masih berkilat penuh dendam.
***
Bagas menerobos pintu utama Rumah Sakit Harapan Nusantara, napasnya tersengal keras, dadanya naik-turun cepat setelah memacu motornya mati-matian melewati jalanan Jakarta yang macet parah. Jaket kulitnya terbuka lebar, kemeja putihnya kusut dengan kancing-kancing yang salah pasang hingga memperlihatkan sedikit kulit dadanya, dan rambut hitam legamnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan total, menempel lengket di keningnya yang berkeringat. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya—pukul 09:00 tepat. Jantungnya berdetak kencang, tapi sudut bibirnya masih sempat terangkat membentuk senyum khasnya. “Sempet, sempet, Gas!” gumamnya, suaranya parau karena napas yang masih ngos-ngosan. “Semoga aja perkenalannya belum mulai. Masih ada waktu, kan?” Ia mempercepat langkah, setengah berlari menuju lift yang akan membawanya ke ruang meeting di lantai tiga, tangannya sibuk merapikan rambut meski sia-sia.
Tapi sebelum kakinya sempat menyentuh lantai di depan lift, sebuah teriakan melengking dari arah Instalasi Gawat Darurat (IGD) membelah udara, menghentikan langkahnya seketika. “Cepet, cari dokter bedah! Dr. Satria ada nggak?! Pasien kecelakaan ini kritis, harus segera operasi sekarang juga!” Suara seorang perawat wanita terdengar seperti jeritan putus asa, nada tingginya memantul di dinding lobi yang ramai. Bagas membeku, matanya menyipit ke arah sumber suara, nafasnya tertahan sejenak di tenggorokan.
Perawat lain berlari mendekat dari koridor, seragam hijaunya kusut dan wajahnya pucat pasi seperti habis melihat hantu. “Dr. Satria lagi operasi pasien lain di ruang bedah dua! Dr. Wulan nggak praktek hari ini, yang jaga cuma dokter umum!” jawabnya dengan suara bergetar, tangannya mencengkeram lengan rekannya seolah mencari pegangan. Matanya liar, penuh ketakutan yang nyata.
Perawat pertama—yang kemudian terlihat bernama Suster Rika dari name tag-nya—memegang kepalanya dengan kedua tangan, jari-jarinya mencengkeram rambut hingga kuncirnya hampir lepas. “Terus gimana sekarang?! Kondisinya kritis, tensinya drop terus, nggak ada dokter bedah yang bisa masuk!” teriaknya, suaranya pecah di ujung kata. Ia berputar-putar di tempat, langkahnya tak menentu, matanya membelalak mencari jawaban yang tak kunjung datang. “Kita kehilangan dia kalo nggak cepat ditangani, aku nggak tahu harus apa lagi!”
Bagas tak bisa mengabaikan kekacauan itu. Adrenalin membakar tubuhnya, langkahnya berubah tegas saat ia mendekati kedua perawat yang panik itu. “Ada apa?” tanyanya, suaranya tetap kalem di permukaan, tapi ada nada mendesak yang terselip, matanya tajam menyapu situasi.
Suster Rika menoleh cepat, keningnya berkerut dalam, wajahnya pucat bercampur curiga. Ia memandang Bagas dari ujung rambut sampai ujung sepatu, ekspresinya berubah dari panik menjadi bingung. “Maaf, Mas, kamu siapa?!” bentaknya, nada sopannya hilang di bawah tekanan. “Ini urusan rumah sakit, orang luar nggak boleh ikut campur!” Tangan kanannya terangkat, menghalangi Bagas, sikapnya tegas meski jari-jarinya gemetar tak terkendali.
Bagas menahan napas sejenak, menyadari penampilannya yang sama sekali tak meyakinkan. Celana jeans hitam yang sedikit robek di lutut, jaket kulit yang lusuh, kemeja putih yang berantakan, dan rambut acak-acakan—ia lebih mirip anak motor ketimbang dokter. “Sial, pantes saja,” gerutunya dalam hati, tapi ia buru-buru mengangkat tangan, mencoba menenangkan situasi. “Tenang, Suster, saya dokter bedah di Rumah Sakit ini.. Nama saya Bagas. Jadi, saya boleh tahu apa yang sedang terjadi di IGD,” tegasnya, nada suaranya naik sedikit, tangannya masuk ke saku jaket dengan gerakan cepat.
Suster Rika tak langsung buyar keraguannya. Matanya menyipit tajam, memandang Bagas seperti memindai kebohongan. “Dokter bedah? Jangan bercanda, Pak? Saya kok nggak pernah lihat muka Bapak?!” bentaknya lagi, suaranya tinggi dan penuh tuduhan. “Buktinya mana kalau bapak dokter bedah disini? Jangan main-main, ini nyawa orang!” Tangannya terlipat di d**a, sikapnya menuntut meski nafasnya tersengal karena panik.
Bagas mendengus keras, kesalnya membakar dadanya. “Buktinya? Ini darurat, bukan wawancara kerja!” umpatnya dalam hati, tapi tangannya dengan kasar merogoh saku dalam jaketnya. Ia mengeluarkan name tag yang baru ia terima kemarin—dr. Bagas Pramudia, Sp.B—dan menempelkannya tepat di depan wajah Suster Rika, jaraknya hanya beberapa sentimeter. “Ini! Liat baik-baik! Atau mau saya kasih nomor registrasi dokter saya juga?!” bentaknya, alisnya terangkat penuh sindiran, matanya menyala menantang.
Suster Rika terlonjak mundur, wajahnya memerah seketika. “Oh, maaf, Dok! Saya… saya nggak tahu, soalnya Bapak…,” katanya tergagap, tangannya melambai kecil ke arah penampilan Bagas, kata-katanya terputus karena malu.
Tapi sebelum Bagas bisa membalas, sebuah suara menggelegar dari arah ruang IGD, memotong semua keraguan. “Suster Rika! Kenapa lama banget?! Udah dapat dokter bedahnya belum?! Pasien ini nggak akan bertahan kalau belum ditangani, tensinya menurun, jantungnya melemah!” Dr. Hendra, dokter IGD, berlari mendekat, jas putihnya terbuka dan wajahnya basah keringat. Matanya liar, penuh ketegangan, tapi saat melihat Bagas, ia membeku. “Ini siapa?!” bentaknya, suaranya keras dan penuh skeptisisme, melirik penampilan Bagas yang jauh dari standar dokter.
Suster Rika buru-buru menunjuk Bagas, tangannya gemetar hebat. “Ini, Dok! Dr. Bagas, dokter bedahnya!” teriaknya, nadanya penuh harap bercampur ketakutan.
Dr. Hendra memandang Bagas dengan mata menyipit, wajahnya mengeras. “Dokter bedah? Bapak yakin? Saya nggak pernah lihat Bapak di sini!” tuduhnya, nada suaranya penuh sindiran, tangannya menunjuk ke arah Bagas seolah menolak keberadaannya.
Bagas tak tahan lagi. Napasnya terhempas kasar, tangannya terkepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia melangkah maju, mendekati dr. Hendra hingga jarak mereka hanya satu lengan, matanya menyala penuh amarah terkendali. “Dengar, Dok,” sambarnya, suaranya rendah tapi menggetarkan, seperti pisau yang siap memotong, “kita nggak punya waktu main tanya jawab. Pasien itu mati dalam hitungan menit kalo kita cuma berdiri di sini kayak orang bodoh! Saya dokter bedah, saya bisa selamatkan dia, dan kalian nggak punya pilihan lain selain saya!” Ia menunjuk lorong IGD dengan gerakan tangan yang tajam, nafasnya terdengar berat. “Jadi, bawa saya ke ruang operasi sekarang, atau darah pasien itu ada di tangan kalian berdua!” Suaranya pecah di akhir, penuh tekanan, sifat santai nya hilang total, digantikan ketegasan dokter yang tak bisa ditawar.
Dr. Hendra terdiam, wajahnya membeku sejenak, pupilnya mengecil menghadapi tatapan Bagas yang membakar. “Baik… ikut saya!” pekiknya akhirnya, suaranya serak, lalu berbalik dan berlari menuju ruang operasi, langkahnya cepat dan tak menoleh lagi. Suster Rika tersentak, buru-buru menyusul dengan wajah pucat.
Bagas menghempaskan napas, tangannya menggosok wajahnya sejenak untuk menenangkan diri. “Meeting? Lain kali aja,” gumamnya dalam hati, tapi tak ada senyum kali ini—hanya fokus tajam di matanya. Ia melangkah cepat mengikuti mereka, jaketnya berkibar di belakangnya, siap menghadapi nyawa yang tergantung di ujung benang.