Bagas mengikuti langkah cepat dr. Hendra dan Suster Rika menuju ruang IGD, jaket kulitnya berkibar di belakangnya, sepatunya mencicit keras di lantai marmer yang licin. Bau antiseptik bercampur aroma logam tajam dari darah menyelinap ke hidungnya begitu pintu geser IGD terbuka. Suara bising menyergap—bunyi beep monitor jantung yang tak stabil, teriakan perawat yang saling berkoordinasi, dan derit roda brankar yang bergoyang-goyang. Matanya segera menyapu ruangan, fokusnya tajam seperti pisau bedah yang ia pegang di ruang operasi. Di sudut ruangan, di atas brankar logam yang dingin, terbaring seorang pria—korban kecelakaan motor yang jadi pusat kekacauan ini.
Pria itu, yang tampak berusia sekitar 45 tahun, terkulai tak berdaya. Tubuhnya yang kekar—mungkin dulunya penuh tenaga—kini tampak rapuh, terpuruk dalam kondisi yang mengenaskan. Wajahnya pucat seperti lilin, kulitnya basah oleh keringat dingin yang bercampur darah kering yang mengalir dari pelipisnya. Matanya tertutup rapat, bulu matanya bergetar lemah seolah berjuang menahan kesadaran yang perlahan memudar. Bibirnya membiru, napasnya pendek dan tersendat, keluar dari mulutnya dalam helaan kecil yang nyaris tak terdengar. Di bawah cahaya lampu IGD yang terang, luka-luka di tubuhnya terlihat jelas, menceritakan kisah kecelakaan brutal yang baru saja ia alami.
Kepalanya terluka parah—sebuah sayatan dalam membentang dari pelipis kiri hingga ke belakang telinga, dagingnya terbuka lebar memperlihatkan darah segar yang masih mengalir perlahan, bercampur dengan serpihan debu dan aspal yang menempel. Darah telah mengering di beberapa bagian, membentuk kerak hitam yang kontras dengan kulitnya yang memucat. Di sisi wajahnya yang lain, memar keunguan menyebar luas, membengkak di bawah mata kirinya hingga menutup separuh pandangannya—jika ia masih bisa membuka mata. Helmet yang seharusnya melindunginya tampaknya tak cukup kuat menahan benturan, atau mungkin ia tak memakainya sama sekali.
Tubuhnya tak kalah mengerikan. Lengan kanannya tertekuk pada sudut yang tak wajar, tulangnya jelas patah—mungkin fraktur terbuka, karena ujung tulang radius menonjol keluar dari kulit di dekat pergelangan tangan, dikelilingi darah yang menggenang di brankar. Baju kaos abu-abunya yang robek di beberapa bagian memperlihatkan luka lecet parah di d**a dan perutnya, kulitnya tersobek akibat gesekan dengan aspal, meninggalkan jejak merah berdarah dan hitam dari kotoran jalanan. Di sisi kiri pinggulnya, sebuah memar besar berwarna ungu tua membentuk pola tak beraturan, tanda benturan keras yang mungkin merusak organ dalam. Kakinya terlihat lebih buruk lagi—lutut kiri bengkak dua kali ukuran normal, kulitnya robek hingga memperlihatkan jaringan lemak di bawahnya, dan darah mengalir deras dari sana, membasahi kain penutup brankar yang sudah berubah warna jadi merah gelap.
Monitor di sampingnya berbunyi tak henti, menampilkan angka-angka yang membuat jantung Bagas berdetak lebih kencang. Tekanan darahnya 70/40—terlalu rendah, hampir tak cukup untuk menjaga organ-organnya hidup. Denyut jantungnya melemah, hanya 45 kali per menit, dan saturasi oksigennya turun ke 85%, tanda bahwa paru-parunya kesulitan bekerja, mungkin akibat patah tulang rusuk yang menusuk atau perdarahan internal yang tak terlihat. Selang oksigen sudah dipasang di hidungnya, tapi udara yang masuk tampaknya tak banyak membantu—wajahnya semakin membiru, tanda hipoksia yang memburuk setiap detik.
Dr. Hendra berlutut di sisi brankar, tangannya memeriksa denyut nadi di leher pria itu dengan gerakan cepat. “Dia tidak stabil, perdarahan internalnya parah! Kita harus ke ruang operasi sekarang!” teriaknya, suaranya serak karena ketegangan, matanya melirik Bagas dengan campuran harap dan keraguan.
Suster Rika berdiri di sisi lain, tangannya gemetar saat memasang infus kedua di lengan kiri pasien yang masih utuh. “Tensiya terus drop, Dok! Saya… saya tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan!” pekiknya, suaranya pecah, air mata mulai menggenang di matanya meski ia berusaha menahannya.
Bagas melangkah mendekat, matanya menyapu kondisi pasien dalam hitungan detik—latihan bertahun-tahun sebagai dokter bedah membuatnya bisa menilai situasi secepat kilat. “Patah tulang lengan, kemungkinan fraktur pelvis, trauma kepala, dan perdarahan internal—mungkin limpa atau hati,” gumamnya dalam hati, suaranya rendah tapi penuh fokus. Ia menoleh ke dr. Hendra, tangannya menunjuk brankar dengan gerakan tegas. “Cepet, bawa dia ke ruang operasi! Kita nggak punya waktu buat cek CT, dia tidak akan bertahan sampai hasilnya keluar!” perintahnya, nada suaranya tajam seperti pisau, tak ada jejak sifat santainya yang biasa.
Dr. Hendra mengangguk cepat, wajahnya kaku tapi tak membantah lagi. “Suster, dorong brankar! Siapkan ruang bedah satu!” bentaknya, lalu berlari ke arah pintu keluar IGD, membuka jalan.
Suster Rika tersentak, tangannya buru-buru mendorong brankar, roda-roda logam itu berderit keras di lantai. “Ayo, Dok, cepet!” teriaknya pada Bagas, suaranya setengah menangis.
Bagas mengikuti dengan langkah lebar, tangannya melepas jaket kulitnya dan melemparkannya ke kursi terdekat tanpa menoleh. Rambutnya yang berantakan ia sisir kasar ke belakang dengan jari, matanya menyala penuh konsentrasi. “Sabar, Om, saya pasti selametin Om,” gumamnya pada pria yang tak sadarkan diri itu, suaranya pelan tapi penuh tekad. Di kepalanya, ia tahu ini bukan cuma soal nyawa pasien—ini hari pertamanya, dan ia akan membuktikan bahwa penampilan luar bukan penentu kemampuan seorang dokter.
Brankar logam itu bergoyang liar saat Suster Rika mendorongnya dengan sekuat tenaga menuju ruang operasi satu, roda-roda kecilnya berderit keras dan meninggalkan jejak darah di lantai koridor. Bagas berlari di belakangnya, nafasnya tersengal ganas, matanya menyala penuh fokus, sementara dr. Hendra berteriak memandu jalan, tangannya menabrak pintu-pintu agar tetap terbuka. Bau darah dan antiseptik semakin pekat saat mereka memasuki ruang operasi, lampu besar di langit-langit menyala terang, memantulkan kilau dingin dari meja bedah stainless steel yang sudah disiapkan. Di sudut ruangan, dokter anestesi—dr. Nadia, wanita berusia tiga puluhan dengan rambut pendek terikat rapi dan ekspresi tegas—berdiri siap di posisinya, tangannya mantap menyiapkan alat intubasi dan obat bius. Matanya melirik Bagas sekilas, alisnya terangkat penuh tanya, tapi ia tak berkomentar—situasi terlalu kritis untuk basa-basi.
Bagas berhenti sejenak di ambang pintu, napasnya terengah-engah, tangannya menggosok wajahnya keras untuk menghapus keringat yang mengalir deras, membasahi rambut hitamnya yang acak-acakan. “Ayo Gas, kamu pasti bisa!” gumamnya pada diri sendiri, suaranya rendah tapi membakar, jantungnya berdetak seperti palu menghantam d**a. Ia melangkah cepat ke area sterilisasi, kakinya menghentak lantai dengan ritme mendesak—pengalaman bertahun-tahun mengajarkannya ketenangan di tengah badai, tapi kali ini taruhannya terlalu besar untuk santai. Di wastafel besar, ia membanting siku ke kran air, aliran dingin menyembur keras membasahi tangannya yang kotor debu dan lengket keringat. Ia meraih sabun antiseptik dari dispenser, menggosok tangannya dengan gerakan kasar dan cepat: telapak, sela jari, punggung tangan, hingga pergelangan—setiap gesekan penuh tekanan, air berubah keruh bercampur kotoran jalanan, tapi matanya tak pernah lelet, terkunci pada misi di depan.
Suster Rika berlari mendekat, tangannya gemetar membawa gaun operasi hijau dan sarung tangan steril dalam kemasan plastik. “Cepet, Dok, pasien semakin kritis” pekiknya, suaranya serak dan patah oleh tangis sebelumnya. Bagas mengangguk tajam, merobek plastik gaun itu dengan tangan basah, lalu memakainya dengan gerakan kilat—lengan kanan masuk, lengan kiri menyusul, dan Suster Rika buru-buru mengikat tali di punggungnya, jari-jarinya tergelincir dua kali karena panik tapi akhirnya kencang. Ia menyambar topi operasi dari meja, menutupi rambut berantakannya dengan tarikan kasar, lalu memasang masker bedah di wajahnya—napas pertamanya terasa sesak di balik kain itu, tapi ia tak peduli. Terakhir, ia merentangkan tangannya, Suster Rika memasangkan sarung tangan lateks steril dengan cepat—bunyi snap keras menggema saat karet itu menempel erat, menutupi tangan yang akan memegang nyawa pasien.
Bagas melangkah ke meja bedah, matanya menyipit di bawah lampu operasi yang menyilaukan, wajahnya tegang di balik masker. Pria itu sudah dipindahkan dari brankar, tubuhnya terbaring telentang, luka-lukanya tampak lebih mengerikan di bawah cahaya tajam—darah menyembur kecil dari lengan patahnya, memar di pinggulnya membesar seperti tinta tumpah, dan kulit wajahnya membiru pekat. Dr. Nadia sudah bekerja cepat, selang intubasi (tabung untuk membantu pernapasan dengan memasukkan udara langsung ke paru-paru) dimasukkan ke tenggorokan pasien, tangannya menyesuaikan ventilator (mesin untuk mengatur pernapasan pasien) dengan gerakan presisi. “Propofol (obat bius umum) sama fentanyl (obat pereda nyeri kuat) sudah masuk, Dok! Tapi tensinya cuma 60/30 (tekanan darah sangat rendah), jantungannya sangat lemah!” teriaknya, suaranya tegas tapi ada getaran ketegangan di ujungnya.
“Mulai sekarang operasinya!” bentak Bagas, tangannya menyambar skalpel (pisau bedah) dari nampan alat yang disodorkan Suster Rika. Ia menarik napas dalam, dadanya naik-turun cepat, lalu membuat sayatan pertama di perut pasien—garis lurus tajam dari bawah tulang rusuk hingga pinggul kiri, pisau itu membelah kulit dan lemak dengan suara lembut yang mengerikan. Darah menyembur deras, membasahi gaun hijaunya hingga menetes ke lantai, tapi tangannya tak goyah. Ia memisahkan lapisan otot dengan retraktor (alat untuk membuka jaringan agar dokter bisa melihat organ dalam), jari-jarinya bergerak cepat membuka rongga perut—cairan merah tua menggenang di dalam, tanda perdarahan internal yang tak terkendali.
Tiba-tiba, monitor meraung panjang—nada datar yang menusuk jiwa, menandakan cardiac arrest (henti jantung), memotong semua suara di ruangan. “Jantungnya berhenti!” jerit Suster Rika, tangannya terangkat ke mulut, matanya membelalak penuh horor, air mata kembali mengalir.