Bagas mengangkat kepala, matanya menyala liar, napasnya tersendat di masker. “Hendra, kompresi d**a! Sekarang!” teriaknya, suaranya menggelegar seperti petir, tangannya tetap memegang retraktor dengan kencang, menjaga rongga perut terbuka.
Dr. Hendra melompat ke sisi pasien, tangannya menghantam d**a pria itu dengan ritme ganas—satu, dua, satu, dua—melakukan CPR (tekanan d**a untuk memompa jantung secara manual), tulang rusuknya berderit keras, suara patah kecil terdengar di bawah tekanan brutal. “Hidup, ayo, hidup!” raungnya, suaranya serak, keringat menetes deras dari dahinya, membasahi wajah pasien.
Dr. Nadia bereaksi cepat, tangannya menyuntikkan epinefrin (obat untuk merangsang jantung) ke infus dengan gerakan kilat. “Satu miligram masuk, Dok! Ayo, bertahan, Pak!” bentaknya, suaranya tegang, matanya terpaku pada monitor yang masih datar.
Tiga puluh detik berlalu dalam ketegangan mencekam, setiap detik terasa seperti pisau yang menusuk. Lalu, monitor berbunyi lagi—beep… beep… lemah, tapi hidup. “Kembali! Detaknya 45!” pekik Suster Rika, napasnya tersengal lega, tangannya mencengkeram nampan alat untuk menahan diri.
Bagas tak menunggu. Tangannya kembali masuk ke rongga perut, darah mengalir deras di antara jari-jarinya, hangat dan lengket, tapi ia menemukan sumbernya—limpa robek parah, sobekannya dalam hingga darah menyembur seperti air mancur kecil. “Ini dia, sial!” geramnya, lalu berteriak, “Suster, klem arteri! Cepet!” Ia menyambar klem (alat untuk menjepit pembuluh darah), menjepit arteri splenic (pembuluh darah utama limpa) yang berdarah dengan gerakan tajam, menghentikan aliran itu seketika. Dengan tangan satunya, ia mengambil jarum dan benang bedah, menjahit robekan itu—tusukan demi tusukan, gerakannya cepat tapi akurat, darah menetes dari ujung jarum ke lantai. Ia memotong bagian limpa yang hancur, membuangnya ke nampan dengan bunyi basah, lalu menutup sisa jaringan dengan jahitan ketat.
Setelah limpa terkendali, ia memeriksa lebih dalam—hati utuh tapi memar, ginjal kiri berdarah ringan. Tidak fatal, masih bisa ditunda,” pikirnya, lalu beralih ke kepala pasien, tempat luka yang sama berbahayanya menanti. Ia memutar tubuhnya, tangannya menyambar gunting bedah dan kain kasa steril. “Suster, lampu kepala! Fokuskan ke sini!” perintahnya, suaranya tegas. Lampu kecil diposisikan, menyinari luka sobek di pelipis kiri yang membentang hingga belakang tengkorak. Darah masih mengucur pelan dari sana, serpihan aspal dan kaca tertanam dalam di daging yang robek, dan memar keunguan di sekitarnya membengkak ganas. Bagas membersihkan luka itu dengan kasa, gerakannya cepat tapi hati-hati, mengangkat kotoran yang menempel—setiap serpihan yang ia cabut meninggalkan titik darah baru.
Ia mengambil probe kecil (alat untuk memeriksa kedalaman luka), memeriksa luka kepala—tulang tengkorak terasa retak di bawah jarinya, kemungkinan fraktur depresed (retak tengkorak yang tertekan ke dalam), tapi tak ada tanda patah terbuka yang mencapai otak. “Dura utuh,” gumamnya (dura mater adalah lapisan pelindung otak, utuh berarti otak tak terbuka), lalu berteriak, “Suster, siapkan fiksator kecil!” Ia menjahit pembuluh darah kecil yang robek di kulit kepala, menghentikan perdarahan dengan jahitan halus, lalu menutup luka itu dengan lapisan kulit yang masih bisa diselamatkan—setiap tusukan jarum disertai darah yang menetes, tapi tangannya tak pernah goyah. “Tidak ada hematoma intracerebral,” pikirnya (tanpa pendarahan di dalam otak), napasnya sedikit lega tapi tetap tegang.
Kembali ke rongga perut, ia menutup sayatan dengan jahitan lapis demi lapis, darah akhirnya berhenti mengalir sepenuhnya. Bagas berdiri di sisi meja bedah, napasnya masih terengah-engah, tangannya basah darah hingga siku, sarung tangannya meneteskan cairan merah ke lantai yang licin. Monitor di samping pasien akhirnya stabil—tekanan darah 95/65, denyut jantung 75—tanda bahwa nyawa pria itu telah ia rebut kembali dari ambang kematian. Luka di perut dan kepala sudah tertangani, limpa yang robek telah dijahit dan dipotong sebagian, serta perdarahan di kulit kepala terhenti. Namun, matanya melirik ke lengan kanan pasien yang masih tergantung lemah di sisi meja—tulang radiusnya menonjol keluar dari kulit, patah pada sudut yang mengerikan, dikelilingi darah yang mulai mengering.
Ia menoleh ke Suster Rika, yang berdiri dengan tangan gemetar memegang nampan alat, wajahnya pucat tapi lega. “Suster, lengan patahnya konsultasikan ke dokter ortopedi (spesialis tulang dan sendi) secepatnya. Fraktur terbuka (patah tulang yang menusuk kulit) ini butuh fiksasi (penstabilan tulang dengan alat khusus), tapi nyawanya sudah aman sekarang, masa krisisnya sudah berakhir” perintahnya, suaranya serak tapi tegas, tangannya menunjuk lengan pasien dengan gerakan cepat.
Suster Rika mengangguk cepat, kepalanya naik-turun seperti boneka, matanya masih berkaca-kaca. “Iya, Dok, saya hubungi dokter ortopedi sekarang!” jawabnya, suaranya bergetar tapi penuh semangat. Ia berbalik, mulai membereskan alat-alat kotor bersama dr. Hendra, yang juga mengangguk pada Bagas sambil menghela napas lega. Mereka berdua bersiap menyelesaikan prosedur pasca-operasi—memastikan pasien stabil, memindahkannya ke ruang pemulihan, dan menyiapkan laporan untuk tim ortopedi.
Bagas mundur dari meja bedah, tangannya menarik sarung tangan lateks yang basah darah dengan gerakan kasar, membukanya dengan bunyi plop keras sebelum melemparkannya ke nampan. Ia berjalan ke wastafel di sudut ruang operasi, membanting siku ke kran lagi, membiarkan air dingin menyiram tangan dan lengannya yang penuh darah kering dan segar. Ia menggosok dengan sabun antiseptik, jari-jarinya bergerak cepat menghapus sisa-sisa operasi yang menempel—darah yang menggumpal di kuku, keringat yang lengket di pergelangan, dan bau logam tajam yang masih menempel di kulitnya. Setelah bersih, ia melepas gaun operasi hijau yang sudah ternoda merah tua, membuangnya ke tempat sampah khusus dengan lemparan cepat, lalu mengambil jaket kulitnya yang tergeletak di lantai dekat pintu. Rambutnya yang basah keringat ia sisir kasar ke belakang dengan tangan, wajahnya masih tegang tapi ada sedikit kepuasan di matanya.
Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya—pukul 10:03. “Sialan!” umpatnya keras, suaranya menggema di ruangan yang kini mulai sunyi. “Perkenalannya pasti udah selesai, mati aku!” Tanpa berpikir dua kali, ia berlari keluar dari ruang operasi, langkahnya cepat dan penuh tenaga meski tubuhnya terasa berat setelah operasi darurat itu. Jaket kulitnya berkibar di belakangnya, sepatunya mencicit di lantai koridor saat ia menuju lift, lalu memutuskan langsung naik tangga—tak ada waktu untuk menunggu. Ia melompat dua anak tangga sekaligus, napasnya kembali tersengal, keringat membasahi keningnya lagi, tapi matanya menyala penuh tekad menuju ruang meeting di lantai tiga.
Sampai di depan pintu ruang meeting, ia berhenti sejenak, tangannya memegang gagang pintu, napasnya terengah-engah, jaketnya sedikit terbuka memperlihatkan kemeja kusut di bawahnya. Tapi sebelum ia sempat membukanya, pintu itu terbuka dari dalam, dan Beni keluar dengan langkah genit, tangannya melambai ke udara seperti diva yang baru selesai pentas tragis. Matanya membelalak lebar saat melihat Bagas berdiri di depannya, wajahnya yang tampan dan sedikit berantakan dengan ekspresi tak bersalah khas playboy itu langsung membakar amarahnya hingga ke ubun-ubun.