“Ya Tuhan, Bagas! Lo ke mana aja, sih, hah?!” jerit Beni, suara melengking khas bencongnya memecah koridor, tangan kanannya langsung menempel di pinggul dengan sikap penuh drama, sementara tangan kirinya menuding Bagas dengan jari telunjuk yang bergetar hebat seperti mau patah. “Eyke nunggu lo dari tadi sampe jantung eyke mau copot, loh! Jam sembilan eyke udah di sini, rapi cetar membahana, pake wangi parfum yang mahal, siap jadi dokter bintang di depan direktur, eh lo? Lo malah ilang kayak ditelan bumi! Perkenalan udah selesai sejam lalu, direktur nanya-nanya lo, ‘Mana si Bagas?’ katanya, eyke yang mati kutu jawab ‘Belum dateng, Pak’ sampe muka eyke panas banget kayak disiram air mendidih!”
Bagas membuka mulut, tangannya terangkat ingin menjelaskan, tapi kalah cepat dengan rentetan kekesalan Beni yang bagaikan tsunami kata-kata. “Lo pikir eyke nggak deg-degan, hah?! Eyke panik setengah mati, loh! Ponsel lo mati, eyke telepon sampe jari eyke kram, eyke pikir lo kecelakaan atau apa, ternyata lo cuma telat dengan muka santai gitu?! Direktur sampe bilang ‘Mungkin macet’, macet apaan, Gas?! Lo kan tinggal sepuluh menit dari sini, eyke tahu banget kosan lo, jangan bohongi eyke! Apa lo keasyikan sama cewek lagi, ya Tuhan kalo bener, eyke bisa pingsan di sini sekarang juga, lo bikin hidup eyke jadi drama sinetron episode seratus!”
Bagas mencoba memotong, “Ben, aku—” tapi Beni tak memberi celah, tangannya melambai-lambai heboh di depan wajah Bagas seperti kipas angin rusak. “Apa apaan?! Lo tuh keterlaluan, Gas! Eyke udah setia nunggu lo, eh lo malah ninggalin eyke sendirian di ruang meeting. Eyke kayak kambing congek di depan direktur sama dokter-dokter lain! Lo tahu nggak, eyke sampe deg-degan, keringetan, jantung eyke bergetar kayak gempa, eyke hampir nangis loh, Gas, hampir nangis beneran di depan semua orang! Muka eyke glowing tadi pagi jadi luntur gara-gara lo, lo harus ganti rugi pokoknya, sumpah, eyke nggak terima banget! Lo pikir eyke kuat apa jadi penghapus dosa lo tiap hari?!”
Beni melipat tangan di d**a, kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan ritme penuh dendam, matanya menyipit menatap Bagas seperti elang yang siap menerkam. “Eyke udah bilang ke lo kemarin, ‘Gas, jangan telat, ini hari penting’, lo bilang ‘Tenang, Ben, aku akan dateng tepat waktu’, tepat waktu apaan?! Lo dateng pas orang-orang udah pada pulang, lo bikin eyke malu, lo bikin eyke stres, eyke bisa tua sebelum waktunya gara-gara lo! Lo harus jelasin sekarang, Gas, eyke nggak mau tahu, lo ke mana aja dari tadi, eyke mau cerita lengkap, atau eyke tarik lo ke depan direktur sekarang juga, biar lo yang jelasin sendiri!”
Bagas menghela napas panjang, senyum santainya mulai muncul meski wajahnya masih penuh keringat dan capek. “Ben, dengar dulu, aku baru selametin nyawa orang,” katanya akhirnya, suaranya santai tapi ada nada bangga di dalamnya, tangannya terangkat seolah menenangkan, meski ia tahu itu tak akan langsung meredam ledakan Beni yang sudah kelewat batas.
Beni tiba-tiba terdiam. Suara melengkingnya yang biasanya tak pernah berhenti seolah tertahan di tenggorokan, tangannya yang tadi melambai heboh perlahan turun, dan ekspresi wajahnya berubah dari marah menjadi bingung. Ia memiringkan kepala sedikit, alisnya terangkat tinggi, dan matanya membelalak penuh tanda tanya.
“Apa maksud lo, ‘selametin nyawa orang’?!” tanyanya, suara bencongnya kembali muncul tapi kali ini lebih pelan, nada curiga menggantung di ujung kalimat. “Lo ngomong apa sih, Gas? Jangan-jangan lo cuma cari alasan biar eyke nggak ngamuk ama lo, hah? Jelasin sekarang, eyke nggak mau dibohongin!” Ia melangkah maju setengah langkah, tangannya kembali naik ke pinggul, sikapnya penuh penyelidikan seperti detektif dalam sinetron.
Bagas menghela napas, senyum manisnya yang melebar sedikit, tangannya masuk ke saku celana jeansnya dengan santai meski wajahnya masih penuh keringat dan capek. “Oke, Ben, dengerin aku dari awal,” katanya, suaranya tetap kalem tapi ada nada serius yang mulai terasa. “Aku sebenarnya dateng tepat jam sembilan tadi, beneran, aku nggak bohong. Tapi pas masuk lobi, aku denger teriakan dari IGD—katanya ada pasien kecelakaan motor, kondisinya kritis banget, butuh operasi secepet kilat. Dokter bedah yang jaga, Dr. Satria, lagi operasi pasien lain di ruang bedah dua, dan Dr. Wulan nggak praktek hari ini. Yang ada cuma dokter umum sama aku. Jadi, mau nggak mau, aku yang masuk ruang operasi, Ben. Nyawa orang itu di tangan aku tadi, aku nggak bisa ninggalin dia begitu aja.”
Ia berhenti sejenak, matanya menatap Beni dengan ekspresi tulus, lalu melanjutkan, “Pasiennya parah banget—limpa robek, perdarahan internal gede, kepalanya berdarah, lengan patah sampe tulangnya keluar. Jantungnya sempet berhenti di tengah operasi, Ben, aku sampe nyuruh dr. Hendra buat kompresi d**a biar dia hidup lagi. Aku baru selesai tadi, makanya telat ke sini. Bukan keasyikan sama cewek seperti tuduhanmu tadi, sumpah aku nggak bohong!”
Beni memicingkan matanya, alisnya terangkat lebih tinggi, dan bibirnya mengerucut kecil seperti sedang menimbang-nimbang. Ia menatap Bagas dari atas sampai bawah, menelisik setiap inci wajah temennya itu—dari rambut yang masih sedikit basah keringat, kemeja kusut yang salah kancing, sampai jaket kulit yang sedikit berdebu. “Beneran, Gas?” tanyanya, suaranya penuh curiga, tangannya melambai kecil di udara seperti menyapu keraguan. “Lo nggak bikin bikin cerita, kan, biar eyke nggak marah ama lo? Eyke tahu lo, Gas, lo kan jago bikin alasan cerdas kalo lagi terpojok! Eyke nggak gampang percaya gitu aja, loh!”
Bagas mendengus kecil, tangannya terangkat dengan gerakan santai tapi ada nada kesal di suaranya. “Ya Tuhan, Ben, kalo lo nggak percaya, tanya aja sama petugas IGD! Tanya dr. Hendra, Suster Rika, atau siapa aja yang tadi di ruang operasi. Mereka lihat aku operasi sampe berdarah-darah, tangan aku penuh darah pasien tadi, aku nggak bohong!” Ia menunjuk ke arah koridor menuju IGD, matanya menyala penuh keyakinan. “Aku nggak punya waktu bikin cerita, Ben, aku baru selesai selametin orang!”
Beni terdiam lagi, matanya masih memicing tapi sorotnya mulai melunak. Ia menghela napas panjang, tangannya melayang ke dahi dengan gerakan dramatis khasnya, lalu mendengus pelan. “Huh, ya Tuhan kalo gitu, lo bikin eyke bingung banget, Gas!” katanya, suaranya kembali melengking tapi tak sekeras tadi. “Kalo bener lo selametin nyawa orang, ya eyke salut, loh, tapi lo tetep bikin eyke deg-degan dari tadi! Direktur nanya-nanya lo, eyke sampe gagap jawabnya, lo tahu nggak betapa malunya eyke?! Tapi… yasudah, kalo gitu, lo ke ruang direktur sekarang juga!” Ia menunjuk ke arah koridor dengan jari telunjuknya, sikapnya tegas tapi ada nada lega di suaranya. “Jelasin apa yang terjadi sama dr. Haryanto, biar dia tahu lo nggak cuma telat tanpa alasan. Cepet, Gas, eyke ikut , eyke mau lihat lo jelasin sendiri!”
Bagas mengangguk kecil, senyumnya melebar lagi, kali ini ada sedikit lega di wajahnya. “Oke, Ben, ayo,” katanya, lalu melangkah cepat menuju ruang direktur, Beni mengikuti di belakangnya dengan langkah genit dan gumaman kecil, “Kalo lo bohong, eyke pastiin lo nyesel, Gas!”