Malam harinya sepulang dari bukit
CINTA, Bagas berniat meminta izin dan
restu kepada ayah dan ibunya,untuk
meminang kekasih hatinya.
Seperti biasa sehabis maghrib pak
Atmo Suwito dan juga Ibu Susanti,
duduk bersama di sofa panjang di ruang
keluarga,yang di depanya tergantung
di tembok television dengan ukuran
besar yang terlihat menyala.
Bagas masuk dan langsung duduk
di antara keduanya sambil kedua tangan
nya memeluk mereka. Tangan kiri meme
luk bu Santi ibunya tercinta yang telah
melahirkanya ke dunia ini, memeluknya
dengan tangan kirinya sambil mencium
pipi wanita setengah baya itu, sedang
tangan kanannya merangkul laki-laki
di sebelahnya sambil menampakkan
wajah berserinya Bagas memulai
pembicaraanya.
' Ma... Pa... aku mau ngomong sesuatu
boleh gak?"
" Tumben - tumbenan pak dokter
semanja ini? mau ngomong apa sih
nak?" tanya ibu.
"Ma...Bagas kan gak Lama lagi wisuda,
tinggal nunggu kira- kira enam bulan
lagi atau bahkan kurang, Bagas pengin
melamar Risma secepatnya ma..pa..?
bolehkan "? ucapku dengan sedikit
merengek kayak anak SD yang minta
permen .
" Kamu serius Gas?" tanya papa singkat
" Iya nak..ingat pernikahan itu bukan
untuk main'main...jadi pikirkan dengan
matang, terus kenapa tidak menunggu
sehabis wisuda sayang..."
"Ma..Bagas cuma mau lamaran aja dulu,
kalau nikahnya nanti kalau sudah
selesai. Dan juga sekarang mumpung
Bagas lagi di rumah. Boleh ya ma??"
"Tapi kamu bener2 sudah mantab sama
pilihan kamu? coba pikirkan lagi.."
"Ma...mama kan tau, aku cinta sama
Risma dari dulu,bahkan sudah lima
tahun lebih kami menjalin hubungan
ma...Bagas sudah yakin sekali dengan
pilihan Bagas...pliss ya ma"
Sambil ku kecup kening mama.
Serta ke kanan ku cium juga papa yang
dari tadi hanya mendengarkan per-
cakapanku sama mama.
"Kalau papa terserah kamu,tapi yang
jelas ingat pesan papa, pernikahan
itu bukan hal yang hanya untuk main-
main. Besar tanggung jawab kamu
sebagai laki-laki, yang akan menjadi
kepala rumah tangga, baik buruknya
seorang istri itu tergantung dari didikan
suami. ingat itu pesan papa."
"Ya pa...Bagas ngerti. Makasih atas
semuanya pa"
" Terus kapan rencananya?" tanya mama
" Rencana Bgas minggu ini ma..
hari sabtu malam kita kesan.."
" Apa tidak terlalu cepat? kenapa kamu
baru ngomong sekarang? Kan semua
perlu persiapan.Hari sabtu berarti tinggal
tiga hari lagi, harus secepatnya belanja
buat hantaran. Kalau begitu besok pagi
kamu antar mama belanja"
" Ma..mama tenang aja,yang penting
do'a restu mama sama papa aja udah
cukup, besok Bagas yang akan belanja
buat hantaran sama Risma, biar dia
pilih sendiri barang-barangnya.
Tapi kalau soal kue dan makanan
Bagas minta bantuan mama aja yang
beli.Gimana mama sama papa setuju
kan?"
"Do'a kami sebagai orang tua,semoga
pilihan kamu tepat dan kamu bahagia
nak..." mama sambil mengelus
kepalaku. Dan akupun menyandarkan
kepalaku di bahu mama.
" Makasih ma...pa. Bagas ke kamar
dulu ya."
Aku salami dan kecup punggung tangan
serta kening mama dan papa bergantian
lalu aku melangkah ke kamar. Hati
sudah lega karena sudah mendapat
izin dan rasany semakin tidak sabar
menunggu besok pagi buat ketemu
Risma serta menyampaikan kabar
bahagia ini. Dalam hati bisakah tidur
malam ini? Bayangan wajah Risma yang
imut dan menggemaskan selalu
menari di pelupuk mata. Masih terlihat
jelas akspresi wajahnya saat ku me-
mintanya menjadi pendamping hidupku.
Mukanya memerah dan menggemaskan
sekali, itu yang membuat aku takut
kehilangan dia.