Jarum jam di tangan menunjukkan
jam lima sore saat mereka keluar dari
bioskop. " Mau langsung pulang apa
ke mana lagi?" Tanya Bagas ke
smuanya.
" Sudah sore,gimana kalau langsung
pulang aja mas..." jawabku singkat.
" Gimana Bro Rudi? "
" Ya udah kalian kalau mau pulang
duluan..aku masih mau jalan sama
pacarku" jawab Rudi sambil
menggenggam tangan Zuli.
"Tapi..." kata Zuli
" Kamu pulang sama aku say..."
" Ok. kalau gitu kita pulang duluan
ya Bro..jaga anak orang jangan di apa2in
ucap Bagas sambil melangkah.
Bagas
" Kamu lapar sayang..?"
" Adek masih kenyang mas..."
" Tapi mas laper banget..gimana kalau
kita beli pizza hutt dulu sayang..?"
" Kan udah sore..ntar kelamaan mas"
" Sampai malam juga gak papa..kan
sama mas? Pergi sama calon suami
sendiri masa' takut say... bapak sama
mama juga gak akan kawatir sayang."
Ucap Bagas sambil memeluk erat
pinggang sang kekasih dari samping.
Risma pun mencubit lengan Bagas
" Aduh sakit sayang...cubitannya kuat
sakali " ucap Bagas sambil mencubit
mesra ujung hidung Risma.
" Mas beli pizza nya dulu..ntar kita
makanya di mobil. okay sayang?"
" Ya udah terserah mas deh.."
" Jangan cemberut gitu dong..awas
ntar hilang cantiknya "
Bagas pun melangkah untuk membeli
pizza, sadang Risma memilih duduk
menunggu sambil memainkan ponsel
nya. Dan tak lama kemudian Bagas
sudah kembali dengan menenteng
tiga bungkus pizza dengan ukuran
sedang.
" Banyak amat..laper banget ya mas?"
Risma sambil tersenyum.
" Kan sama kamu sayang...
ya udah yukk kita jalan"
Mereka berdua jalan menuju tempat
parkir. Tanpa menunggu lama, mereka
berdua sudah di dalam mobil dan
perlahan mobil meninggalkan tempat
parkir.
" Buka pizza nya dan suapin mas dong
sayang...dari tadi perut dah dangdutan."
Risma pun membuka dan mengambil
satu potong pizza dan dengan lembut
menyuapkan ke Bagas yang sedang
serius memegang kemudi.
" Heeemmmm...enak sekali sayang,
kayaknya tangan kamu mengandung
penyedap sayang..."
Bagas mengambil pizza bekas gigitanya
dari tangan Risma dan gantian
menyuapkanya ke Risma.
" Gimana sayang? enak kan?"
" Iya mas..enak. " ucap Risma sambil
mata mereka beradu pandang.
Meraka pun menghabiskam beberapa
potong.
" Mas...? Adek mau tanya sesuatu
boleh?"
Sambil menggenggam jemari tangan
kanan Risma Bagas menjawab" tentu
saja boleh sayang? emangnya mau
tanya apa?"
" Apa mas benar2 mencintai adek?
Terkadang aku takut...aku takut
kehilangan kamu mas..aku takut
gak pantas menjadi pendamping
mas Bagas yang seorang dokter,
aku takut tidak bisa menjadi istri
yang baik,aku takut mas akan kecewa,
bahkan mungkin malu sama rekan-
rekan mas, karena mas menikah dengan
gadis biasa dan miskin seperti aku
mas..."
" Cukup sayang..mas harus bilang
berapa kali kalau mas itu benar2 men
cintai dan sangat sayang sama adek,
tolong buang jauh- jauh pikiran buruk
itu sayang, kalau mas tidak cinta,
ngapain juga mas mau melamar kamu?"
Jawab Bagas sambil menarik dan
mencium ujung kepala Risma.
Tanpa teras Risma meneteskan air
mata, Bagas yang menyadari hal itu,
kemudian meminggirkan mobilnya
dan berhenti di bahu jalan.Di
matikanaya mesin mobilnya dan
segera memiringkan badannya ke
sebelah kiri dan langsung dengan
erat memeluk sang kekasih dan
mencium lembut keningnya. Dia
seka air mata yang mengalir di pipi
Risma dengan ibu jarinya,usapanya
begitu lembut.Dia bisa merasakan
apa yang di rasakan sang kekasih.
" Sayang...percayalah sama mas
mas sangat sayang dan gak mau
kehilangan adek."
Ingin sekali Bagas mengecup bibir
tipis Risma, tapi kemudian dia urung
kan, Bagas tetap ingin menjaganya
sampai waktunya tiba setelah halal
nanti.
Dan setelah melihat tangisan Risma
reda, sambil membelai rambutnya,
Bagas berkata " Gimana sudah sayang...
bisa kita lanjutkan perjalanan?"
Risma hanya mengangguk.
Bagas pun menyalakan mesinya
kembali dan melajukan mobilnya
sambil menyatukan jari tangan
kirinya dengan jemari tangan kanan
Risma, sedangkan tangan kananya
memegang kemudi.
bersambung...