Sore hari Risma dan Bagas baru tiba
di rumah Risma, Bagas hanya
mengantarkannya sampai ke halaman
rumah,dia tidak masuk ke dalam.
Dan langsung pulang ke rumahnya.
Risma masuk ke dalam warung dan
memberi salam serta mencium tangan
mama Aisah. Ya Aisah adalah nama
mamanya Risma.
" Assalamu'alaikum ma..." ucap
Risma yang sambil masuk ke
warung dan langsun meraih tangan
mama bersalaman serta mencium
punggung tangan mama dengan
lembut.
"Wa'alaikumsalam nak...kamu sudah,
pastinya kamu capek, pergilah mandi
dan istirahatlah..." ucap mama sambil
mengelus lembut rambutku.
"Maafkan Risma ya ma...hari mama
pastinya capek jaga warung sendirian,
sebentar aku mandi dulu,terus nanti
biar aku yang gantian jaga warung,dan
mama istirahat..."
Dan aku pun melangkah masuk ke
dalam rumah,dan segera bergegas
mandi, rasanya badan ini sudah
lengket karena seharian asik jalan2.
Sekitar tiga puluh menit kemudian
aku sudah rapi dengan baju rumahan,
dan bersiap menggantikan mama
jaga warung, sambil dalam hatiku,aku
ingin segera memberi tau mama tentang
kabar bahagia ini, serta rasanya sudah
tak sabar untuk memperlihatkan
cincin permata cantik di jari manisku
ini. Aku melangkah sambil terus
aku pandangi jari cantiku.
Sesampainya di dalam warung
ku lihat mama sedang menyeduh kopi
pesanan pembeli,yang aku lihat
ada dua orang bapak- bapak yang
sedang duduk menunggu kopi
pesananya .
Saat hari menjelang maghrib dan warung
pun sudah sepi dari pengunjung,
karena memang menjelang maghrib
mama biasa menutup warung kopinya.
Aku hampiri mama yang sudah selesai
berbenah dan menutup warung,sambil
pelan ku peluk mama dari samping.
" Ma....."panggilku lirih sambil bermanja.
" Lihat ma..apa yang Risma pakai?"
imbuhku lagi, sambil mengulurkan
tangan kiriku, dan ku perlihatkan
cincin pemberian mas Bagas tadi siang.
"Masya Allah...cantik sekali nak,
itu dari mana?"
" Ma..ini cincin dari mas Bagas.
Dan dia minggu ini akan datang
bersama ayah dan ibunya untuk
melamar Risma ma..."
" Tapi...apa tidak terburu-buru nak,
Dan apa orang tuanya sudah merestui
hubungan kalian? Bukanya dulu mereka
tidak ingan Bagas buru -buru menikah
sebelum dia lulus dan menjadi dokter?"
Tanya mama sambil sedikit
mengerutkan wajahnya.
"Ya sudah, semua terserah kalian
yang akan menjalani,mama cuma
bisanya mendo'akan yang terbaik
saja. Dan nanti sehabis maghrib
kita bicarakan bersama bapak."
Ucap mama sambil kami melangkah
masuk ke rumah.
Dan selepas maghrib,seperti biasa
kami semua duduk di ruang tengah,
ada bapak yang duduk di kursi panjang,
dan itu merupakan kursi favoritnya,
bapak seperti biasa hanya memakai
warung serta baju koko dan lengkap
dengan kopyah putih yang sudah agak
terlihat lusuh.
Andi adik laki-laki ku duduk santai
di lantai sambil asik memainkan hp nya.
Dia adik pertamaku yang masih duduk
di bangku smp kelas tiga.
Sedangkan adik ku yang paling kecil,
adik perempuan bernama Bintang,yang
masih duduk di bangku kelas lima.
Dia duduk bergelendotan di samping
bapak,memang dia anaknya manja,
maklum anak peling kecil mungkin,
Dan kami semua sangat
menyayanginya.
Mama duduk di kursi sebelah bapak.
Sedangkan aku duduk di lantai tak jauh
dari Andi.
" Pak..." Mama Aisah mulai membuka
pembicaraan.
"Lihat itu anak kita Risma sudah
memakai cincin..cincin dari Bagas.
Dan katanya minggu ini Bagas akan
datang membawa ayah dan ibunya,
untuk melamar anak kita, bagaimana
menurut bapak?"
" Apa...pak Atmo dan Bu Santi sudah
merestui hubungan kalian nak..?"
Pak Atmo Suwito adalah nama ayah
mas Bagas dan Bu Susanti nama
ibunya.
" Apa kamu sudah yakin dengan
pilihanmu Risma...ingat mereka orang
kaya,bapak takut kamu tidak di terima
di keluarga itu"
Tanya bapak sambil menatapku penuh
tanya.
Memang siapa yang tidak kenal
dengan nama pak Atmo Suwito, orang
terkaya di kampung kami, harta
kekayaanya tidak akan habis tujuh
turunan, dan mas Bagas adalah
pewaris satu-satunya.
Tapi aku mencintai mas Bagas bukan
karena hartanya,tapi aku merasakan
cinta ini tulus dan dia cinta pertamaku,
cinta itu semakin tumbuh dan bersemi
sejak mas Bagas mengutarakan
perasaanya kira- kira lima tahun yang
lalu. Ya ,kurang lebih lima tahun kami
menjalin hubungan,dan mas Bagas
selalu menunjukkan niat baik serta
keseriusanya dalam menjalani
hubungan.
Aku pun bangun dan mendekat ke
bapak, aku merangkulnya dan sambil
ku perlihatkan cicin yang melingkar
manis di jari manisku,sambil aku
berkata," Insya Allah Risma yakin
dengan pilihan Risma Pak.
Risma cuma minta do'a nya dari
bapak,mama serta kalian adik-adikku."
Lalu ku peluk bapak dan ku cium
keningnya yang sudah tampak mulai
mengerut termakan usia.
Bapak pun memelukku sambil
berbisik,,
" Do'a bapak selalu buat kamu nak..
semoga ini pilihan terbaikmu dan kamu
akan bahagia selalu" Ku lihat bapak
menitikan air mata,entah air mata
bahagia atau air mata kekhawatiran,
untuk melepas putri kesayanganya.
" Kalau memang itu sudah menjadi
keputusanmu,bapak ngikut saja,
dan pastikan kapan mereka akan
datang agar kita bisa menyiapkan
keperluanya."imbuh bapak lagi.
" Benar kata bapakmu nak..tanyakan
sama Bagas, kapan mereka akan
datang dan kita juga harus secepatnya
menyiapkan segala sesuatunya, serta
kira- kira berapa orang yang akan
datang, mengingat rumah kita yang
sederhana ini. Serta mama juga harus
siap siap belanja buat bikin kue-kue,
buat hidangan para tamu."
"Mungki mama juga akan minta bantuan
bibimu buat bikin kue,mengingat
waktunya yang sudah dekat." imbuh
mama lagi.
" Ya besok Risma telpon mas Bagas,
menanyakan kepstianya, Risma juga
harus ke pasar buat beli keperluanku,
mungkin besok Risma akan ajak
Zuli buat nemenin."
" Ya sudah kamu atur keperluan kamu,
sama Zuli,dan mama akan atur
keperluan mama di dapur sama Bi Wati."
" Ya sudah sekarang kamu istirahatlah."
Imbuh mama lagi...