Kakek Sugi menutup hidung. Bau terasi yang terkungkung dari dalam gubuk yang pengap, menghambur keluar saat tersapu angin dibalik daun pintu dan terpaan pertamanya masuk menyengat hidung. Ia yang masih syok dengan penampakan anak Jarwo tersebut, tak sengaja melihat juga cairan putih melekat disekujur kaki berkulit sawo matang.
"Ternyata benaran ini kamu, Ayumi," kakek Sugi pastikan lagi bahwa gadis didepannya ini adalah anak Jarwo. "Kenapa kamu berbuat m***m ditempat ku, Hah?" geram kakek Sugi seolah tak percaya gadis putih abu-abu itu sudah berani melakukan tindakan tak senonoh, malahan dengan dua pemuda.
Pakaian bawah berupa rok panjang yang tak sempat terpasang, ditarik kembali oleh tangan Ayumi agar menutupi seluruh kulitnya. Sesaatnya, gadis itu berdiri dalam keadaan tidak sempurna dan ia panik ingin menerobos daun pintu yang terhalangi tubuh kakek Sugi. Namun lelaki uzur itu siap mengantisipasi dan cepat menaiki tongkat rotan sebagai tanda peringatan agar Ayumi menjauh.
"Jangan kabur kamu ya! Aku harus laporkan kelakuanmu ini pada ayahmu," sergah kakek Sugi lalu mengambil tas yang masih tersangkut dipaku dinding, untuk ditahan sebagai bukti kenalan Ayumi. Lelaki uzur itu juga menepikan sepasang sepatu yang berada dibalik pintu dengan rotan nya.
"T-Tolong jangan beritahu ayah kejadian ini, kek. Ayumi malu," ucap Ayumi penuh gugup, ia mundur lalu membalikkan badan menarik rok panjang sampai pinggang, mengaitkan penuh roda resleting supaya semuanya terpasang.
Kakek Sugi menatap lekat paha mulus bagian belakang serta segitiga hello Kitty berwana merah terang. Ia tidak menyangka, Ayumi yang dulu pernah ditimang dalam pangkuan, kini mempunyai bentuk tubuh yang menarik.
"Enak saja kamu ngomong jangan beritahu ayahmu. Kelakuanmu ini sudah luar biasa nakalnya. Bisa bikin sial panen padi-ku juga," jawab kakek Sugi dengan gigi gemeretak. "Aku tetap harus melaporkan perbuatanmu ini ke ayahmu." Kakek Sugi mengambil sepatu Ayumi dengan tangan yang menggandeng tas sekolahnya, pergi dari sana.
"Kek, sepatu Ayumi mau dibawa kemana?" gadis itu panik saat melihat kakek Sugi sudah berjalan keluar dari gubuknya.
Kakek Sugi tak menjawab, ia fokus berjalan menuruni tangga gubuk.
"Kek! Tunggu..." Tanpa alas kaki Ayumi mengejar tubuh kakek Sugi. Tangannya dapat memegang lengan lelaki uzur tersebut.
"Kek, Ayumi mohon. Jangan beritahu ayah ibu Ayumi, kek," ucapnya penuh ketakutan, terus mengeluh agar kenakalan di ampuni. Saat merasa kakek Sugi lengah, ia dengan sengaja menarik tangan kanan kakek Sugi yang telah mengapit tas dan kedua sepatunya untuk mengambil semua barang-barangnya.
Terjadi tarik menarik antara tenaga kakek Sugi yang lemah dengan gadis sebahu kakek Sugi yang sedang ketakutan. Hingga di akhir pembelaan diri, terpaksa ia mengayunkan benda ditangan kiri agar Ayumi tidak ngelunjak. Tapi ayunan itu malah mengenai bagian kenyal belakangnya.
"Awww..." Ayumi meringis kesakitan, tangannya refleks memegangi sebelah b****g.
Kakek Sugi terpaku, merasa takut juga ayunan itu menyakiti Ayumi.
"Kamu jangan pura-pura sakit ya," cerca kakek Sugi menjatuhkan lagi rotan nya lalu terus berjalan.
"Kek! Ini emang sakit... Huhuhu." Ayumi melompat kecil berputar 90 derajat sambil terus meraba belakangnya, berharap kakek Sugi iba dengan kepura-puraan nya.
Kakek Sugi bergeming, ia yang sudah hidup lama tau bahwa ayunan rotan dari tangan kiri nya tentu tidak akan menyakiti Ayumi. Ia terus berjalan meninggalkan dan ingin segera pergi ke rumah Jarwo untuk melaporkan kenakalan anaknya.
Ayumi gagal membuat kakek Sugi merasa bersalah, ia mengambil kunci pada saku seragam lalu menghidupkan motornya. Ia tak mau ketinggalan dengan langkah kaki Sugi.
Melihat kakek Sugi yang berjalan tergesa-gesa tapi pelan, pikiran bodohnya malahan ingin menabrak tubuh kakek Sugi biar ia bisa selamat dan mengambil semua barangnya. Ia lalu menarik gas motornya lebih dalam, merendahkan badan dan kepala seperti pembalap yang membawa motornya dalam kecepatan tinggi. Tapi karena gugup atau niatnya cuma setengah hati, ia malahan membuat ban motornya melesat miring ke arah samping hingga menerobos parit kecil aliran air sawah.
Brakkk,
"Aduh... Tolong!"
"Kakek Sugi melihat kebelakang, setengah bodi motor sudah nyungsep ketanah becek dan gadis berseragam ikut terjatuh kedalam parit.
"Ah, kamu ini. Kenapa bisa jatuh sih?" Kakek Sugi geram lalu berbalik membantu.
"Huhuhu... Tolong Ayumi, kek!" Kali ini Ayumi betul-betul kesakitan dengan posisi tubuhnya miring saat terjatuh. Tubuhnya basah semua.
Hari sudah gelap, kakek Sugi menarik dulu sandaran belakang jok motor agar benda itu tidak terjatuh ke parit, sementara Ayumi meringis dalam kubangan lumpurnya.
Dengan susah payah kakek Sugi menarik motor miring itu agar kembali ke batas jalanan semen. Setelah itu ia ulurkan tongkat pada Ayumi. "Ayo naik."
Lumpur parit itu sudah menghisap sampai ke lutut Ayumi, ia meraih tongkat kakek Sugi sebagai pegangan.
"Tahan kek," ucapnya sambil mencari semak-semak sebagai pegangan tangan yang lain.
Tubuh kakek Sugi tertarik maju, ia yang lemah lalu sekuat tenaga menahan agar tidak ikut jatuh. "Jangan pegang rumputnya, pegang tongkatku dengan dua tanganmu," pinta kakek Sugi, suara sudah putus-putus.
Ayumi menurut, ia tak mau terlalu lama berendam di kubangan lumpur. Sebelah kakinya mencengkram tanah parit yang kering, tangannya terus berpindah pada sisi rotan. Ia dapat tertarik. Tapi...
Brakkk,
Dengan sengaja Ayumi menjatuhkan tubuh kotornya menimpa badan kakek Sugi, membuat mereka sama-sama kotor dan bau. Tongkat yang mereka pegang pun terlempar ke belakang.
"Arghhh... Apa-apaan kamu, Ayumi," ucap kakek Sugi penuh kesal, tubrukan dari tubuh sekal Ayumi itu membuatnya kesakitan.
"Maaf kek, aku gak sengaja," ucap Ayumi, menimpakan kedua siku tangannya ke d**a kakek Sugi lagi. Lalu pada saku seragam ikut menumpahkan air tepat ke wajah kakek Sugi.
Byurrr,
"Sialan," umpat kesal kakek Sugi seketika menutup mata nya.
Sesaat kemudian mereka beradu pandang, kakek Sugi tak menyangka perjalanan panjang hidupnya akan mendapat pengalaman buruk seperti sekarang.
"Turun dari tubuhku," ucap kakek Sugi, meraih pinggang gadis itu agar berpindah.
Ayumi menggeser tubuhnya, ia terduduk disamping kakek Sugi. Walaupun hari gelap tapi ia bisa melihat bahwa kakek Sugi sekarang juga kotor, sama sepertinya.
Kakek Sugi pun ikut duduk, ia menatap Ayumi dengan kemarahan, "Liat kelakuanmu sekarang, tubuhku jadi ikutan basah," bentak kakek Sugi yang melihat kancing baju atasan Ayumi terlepas dua.
"Kakek jangan marah dong, kita ini sama-sama kotor loh," ucap Ayumi memeriksa tubuhnya yang terasa sakit. Ia menunjukkan lutut kirinya yang keluar memar noda merah. "Liat ne, Ayumi pun luka," ia menambahkan sambil memasang wajah sedih.
Kakek Sugi menggelengkan kepala tak percaya dengan kejadian barusan.
Ayumi bangkit terlebih dahulu, memeras ujung bawah seragam dan roknya yang basah. Kakek Sugi bersusah payah hendak bangkit.
"Sini kek, Ayumi bantu." Tangan gadis itu meraih bahu kakek Sugi. Perlahan-lahan tubuh tua itu bisa berdiri.
"Benar-benar aku harus laporkan perbuatanmu ini ke ayahmu, Ayumi," ucap sengit kakek Sugi memeriksa pakaian yang ia kenakan, jaket berbulu domba yang tebal mulai basah sampai ke kulitnya. Bagian celana jangan ditanya, tempat itu yang paling parah.
"Ayumi mohon, kek, jangan laporkan kejadian tadi, hiksss!" Ia yang tau telah bersalah, kali ini menungkup kan kedua tangan ke atas d**a agar dapat pengampunan.
Saat diam, nyamuk hutan mulai banyak menghinggap dan menggigit kulit keringnya hingga terasa. Kakek Sugi memikirkan situasi sambil menggaruk kulitnya, tidak mungkin juga ia melaporkan kelakuan Ayumi dalam keadaan seperti ini.
"Sekarang kamu antar aku pulang," ucapnya bangkit berdiri dengan tumpuan motor yang masih tumbang.
"Baik, kek," jawab Ayumi mengira kakek Sugi sudah berbaik hati. Ia membantu lelaki uzur mencari tongkat, kemudian menyelamatkan tas punggung dan kedua sepatunya lalu mengangkat sendiri motor yang miring. Ia taruh kedua benda tersebut di pengait depan motor. Kemudian kakek Sugi ikut menaiki motornya.
Ngenggg,
Kakek Sugi yang dibonceng Ayumi ketakutan saat gadis tersebut tetap menarik gas motornya dengan kencang.
"Pelan-pelan Ayumi." Kakek Sugi kepayahan mencari tumpuan saat sebelah tangannya mencengkram kuat tongkat rotan.
"Kakek pegangan aja ke perutku," jawab Ayumi terus melaju kan motornya dijalan kampung yang bergelombang.
Sontak, kakek Sugi mengepit tongkat rotannya di paha lalu melingkari tangannya ke perut Ayumi. Ia merekatkan tubuhnya ke tubuh Ayumi karena merasa semakin kedinginan.
Sesampainya mereka dirumah besar yang lampunya masih padam, kakek Sugi pun perlahan turun dari motornya.
"Terima kasih," ucap kakek Sugi penuh kesopanan.
"Ayumi pulang ya kek," jawab Ayumi merasa sudah selamat.
"Pulang lah, tunggu aku dirumah mu!"
Deggg,
Ayumi menoleh ke kakek Sugi, ia yang sudah merasa senang perbuatan nya dimaafkan kini menjadi panik.
"Kok kakek mau ke rumahku?" tanyanya dengan heran.
"Apa perbuatan itu gak perlu diketahui oleh ayahmu?" ucap kakek Sugi dengan keteguhan pendirian.
Kakek Sugi berjalan ke teras rumahnya, Ayumi lalu mengambil kunci motornya dan ikut berjalan dibelakang tubuh kakek Sugi.
"Mau ngapain kamu," hardik kakek Sugi didepan pintunya.
"Kek," lirih Ayumi pelan, "Apa kakek tetap mau melaporkan ke ayahku?"
"Iya lah," jawab kakek Sugi ketus.
"Gimana kalo Ayumi bersedia layani kakek, tapi kakek harus janji jangan melaporkan kelakuan Ayumi!" Dia tanpa ragu mengucapkan hal itu.
"Maksud kamu apa?" tanya kakek Sugi memicingkan matanya menatap gadis yang basah.
Ayumi membuka semua kancing baju, memperlihatkan penutup kembar berwarna biru muda dan sekitaran perut. "Silahkan kakek c1c1p1 tubuh Ayumi."
Sontak, kakek Sugi tergamang menyaksikan kelakuan nakal Ayumi. Walau tampak remang, tapi kulit eksotis itu tetap menarik diantara cahaya bulan yang terang.