Keteguhan hati kakek Sugi sedang di uji. Bukan pada Fitri primadona kampung atau pun juga pada Fenty janda pirang yang liar, melainkan oleh Ayumi, gadis berseragam yang lusuh dihadapan-nya sekarang. Seperti kucing yang disuguhi ikan asin, kakek Sugi hanyut dengan pemandangan dalam 2 kancing yang terlepas. Tak pernah dalam hidup lurusnya, mendapatkan pengalaman dirayu oleh wanita muda. Akan ia abaikan panggilan tokoh masyarakat yang selama ini melekat demi merasakan kenikmatan dari Ayumi. Apalagi rembulan sedang menunjukkan sinar terang penutup kotor itu seperti menyembunyikan gunung kembar yang besar.
"Apa kamu yakin mau melayaniku?" tanpa pikir panjang kakek Sugi mengatakan hal itu. Ia begitu terpesona pada bentuk tubuh gadis berambut sebahu dan berkulit eksotis itu.
"Asalkan kakek janji gak beritahu ayahku kejadian sore ini, Ayumi bersedia kok, kek!" Suara Ayumi terdengar mantap.
Kakek Sugi bergumam dalam hati, "Pergaulan anak ini pasti bebas sekali." Ia memperhatikan setiap inci tubuh Ayumi dengan mata rabunnya.
Kakek Sugi melihat keadaan sekelilingnya sambil menarik kunci dalam jaket. Ia membuka pintu, "Masukkan dulu motormu ke dalam," pintanya. Ia bermain hati-hati. Ini adalah periode nakal pertama dalam hidupnya dan jangan sampai gagal.
Ia menggagap dinding didekat pintu, mencari saklar penerangan rumah. Bangunan jadul yang di anggap mewah oleh penduduk kampung menjadi terang. Kakek Sugi pandangi Ayumi yang sudah duduk di motor, mengarahkan kendaraan tersebut didepan pintu, masuk ke dalam rumah. Dengan segera kakek Sugi mengunci pintunya rapat-rapat.
Ayumi pandangi rumah berbahan kayu jati tersebut dengan seksama. Kayu penyangga atap bangunan dengan warna yang pernah dilihat. Kursinya terbuat dari kayu Jepara model lama. Ornamen kusam dindingnya membawa kenangan kecil. Rasanya memang sudah lama ia tak pernah berkunjung ke rumah itu.
Kakek Sugi sudah kepalang tanggung menuruti hasratnya, ia memeluk Ayumi dari belakang.
"Sekarang kamu layani aku mandi ya," bisiknya penuh mesra.
Tanpa terkejut Ayumi pun menjawab, "Siap kek." Ia menggeolkan tubuhnya saat disosor kakek Sugi. Lelaki itu ingin mencecar tubuh Ayumi segera, tapi bau dan kotor ditubuh mereka sudah sangat menganggu.
Ia mengait tangan Ayumi lalu membawanya ke ruangan dapur belok kiri. Disana lah letak kamar mandi rumah kakek Sugi.
Ayumi melihat kembali penampakan ruangan itu. Tak ada yang berbeda sejak dia tujuh tahun lalu berkunjung kesana. Padahal, mungkin setiap harinya ia pandangi rumah megah itu dari luar.
Kakek Sugi yang ingin dilayani, lalu meluruskan kedua tangan berharap gadis itu melepaskan jaketnya.
"Buka pakaian kakek!"
Ayumi membantu kakek Sugi melepaskan semua pakaian kotornya, tanpa rasa canggung karena nakalnya ini bukanlah level pemula.
Timun bengkok ia sentuh, seketika milik kakek Sugi yang lama tidur panjang itu berdiri. Agak lucu diliat oleh Ayumi bentuknya, melambai tidak terlihat gagah.
"Yakin kakek masih sanggup?" tanyanya hendak menghina.
"Lihatlah timunku ini berdiri, kamu kira aku sudah gak berhasrat lagi apa?" jawabnya sombong.
Harus Ayumi akui timun bengkok itu memang panjang, tapi apa masih kuat?
Ayumi membuka kain yang ia kenakan. Sedikit memancing dengan gerakan genit karena ia tau betul cara membuat hasrat lelaki meninggi. Pakaian kotornya itu pun ia lempar sembarangan ke sisi dapur.
"Luar biasa," cicit kakek Sugi kagum dengan pemandangan tubuh gadis tersebut.
Tinggi semampai seperti ibunya, gunung kembar tak terlalu besar tapi terlihat padat. Pinggul gadis itu pun melar.
Ayumi lalu menuntun lelaki uzur masuk ke kamar mandi berukuran dua kali dua meter. Bak mandi yang berisi air dingin ia gayungkan ke wajah kakek Sugi.
Lelaki uzur merasa merinding, dengan nakal ia pun melakukan hal yang sama untuk Ayumi. Tak lupa, saling merekatkan tubuh agar tetap hangat.
"Aku sabuni ya," ucap Ayumi setelah membilas banyak air ke badan mereka.
"Lakukan sayang!"
Ia mengambil gayung lain yang berisi peralatan mandi, lalu melumuri lelaki itu dengan busa yang sudah ia gosok sabunnya menggunakan kedua tangannya.
Kakek Sugi terpejam dalam damai, sudah berapa lama ia hidup tapi baru kali ini dilayani dengan penuh rasa.
"Kakek jongkok," pinta Ayumi sambil memegang gayung mencedok air dingin.
Kakek Sugi menurut, ia menundukkan tubuhnya didepan Ayumi. Matanya dimanjakan oleh penampakan indah bagian depan sesekali belakang. Tak lama ia merasa ada beberapa kali air yang turun dari atas kepala.
Dingin itu sampai ke tulang. Kakek Sugi yang tak pernah mandi di jam malam menahan nyilu akibat kedinginan.
Ayumi menuntun kakek Sugi untuk berdiri, ia memberikan perlindungan pertama pada kecelakaan, meraup bibir yang gemetaran dengan ganas.
Kakek Sugi mengimbangi hasrat muda, ia berikan pelukan sayang ke setiap lekuk yang menggoda. Ia membalas perlakuan Ayumi tanpa jeda. Tak hanya itu, dengan bibir yang masih menjamah, kedua jari panjang ia selipkan ke bagian serabi. Awalan tak banyak, tapi saat Ayumi meminta lebih, kakek Sugi memberikan semangat sampai kedua kaki Ayumi harus melebar, tubuhnya pun terpaku pada dinding porselen yang basah.
"Terus kek," lirih Ayumi mengikuti kemana dua jari berayun.
Kakek Sugi mengganti posisi tubuhnya, ia kembali berjongkong sambil terus menyodorkan dua jari keluar masuk serabi. Mulutnya ingin merasa jua.
Ayumi begitu cerdas, saat hendak kebobolan, ia mengaitkan kaki kanannya ke pundak kakek Sugi. Ia tuntut wajah lelaki uzur itu agar merasakan air hangat yang sebentar lagi tumpah.
"Ahh!"
***
Selang beberapa saat setelah beristirahat, giliran kakek Sugi yang menurut permintaan Ayumi. Ia tiduran dilantai kamar mandi yang berbahan semen kasar. Tanpa pikir lama, Ayumi mendaratkan hentakan mulut pada timun bengkok yang tampak lunglai.
Mula-mula tak mau besar, sampai susah sekali. Tapi Ayumi dengan sabar mengurutnya dengan cekatan. Baik menggunakan kedua tangan, ataupun dengan mulutnya.
Setelah dirasa tetap besar dan bertambah kuat, kini ia yang gantian menimpakan tubuhnya di atas setengah badan kakek Sugi.
Lelaki uzur terpejam beberapa saat, memori seperti ini harus ia ulang sangat jauh, saat istrinya masih hidup puluhan tahun lalu. Ia menempa, membangkitkan kebiasaan dulu saat berada diposisi itu.
"Terus Ayumi!" Memberikan semangat agar Ayumi tak sungkan.
Berhadapan, kadang juga Ayumi berbalik badan untuk terus memompa. Terkadang kedua kakinya juga berada di arah yang berbeda, ke belakang dengan lutut menghantam semen kasar. Kadang juga kedua lutut menyentuh mulut. Semua ia lakukan agar tugas dari kakek Sugi cepat selesai.
Ayumi mengerahkan semua tenaga untuk melayani. Ia berdecak kagum dalam hati, lelaki tua ini kuat sekali. Setelah lama sambil menyiramkan air ke tubuh, lelaki yang dibawah nya itu masih belum mengularkan tanda-tanda.
"Aku hampir sampai." Kakek Sugi tiba-tiba menahan tubuhnya menunggu getaran.
Ayumi menyemangati kakek Sugi sambil terus memompa, lalu tak lama seperti sedikit basah mau pecah dalam serabi, ia keluarkan timun bengkok agar menyemprot wajahnya saja.
***
Setelah satu jam lamanya, keduanya betul-betul mandi sekarang. Mereka ke kamar, Ayumi melayani dengan memasangkan pakaian pada kakek Sugi, barulah ia mengingat diri.
"Oh ya, aku lupa." Kakek Sugi duduk disisi ranjang, "Pakaian kamu kan kotor, gimana sekarang?" tanyanya khawatir saat melihat masih menggunakan handuk setengah paha sesudahnya.
Ayumi meraih tas sekolah, membukanya di meja rias, "Ini aku ada simpan baju lain kok, kek." Ia tunjukkan seragam olahraga dan langsung memasang ke tubuhnya. Tak kalah ketatnya dengan pakaian kotor yang sudah berada didalam plastik hitam. Apalagi saat ini Ayumi tanpa dalaman.
"Tugas sudah selesai, sekarang Ayumi boleh pulang kan kek?" tanya gadis itu sambil menyerahkan sisir yang mereka pakai bersama.
Sudah merasakan kenikmatan lalu terlena, begitulah ungkapan untuk kakek Sugi sekarang. Ia malah tak rela jika gadis berseragam olahraga itu cepat pulang.
"Tadi itukan layanan pertama, sekarang kamu harus ikut memanaskan makanan. Kita makan bersama baru kamu boleh pulang," ucapnya menahan. Ia masih ingin ditemani.
Ayumi melipat kedua tangan ke d**a, menimbang diri dan situasi. Tak ada salahnya ia makan malam bersama kakek Sugi. Toh, dirumah nya pun sedang ada prahara keributan antara kedua orang tuanya.
"Baiklah, Ayo kek kita tambah masakan-nya," ucapnya bersemangat. Setelah melalui sore dan permulaan malam yang melelahkan, ia perlu tenaga agar bisa pulang ke rumah.
Wajah kakek Sugi berseri mendengarnya. Ia mereka seperti hidup kembali setelah kejadian tadi. Ia pun menuntun Ayumi berjalan keluar kamar layaknya sedang pacaran.
Kakek Sugi yang mandiri, membimbing tangan Ayumi menyalakan kompor. Ia menambahkan minyak goreng ke atas kuali kecil lalu membersihkan sendiri bawang merah, putih, kemiri, kunyit dan juga daun kucai di cucian wastafel.
"Kamu bisa masak?" tanya kakek Sugi pada Ayumi sambil dengan cepat memotong semua bahan menjadi bagian kecil-kecil.
"Masak aer sih bisa, sampe mateng!" Gadis itu malah tersenyum mencandai kakek Sugi, sedangkan lelaki tua itu hanya diam sebentar lalu melanjutkan mengiris bawang.
"Kita masak telor ceplok aja ya," ucapnya sambil mencubit dagu Ayumi. Gadis itu pun menatap nakal padanya.
Lalu lelaki uzur itu memperagakan kebiasaannya. Memotong bahan makanan.
"Kakek apa gak takut ke iris tangannya motong secepat itu?" Ayumi merasa khawatir saat kakek Sugi sudah beralih pada bahan kunyit yang terakhir.
"Sudah lama aku hidup sendiri. Perkara masak sendiri, makan sendiri, memotong bawang begini sudah lama aku jalani," jawab Kakek Sugi dengan mata berfokus pada potongan bahan makanan.
"Sekarang kamu ambil telor di kulkas," suruh kakek Sugi setelah melihat minyak dalam kuali mulai mendidih.
Ayumi menurut, ia berjalan menuju kulkas mencari telor. Sedangkan kakek Sugi, sudah membuka tudung saji memindahkan sayur jagung bayam dan nila goreng yang dingin ke dekat kompor.
Ayumi menemukan hal baru dalam kebersamaan-nya dengan kakek Sugi. Ia yang sama sekali tak bisa masak, merasa senang di ajari kakek Sugi dalam hal urusan dapur.
Setelahnya mereka lalu makan bersama, ditambah suap-suapan tangan. Kakek Sugi yang puluhan tahun hidup sendiri merasa ingin bersikap romantis terhadap Ayumi.
Sesudah itu ia menyela, "Apa aku boleh nanya ke kamu, Ayumi?"
Ayumi yang kini hendak menyuap nila goreng, mulanya menunjukkan wajah bahagia. "Emang kakek mau nanya apa?" Ia langsung menyuap makanan ke dalam mulut terus mengunyah.
"Apa benar ayahmu nikah lagi?"
Deggg,
Raut wajahnya kembali sedih, ia menarik piring menjauhi mejanya. "Iya kek," jawabnya penuh sesak. Segala sesuatu dirumahnya sudah berubah. Tak ada keharmonisan antara orang tuanya saat Jarwo berani terang-terangan mengenalkan istri barunya ke rumah. Ibunya mengumpat kasar di antara mereka. Dia sebagai anak tunggal cukup membatin dengan perang mulut kedua orang tuanya.
Kakek Sugi memandangi gadis itu dengan peduli. Ia menilai, apa jangan-jangan tingkah nakal Ayumi ini berkenaan dengan kondisi keluarganya yang hancur?
"Sekarang bagaimana sikap ibu kamu? Apa bersedia di madu atau justru akan berpisah dengan ayahmu?" seperti berita yang sudah tersebar, kakek Sugi bertanya langsung kepada Ayumi yang dekat pada narasumbernya.
"Sepertinya mereka akan berpisah, kek. Cuma ibu bersikeras ingin semua harta dipegang sama dia."
Nana, ibu Ayumi, adalah anak seorang tuan tanah yang bernama Sugeng. Jarwo dulu hanya menumpang hidup pada Nana, menggunakan harta mertuanya untuk menggapai ambisinya dibidang pemerintahan. Sekarang ia sudah dapat jabatan, kepala desa. Dan kakek Sugi menilai Nana berhak atas semua harta itu.
"Kalo kamu apa mau mereka cerai?"
Ayumi tak menjawab, ia malah bersedih. Ucapan kakek Sugi ini seperti pertanyaan tepi jurang untuknya.
"Ya sudah, kamu selesaikan makannya. Aku cuma nanya gak perlu kamu jawab." Kakek Sugi memahami situasi diri Ayumi. Ia mengeruh nasi terakhir dipiring nya lalu menyuapkan pada Ayumi.
***
Sebelum Ayumi berpamitan pulang, kakek Sugi lebih dahulu memastikan keadaan depan rumahnya. Dirasa lengan, sambil memberi kode Ayumi membuka lebar pintu rumah tersebut, mengeluarkan motornya lalu menghidupkan mesinnya.
"Kek, ingat ya, jangan pernah kasi tau ayah ibuku kejadian ini," ia mewanti-wanti agar kakek Sugi menepati janjinya.
"Aku kan sudah kamu layani, jadi semua itu sudah menjadi rahasia," jawab kakek Sugi mengiyakan. "Tapi jangan pernah kamu pakai gubukku lagi untuk bercinta," pesan kakek Sugi pula sekaligus memperingatkan.
"Iya kek," jawab Ayumi. Ia langsung menjalankan motornya keluar dari pekarangan rumah.
Kakek Sugi memandangi motor itu sampai bentuknya menyemut dimata. "Terima kasih Ayumi, aku sekarang punya gairah hidup."