Pagi itu, kelabu. Hujan lebat menyelimuti sebuah kampung yang didiami kakek Sugi sejak malam hari. Air di atap rumah terus turun membasahi taman kecil dikarangan bunga disekitar rumah kakek Sugi. Lelaki uzur itu juga sudah bangun dari tadi. Ia sekarang berjalan dibantu tongkat rotan menuju teras sambil membaca gelas cangkir motif blirik bunga daun hijau berisikan kopi pahit. Ia terlebih dahulu menggeser beberapa kursi kayu diteras rumah agar tidak terkena tempias air hujan. Kemudian, ia duduk sambil ditemani rintik hujan ringan, menatap jalanan kampungnya yang sepi sambil menikmati pemandangan sindoro dan sumbing dari jarak jauh.
Ia menyesap kopi tanpa gulanya dengan nikmat, sambil membayangkan kejadian hari kemaren. Sampai saat ini ia menyesal, bukan karena telah menggarap Ayumi yang pantas jadi cucunya. Tapi ia menyesal karena membiarkan dirinya selama 20 tahun ini hidup kesepian tanpa pasangan.
Hingga, payung putih terlihat memasuki pekarangan rumahnya. Wajah didalam nya tak nampak, namun cirinya yang memiliki banyak tato dipergelangan tangan dan hot pants biru muda yang dipakai, menyebabkan kakek Sugi telah mengetahui bahwa seseorang itu adalah wanita.
"Pagi Kek Sugi," sapa Fenty dibawah genteng rumahnya. Membuka payung yang menutupi wajahnya lalu menaruh benda basah itu didepan teras. Tangannya menyongsong sebuah plastik hitam untuk disodorkan pada kakek Sugi.
"Apa ini, Fen?" tanya kakek Sugi langsung menerima saja sebuah plastik hitam. Ia meremas pelan isi plastiknya, terasa hangat.
"Ini cemilan buat kek Sugi sarapan," jawabnya. "Aku gak disuruh duduk, kek?" ucapnya lagi.
"Duduklah," jawab kakek Sugi mempersilahkan janda pirang itu duduk disebelahnya. "Tunggu ya, aku ambil piringnya dulu." kakek Sugi menarik tongkatnya, lalu masuk ke dalam rumah.
Entah apa keperluan Fenty pagi ini, yang jelas ia pun belum mengungkapkan maksud tujuannya pagi ini datang ke rumah kakek Sugi.
Lelaki uzur tidak hanya membawa piring, ia juga membawa segelas kopi untuk menyambut tamu. Fenty yang dari tadi duduk, buru-buru mengulurkan tangan menyambut pemberian gelas tersebut.
"Ngopi, Fen?" ucap kakek Sugi mempersilahkan pada wanita itu untuk ngopi bersama.
"Makasih, kek!"
Mereka sambil menyesap kopinya, setelah kakek Sugi membuka semua cemilan untuk di tarik keatas piring ia berkata. "Ada perlu apa kamu kesini?" tanyanya menanyakan maksud tujuan, sembari menunggu Fenty mendorong kenikmatan meminum kopi dengan hisapan sebatang rokok yang telah dihidupkan nya pada sela jarinya.
"Begini kek, sore ini kek Sugi ada waktu kosong gak?" tanya Fenty saat kakek Sugi selesai menguyah sedikit tempe mendoan pemberiannya.
"Aku selalu punya waktu kosong kok, kecuali sudah musim panen padi, biasanya pasti sibuk," jawab kakek Sugi sambil memperhatikan bibir tebal yang menghembuskan rokoknya ke atas kepala. Ia sangat menyukai cara Fenty mengisap rokoknya, sangat ahli.
Fenty melirik pada bangunan kecil sebelah teras, tempat dimana kakek Sugi menyimpan kendaraan tuanya disana. "Aku datang kesini mau minta tolong, kek. Bisa gak sore ini kakek Sugi antar aku ke kampung Kledung?"
Kakek Sugi menilai perjalanan dari kampungnya ke tempat yang dimaksud terbilang agak jauh. "Ada perlu apa kamu kesana?" tanyanya.
"Aku sore ini harus bantuin klub bola wanita mereka bertanding sebagai tuan rumah. Takut kehujanan dijalan, jadi aku butuh kendaraan tertutup dan cepat sampainya. Kakek Sugi bisa gak antar aku kesana?"
"Tarkam wanita ya? Kamu dikontrak kampung itu buat main bola?" tanya kakek Sugi penasaran.
"Iya kek," jawab Fenty singkat, mengetuk batang rokok yang dipegangnya, membuang abu ke lantai teras. Karena kakek Sugi tidak menyediakan asbak untuknya.
"Sepertinya menarik," gumam kakek Sugi. Ia memandangi gudang penyimpanan kijang tua nya yang lama tidak bepergian. "Bisa... Jam berapa mau kesana?"
"Kalo bisa jam dua siang kek," jawab Fenty mengambil sepotong getuk berwana ungu muda yang bertabur parut kelapa, kemudian memakannya.
"Boleh, aku juga gak ada kegiatan sore ini. Paling cuma melihat sawah," jawab kakek Sugi mengungkapkan kebiasaannya yang monoton.
"Makasih kek!" Wajah Fenty berbinar-binar. Ia lalu menyesap kopinya lagi sambil memandangi wajah tua kakek Sugi. Ia meminta tolong pada orang yang tepat untuknya mengantarnya ke kampung lain karena kakek Sugi punya mobil tua. Sedangkan ia, memang seringkali dimintai tolong bos klub bola dari kampung lain jika ada liga tarkam untuk membela kampung mereka karena Fenty dari mudanya memang hobi bermain bola. Dan ia bisa sedikit menghasilkan uang dari sana.
Dua orang berbeda usia ini melalui pagi yang basah sambil menikmati cemilan. Setelah menyampaikan tujuannya tadi, Fenty masih enggan untuk pulang karena rintik hujan masih setia membasahi kampung mereka, sampai sebuah mobil memasuki pekarangan rumah milik kakek Sugi. Mereka berdua memandangi siapa yang bertamu ini.
Jarwo turun dari mobilnya bergegas masuk ke teras rumah menghindari rintik hujan. Ia yang biasa sesekali datang mengunjungi ayah sahabatnya itu tetap disambut ramah oleh pemilik rumah. Ia yang sekarang telah menjadi kepala desa memerlukan bantuan kakek Sugi untuk memecahkan masalahnya.
"Pagi Pak," jawabnya sambil menciumi tangan keriput. Ia merekatkan kacamata yang dipakainya, melihat juga sosok wanita yang ada disana. "Perlu apa, Fen, kesini?" ia bertanya seolah-olah sebagai tuan rumah saja.
"Ada urusan ke kakek Sugi, Pak." Wanita itu tak enak hati, disamping ia membenci keluarga Jarwo, ia pun merasa sudah saatnya harus pulang karena tak mau berurusan dengan kepala desanya itu.
"Kalo begitu aku permisi dulu, Pak." Ia berdiri dari duduknya. Layaknya tata Krama, ia pun menyalami tangan pada kepala desa sambil melirik kakek Sugi. "Kek, jangan lupa ya jam dua siang aku kesini," ucapnya mengingatkan kakek Sugi jangan sampai susah dikunjungi.
"Iya, aku ingat kok," jawab kakek Sugi, juga menyambut salaman tangan Fenty. Janda pirang itu membuka lebar payung putihnya di ujung teras, kemudian berjalan meninggalkan dua orang pria disana.
"Duduk, Wo," sela kakek Sugi menyuruh kepala desa itu duduk.
Lelaki sepantaran anak tertua kakek Sugi ini pun menurut, ia mengibas air hujan yang mengenai seragam putihnya lalu duduk ditempat Fenty tadi duduk. Ia menaruh topi jabatan, kunci mobil dan handphone-nya ke atas meja.
"Ada perlu apa, Wo?" tanya kakek Sugi melihat pada wajah lelaki yang ini sangat kusut.
"Masalahku, Pak," jawab Jarwo lesu.
Kakek Sugi langsung terkekeh, ia yang sudah mendengar gosip lelaki ini lalu menyela, "Enak kan punya istri dua," ledeknya.
Jarwo menghembuskan nafas kasar, menatap kakek Sugi seorusi, karena ia percaya hanya kakek Sugi yang bisa memecahkan masalahnya.
"Jadi aku mesti gimana, Pak?" tanyanya lemah.
Kakek Sugi meminum kopinya yang dingin, "Aku gak pernah mengalami seperti yang kamu alami sekarang, Wo. Disatu sisi aku iba dengan nasib Nana tapi aku juga gak tega padamu karena telah aku anggap sebagai anak. Kamu kenapa bisa nekat nikah lagi sih?" ia menanyakan alasan Jarwo.
Wajah Jarwo serius tapi penuh tekanan, guratan keningnya banyak, sekitar matanya diterlukis pupil hitam. Ia berharap hanya menceritakan pada orang tua yang duduk disebelahnya ini, ia bisa mencurahkan isi hatinya.
"Wanita itu hamil duluan, Pak, jadi aku harus bertanggung jawab." lirihnya pelan tetap terdengar.
Kakek Sugi tidak kaget, ia sudah menduga alasan Jarwo menikah lagi pasti ada suatu peristiwa yang menekankan nya.
"Kamu lebih dulu main serong?" tanya kakek Sugi sambil mengambil kembali cemilan di piring.
"Aku khilaf, Pak. Sejak bertemu dia kami sama-sama saling suka. Lalu..." Jarwo tidak melanjutkan karena menilai kakek Sugi sudah tau apa yang terjadi selanjutnya.
"Jadi itu alasan kamu menikahi istri kedua mu?" tanya kakek Sugi. Lalu lelaki berkumis tebal itu menyambut pertanyaan kakek Sugi dengan mengangguk lemah.
"Setahuku, tidak ada larangan kepala desa punya istri dua. Lantas kenapa kamu harus takut?"
"Nana minta cerai, Pak. Itu letak masalahnya. Aku perlu orang seperti kakek Sugi buat menasehati Nana agar menahan keinginannya buat berpisah denganku." Jarwo merapatkan kursinya ke kakek Sugi. Ia perlu mendengarkan saran dari lelaki yang dulunya juga pernah jadi kepala desa.
"Yang namanya istri, Wo, dimana pun tetap gak ada yang mau di madu. Termasuk juga si Nana," jawab kakek Sugi singkat, ia tak mau mencampuri urusan Jarwo yang pelik ini.
Jarwo duduk menyilangkan sebelah kaki, menyadarkan punggungnya melekat ke dinding kursi, ia memijit pelipisnya sambil mencari cara agar istri pertamanya itu tidak meminta cerai. "Kalo begini rasanya aku memang butuh bantuan orang pintar supaya Nana menurut!" Lirih kacaunya itu di dengar jelas kakek Sugi.
Kakek Sugi mengernyit, ia menatap serius pada Jarwo, tidak setuju pada gumaman lelaki itu. "Jangan gila kamu, Wo. Kasian Nana kalo kamu guna-guna dia," tolak kakek Sugi dengan penekanan suaranya.