Mereka datang pada Senin pagi, lima orang berjas dan name tag tergantung tali biru, didampingi rombongan manajemen yang tersenyum lebar.
Alga melihat mereka dari pos triase—tim akreditasi internasional, lengkap dengan penerjemah dan dua orang dari kementerian. Pak Damar berjalan paling depan, rambut peraknya disisir sempurna, jas abu-abu, senyum yang sama persis dengan poster di lobi. Pelayanan dari Hati. Ia memandu mereka seperti tuan rumah yang bangga, tangannya membentang ke arah IGD yang—untuk hari ini—mendadak bersih luar biasa.
"Lihat itu," gumam Sekar, berdiri di samping Alga sambil pura-pura merapikan tumpukan rekam medis. "Tadi pagi subuh ada tim khusus datang. Lantai dipel ulang, selang oksigen yang bocor diganti, monitor yang rusak di ranjang sembilan tiba-tiba ada yang baru. Ranjang lorong dikosongkan. Pasien yang biasa numpuk di koridor 'dipindahkan' entah ke mana."
"Pertunjukan," kata Alga pelan.
"Pertunjukan paling mahal yang pernah saya lihat."
Mereka memperhatikan dari kejauhan. Damar berhenti di depan papan indikator besar yang baru dipasang di dinding IGD—grafik garis yang menukik turun, biru bersih. ANGKA KEMATIAN IGD, judulnya. Damar menunjuk grafik itu dengan bangga, berbicara pada para auditor melalui penerjemah. Alga tak bisa mendengar kata-katanya, tapi ia tak perlu. Ia tahu persis apa yang ditunjukkan grafik itu.
Setiap titik turun di garis itu adalah seseorang yang dipulangkan untuk mati di luar tembok ini. Bu Sulastri, kalau mereka tak menjemputnya. Bapak luka kepala bab pertama, andai ia distempel ungu. Pak Solihin dengan emboli paru. Puluhan, ratusan nama dalam buku kulit. Garis yang menukik turun itu dilukis dengan nyawa.
"Angka itu bohong," kata Alga, suaranya tercekat. "Mereka kelihatan seperti rumah sakit terbaik di kota justru karena membunuh statistik mereka sendiri."
"Dan kalau auditor menandatangani," kata Sekar, "bohong itu jadi resmi. Berlaku internasional. Dana ratusan miliar cair."
Siang itu Alga menemui Renjana di ruang obat—satu-satunya sudut tanpa kamera, tempat persembunyian mereka selama ini.
"Saya baru baca jadwal kunjungan," kata Renjana, menutup pintu pelan. "Auditor di sini lima hari. Hari kelima mereka sidang internal, lalu keluar keputusan. Kalau tak ada catatan merah, akreditasi turun akhir minggu."
"Lima hari," ulang Alga.
"Lima hari Damar paling rapuh dan paling berbahaya sekaligus." Renjana menyandar ke rak obat. "Rapuh, karena dia harus menjaga citra di depan tamu paling penting dalam kariernya. Satu skandal sekarang, di depan auditor, bisa menggugurkan semua. Tapi berbahaya, karena justru sekarang dia paling agresif 'membersihkan'. Pasien berat apa pun yang masuk minggu ini, dia nggak bisa biarkan mati di sini. Itu akan merusak grafiknya tepat di depan mata auditor."
Alga merasakan beratnya kalimat itu mengendap. "Jadi setiap pasien gawat darurat yang masuk minggu ini—"
"Adalah pasien yang paling mungkin distempel ungu dan dibuang secepat mungkin. Karena di mata Damar, mereka 'risiko statistik' yang berjalan-jalan masuk lewat pintu IGD-nya di waktu paling buruk." Renjana menatap Alga. "Minggu ini, Alga, gerbang itu dijaga oleh kita berdua sendirian. Wirya akan paling rajin memegang stempel itu. Dan kita harus menyelamatkan siapa pun yang masuk—tanpa membuat keributan yang membuat auditor curiga terlalu cepat dan Damar membuang kita lebih dulu."
"Itu mustahil," kata Alga. "Diam-diam menyelamatkan, sekaligus diam supaya tidak ketahuan—tapi kita justru butuh ketahuan, butuh auditor melihat kebenarannya."
Renjana tersenyum tipis—senyum yang lebih dekat ke pisau daripada kelegaan. "Itulah seninya. Kita butuh satu momen. Satu pasien. Satu kasus yang begitu jelas, begitu hidup-mati, sampai kebenarannya nggak bisa dicoret pakai pulpen, nggak bisa dipulangkan diam-diam, nggak bisa disembunyikan dari mata auditor." Ia menatap Alga. "Bukan kita yang memilih kapan momen itu datang. Tapi waktu momen itu datang, kita nggak boleh ragu. Lima menit. Kamu ingat?"
"Saya ingat, Dok."
Malam itu, saat shift Alga hampir habis, ponselnya bergetar. Pesan dari Anindita di RS Harapan Kita.
"Ratna setuju ketemu. Lusa. Tapi dia minta bukti tak terbantah dan satu narasumber berani tampil terbuka. Kalian punya?"
Alga menatap layar itu lama. Bukti tak terbantah—mereka punya foto-foto B2, buku kulit, memo Yayasan, pengakuan Wirya yang setengah. Tapi narasumber berani tampil terbuka, dengan wajah dan nama, di tengah ancaman pembunuhan?
Sebelum ia sempat membalas, pintu IGD mendesis terbuka. Suara yang ia kenal seperti detak jantungnya sendiri.
Petugas ambulans mendorong tandu masuk, berlari, berteriak.
"Anak laki-laki, tujuh tahun! Demam tinggi tiga hari, sekarang lemas, akral dingin, napas cepat! Kemungkinan sepsis!"
Dan di belakangnya, dari ujung koridor, Alga melihat Wirya keluar dari ruang dokter—jas putih bersih tanpa noda, pantofel mengilap—berjalan menuju tandu itu dengan tangan sudah memegang stempel.