Anak itu bernama Rendi. Tujuh tahun. Pipinya yang dulu pasti gembil kini cekung oleh demam tiga hari, bibirnya pucat membiru di pinggir, dan ketika Alga menyentuh tangannya, kulit itu dingin seperti tanah liat basah—padahal dahinya membakar.
"Akral dingin, dahi panas," gumam Alga. Otaknya berputar cepat, mencocokkan gambaran. "Syok hangat menuju dingin. Ini sepsis, Sekar. Berat."
Ibu Rendi berdiri di sisi tandu, mencengkeram pegangan besinya, suaranya pecah. "Tadi malam masih bisa minta es krim, Dok. Sekarang dipanggil nggak nyahut. Tolong, Dok, tolong anak saya—"
"Saya bantu, Bu. Sekarang." Alga sudah memasang manset, membaca angka di monitor. Tekanan darah delapan puluh per lima puluh dan turun. Nadi seratus enam puluh, kecil. Saturasi merosot. Tubuh kecil itu sedang melawan badai di dalam, dan ia kalah.
"Akses dua jalur, abocath nomor dua puluh dua, guyur kristaloid dua puluh mililiter per kilo, sekarang!" Alga menghitung cepat di kepalanya. Berat anak itu mungkin dua puluh kilo. "Ambil kultur darah sebelum antibiotik. Siapkan ceftriaxone. Oksigen sungkup. Panggil—"
"Tahan dulu."
Suara itu halus, ramah, dan dingin. Wirya berdiri di kaki tandu, jas putihnya tanpa setitik pun noda di tengah kekacauan ini. Di tangannya, stempel ungu, dan di tangan satunya, lembar status Rendi yang sudah ia tarik dari papan.
"Anak ini demam berdarah biasa, dr. Alga," kata Wirya, tersenyum tipis pada ibu Rendi seolah menenangkan. "Demam tiga hari, fase kritis. Bukan sepsis. Kita rawat jalan saja, kasih parasetamol, banyak minum, kontrol besok. Saya sudah sering lihat kasus begini." Ia mulai menulis di lembar status. Alga melihat tangan itu mencoret kolom diagnosis. "Bu, anaknya kita pulangkan ya, nggak usah panik. Di rumah lebih nyaman."
"Tidak."
Kata itu keluar dari mulut Alga sebelum ia sempat menimbang, tapi suaranya mantap—tangan yang dulu gemetar, kini tak bergerak sedikit pun. Ia berdiri di antara Wirya dan tandu.
"Anak ini syok septik, Dok. Tekanan darahnya turun, akral dingin, capillary refill lebih dari tiga detik, kesadaran menurun. Itu bukan fase kritis demam berdarah biasa. Itu hipoperfusi. Kalau dipulangkan, dia mati sebelum subuh." Alga menatap Wirya lurus. "Saya nggak akan biarkan."
Untuk sepersekian detik, sesuatu berkelebat di mata Wirya—bukan amarah, tapi perhitungan yang panik. Lalu ia melirik ke ujung koridor. Alga mengikuti arah pandangnya.
Di ujung koridor, di balik kaca ruang tunggu yang biasanya untuk keluarga, lima orang berjas dengan tali biru sedang berbincang dengan dua orang manajemen. Tim auditor. Mereka belum melihat. Belum.
Alga mengerti seketika. Itu sebabnya Wirya panik. Bukan karena ia takut salah—ia tak pernah peduli benar atau salah. Ia takut keributan. Ia takut anak ini mati di sini, di lantai IGD, di hadapan auditor, dan merusak grafik biru yang menukik indah di dinding. Dan ia juga takut anak ini hidup di sini, dirawat penuh, masuk statistik sebagai kasus sepsis berat yang menghabiskan sumber daya—coretan di tengah pertunjukan sempurna.
Jalan keluar Wirya satu-satunya adalah membuat Rendi menghilang. Cepat. Diam-diam. Sebelum auditor menoleh.
"dr. Alga," kata Wirya, suaranya turun jadi bisikan tajam yang hanya bisa didengar mereka berdua. "Kamu lagi diperiksa polisi. Kamu tersangka pencurian. Satu langkah salah lagi malam ini, internsip kamu saya cabut, karier kamu tamat, dan nggak ada yang bakal percaya omongan dokter pencuri. Pulangkan anak ini dan pura-pura kamu nggak pernah lihat dia. Itu perintah."
Alga menatap wajah Rendi—mata setengah terpejam, napas yang makin dangkal, tangan kecil yang dingin. Lalu ia menatap ibu Rendi, yang tidak mengerti apa yang sedang diperdebatkan dua dokter di atas tubuh anaknya, hanya tahu bahwa anaknya sekarat dan ia tak berdaya.
Ia teringat hari pertamanya. Lima menit kamu lihat orang sekarat dan kamu cuma berdiri. Ia teringat sumpah yang ia ucapkan di aula wisuda. Ia teringat bapak luka kepala yang gagal ia selamatkan—takdir, kata Renjana, tak ada yang salah. Tapi ini bukan takdir. Ini pilihan. Ini orang yang sengaja membiarkan anak berusia tujuh tahun mati demi sebuah angka.
"Sekar," kata Alga, tanpa mengalihkan pandangan dari Wirya. Suaranya jernih, cukup keras untuk didengar seluruh ruangan. "Guyur kristaloid sekarang. Antibiotik ceftriaxone masuk dalam satu jam emas. Pasang monitor lengkap. Kita resusitasi anak ini, penuh."
"Tapi dr. Wirya bilang—" perawat muda di samping ragu.
"Saya yang bertanggung jawab atas pasien ini," potong Alga. "Tertulis. Sekarang."
Sekar tidak ragu sedetik pun. Cairan mulai mengucur deras ke jalur infus. Antibiotik disiapkan. Tubuh kecil Rendi mulai dibanjiri pertolongan yang seharusnya ia terima sejak menit pertama.
Wajah Wirya memucat. Ia menoleh sekali lagi ke arah auditor—yang kini, karena suara Alga yang meninggi, mulai berbalik menoleh ke arah keributan kecil di ujung IGD. Salah satu dari mereka, perempuan berkacamata dengan name tag tergantung, mengernyit dan melangkah mendekat.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Pak Damar, muncul dari belakang rombongan auditor, senyumnya masih terpasang tapi matanya seperti es.
Wirya membuka mulut. Tak ada kata yang keluar.
Dan untuk pertama kalinya, di tengah denting monitor dan deru oksigen, Alga merasa angin berbalik arah.